
Nirina sedang merasa galau,semua kontak dan pesan dari sudah dia hapus.tetapi setelah ia sedih dan marah sendiri,karena merasa rindu tetapi tidka bisa menghubungi Allan.
''Aduh mengapa kemarin aku menghapus kontak nya,'' sekarang kan aku tidak bisa menghubungi nya lagi.Ihhhh sebel deh kalau seperti ini aku harus gimana,udah tidak bisa pergi kemana-mana pula semua dibatasi kan jadi bosan.
Aku harus apa ya,apa minta kerjaan saja sama kakak jadi apa kek di sana.Biar ada kesibukan jadi kan pikiran ku bisa teralihkan.
Nirina menghubungi Willi,tetapi tidak ada respon apapun.Menyadari kakak nya sedang sibuk ia memutuskan mengirim pesan saja.
Di Jerman Willi sedang menunggu pemeriksaan di kepala Ayu,didepan ruang neurologi Willi tertunduk lemas bersama Maira.Berhara semua nya akan-baik baik saja.Setelah Ayu keluar dari ruangan Willi hanya terpaku memandang,sementara Maira selalu menghapus air mata nya nya yang tak pernah berhenti mengalir.
Esok hari Willi baru membalas pesan dari Nirina, Jika Cakra yang akan mengurus semua nya.Nirina hanya perlu menghubungi Cakra saja,karena Cakra lah yang akan menentukan posisi yang tepat untuk nya.
Hasil pemeriksaan Ayu semua baik,itu membuat Willi dan Maira semakin lega.Dokter juga mengatakan jika keadaan Ayu selalu stabil setiap harinya kemungkinan dia sadar akan semakin besar.
Cakra mengajak Nirina ke kantor,posisi nya hanya sebagai staf biasa.Karena Nirina memang belum memiliki pengalaman,kuliah saja dia belum lulus walaupun sudah memasuki semester akhir tetapi tetap saja dia harus belajar dari bawah.Willi menyerah kan semua pada Cakra,jadi dia tidak akan berkomentar jika Nirina memang harus mendapat posisi itu.Berbeda dengan Ayu,karena saat itu Willi sendiri yang menentukan posisi nya.Tetapi yang Cakra lihat Nirina enjoy menjalani nya,dia juga tidak protes sedikit pun.
Tidak terasa satu bulan sudah Nirina bekerja,dia melakukan semua nya dengan senang hati.karena dengan bekerja dia bisa keluar dari rumah dan bisa berkumpul dengan teman-teman nya di kantor. Walaupun tetap saja aturan Willi tetap berlaku,Nirina harus pulang ketika jam kantor memang sudah selesai dan tidak boleh lembur.Zidan tetap akan mengantar dan menjaga nya di kantor,Nirina tidak masalah dia juga tidak berani berkutik.Karena kalau dia membuat onar,Willi tidak akan memberi fasilitas apapun.
''Enjoy nya bekerja,''bisa melupakan pikiran ku yang selalu fokus pada Allan.Tetapi dia menyebalkan juga,masak sih tidak pernah mengirim ku pesan sekali pun kejam sekali.Untung saja hatiku ini bagaikan baja kalau tidak,aku pasti sudah menangis setiap hari.
ketika istirahat Nirina makan di kafe yang ada di di depan kantor nya,dia juga mengajak teman nya Friska.
''Naa''Panggilan Nirina dari Friska
''ya Fris.''jawab Nirina.
''Bukankah itu bu Sera ya,ternyata cowok nya tampan sekali ya'' Friska berkata dengan pelan.
''Mana..?''Nirina seketika menoleh ke arah dimana Sera berada.
Tubuh Nirina membeku,kepala nya pun menunduk karena dia terkejut Allan lah yang bersama Sera di sana.
''Mengapa harus bertemu mereka di sini,susah payah aku melupakan dia kenapa sekarang muncul didepan ku.?'' Nirina berkata dalam diam.
''Gimana menurut mu Naa cakep kan..?'' Friska masih saja bertanya.
__ADS_1
''Iya Friska.''Jawab Nirina dengan singkat.
Mereka makan masing-masing Allan pun tak menyadari,jika ada Nirina di tempat yang sama.Nirina makan tidak fokus karena pikiran nya entah kemana,sampai ponsel nya terjatuh karena gugup.
''Prak..'' Ponsel Nirina terjatuh.
Nirina mengambil nya dengan satu tangan,saat itu Allan melihat kearah sumber suara.Ketika Nirina kembali duduk Allan terkejut melihat nya,dia tidak menyangka akan melihat Nirina.
Dari jauh Allan memperhatikan Nirina,,sebenar nya Nirina menyadari kalau ada yang sedang memperhatikan nya,tetapi dia diam tak mau melihat
karena dia berpikir jika itu adalah Sera.
