
Mata Rina terbelalak begitu melihat kamar tidur Audrey yang mewah dan elegan. Kalau tidak takut dibilang gak sopan, mungkin ingin menanyakan pada Audrey, kamar sebesar ini apa ditempatinya sendiri. Sangat ironis jika di bandingkan kamar kosnya, bahkan untuk bergerak saja dia kesusahan.
" Hei, kog malah melamun. Ayo duduk, Ran ... " Audrey menyuruh Rina duduk di sofa yang tersedia di kamarnya.
" Iya, non ... " jawab Rina lalu ikut duduk.
" Rin ... umur Lo berapa ? " tanya Zia tiba - tiba.
" Dua puluh satu, non ... " jawab Rina agak gugup.
" Wah, kalau gitu kita bertiga sebaya. Audrey yang paling muda usianya diantara kita, tapi dia sok tua. Masa gak mau manggil mbak sama gue ... " Zia pura - pura cemberut ke arah Audrey.
" Gaya Lo mau dipanggil mbak, Zi ... gak pantes banget. " sahut Audrey tertawa.
" Bener, Drey ... hahaha. " Dea menimpali.
Zia memonyongkan mulutnya mendengar omongan kedua sahabatnya.
" Gak usah di dengar omongan Zia, Rin ... eh, kamu belum kenalan dengan dua sahabatku inikan ?"
Audrey baru teringat.
" Iya, non ... ".
" Satu lagi kamu jangan panggil saya non lagi ... panggil nama saya aja seperti mereka. Kitakan udah sahabatan sekarang." perintah Audrey.
" Iya, Rin ... gue juga risih dari tadi dengar Lo manggil nan, non, nan, non ... " omel Zia habis itu tertawa.
Dea tak tahan untuk menjitak kepala Zia. Ia meringis sambil mengusap kepalanya. Audrey hanya tertawa melihat ulah keduanya.
Rina juga tersenyum melihat tingkah kocak mereka.
Ternyata walaupun mereka anak - anak orang kaya, mereka tidaklah sombong. Bahkan sikap mereka seperti gadis kebanyakan kalau sedang kumpul seperti ini. Yang membedakan hanya wajah mereka cantik terawat dan barang yang mereka kenakan terlihat mahal.
" Tapi rasanya saya gak pantas kalau manggil nama saja, non ..." ucap Rina gak enak.
" Rin, kita ini semua sama.. Jadi jangan pernah merasa gak pantas. Kita gak tau loh, nasib seseorang kedepannya. Bisa saja sekarang cantik besok jelek atau sekarang kaya tau - tau jatuh miskin. " Audrey mengatakan dengan bijak.
" Iya, benar yang Audrey bilang, Rin ... " Dea setuju dengan omongan Audrey.
" Gue juga setuju. Udah, Lo jangan kebanyakan mikir Rin ... mulai sekarang kita semua bersahabat." tukas Zia.
Mata Rina berkaca - kaca mendengar ucapan tulus yang di berikan Audrey dan teman - temannya. Benar, kata temannya sesama pelayan tadi, kalau ia sangat beruntung bisa berkenalan dengan Audrey.
Orangnya selain cantik, kaya, baik hati lagi.
" Baiklah ... " ucap Rina akhirnya.
" Gitu dong ... Oh, ya kenalin yang bawel ini namanya Zia. Kalau yang manis ini namanya Dea. " Audrey menyebutkan nama mereka.
" Enak aja gue dibilang bawel, yang benar gue Zia, cewek tercantik di kelompok ini." ucap Zia cengengesan sambil mengulurkan tangannya pada Rani.
Lagi - lagi Dea menjitak kepala Zia.
" Adow ... " teriak Zia.
" Bisa botak gue kalau terus Lo jitak, De ... " lanjut Zia sambil ngomel.
" Gue Dea ... gak usah dengar omongan Zia. Dia memang sedikit aneh. Lagian Lo bisa lihat sendiri kalau Audrey yang paling cantik ini disini." Dea mencibirkan mulutnya pada Zia.
