
Audrey tidak bisa tidur kembali sejak ia selesai menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Bahkan sinar mentari sudah memenuhi kamarnya sejak tadi.
Meski jujur ia sedikit merasa cemas, karena mulai hari ini ia harus bisa menghadapi semuanya sendiri sejak kepergian Rina. Tapi ia berusaha untuk tetap tegar dan ikhlas. Ia yakin, semua yang akan terjadi semua sudah di garis kan oleh Allah.
Audrey menghela nafas berat saat pintunya di ketuk dan suara Bella mulai memanggil namanya.
Audrey sengaja mengunci pintu kamarnya sejak kepergian Rina dari mansion nya, karena ia butuh waktu untuk menenangkan hatinya.
Meski merasa kesulitan, Audrey berusaha dengan keras saat menaiki kursi rodanya.
" Drey ... Lo ngapain ? Kog, lama banget sih ... buka pintunya !" ujar Bella tanpa memikirkan Audrey yang sedang berjuang agar bisa membuka pintu kamarnya.
Audrey bersyukur karena akhirnya ia bisa mencapai pintu kamarnya tanpa bantuan siapapun saat ini.
Semalaman Audrey memikirkan, kenapa beberapa hari ini ia merasa sehat dan baik - baik saja. Tangannya yang sudah sempat tidak bisa ia gerakkan, sekarang sudah bisa di gerakkan seperti semula. Padahal semua obat yang di makannya tetap sama, selama ini Rina yang selalu membeli obat yang diresepkan oleh dokter. Tapi kenapa ia bisa tiba - tiba lemah dan mendadak bisa sehat kembali. Hanya perut nya yang sering terasa sakit.
" Iya, bentar Bel ... !" ucap Audrey yang sudah mencapai pintu kamarnya.
" Huh ... dasar c*c*t ... !" umpat Bella pelan.
Audrey berhasil menggapai gagang pintu kamarnya dan kemudian membukanya.
" Ada apa Bel ... ? " tanya Audrey begitu pintu kamarnya terbuka.
" Gak, gue cuma khawatir sama lo. Sebaiknya Lo jangan kunci pintu kamarnya. Jadi, kalau ada apa - apa sama Lo, gue gampang masuknya." ujar Bella sambil menerbitkan senyum palsu di - wajahnya.
" Sorry Bel ... gue hanya pengen sendirian semalam." kata Audrey lembut.
" Iya, gue ngerti tapi gak harus kunci kamar juga. Gue takut Lo kenapa - kenapa. Secara elo pasti gak menyangka sama sekali kalau sahabat yang udah Lo anggap seperti saudara tega mengkhianati Lo ! Maling, kog di - pelihara !" Bella sengaja memancing emosi Audrey.
" Hmm ... ya, Lo bener Bel. Gue gak nyangka sama sekali kalau Rina bisa melakukan itu. Padahal gue udah melakukan semua buat dia. Ternyata Lo bener, dia gak pantas gabung sama kita. Gue harap Lo, gak sama kaya dia ya Bel ... ! " Audrey ingin melihat reaksi Bella ketika ia mengatakan ini.
Bella lumayan merasa tersindir mendengar omongan Audrey. Wajahnya menegang sesaat.Tapi dengan cepat ia merubah kembali wajahnya seakan - akan dia adalah sahabat yang baik buat Audrey.
" Tentu aja, Drey ... Lo jangan khawatir. Kitakan udah sahabatan dari lama. Mana mungkin gue akan ngelakuin kaya yang di lakukan sama perempuan kampung itu ! Makanya Drey, gue ingatin ... kalau milih teman itu jangan sembarangan. Lagian Lo juga, sih Drey ... masa baru kenal beberapa bulan, Lo udah berani bawa dia ke mansion lo terus ngajak dia tinggal di sini. Apa gak terkejut dia begitu ngeliat kekayaan yang Lo punya ! " ujar Bella seperti dia manusia yang paling benar.
" Huff ... iya, gue salah memang. Tapi gue mana tahu, Bel ... kalau Rina bakalan berubah. Gue lihat dia anaknya polos dan gak neko - neko. Dia juga gak pernah manfaatin gue selama ini. Kalau dia memang mau pasti gue kasih. Gue gak punya saudara, udah gak punya orang tua. Tapi gue paling benci dengan sikapnya yang menusuk gue dari belakang. Pura - pura baik depan gue, gak tahunya ada maunya ! Sampai sekarang gue masih gak habis pikir, kenapa dia bisa melakukan itu sama gue ! " Audrey memasang muka sedih agar Bella percaya kalau ia sudah membenci Rina.
