
Setelah bu RT pergi, Audrey menghampiri bodyguardnya, ia membisikkan sesuatu pada mereka. Begitu Audrey selesai, dua orang bodyguard langsung pergi keluar dari rumah dan terlihat pergi membawa mobil. sementara yang dua lagi berjaga di luar rumah.
" Lo, suruh ngapain bodyguard itu, Drey ... kog langsung pergi ? " tanya Rina heran.
" Gue suruh cari sesuatu." sahut Audrey santai.
" Oh, Lo mau istirahat di kamar atau di sini aja ? " tanya Rina.
" Emangnya Lo mau tidur ? " tanya Audrey balik pada Rina
" Gak lah ... mana bisa gue tidur sekarang, Drey ... " jawab Rina lirih.
" Ya, udah ... kalau gitu, mending kita di sini aja, tapi biar gak di ganggu bibi Lo lagi, kita duduk di sana aja." Ucap Audrey menunjuk arah pojok.
Mereka berdua pun bangkit dan duduk di pojokan, agar tidak terlalu terlihat dari luar. Sebelumnya Rina mengambil bantal di kamarnya, jadi mereka masih bisa rebahan di ruang tamu, walau cuma beralaskan tikar.
" Lo, rebahan aja, Drey ... elo pasti capek banget, tapi ya gini lah keadaannya, cuma ada tikar di rumah gue. Maaf, ya ... " ucap Rina lirih.
" Santai aja, Rin ... ntar, kalo gue emang ngantuk, gak Lo suruh ... gue juga tidur sendiri." jawab Audrey.
" Mbak ... " tiba - tiba Rifky masuk.
" Dari mana aja, kamu dek ? " tanya Rina.
" Ya, di luar lah, mbak ... ngobrol sama teman - teman sekolah, mereka datang," jawab Rifky lalu duduk di depan Rina.
" Oh, masih ada orang di luar, dek ? " tanya Rina lagi.
" Masih, mbak ... tapi hanya beberapa orang saja, sebagian permisi pulang dulu. Nanti katanya datang lagi." jawab Rifky.
" Rin ... gue mau ngomong serius sama Lo berdua. Tapi sebelumnya, gue minta maaf ... mana tau setelah kalian dengar omongan gue, Lo berdua jadi tersinggung." ucap Audrey serius.
" Gak lah, Drey ... mana mungkin kami tersinggung. Lo itu udah baik banget sama keluarga gue. Gue gak tahu nasib Ibu, kalo gak ada Lo .... Mungkin kami gak akan bisa menguburkan Ibu di kampung, karena gak ada biaya buat bayar rumah sakit sama ambulance. " jawab Rina dengan mimik sedih.
" Ih, gue gak mau ya, kalo Lo masih ngomong kaya gitu lagi. Ibu Lo berarti Ibu gue juga. Lo kan sahabat gue." jawab Audrey pura - pura marah.
" Makasih, Drey ... " ucap Rina tersenyum mendengar perkataan Audrey.
" Udah, sekarang Lo berdua dengar omongan gue, ya .... Gue ingin Lo sama Rifky setelah semua urusan di sini selesai, ikut pulang ke Jakarta dan tinggal bersama gue. Gimana, Lo berdua, mau kan ? " ucap Audrey serius lalu menanyakan kesediaan mereka.
Rina dan Rifky sangat terkejut mendengar perkataan Audrey. Mereka gak menyangka, Audrey menawarkan hal seperti ini pada mereka berdua.
" Lo kan pasti balik lagi ke Jakarta buat kerja ... nah, Rifky sendiri disini. Dari pada dia sendirian di kampung, lebih baik ikut bersama kita. Rumah ini, bisa kalian sewain ... jadi uangnya bisa kalian gunakan. Gimana, menurut kalian ... setujukah dengan ide gue. " ucap Audrey lembut.
Rina dan Rifky saling memandang satu sama lain, mereka mencoba mencerna setiap perkataan Audrey.
" Bentar ya, Drey ... gue senang dengan maksud baik dari Lo, tapi gue gak bisa mutusin sendiri. Gue harus tanya pendapat Rifky, dulu ... ".
" Okey, Lo diskusi aja berdua.
Gue akan terima apapun keputusan yang kalian ambil. "
" Baik, kami ke kamar dulu ya, Drey ... " ucap Rina lalu bangkit dari duduknya dan Rifky ikut di sampingnya. Mereka akan mendiskusikannya dulu di kamar.
" Ya, udah ... gue tunggu disini." jawab Audrey.
Setelah menganggukkan kepalanya, Rina dan Rifky pun berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Audrey yang sedang duduk sendirian, setelah Rina dan Rifky pergi ke kamar juga bangkit dan menemui kedua bodyguard di luar.
Sedang dua bodyguard yang lain belum kembali setelah di perintah pergi oleh Audrey tadi.
Ia menanyakan pada mereka mengenai orang tuanya, tapi mereka juga belum mendapat kabar apapun. Walaupun sebenarnya ia kecewa, tapi Audrey juga tidak bisa menyalahkan mereka, karena ia sendiri juga tidak bisa menghubungi sama sekali keluarganya.