Rina tertawa kecil melihat wajah Zia yang cemberut.
" Hehehe ... Udah, ah. Jangan berantem melulu. Mohon dimaklumi aja, Rin ... " Audrey menengahi kedua sahabatnya.
" Gak papa, kog ... " ucap Rina kini merasa lebih nyaman.
" Oya, lupa gue ... satu lagi namanya Bella. Tapi dia belum datang." Audrey menambahkan.
Rina mendadak tersenyum kecut mendengar nama Bella. Ia masih ingat wajah yang memarahinya saat di cafe. Bella terlihat berbeda dengan yang lain. Sikapnya sombong dan kasar. Ia bahkan seenaknya saja tadi menuduh Rina mau mencuri.
Padahal Rina sempat mendengar, kalau Bella bahkan bekerja sebagai pelayan cafe juga seperti dirinya. Tapi mengapa ia sangat angkuh.
Beda sekali dengan Audrey dan yang lain. Jelas - jelas kaya tapi malah tidak sombong sama sekali.
Tanpa sadar Rina menghela nafas dengan keras.
Audrey, Zia dan Dea yang melihat Rani melamun lalu menghela nafas kuat mengerti kalau Rina teringat kejadian di cafe tadi.
Audrey juga merasa sikap Bella sedikit kelewatan.
" Gak usah, khawatir. Bella sebenarnya baik, mungkin dia lagi dapet, makanya jutek. Kamu jangan khawatir, ya ... " Audrey berusaha menenangkan Rina.
" Iya, Rin ... gak usah takut. Kalau Bella masih jutek, kita kasi kecoak aja. Bella takut soalnya." sambung Zia bercanda.
Rina akhirnya menganggukkan kepalanya. Mungkin benar, tadi Bella lagi dapet atau lagi sensi, jadi lebih cepat emosi, gumam Rina dalam hati.
Melihat ini Audrey dan yang lain jadi lebih tenang. Semoga Bella dapat menerima Rina dengan baik.
" Drey, gue bolehkan pake baju yang tadi ? " tanya Dea.
" Apaan, sih Lo ... terserah Lo mau milih yang mana buat dipakai." jawab Audrey.
" Tapi bajunya masih baru. Belum pernah Lo pakai, Drey ... " Dea merasa gak enak tapi dia beneran suka dengan baju itu. Kemarin Dea ingin beli tapi ternyata kartu dan dompetnya ketinggalan.
Sebenarnya Dea bisa saja minta tolong bayarin Audrey dulu, nanti diganti. Tapi dia gak enak karena Audrey sudah mentraktir mereka belanja merk lain. Keesokannya Sea kesana lagi, ternyata gaun ini sudah habis. Gaun ini cuma ada tiga potong saja alias limited edition.
" Pakai aja, Itu buat Lo, Dea. Gue beli juga karena tahu Lo suka. Mata Lo hampir keluar gue liat waktu ngeliat gaun ini." Audrey mengejek Dea.
Dea terperangah, mulutnya terbuka lebar. Ia tidak menyangka kalau Audrey tahu ia suka dengan gaun ini. Matanya langsung berkaca - kaca, ia sangat terharu dengan perhatian Audrey.
__ADS_1
Dea langsung memeluk Audrey.
" Makasih, Drey ... Lo memang terbaik. " suara Dea terdengar serak karena menahan tangis.
" Sama - sama sayangku. Lo juga sahabat terbaik gue. " balas Audrey membalas pelukan Dea
Zia ikutan memeluk kedua sahabatnya. Matanya juga ikut berkaca - kaca. Ia bahagia memiliki sahabat seperti mereka.
Rina terharu melihat persahabatan Audrey dengan teman - temannya. Ia senang karena kini menjadi bagian dari mereka.
" Rin, sini ... " panggil Audrey.
" Ya ... " Rina pun mendekat kearah mereka bertiga.
Kini mereka berempat berpelukan bagai tele***** . Setelah puas berpelukan, mereka malah tertawa lepas. Semuanya merasa bahagia menjadi bagian dari persahabatan ini.