Bella mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan Audrey yang seakan - akan sedang menyindirnya. Padahal ia tahu, Audrey mengatakan itu karena perbuatan Rina.
" Tapi kenapa Lo masih biarin maling itu bawa mobil, Lo .. Drey !
Harusnya Lo biarin aja dia jalan kaki, biar gempor kakinya !" ujar Bella geram mengingat hal itu.
Padahal ia juga menyukai mobil sport yang dipakai oleh Rina.
" Hmm ... gak papa, Bel ! Mudah - mudahan mobil itu bermanfaat buat dia. Lagian gue gak tega, Lo tahu sendiri berapa jauh jarak dari sini ke jalan raya jika dia harus berjalan kaki. " kata Audrey tersenyum tipis.
" Alah, dasar Lo aja yang bodoh dan sok baik ! Pantes aja Lo gampang gue manfaatin !" umpat Bella dalam hati.
" Ah, pusing kepala gue lihat Lo, Drey ! Udah jelas - jelas maling masih juga kasihan ! Kalau gue udah gue bawa ke kantor polisi biar dia tau rasa. " ujar Bella menahan rasa kesal.
" Udah, Bel ... gak usah ngomongin dia lagi. Yang penting sekarangkan dia udah gak ada di mansion lagi. " kata Audrey menenangkan Bella.
" Iya, sih ... gue tenang sekarang karena dia udah jauh dari Lo. Sekarang jauh lebih aman. " tanpa sadar Bella tersenyum lebar saat mengatakan hal itu.
" Hmm ... btw, Lo tadi ke kamar gue ada perlu apa ? Lo gak pergi ke butik ?" tanya Audrey berusaha mengalihkan pembicaraan mereka tentang Rina.
" Oh, itu sampai lupa gue gara - gara kesal sama perempuan kampung itu ! Gue mau ngajak Lo buat sarapan, Lily udah selesai dari tadi. Baru setelah itu gue pergi ke butik. " ujar Bella sembari menepuk keningnya karena baru mengingat tujuannya memanggil Audrey.
" Oh, ya udah ... kita turun sekarang buat sarapan biar Lo gak telat pergi ke butik nya." ucap Audrey mulai menggerakkan kursi rodanya lalu keluar dari kamar.
__ADS_1
" Mau gue bantu dorong, Drey ... ?" tanya Bella pura - pura ingin membantu Audrey.
" Gak usah, Bel ... gue pengen ngelatih tangan gue biar gak kaku lagi." sahut Audrey yang berjalan di depan Bella.
" Oh, baguslah ... gue senang lihat Lo semangat kaya gini. Semoga Lo cepat pulih ya, Drey ... " Bella tersenyum sinis saat mengatakannya.
" Hehehe ... Lo gak akan pernah sembuh, Drey ... selamanya Lo akan jadi perempuan c*c*t !" lanjut Bella dalam hati.
" Aamiin ... Makasih Bel ! Lo emang sahabat terbaik. " sahut Audrey sembari menoleh ke arah Bella.
" Ha ... oh, ya .. sama - sama Drey !" ujar Bella gugup.
Seakan ada setan lewat, mereka berdua hanya diam membisu, hening tanpa suara.
Baik Audrey dan Bella terpaku dengan lamunan masing - masing.
" Gue udah gak sabar Lily buat wanita c*c*t ini gak bisa bangkit dari tempat tidurnya lagi. Kalau dia masih bergerak meski pakai kursi roda hidup gue bakalan gak nyaman. " gumam Bella dalam hati.
" Semoga Lo baik - baik aja di luar, Rin dan bisa cepat kembali kesini ! " batin Audrey.
Tak butuh lama, lift telah membawa mereka berdua ke - lantai bawah. Ternyata Lily sudah menunggu mereka di depan lift.
" Pagi non Audrey, pagi non Bella ... !" sapa Lily sopan.
" Pagi, Li ... ! " sahut Audrey dengan ramah.
" Non Bella kenapa gak bantuin non Audrey, sih ... kan kasihan harus kesusahan keluar dari lift sendiri kaya gini !" Lily mengomeli Bella dengan senyum licik tersungging di sudut bibirnya.
" Apaain sih, Lo Li ... gue udah mau bantuin tapi Audrey nya yang gak mau ! Ya, kan Drey ... " ujar Bella pura - pura kesal.
" Iya, Bella benar, Li. Gak papa, tadi gue yang gak mau di tolongin sama Bella. Pengen ngelatih tangan biar gak kaku lagi. Gue pengen cepat sembuh biar gak terus ngerepotin kalian. " kata Audrey dengan senyum terukir di wajahnya.
