
Setelah memikirkan dengan matang Kevin, akhirnya memutuskan untuk memberitahu Audrey hari ini. Ia tidak ingin Audrey berpikir dan tetap berharap kalau orang tua mereka masih hidup,sementara kenyataannya tidak seperti yang ia inginkan. Meskipun sakit tapi ia harus belajar menerima kenyataan pahit ini.
“ Kamu jadi memberitahu Audrey ? “ Erland menatap Kevin dengan tatapan dingin.
“ Ya, aku akan menghubunginya sekarang ! “ ucap Kevin serius.
“ Hmm ... jangan sampai Audrey sakit karena mendengar berita yang mau kau sampaikan ! “ucap Erland dengan nada penuh tekanan.
“ Tentu saja, aku juga tidak ingin adikku mengalami hal itu ! “ ujar Kevin tidak terima dengan perkataan Erland.
Erland memandang Kevin dengan tatapan mengintimidasi. Ia tidak bisa menerima jika Audrey merasa sedih. Jika saja keadaan tidak serumit ini, ia pasti sudah menghampiri Audrey dan memperkenalkan dirinya sebagai calon suaminya.
Tapi sayangnya selain janji yang harus ia tepati pada om Eldric, ia juga belum bisa menangkap musuh yang terus mengincar keselamatan Audrey. Sehingga membuat Erland harus menahan dirinya untuk menemui Audrey.
Ketika ia berusaha menjebak orang yang ia curigai dengan menyetujui kerja sama yang mereka tawarkan, mereka malah meminta waktu untuk memikirkan lebih lanjut.
Seolah – olah mereka mencurigai sesuatu. Hingga membuat Erland harus bersikap lebih berhati –hati, supaya mereka tidak curiga kalau sebenarnya Erland dan om Eldric saling mengenal.
Syukurnya, sudah sejak lama Elbert menghapus data mengenai dirinya di masa lalu. Terutama mengenai orang tuanya dan orang tua Audrey yang pernah bersahabat.
Jadi meskipun ada yang berusaha untuk mencari, mereka tidak akan menemukannya di mana pun.
Kevin menghela nafas dengan berat sebelum menghubungi nomer Audrey. Setelah merasa lebih tenang, ia pun mulai menekan tombol panggil.
Audrey yang sedang ngobrol di kamar dengan semua sahabatnya tidak mendengar panggilan masuk di handphonenya.
Tentu saja ia tidak bisa mendengar karena tasnya ketinggalan di dalam mobil.
Rina lupa membawanya karena begitu khawatir melihat keadaan Audrey.
Kevin mulai mengerutkan dahinya saat melihat Audrey tidak mengangkat telefon darinya. Ia kembali menghubungi nomer Audrey hingga beberapa kali, tapi masih belum juga diangkat. Hal ini membuatnya merasa khawatir. Kevin ingat kalau sebelum Audrey pulang ke mansion, ia melarang adiknya untuk menyimpan nomernya.
Berarti saat ini Audrey sengaja tidak mau mengangkat telefon karena tidak mengenali nomer Kevin.
Ia lalu mengirim pesan singkat pada Audrey dan memberitahu kalau ini adalah nomernya dan meminta Audrey segera mengangkat telefon darinya. Tapi tetap saja belum diangkat juga sama Audrey.
Kevin jadi semakin merasa khawatir. Ia takut terjadi hal yang buruk pada adik kesayangannya.
“ Audrey belum menjawab telefon kamu juga ? “ tanya Erland.
“ Ya, padahal aku sudah mengirim pesan pada Audrey dan memberitahunya kalau ini nomerku. “ jawab Kevin dengan nada yang begitu khawatir.
“ Hmm ... kenapa kau tidak menghubungi nomer bik Imah untuk menanyakan Audrey ! “ ujar Erland mengingatkan Kevin.
“ Oh, ya ... kamu benar. Sebentar biar aku hubungi bik Imah. “ Kevin kemudian menekan nomer bik Imah dengan cepat.
Tetapi begitu mendengar nomer bik Imah tidak aktif, membuat Kevin menyimpulkan bahwa sudah terjadi hal yang buruk di sana. Karena tidak biasanya handphone bik Imah tidak aktif seperti ini.
“ Handphone bik Imah gak aktif, Land ! Pasti sudah terjadi sesuatu di mansion. Aku harus pergi kesana. Aku gak mau adikku mengalami hal yang sama seperti yang terjadi dengan kedua orang tuaku ! “ Kevin tidak bisa menutupi ketakutannya.
“ Tenang, kamu jangan berpikiran buruk dulu. Mungkin saja Audrey dan bik Imah sedang tidak memegang handphone mereka. Nanti kamu coba hubungi lagi. “ Erland berusaha menenangkan Kevin walaupun sebenarnya ia juga sangat khawatir. Hanya saja ia bisa menutupinya.
