Cinta Gadis Malang

Cinta Gadis Malang
121. Panik


__ADS_3

Ayu dan Maira panik, karena suster mengatakan jika keadaan Allan semakin menurun.


''Bu bagaimana in, ?Ayah mengapa belum datang. Ayu takut terjadi sesuatu pada Allan, Ayu takut dia tidak bisa bertahan lagi. ''panik itulab yang Ayu rasakan saat ini.


''Ayu, tenanglah dan terus berdoa tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan untuk menyelamatkan umat nya. ''Maira menenangkan Ayu.


Damian datang dengan panik nya, setelah dokter rumah sakit memberitahukan keadaan Allan. Sebagai pemilik rumah sakit, tentunya Damian akan memberikan semua yang terbaik untuk Allan.


''Ayu, Maira... ''


''Ayah.. '' ayu memeluk Damian dengan penuh rasa takut


"Ayah, Allan yah... "ayu bahkan tak mampu berkata, dia begitu sedih dengan keadaan Allan.


Damian begitu marah, dia sangat marah dengan Nesia. Bahkan jika Damian membunuh nya sekalipun tak akan akan membuat Allan terbangun. Waktu Ayu terbaring melawan maut, Damian tak mampu berbuat apapun karena semua di kendalikan oleh Willi. Batin Damian hancur di saat putri nya harus melawan maut selama berbulan-bulan, di saat itu rasa nya Damian hampir kehilangan akal sehat nya. Tetapi dia selalu berusaha kuat agar ketika anak nya terbangun, mampu melihat nya lagi. Kali ini Damian di hadapkan dalam keadaan yang sama, Allan putra angkat nya yang begitu dia sayang mengalami hal yang sama, sedang melawan maut kematian.


Yang semakin membuat nya hancur mengapa harus dua wanita yang mendampingi dan menemani hidup nya lah, yang menghancurkan kehidupan anak-anak nya.

__ADS_1


"Aku bersumpah jika terjadi sesuati pada Allan, aku aka membunuh mu dengan tangan ku sendiri Nes. Akan ku potong leher mu dan seluruh bagain tubuh mu sampai hancur ."


Damian mengepalkan tangan nya, dan suara rintih nya terdengan jelas oleh Maira yang berada tak jauh dari nya.


''Damian, buang jauh pikiran busuk mu itu. Lebih baik sekarang kamu berdoa untuk kesembuhan putra mu. Allan tidak butuh semua ocehan mu itu, dia hanya butuh do'a. Dahulu ketika Ayu mengalami hal yang sama, aku tidak memiliki kekuatan untuk memikirkan hal lain. Aku hanya punya do'a dan aku selalu berdoa setiap waktu tanpa henti, tanpa lelah. Jika kamu seperti ini, maka Tuhan akan memberikan ujian yang lebih berat lagi untuk mu. ''


Mata Damia berkaca, mendengarkan nasehat dari Maira. Memang hanya Maira lah yang mampu menenangkan dirinya, bahkan Damian tak mampu walau hanya menyangkal sedikit saja ucapan Maira.


''Terimakasih Maira, sudah mengingatkan ku. Aku pasti akan selalu berdoa tanpa henti, untuk Allan dan Ayu. '' Damian menggenggam tangan Maira, menatap wanita yang selalu mengisi hati nya.


Sementara Willi masih mengurus para pesakitan di kantor polisi ditemani Cakra. Andhara begitu menggila di dalam sana, dia bertriak histeris minta di bebaskan. Bahkan dia meraung seperti orang kesurupan, bahkan tak ada keluarga atau pun pengacara yang mendampingi nya.


Dalam ruangan yang dingin Nesia seorang diri, kaki nya di borgol dia tidak mampu untuk bergerak sedikit pun, mungkin itu adalah akhir bagi nya, karena tak dapat lagi menghirup udara kebebasan. Damian pqsti akan menu tutnya seumur hidup, Apalagi Willi bahkan dia pasti menginginkan hukuman mati untuk nya.


Di ruang perawatan Nirina, Mama nya menjaga nya dengan tenang bersama Sera. Tidak lupa beberapa pengawal yang berjaga di luar untuk menjaga Nirina dari orang-orag yang akan berniat jahat pada nya.


Nyonya beristirahat lah, biar saya saja yang menjaga Nona Nirina. ''Anda begitu terlihat lelah, jika anda sakit siapa yang akan menjaga nya. ?'' Sera berusaha membujuk Mama Wili untuk beristirahat, karena dia tidak tega melihat Nyonya besar nya yang begitu rapuh.

__ADS_1


''Sebentar lagi Sera, saya mau selalu berada di samping nya.''ucap Mama Willi dengan wajah sendu.


''Baik nyonya, tetapi sebentar lagi anda harus istirahat '' Sera kembali mengingatkan.


Nirina tersadar, ketika dia membuka mata nya wajah Mama nya lah yang ada di hadpaan nya. Raut wajah nya begitu ketakutan menyiratkan kegelisahan yang mendalam, mata nya menandakan kesedihan yang mendalam.


''Ma, Ma Nirina takut Ma, Ma Allan Ma dia... dia. '' Nirina meracau setelah itu dia menangis, Mama nya menenangkan dengan memeluk tubuh kecil Nirina.


''Sayang Allan sudah aman, kamu juga aman bersama Mama. Sayang tenang ya, Mama akan menjaga kamu, di sini juga ada Sera dan pengawal lain yang menemani mu. '' Mama terus saja memberikan kekuatan pada Nirina.


Sera memberitahu dokter jika Nirina sudah sadar, dengan sigap ada tiga Dokter yang langsung melohat kondisi Nirina, yang paling utama adalah psikiater yang akan membantu Nirina menghilangkan rasa trauma nya.


kondisi Nirina di cek dengam detail, Willi tidak main-main untuk kesehatan adik nya. Dia pasti sudah menyiapkan doter terbaik bagi adik kesayangan nya.


Willi dan Cakra sampai di rumah sakit saat malam tiba, mereka harus memastikan keadaan Nirina dan Allan. Melihat Nirina yang masih trauma tetunya hati Willi pun semakin sakit.


''Ayu, kamu belum pulang sayang.. ?'' Willi menemu Ayu yang masih setia berada di rumah sakit menjaga Allan dan Nirina.

__ADS_1


Mas, aku tidak akan bisa tenang melihat Allan dan Nirina seperti sekarang. ''Mana mungkin Ayu pulang. '' wajah Ayu begitu sayu, terlihat jika dia lelah dan mengantuk.


Mas antar kamu dan Ibu pulang, ''beristirahat lah sayang besok baru kamu datang lagi kemari, Mas tidak mau kamu ikutan sakit. '' Willi membujuk Ayu untuk pulang.


__ADS_2