
" Sumpah, Lo cantik banget, Drey ... " Rina berkata sambil menatap dengan mata penuh kekaguman.
" Bisa aja Lo, Rin ...Elo berdua juga keren banget. Berarti selama ini gue jelek dong. " goda Audrey pura - pura cemberut.
" Bukan gitu maksud gue, Lo mah tiap hari selalu cantik. Tapi sekarang cantiknya beda ... wajah bule Lo terus pake kebaya khas Indo auranya jadi beda banget. "
jelas Rina.
" Kamu itu memang cantik, Drey ...
aku sebagai pria mengakuinya ditambah lagi kamu orangnya baik jadi membuat kecantikan kamu itu bukan hanya di luar saja tapi di dalam juga. " Rifky yang biasanya gak pernah mengomentari seorang wanita, kali ini melakukannya.
Audrey tersenyum mendengarnya, lalu berkata, " Makasih, Ky ... tapi jangan terlalu memuji gue. Menurut gue itu hal biasa yang bisa dilakukan semua orang. Okey ... !".
" Cie ... adik mbak udah dewasa sekarang. Sudah pintar menilai wanita. Tapi jangan sampai jatuh cinta sama Audrey, ya ... saingan
kamu berat, Ky ... hehehe." Rina menggoda adiknya Rifky.
" Ya, gak mungkinlah mbak ...
aku sudah menganggap Audrey
saudaraku sama seperti mbak Rina." bantah Rifky cepat, karena
memang seperti itu yang dirasakannya saat ini.
" Baguslah, kalau kamu menganggap Audrey seperti mbak juga. Jadi kita bertiga bisa saling
menyayangi dan menjaga satu sama lain." Rina mengacak rambut Rifky gemas karena senang melihat adiknya sudah tumbuh dewasa sekarang.
" Mbak Rin, jangan acak rambutku dong ... aku bukan anak kecil lagi, jadi berantakan nih ..." protes Rifky
malu karena dilihat pegawai dan manajer butik yang ada bersama mereka.
__ADS_1
" Hehehe ... Iya, Rin ... Rifky kan udah gede." ujar Audrey membantu Rifky.
" Tuh, mbak dengarkan kata Audrey. Jadi mulai sekarang, sebagai pria dewasa , aku yang akan melindungi mbak dan Audrey." Rifky membusungkan
dadanya.
" Hehehe ... Iya, deh." kata Audrey dan Rina bersamaan sambil tertawa.
Diva dan pegawai butik ikut tertawa melihat keakraban mereka bertiga.
" Oh, ya ... Apa kalian suka dengan pakaian ini ? Jika masih kurang, Lo berdua bisa mencoba yang lain. " tanya Audrey.
" Gak usah, Drey ... ini sudah bagus kog. Biar kami pakai yang ini saja." kata Rina karena ia menyukai pakaian yang
di kenakan nya. Lagian Rina sedikit risih jika harus mencoba beberapa pakaian lagi. Itu berarti,
ia harus bolak - balik ke kamar ganti.
Rifky juga setuju dengan perkataan Rina.
" Baik, kalau begitu biar saya mengantarkan sampai ke mobil nona. " jawab Diva tersenyum lega karena Audrey menyukai pilihannya buat Rina dan Rifky.
" Gak usah mbak .. biar saya saja. Cuma empat potong aja, gak berat. Saya yang akan membawanya sampai ke mobil."
Rifky menolak perkataan Diva.
" Itu, mbak ... gak usah.
Saya punya ajudan sekarang ... hahaha." kata Audrey tertawa menggoda Rifky.
" Baik, kalau itu mau non Audrey."
ujar Diva.
__ADS_1
" Okey, deh ... kalau begitu, kami pulang ya, mbak Diva. Terima kasih, sudah melayani kami
bertiga dengan baik." pamit Audrey dengan ramah.
" Sama - sama, non Audrey ... ini
memang sudah menjadi tanggung jawab saya. Karena sebelum
Ibu Elif pergi, beliau sudah berpesan untuk menyiapkan kebaya buat wisuda nona dengan
baik." ujar Diva.
" Hmm ... baiklah." Audrey menutupi perasaan sedihnya mendengar Diva menyebut nama
Mommy nya.
" Kami pamit, ya ... mbak Diva. Terima kasih, karena memilihkan pakaian bagus buat kami berdua. kata Rina dan Rifky sopan.
" Ya, saya juga senang, karena pakaian ini memang terlihat sangat pas buat kalian." ujar Diva.
Setelah mengganti pakaian dengan baju yang mereka pakai sebelum datang ke butik, mereka bertiga segera melangkahkan kaki
keluar dari butik Mommy Elif.
Sekarang tujuannya adalah belanja bahan makanan buat Rina dan Rifky.
Reno yang melihat mereka sudah keluar dari butik, tetap mengikuti
mobil Audrey dari belakang.
Begitu tahu kalau tujuan Audrey hanya ke sebuah swalayan, ia langsung bergerak pergi.
Ia merasa sudah cukup mengikuti Audrey hari ini. Sekarang ia harus
__ADS_1
menghubungi Bella untuk menjalankan rencana selanjutnya.