“ Baiklah, aku harap apa yang kamu katakan itu benar. “ ucap Kevin, kemudian bangkit dari tempat duduknya.
“ Kamu mau kemana ? “ tanya Erland ikut bangkit.
“Aku mau melemaskan otot – ototku sejenak ! “ ujar Kevin.
Ia ingin berolah raga sejenak untuk meredakan kegelisahannya.
“ Hmm ... kalau begitu aku kembali ke mansion. Nanti kabari aku jika kamu sudah berhasil menghubungi audrey.” ucap Erland.
" Okey ... !" sahut Kevin dan kemudian mereka pun berpisah.
Sementara itu teman - teman Audrey masih cemas dengan kondisi Audrey.
" Drey ... sebaiknya kita batalkan saja rencana buat keluar malam ini. " ujar Dea dengan wajah serius.
" Iya, Drey ... kita di mansion aja.
__ADS_1
Gue gak mau, Lo sakit lagi kaya tadi ! sahut Rina setuju dengan yang di katakan Dea.
" Dea dan Rina benar, honey ... kita disini aja, ya ... biar Lo istirahat ! Besok - besok kita masih bisa pergi keluar !" ucap Zia.
" Kalian ini kenapa sih ? orang Audrey nya sendiri yang bilang
dia udah baik - baik aja ! " ujar Bella gak suka karena perhatian yang mereka berikan pada Audrey terlalu berlebihan. Padahal Bella lihat, Audrey juga udah gak papa.
" Elo yang aneh, Bel ... gue sendiri yang menyaksikan dengan jelas bagaimana keadaan Audrey tadi. Jadi, gue yakin kalau Audrey tidak dalam keadaan baik - baik saja !" ujar Rina dengan ketus pada Bella.
Ia beneran kesal mendengar perkataan Bella yang terlihat tidak perduli dengan kondisi Audrey.
" Iya, Lo kelewatan, Bel ... !" sahut Zia dan Dea.
Bella tentu saja gak terima di perlakukan begini, apalagi sampai
di bentak oleh Rina, gadis kampung yang memang sejak awal ia tidak pernah menyukainya.
" Udah, jangan jadi ribut ! Beneran gue udah sehat, kog ... gue lemas karena kurang tidur aja.
Kalian gak usah khawatir ! Gue tahu kondisi badan gue." ucap Audrey berusaha menenangkan sahabatnya.
" Tuh, kalian dengar sendirikan, Audrey ngomong apa !" ujar Bella merasa menang.
" Pokoknya kali ini, Lo harus dengerin omongan kita ! Gue gak mau tahu, Lo setuju apa gak ... kita tetap di mansion, gak kemana mana !" ujar Rina tanpa memperdulikan Bella.
" B******k, dasar kampung ! Beraninya gak menganggap gue.
Awas, gue akan buat Lo terusir dari sini secepatnya !" ucap Bella dalam hati dengan penuh amarah.
" Iya, honey ... kita di mansion aja.
Kita kan masih bisa bahas hal - hal seru, gak harus keluar. " ujar Zia.
" Iya, Drey ... please, dengarin omongan kami, ya ... kami kaya gini karena perduli dengan Lo !
kalau Lo nurutin permintaan kita." Dea dengan dewasa memohon pengertian dari Audrey.
" Hmm ... beneran nih, kalian gak papa kalau kita gak jadi keluar ?
Gue gak enak aja, kita udah ngerencanain dari kemarin ?" tanya Audrey memastikan.
" Iya, gak papa, Drey ... ! " sahut mereka bertiga secara bersamaan dengan tersenyum.
" Eh, sorry ya ... gue mau ke kamar bentar. Sakit perut gue !" ujar Bella berbohong karena ia ingin segera keluar dari kamar Audrey
untuk menenangkan perasaannya yang masih emosi karena perkataannya sama sekali gak
di hargai.
" Ya, udah ... buruan Bel !" sahut Audrey. Sedangkan Rina, Zia dan Dea tidak memberikan respon.
Bella yang merasa tidak di perduli kan bergegas keluar dari kamar Audrey.
Begitu keluar dari kamar, di kejauhan ia melihat Lily sedang menatapnya dengan senyum licik.
" Kasihan deh, yang dicuekin ?" ejek Lily setelah Bella berjalan mendekat ke arahnya.
" Apaan Lo ... ! Lo nguping ya, dari tadi !" bentak Bella.
" Iya, dong ... kenapa emangnya ?" ujar Lily tanpa merasa bersalah.
" Dasar kampungan ! Sana Lo ... !" Bella berusaha menolak badan Lily yang berdiri di depan pintu kamarnya.