" Sekarang kita pilih baju buat di dipakai Rina. " kata Audrey.
" Benar, Lo suka warna apa, Rin ? " tanya Zia.
" Saya terserah kalian saja." jawab Rina bingung, karena selama ini dia hanya punya baju beberapa pasang.
"Aduh, gue gemas deh liat anak ini. Jangan kaku gitu, Rin ... Lo ngomong seperti kita aja. Gue berasa ngomong sama dosen." omel Zia.
" Maaf ... saya gak enak." jawab Rina pelan.
" Apa sih, biasa aja kali. Coba sekarang ngomong " gue ", terus
" Lo " .... " Zia mendikte Rina.
Audrey dan Dea melihat serius kearah Rina.
" Ayo, coba Rin ... Lo kan udah jadi sahabat kami. " sambung Dea.
Rina menarik nafas panjang sebelum ia mencoba mengatakan seperti yang di suruh Zia dan Dea.
" Gue senang jadi sahabat Lo semua." ucap Rina akhirnya lega.
" Yeeee ... " sorak mereka senang.
" Sekarang Lo pilih mau pakai gaun yang mana. Biar nanti gue yang dandanin. " Audrey menggandeng tangan Rina menuju ruangan khusus tempat ia menaruh pakaian dan lainnya, diikuti Dea dan Zia.
Lagi - lagi Rina tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ruangan Audrey ini bahkan lebih besar berkali lipat di bandingkan dengan rumah Pak Lurah di kampungnya. Begitu banyak pakaian yang indah dan bagus. Belum lagi tas dan aksesorisnya.
Sepatu - sepatu dengan berbagai warna. Rina merasa ia berada di dalam mall.
" Oalah, dia malah bengong. Udah, Drey ... biar gue yang milih buat Rina. Tapi masalahnya, Drey ... pasti ukuran sepatu Lo gak ada yang cocok buat Rina. Karena Lo tinggi, ukuran sepatu pasti beda. "ujar Zia pada Audrey sambil melihat dengan gemas Rina yang hanya berdiri mematung.
Zia langsung mencari gaun yang cocok buat dipakai Rina.
" Gue bantuin Lo, Zi ... " Dea lalu ikut mencari tas yang cocok buat Rina.
Zia dan Dea sibuk mencocokkan gaun dan tas yang pas buat di pakai Rina nanti. Sedangkan Rina hanya bisa berdiri sambil memperhatikan keduanya.
" Lo coba dua gaun ini, Rin ... " perintah Zia sambil memberikan gaun yang rasa Zia cocok dengan Rina.
" Tapi, Zi ... " Rina ingin menolak begitu melihat gaun yang sangat bagus di tangannya.
" Gak ada tapi - tapian ... sekarang Lo coba. " Zia menarik tangan Rina menuju ruang ganti Audrey.
" Kalau udah selesai, Lo keluar biar gue sama Dea bisa melihat, yang mana paling cocok buat Lo." Zia sengaja bersuara lebih keras agar Rina tidak melamun di ruang ganti.
" Iya ... " Rina lalu mencoba gaun pertama yang berwarna coklat susu.
Dengan sangat hati - hati ia memakai gaun itu, Rina takut gaun itu akan rusak. Ia terkejut begitu melihat dirinya di cermin, ia terlihat seperti anak orang kaya karena baju yang di kenakan nya. Tapi ia sedikit risih karena gaun ini tidak berlengan.
Setelah selesai, ia lalu keluar buat menunjukkan pada Zia dan Dea.
Zia dan Dea terlihat kagum begitu melihat Rina langsung terlihat berbeda dengan memakai gaun yang dikenakannya.
Rina memang memiliki kulit sawo matang atau sedikit coklat. Itu membuat kulitnya terlihat eksotis.
" G*** ... Lo jadi keliatan sexy, Rin ... " ucap Zia dan Dea barengan.
" Apaan, gak mungkinlah ... " bantah Rina malu.