Audrey lalu memerintahkan pada mereka, agar merubah penampilan mereka , ia ingin mereka pakai baju biasa layaknya warga di kampung ini, supaya tidak terlalu kelihatan mencolok. Setelah mendengar perintah Audrey, salah satu bodyguard pergi ke mobil. Ternyata mereka sudah menyiapkannya. Audrey yang senang melihat mereka sangat tanggap, memberikan senyum tipis pada mereka lalu masuk kembali ke dalam rumah.
Audrey melihat, Rina dan Rifky juga sudah selesai diskusi. Mereka berdua kini menghampirinya, dan duduk bersama di pojokan lagi.
Wajah Rina terlihat agak kurang nyaman karena harus mengatakan hal yang akan mengecewakan Audrey. Padahal ia sudah berniat baik pada mereka berdua.
" Udah, Lo ngomong aja, Rin ... gue gak masalah dengan apapun keputusan yang sudah kalian buat." ucap Audrey yang melihat wajah Rina.
" Maaf, Drey ... bukan kami berdua gak mau terima dengan tawaran dari Lo. Tapi apa yang di katakan Rifky, ada benarnya juga ...gak mungkin kami selamanya numpang sama Lo, nanti kami jadi keenakan dan malas berusaha. Karena semua sudah tersedia di mansion Lo. Kami harus kerja keras, Rifky ingin kuliah ... jadi dia juga ingin ikut bekerja. Karena kami berdua akan berkerja dan kadang pulangnya malam ... gak mungkin kami hanya numpang tidur aja di mansion Lo ... Jadi gue dan Rifky memutuskan untuk menjual rumah peninggalan orang tua kami ini, lalu menyewa rumah kecil aja di sana agar bisa tinggal berdua. Kami minta maaf Ama Lo, Drey ... karena harus menolak kebaikan yang Lo, tawarkan pada kami .. terutama gue, karena kemarin sebelum kesini ... gue udah nerima ajakan dari Lo buat tinggal di mansion. Sekali lagi atas nama kami berdua, gue minta maaf ... Lo gak marahkan, Drey ? " ucap Rina panjang menjelaskan alasan kenapa mereka harus menolak tawaran Audrey.
Audrey tersenyum mendengar perkataan Rina, ia sama sekali tidak marah dengan keputusan yang mereka ambil, malah ia kagum ... karena Rina dan Rifky bukan tipe orang yang ingin memanfaatkan kebaikan orang lain. Walaupun Audrey tidak merasa di manfaatkan sedikitpun. Mereka mau bekerja keras demi mencapai apa yang mereka inginkan.
" Kenapa gue harus marah sama keputusan kalian. Justru gue malah kagum mendengarnya. Lo berdua tipe orang yang mau bekerja keras. Gue yakin kalian akan berhasil ke depannya. Tapi bukan berarti kalau kalian sudah nyewa rumah sendiri, kalian jadi jarang datang ke tempat gue. Lo berdua harus sering main ke mansion gue. Sekarang kita bertiga bukan hanya teman, gue udah menganggap Lo berdua saudara. Karena Lo lebih tua usianya dari pada gue, Rin berarti elo gue anggap kakak gue. Sedangkan Lo, karena lebih muda setahun dari gue, Lo jadi adik gue.
Gimana, kalian setuju kan ?" tanya Audrey setelah mengatakan isi dalam pikirannya.
Rina langsung memeluk Audrey begitu mendengar perkataan yang di keluarkan nya.
" Tentu saja gue, setuju. Sekarang kita bertiga bersaudara." jawab Rina berkaca - kaca.
" Eh, sekarang Lo udah boleh meluk gue, Ky ... Lo kan adek gue." ucap Audrey melihat ke arah Rifky.
Rifky segera memeluk Audrey setelah mendengar omongan Audrey.
" Terima kasih. " ucap Rifky bahagia.
Audrey juga merasa bahagia, sekarang dia tidak sendiri. Ia sudah memiliki dua saudara yang baik hati.
Selagi mereka berpelukan, terdengar suara bodyguard yang tadi di perintahkan Audrey untuk mencari sesuatu.
" Maaf, non Audrey, kami menganggu ... semua yang anda perintahkan sudah ada." ucap bodyguard dengan hormat.
" Baik, segera bawa masuk dan yang lainnya rapihkan buat acara nanti malam." perintah Audrey, setelah mereka bertiga melepaskan pelukan.
" Baik, non ... " jawab bodyguard sopan lalu kembali keluar.
" Lo ngasi perintah apa buat mereka, Drey ... ? " tanya Rina heran.
" Gak ada, gue cuma nyuruh mereka beli makanan dan kue dan semua yang di butuhkan buat nanti malam. Kita gak mungkin bisa menyiapkannya. Lo dan Rifky pasti masih capek dan bingung." jawab Audrey santai.
" Drey .... " Rina kembali memeluk Audrey dan gak bisa meneruskan kata - katanya. Ia begitu terharu atas perhatian yang di berikan Audrey pada mereka.