" Eit ... jangan marah dulu. Gue punya cara buat mengusir Rina dari sini. Gue mau ajak Lo kerja sama, siapa tahu Lo berminat !" ujar Lily sembari menepis tangan Bella.
Bella terdiam begitu mendengar omongan Lily. Ia memang benci banget dengan Rina. Apalagi sekarang, ia udah berani gak menghargai Bella.
Tapi ia juga gak suka dengan Lily. Kalau bisa ia ingin menyingkirkan keduanya. Namun, gak ada salahnya juga kalau ia mencoba bekerja sama dalam hal ini. Agar Rina bisa di usir secepatnya. Baru setelah itu Bella akan memikirkan cara untuk menyingkirkan Lily.
__ADS_1
" Hmm ... kita ngomong di kamar gue aja ! Bahaya kalau bicara di luar, nanti kalau tiba - tiba mereka keluar, pasti mereka curiga ngeliat gue ngomong sama Lo. " ujar Bella.
" Okey ... !" sahut Lily dengan cepat.
Bella lalu membuka pintu kamarnya dan mengajak Lily masuk.
" Sekarang Lo jelaskan rencana lo ! " ujar Bella begitu mereka sudah berada di kamar.
" Okey, tapi kalau Lo mau rencana ini berhasil, lo harus janji buat mendukung semua apa yang gue katakan di depan Audrey ." ujar Lily menatap Bella serius.
Bella berpikir sejenak ketika mendengar ucapan Lily.
" Udah, Lo tenang aja ... gue bukan mau jerumusin elo tapi ini demi memuluskan rencana kita buat mengusir Rina dari sini !" Lily seakan tahu apa yang sedang
di pikirkan Bella.
" Hmm ... baiklah. Gue setuju !
Sekarang jelaskan rencana Lo ... !" ucap Bella setelah merasa yakin.
" Baik ... dengarkan dengan benar apa yang mau gue sampaikan !" perintah Lily.
" Oh, okey ....!" sahut Bella menganggukkan kepalanya.
" Hmm ... begini rencana gue !" Lily kemudian bicara panjang lebar menjelaskan apa yang akan ia lakukan dan Bella tinggal mendukungnya saja.
Bella langsung terbelalak begitu mendengar rencana Lily. Ia gak menyangka kalau Lily benaran cerdas dan mempunyai otak yang sangat licik. Ia harus lebih berhati - hati mulai sekarang padanya.
" Bagaimana ... Lo setuju !" Lily meneliti wajah Bella yang masih diam dan belum mengatakan apapun sejak ia memberitahu
rencananya.
" Okey, gue setuju ! " ujar Bella akhirnya setelah mempertimbangkan dengan matang, karena ia sendiri belum memiliki ide bagus untuk mengusir Rina dari mansion ini.
" Bagus ... kalau begitu kita hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya." ujar Lily dengan senyum di wajahnya.
" Ya ... beritahu gue jika sudah tiba waktunya !" ucap Bella.
" Sip ... ! Kalau begitu gue keluar sekarang. " ujar Lily.
" Tunggu ... biar gue lihat keluar dulu. Takutnya ada orang dan mereka pasti curiga melihat Lo keluar dari kamar gue. " Bella kemudian berjalan ke arah pintu.
Sedangkan Lily menunggu di sisi lainnya agar tidak kelihatan.
Bella keluar dari kamarnya dan melihat tidak ada seorangpun yang ada di sana. Ia lalu memberi kode aman buat Lily.
Lily pun kemudian beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan keluar dari kamar Bella dengan buru - buru. Sementara Bella langsung menutup pintunya.
Tapi yang tidak mereka ketahui, Rina yang baru saja hendak keluar dari kamar Audrey melihat akan hal ini. Ia melihat Lily keluar dari kamar Bella dengan senyum lebar di wajahnya.
" Hmm ... kenapa Lily bisa berada
di kamar Bella ? Padahal mereka jelas sekali terlihat tidak saling menyukai satu sama lain ! Apa mereka merencanakan sesuatu ? Sebaiknya mulai sekarang aku harus lebih berhati - hati dan memperhatikan keduanya dengan lebih serius!" gumam Rina.
**********************************
Hai, semua ... 😍
Semoga kalian semua selalu dalam keadaan sehat, ya ... agar bisa tetap beraktivitas setiap harinya.
Maaf, jika masih banyak kesalahan dalam penulisan di cerita yang Mommy buat.
Makasih buat dukungan dari kalian yang sudah memberi like, koment dan vote nya ... 🙏🙏😘
Tapi tetap terus beri dukungan kalian ya ... 😍😍😍
Selamat membaca ... semoga kalian menyukainya.
Love You All ❤️❤️ ❤️
__ADS_1