" Beneran, ngapain juga kami bohong. Lo udah ngaca tadi kan ?
Gimana, Lo pasti suka ngeliatnya."
todong Zia semangat.
Rina hanya menunduk malu mendengar tebakan Zia yang benar.
" Coba yang satu lagi, Rin. Gue yakin pasti Lo tambah manis kalau pakai gaun itu." Zia menolak badan Rina masuk ke ruang ganti lagi.
Rina kini memakai gaun yang berwarna putih gading. Ia sangat suka melihat tampilannya di cermin, gaun ini terlihat pas di badannya yang langsing. Apalagi lengan bajunya tidak seperti gaun yang pertama.
Setelah puas melihat dirinya di cermin, Rina lalu keluar.
" Apa gue bilang, benarkan. Lo tambah manis pakai gaun ini." seru Zia senang.
Rina merasa senang mendengar pujian yang di ucapkan Zia. Ia juga suka dengan gaun ini.
" Zia benar, Lo cocok banget pakai gaun ini. Sekarang Tinggal nyari sepatu yang pas buat Lo." Dea juga setuju dengan Zia. Rina terlihat lebih berkelas, kalau yang pertama terlihat sexy.
Audrey yang sudah kembali bergabung sambil menenteng sesuatu, terkesima melihat Rina.
Ia suka dengan penampilan Rina.
__ADS_1
" Gimana, honey ... bagus kan pilihan gue ? " tanya Zia bangga.
" Top, bagus banget. " puji Audrey.
" Sekarang Lo coba sepatu ini, Rin ... " Audrey membuka kotak sepatu yang ditangannya, lalu menaruh high heels berwarna senada dengan gaun yang dikenakan Rina di lantai agar bisa dicobanya.
Rina terus memandangi high heels tersebut. High heels itu sangat indah.Tidak terlalu tinggi, karena Audrey yakin kalau Rina belum terbiasa memakainya.
" Berarti Lo tadi keluar buat telfon buat mesan ini, Drey ? " tanya Zia.
" Pastilah, Zi ... sepatu Audrey kan gak ada yang muat buat Rina, sama kaya kita. " Dea membenarkan.
Audrey cuma tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Zia.
Rina yang terkejut karena gak menyangka, Audrey sampai belain beli sepatu baru buatnya.
" Makasih, Drey ... " ucap Rina terharu.
" Udah,gak papa ... ini sebagai perayaan buat pertemanan kita." Audrey menepuk tangan Rina dengan lembut.
" Yuk, sekarang kita pada mandi biar bisa siap - siap, sambil nungguin Bella." ucap Audrey.
" Kemana sih, Bella ... kog lama banget nyampenya ?" omel Zia.
" Sabar, Zi ... mungkin dia ada keperluan yang lain sebelum kesini." ucap Audrey tersenyum.
" Tau, nih Zia ... jangan kebanyakan ngomel Lo ... ntar cepat tua." ejek Dea.
Zia memeletkan lidahnya mendengar omongan Dea.
Dea membalas mengejek Zia.
Mereka berempat segera menuju kamar Audrey sambil saling melempar candaan.
Sementara itu Bella yang baru saja tiba di mansion Audrey, segera masuk kedalam begitu pintu dibuka sama pelayan.
" Bik ... Audrey mana ? " tanya Bella tanpa melihat kearah bik Imah.
Sedangkan matanya jelalatan memperhatikan isi mansion milik Audrey. Ia sangat ingin segera menikmati hidup seperti Audrey. Tinggal di mansion mewah dengan pelayan yang selalu meladeni setiap keinginannya. Bisa belanja sepuasnya tanpa harus takut kehabisan uang. Mau pakai mobil warna apa saja ada. Membayangkan hal ini, seringai lebar muncul di mulut Bella
" Dikamar non ... " jawab Bik Imah sopan.
" Oh ... " tanpa berkata lagi, Bella langsung berjalan menuju lift agar segera sampai di kamar Audrey.
" Saya gak suka lihat teman non Audrey yang satu ini, bik ... sepertinya non Bella jahat. " ucap salah satu pelayan begitu bayangan Bella sudah tidak terlihat lagi.