" Udah, gak usah lebay. Sebaiknya sekarang kita bantuin mereka biar lebih cepat selesai." ucap Audrey tersenyum kecil.
" Baiklah ... " jawab Rina dan Rifky serentak. Lalu mereka bertiga bangkit dan berjalan keluar.
Rina dan Rifky terbelalak matanya begitu melihat apa yang ada di luar. Bahkan saking banyaknya yang di beli oleh Audrey, bodyguard sampai memakai sebuah truk kecil. Mereka juga melihat ada beberapa pria lain di dalam truk itu.
Tetangga Rina yang berdekatan dengan rumahnya juga keluar dan melihat dengan mata penasaran.
" Udah, jangan bengong. Ayo, kita bantuin menurunkannya." ajak Audrey berjalan meninggalkan mereka berdua di depan pintu.
__ADS_1
Rina dan Rifky pun bergegas berjalan mengejar Audrey yang sudah di samping truk.
Ketika Audrey ingin membantu, para bodyguard melarangnya.
" Jangan, non ... biar kami saja yang melakukannya." ucap salah satu bodyguard yang merupakan pemimpin di antara mereka.
" Iya, Drey ... benar yang dikatakan mas ini ... Lo duduk aja, biar kami aja yang bantuin." ucap Rina membenarkan perkataan bodyguard yang di panggil mas oleh Rina, karena usia mereka belum terlalu tua semuanya. Hanya beberapa tahun di atas Rina.
" Gak papa, gue bisa kog ... " bantah Audrey.
" Kalo Lo gak mau duduk, gue akan menolak semua pemberian elo ini." ancam Rina.
" Baiklah ... " akhirnya Audrey mengalah.
Rina tersenyum melihat Audrey yang mengalah lalu duduk, karena mendengar ancamannya.
" Tapi, non ... apa gak sebaiknya rumah temannya non dicat terlebih dulu, terus tadi non bilang juga mau mengganti seng nya, baru setelah itu barang - barang yang lain kita turunkan." ucap pemimpin bodyguard.
" Oh, ya kamu benar ... ya, udah, di benerin aja semuanya dulu." jawab Audrey setuju.
Rina dan Rifky hanya terpelongo mendengar omongan Audrey. Mereka tak menyangka, bahkan Audrey ingin mengecat rumah dan mengganti seng rumah mereka yang memang sudah mulai rusak, bahkan ada beberapa yang bocor. agar lebih terlihat bagus.
Tukang yang di bawa oleh mereka juga segera mengganti seng lama dengan seng baru. Sedangkan para bodyguard kemudian mengganti pakaian mereka dengan kaus biasa dan celana pendek. Lalu mereka bersama tukang mengecat rumah Rina. Rifky juga ikut membantu agar bisa lebih cepat selesai.
Hanya beberapa jam, akhirnya semua bisa di selesaikan dengan cepat. Lagi pula rumah Rina tidak terlalu besar jadi lebih mudah mengerjakannya.
Setelah itu semua bodyguard dibantu Rina dan Rifky, menurunkan semua isi dalam truk. Tetangga Rina juga ikut membantu. Ternyata bukan hanya di dalam truk saja yang ada isinya, mobil yang di gunakan bodyguard tadi pergi untuk membeli semua ini juga ada isinya.
Akhirnya setelah semua selesai di turunkan, mereka pun menata
beberapa macam jenis kue dan roti yang terlihat sangat lezat di piring - piring kecil yang juga di beli oleh Audrey. Sementara ada juga nasi kotak yang di beli di rumah terkenal di kampung sebelah. Selain beberapa galon besar berisikan air minum, mereka membeli beberapa kotak minuman kaleng, sirup, kopi, gula, teh, dan susu.
Bahkan Audrey juga membeli kipas angin agar nanti malam rumah ini tidak terlalu panas.
" Minum dulu mas, pak ... " ucap Rina setelah membuatkan kopi untuk tukang dan bodyguard.
" Baik, terima kasih ... " jawab mereka.
" Gue gak tahu harus ngomong apa lagi sama Lo, Drey ... yang jelas gue sama Rifky terima kasih banget sama Lo. " ucap Rina ikut duduk di samping Audrey yang sedang minum air mineral.
" Sesama saudara harus saling membantu. Gue mau saat Lo jual rumah ini harganya gak terlalu murah, makanya gue rapikan." jawab Audrey.
" Drey, aku lapar. Apa boleh minta satu nasi kotaknya ? " tanya Rifky pelan.
" Ya, bolehlah. Dibeli emang buat di makan. Sekalian aja Rin, kita juga makan. Gue juga udah lapar." sahut Audrey.
" Okey ... " jawab Rina cepat.
Audrey juga menyuruh bodyguard untuk mengambil nasi kotak masing - masing dan memberikan juga pada tukang - tukang yang mengerjakan rumah Rina.
Visual Rina ... aku ganti ya, guys.
Visual Rifky, adiknya Rina.
__ADS_1
**********************************