Friska mengajak Nirina untuk kembali kekantor, karena sudah selesai makan.mereka pun beranjak pergi meninggalkan kafe itu,ketika menunggu Friska membayar Nirina dikejutkan dengan sebuah tangan yang menyentuh bahunya.
''Hey''Nirina terkejut.
''Allan..'' Dengan spontan Nirina menyebut nama itu.
''Bis bicara sebentar..?'' Pinta Allan.
''Apa kabar.?'' Allan bertanya.
''Baik sekali..'' Jawab Nirina dengan senyum.
''Besok tunggu saya di sini untuk makan siang bisa..?'' Ucapan Allan mengejutkan Nirina.
''Tapi aku tidak enak dengan sekertaris Sera'' Kata Nirina.
''Sera..kenapa dengan nya.?'' saya rasa dia tidak akan keberatan.Apa kamu takut dia mengadu pada Willi, tenang saja dia akan jaga rahasia ini kok.
''Mengapa pikiran Allan begitu,apa dia ini playboy profesional.''Batin Nirina.
''besok saya tunggu kamu di sini.!'' Allan kembali pada tempat duduk nya bersama Sera.
Di kantor Nirina kepikiran dengan ajakan Allan,dia terus saja berpikir jika sedang makan siang bersama Allan dan Sera melihat nya.
__ADS_1
''Bagaimana kalau Sera melihat kami dan dia marah-marah pada ku karena mendekati kekasih nya,pasti nanti dia bilang dengan kakak bagaimana dong.''
Sampai waktu nya pulang kantor Nirina bertemu Sera yang akan pergi bersama Cakra di loby.Cakra menyapa nya seperti biasa,Sera pun sama dia bersikap sewajarnya.
''Mengapa Sera tidka marah Allan mendekati ku,mengapa dia biasa saja.Sudha lah aku tidak mau memikirkan mereka lagi,membuat ku pusing saja.'
Liora menghampiri Willi yang duduk termenung,dia tau jika paman nya sedang banyak beban.
''Paman..'' Liora memanggil.
''Iya Liora'' Jawab Willi dengan lemah.
''Liora tau,paman pasti banyak beban ya apa belum ada perkembangan dengan keadaan Ayu.?apakah usaha dokter Egon belum membuahkan hasil.?''
Liora kamu ini mengerti sekali dengan keadaan paman,keadaan Ayu masih sama menurut pantauan dokter sih dia stabil dan dalam kondisi baik.Tapi kenapa dia masih belum sadar juga,itu yang membuat paman bingung.
Paman,bukan kah Kemarin Nirina seperti itu paman pasti paham kan kalau proses nya memang panjang.
''Itu lah yang Paman takutkan Liora,''jika Ayu harus menjalani proses yang panjang seperti Nirina apakah saya akan kuat.Baru beberapa bulan saja saya sudah sangat lemah,terkadang terlintas di benak Paman jika suatu saat nanti Ayu menyerah.
''Kuat lah paman,mintalah pada tuhan mu untuk kesembuhan Ayu...!'' Liora menguat kan Willi.
Terimakasih Liora,kamu banyak membantu paman di sini.
Siang itu Willi datang ke rumah sakit lebih cepat,dia sengaja melakukan itu agar bisa menjaga Ayu bersama Maira.
''Tante,,apa sudah ada perkembangan.?'' kata Willi
''Seperti apa yang kamu lihat Wil,masih sama.'' Jawab Maira.
''Ayu saya berada di sini dengan Ibu mu,sekarang kita berada di Jerman.Jauh sekali dari Indonesia negara kita,kamu pasti senang jika melihat nya kamu pernah berkata bukan jika kamu ingin melihat dunia id berbagai negara.Sekarang sadar lah kita nanti bisa keliling Jerman bersama-sama.''
Willi menangis mengatakan itu,dia merasa hatinya begitu lemah.Willi mengajak Mira beribadah didekat Ayu tertidur,merek ingin memanjat kan doa khusus untuk Ayu.Sebagai seorang ibu pasti Maira mendoakan nya setiap saat,begitu pun jiga dengan Willi yang tak pernah lelah berdoa untuk Ayu.Kali ini Willi benar-benar berserah dalam kelemahan hatinya,dia merasa tidak mampu lagi untuk beratahan.Willi berdoa dalam tangis yang begitu pilu,Maira pun sampai teriris hati nya menyaksikan itu bagaiman tulus nya Willi berjuang untuk putrinya.
''Bangunlah Ayu,sadarlah nak lihat Willi yang begitu rapuh karena mu.Bangunlah sayang sambutlah doa nya yang tulus untuk mu.'' Maira berkata dalam hati nya dan menatap Ayu,disertai tangisan yang sungguh memilukan
__ADS_1
''Ibu..''