Bella dan Lily saling menatap dengan memberi kode satu sama lain.
" Eh, iya Drey ... !" sahut Bella.
" Silahkan non ... !" ujar Lily sembari menggeser kursi meja makan.
" Terima kasih, Li ... ! Kami juga duduk, kita sarapan bareng seperti biasa. Sekarang hanya tinggal kalian berdua teman gue. Kalian jangan pernah mengkhianati gue seperti Rina, ya ... !" kata Audrey sembari menatap keduanya.
Seketika wajah Bella dan Lily memucat saat Audrey mengatakan ini dan Audrey melihat hal itu, tapi ia bersikap seperti tidak tahu apa - apa.
" Ah, ya gak mungkinlah, Drey ... gue gak mungkin kaya gitu sama, Lo ... ! Gue kan sayang sama Lo, dengan fasih nya Bella mengucapkan kalimat palsu itu.
" Non Audrey jangan khawatir. Saya dan non Bella akan selalu menjaga nona !" sahut Lily dengan manis setelah berhasil menenangkan rasa gugupnya akibat perkataan Audrey tadi.
" Oh, ya mbak Nana mana, Li .. kog gak kelihatan ?" tanya Audrey sembari melihat ke arah kiri dan ke kanan.
" Oh, itu non ... tadi mbak Nana lagi pergi keluar sebentar. Ada yang mau mbak Nana beli katanya." sahut Lily.
" Oh, tumben gak bilang ke gue, ya ... !" ucap Audrey lembut.
" Tadi mbak Nana pikir kalau nona masih tidur. Jadi dia gak enak kalau harus bangunin nona." Lily begitu lancar mengatakan kebohongan ini dari mulutnya.
Padahal ia sudah menyuruh Nana diam di kamarnya hingga mereka selesai sarapan. Baru setelah itu ia akan mengusirnya keluar dari mansion.
Lily sudah mengancam Nana, karena ia ketahuan ingin menemui Audrey dan mau melaporkan mengenai niat jahat Bella dan Lily. Tapi sayangnya saat ia ingin menemui Audrey, pintu kamarnya terkunci hingga Nana gak bisa masuk dan mengatakan semua pada Audrey.
Nana gak tega melihat nyawa Audrey terancam dan harus terus di bohongi oleh mereka. Ia menyesal karena sudah bersikap bodoh dan terpengaruh hasutan dari Lily.
Lily mengatakan ia akan menyingkirkan Nena agar Nana bisa jadi kepala pelayan di mansion ini. Jadi Nana melakukan apa yang di perintah oleh Lily. Ia pura - pura gak tahu kalau mereka sudah membuat Nana sakit parah.
__ADS_1
Hal yang paling bodoh ia lakukan, Nana bahkan menerima sogokan dari Lily dan tanpa ia tahu Lily merekam semua apa saja yang ia lakukan saat Nana membantu kejahatan Lily dan Bella agar dia bisa terus mengancamnya.
" Hmm ... ya, udah sarapan yuk !" ajak Audrey lalu mulai menuangkan nasi beserta lauknya ke piring.
Lily menarik sudut bibirnya dan memandang Audrey dengan seringai mengerikan, ketika ia melihat Audrey menyantap makanan yang di masaknya.
Bella yang tahu kalau makanan buat Audrey berbeda dengan mereka berdua segera mengambil makanan yang dekat dengannya.
Meski sebenarnya ia juga takut kalau Lily melakukan hal yang sama dengannya seperti yang ia lakukan pada Audrey. Tapi ia berusaha meyakinkan diri kalau Lily tidak akan melakukan hal itu padanya karena Bella berusaha tidak memancing kemarahan Lily. Ia selalu berusaha bersikap baik dan menurut agar secepatnya kekayaan ini bisa menjadi milik nya, seperti yang di janjikan Lily dan Reno.
" Bel, laporan butik Minggu ini belum Lo kasi ke gue, ya ... ?" tanya Audrey di tengah keheningan mereka.
" Oh, iya ... belum Drey. Lupa gue saking sibuknya. Mana besok mau ujian lagi ! Ntar, deh kalau udah gak sibuk lagi gue kasi ke elo. " ujar Bella agak gugup.
" Hmm ... ya, gak papa. Gue ngerti, kog ... ! Btw, Lo gak ada ketemu Zia sama Dea ?" tanya Audrey.