" Iya, sama ... saya juga gak suka.
Sok kecantikan , sombong. Non Audrey aja yang tuan rumah gak kaya gitu gayanya." sambung pelayan yang lain.
" Huss ... udah sana kerja lagi.
Nanti kalau kedengaran sama non Audrey, gak enak. Biar bagaimanapun non Bella temannya nona kita. Jadi sudah tugas kita buat sopan padanya."
Bik Imah menegur kedua pelayan yang menghina Bella.
" Tapi bik, yang kami bilang kan benar. Bik Imah lihat sendiri tadi, dia gak ada sopan - sopannya nanya sama bibik. Mana matanya jelalatan lagi." protes salah satu pelayan.
" Benar itu, kaya mau maling." ucap pelayan satunya lagi gak mau kalah.
" Ya, udah ... biarin saja. Dia cuma tamu disini. Yang penting kita sebagai pelayan non Audrey harus selalu siap dan waspada jika memang ada yang berniat buruk pada nona kita. Kita semua harus membantu nona Audrey." Bik Imah memberi nasehat pada kedua pelayan yang masih seumuran dengan teman - teman Audrey.
" Siap, boss ... " kedua gadis pelayan itu memberi hormat pada bik Imah sebagai kepala pelayan di mansion ini.
Bik Imah hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah yang dilakukan kedua gadis tersebut.
Merekapun kembali mengerjakan tugasnya masing - masing.
" Gue .... " Bella tak melanjutkan ucapannya begitu melihat Rina juga ada di kamar Audrey.
Matanya langsung melotot tak senang menatap Rina.
" Ngapain pelayan ini disini, Drey...? " tanya Bella tak senang.
" Bel .... Rina sekarang teman kita juga. Gue yang nyuruh dia kesini." Audrey menjelaskan agar Bella tenang.
" Gak ... gue gak sudi temanan sama dia. Yang ada kalau pelayan ini disini, dia akan bebas mencuri barang - barang Lo. Lagian elo ada - ada aja ya, Drey ... Masa Lo yang seorang model terkenal dan anak dari pengusaha besar, mau temenan sama pelayan kaya dia." ucap Bella sombong sambil matanya menatap remeh pada Rani.
Air mata Rani langsung menetes mendengar hinaan yang keluar dari mulut Bella. Ia sadar kalau ia memang orang miskin dan hanya seorang pelayan, tapi ia gak terima kalau dibilang mau mencuri di sini. Apalagi Audrey yang sudah begitu baik padanya.
Rasanya ia ingin sekali membalas hinaan Bella, tapi ia gak tahu harus berkata apa.
" Bel ... Lo gak boleh ngomong kaya gitu. Memangnya kenapa kalau Rina pelayan. Elo juga kerja paruh waktu sebagai pelayan kan.
Tapi kami biasa aja, gak ada bedain antara Lo sama Audrey ataupun Zia. " Dea yang biasanya diam, gak suka melihat omongan Bella berkata dengan nada marah.
" Iya, Bel ....Lo gak boleh bersikap kaya gini. Kita ini semua sama di mata Allah seperti yang sering Audrey bilang." Zia ikut menimpali.
Darah Bella semakin mendidih mendengar Dea dan Zia yang sudah lama berteman dengannya malah membela pelayan murahan itu. Ia tidak terima dengan perkataan Dea barusan, yang mengingatkan kalau dia juga seorang pelayan sama dengan Rina. Jelas saja ia berbeda dengan perempuan kampungan itu.
**********************************
* Jangan lupa terus dukung saya sebagai penulis, dengan memberikan like, vote dan hadiah yang banyak ... hehehe.
* Tolong berikan komentar yang baik dan membangun.
* Semoga kita semua selalu diberi limpahan rezeki dan kesehatan yang baik .... Aamiin.
* Saya harap kalian suka dengan cerita perdana saya.
__ADS_1
* Terima kasih ..... 🙏🙏🙏😘