" Udah gak pernah, Drey ... Sejak gue pindah kuliah sore, gak pernah lagi ketemu dengan mereka. Apalagi Dea juga kan sibuk dengan skripsinya. " sahut Bella berusaha tersenyum, padahal Bella memang berharap agar dia gak usah ketemu dengan mereka lagi. Kalau gak bisa bahaya, pasti mereka akan menanyakan keadaan Audrey. Seminggu yang lalu aja Bella sengaja gak mau mengangkat telepon dari mereka. Karena Bella tau pasti mereka akan menanyakan kabar Audrey.
Bella bersyukur karena mereka sekarang sangat sibuk belakangan ini jadi gak bisa datang ke mansion.
" Oh, iya ... lupa gue kalau lo udah pindah jam kuliah. Sekarang kenapa gue sering lupa, ya ... ?" Audrey bertanya pada dirinya sendiri.
Ujung bibir Lily terangkat mendengar omongan Audrey.
" Hehehe ... ternyata ramuan nya manjur ! Semoga Lo secepatnya gak ingat apa - apa lagi, Drey ... !" ujar Lily puas dalam hati.
" Gue udah selesai, gue naik duluan ya ... ! Gak tau kenapa, gue kog jadi ngantuk lagi ?" kata Audrey sedikit heran. Padahal ia gak biasanya kaya begini.
" Biar saya antar, non ... !" Lily bangkit dari kursinya dan menghampiri Audrey.
" Gak usah, Li ... kamu beresin meja makan aja. Gue bisa sendiri !" tolak Audrey.
" Beneran gak papa, non ... ?" tanya Lily dengan wajah di buat cemas.
" Kalau gak gue aja yang ngantar Lo ke atas Drey ... gue takut elo kenapa - napa di lift !" ujar Bella ikutan bangkit.
" Ya, Li, Bel ... gue bisa ! Lo berangkat aja ke butik, Bel dan kamu, Li ... lanjutkan aja pekerjaan kamu !" kata Audrey sambil berlalu dari hadapan keduanya.
Lily dan Bella menatap punggung Audrey yang mulai menjauh dengan senyum melecehkan.
" Dasar, c*c*t aja belagu !" umpat Bella kesal begitu melihat Audrey sudah masuk ke dalam lift.
" Hehehe ... sabar Bel ! Paling lama empat hari di mulai dari hari ini dia udah gak bisa keluar dari kamarnya lagi. " Lily menanggapi omongan Bella dengan tertawa lebar.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada dua pasang mata yang sedang mendengarkan perkataan mereka.
" Kenapa harus nunggu sampai empat hari, sih ... ! Gak bisa besok aja ! Muak gue harus bersikap baik depan perempuan c*c*t itu !" ujar Bella udah gak sabar.
" Gak bisa ! Lo harus santai. Kalau kecepatan dia bisa curiga. Masa baru membaik udah gak bisa apa - apa lagi. Udah, Lo ikut aja rencana gue kalau mau berhasil." ujar Lily kemudian bergerak ke arah dapur sambil membuang sisa makanan yang di makan oleh Audrey ke dalam plastik sampah. Ia selalu melakukan hal itu agar tidak meninggalkan bukti sedikitpun.
Bella menghentakkan kakinya dengan kesal. Tapi ia membenarkan juga omongan Lily tadi. Bisa - bisa Audrey curiga kalau kondisinya mendadak menurun dengan cepat.
" Kenapa Lo, udah pergi sana ! atau Lo mau gue membatalkan niat gue buat ngasi butik itu ke elo, hah ... !" ujar Lily yang masih melihat Bella masih berdiri dengan wajah kesal.
" Hah ... jangan dong ! Ini juga gue udah mau pergi !" ujar Bella terkejut mendengar omongan Lily yang mengancamnya. Ia tahu Lily gak pernah main - main dengan perkataan yang ia keluarkan.
" Hmm ... pokoknya selagi Lo masih mau mendengar omongan dan mengikuti rencana gue, hidup Lo akan aman. " ujar Lily tanpa beban menatap Bella dengan senyum smirk nya.
" Iya, iya ... gue tahu ! " sahut Bella cepat dengan wajah cemas.
" Gue pergi ... !" Bella melanjutkan omongannya dan buru - buru berjalan ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Lily yang melihat wajah Bella yang ketakutan begitu mendengar omongannya hanya tertawa sumbang. Ia pun bergerak kembali ke dapur untuk membereskan semua masakan nya pagi ini. Hari ini ia berencana untuk santai - santai sebentar di kamar barunya sambil teleponan dengan Reno, karena ia yakin kalau Audrey tidak akan bangun hingga beberapa jam ke depan.
**********************************