
Setelah berteriak melengking membentak anak nya, Pak Rusli Papa Nesia segera berdiri dan berkacak pinggang. Dia menunjuk anak nya dengan amarah yang sudah tak mampu lagi Iya bendung.
"Justru kamu lah anak yang tidak berguna itu Nesia... ! "kata Pak Rusli yang penuh tekanan emosi, mata nya membulat dan keringat bercucuran seolah mendidih melihat kelakuan anak nya.
Kamu hanya bisa menyusahkan orang tua mu. Jangan menyalahkan cucuku atas yang menimpa rumah tangga mu, "karena kamu memang tidak pantas menjadi seorang istri, pantas saja Damian menceraikan mu yang tak berakhlak .!"
''Urus dirimu sendiri di penjara, karena Papa tidak akan melakukan hal apapun untuk membela mu. Belajar lah menjadi dewasa dan bertanggung jawab. Semua yang telah kamu lakukan akan ada akibat yang harus kamu terima... !'' Pak Rusli melangkah pergi serta mengajak istri nya meninggalkan ruang besuk.
''Pa.. '' Nesia memanggil nada lemah, tetapi Papa nya gak menghiraukan nya lagi.
'''Arman, tolong carikan pengacara terbaik untuk ku... !'' Nesia memohon pada Arman sepupunya.
''Akan ku usahakan Nes..'' jawab Arman.
''Tolong Man, aku tidak mau lama-lama di sini.''
Sabar Nes, semua membutuhkan proses dan kamu harus melewati itu semua. ''Kamu tahu sendiri kan proses hukum seperti apa. '' ucap Arman.
Di dalam mobil nya, Papa Nesia masih merasa kesal apalagi cukup lama menunggu Arman. Wajah keriput nya terlihat begitu lelah, di umur yang seharus nya bahagia bersama anak cucu justru kini mendapatkan ujian yang begitu berat. Nesia adalah anak tunggal, tetapi melempar kotoran yang begitu menjijikan pada orang tua nya.
''Ternyata Papa telah gagal mendidik Nesia Ma. ''
Pa, jangan menyalahkan diri sendiri. Selama kita sudah mendidik Nesia dengan baik, Mama pun begitu sakit melihat kelakuan nya. Anak yang Mama sayangi dengan sepenuh hati, ternyata menoreh luka yang begitu dalam. Tetapi dia putri kita satu-satu nya, ''jangan biarkan dia semakin jatuh ke dalam jurang kemaksiatan. Kita harus menuntun nya lagi Pa. '' isak tangis sang Mama begitu terdengar pilu.
__ADS_1
''Akan Papa fikirkan Ma.. ''
*
*
Di rumah sakit keadaan masih sama, Allan belum sadarkan diri setelah satu minggu lebih di rawat.
Semengata keadaan Nirina sudah semakin membaik, wajah nya sudah terlihat segar tidak lagi pucat. Nafsu makan Nirina pun sudah semakin baik, walau jika teringat Allan dirinya akan kembali murung.
''Kak, kapan Allan bisa di jenguk. ?'' Nirina bertanya pada Willi yang sedang menemani nya bersama Ayu.
Willi mengulas senyum mendengar pertanyaan adik nya, tentu saja itu hanya menutupi rasa gisar nya. Sejujurnya Allan sudah bisa di jenguk, tetapi keadaan Allan yang belum sadar, itu akan semakin memperburuk keadaan Nirina.
''Perasaan dari kemarin itu lagi jawaban mu Kak. !'' ucap Nirina dengan kecewa.
Willi dan Ayu saling memandang, mengerti dengan keadaan yang ada Ayu pun berusaha menghibur Nirina agar tidak bersedih.
''Ni...'' Ayu memanggil Nirina.
Tidak lama lagi kamu akan bisa menjenguk Allan kok, jika Kakak mu tidak membawa mu kesana, aku yang akan mengantar mu. Jangan khawatir dan bersedih ya, ''sekarang fokus lah pada kesembuhan mu.. ! ''
Benarkah, ''terimakasih Ayu kamu memang calon Kakak ipar yang paling pengertian. '' aura kebahagiaan begitu jelas terlihat di wajah Nirina saat ini.
__ADS_1
Willi yang mendengar ucapan Ayu segwra menata penuh tanya, Willi tidak mengijinkan Nirkna menwui Allan. Mengapa Ayu justru ingin membantu adik nya menemui Allan, tentu saja itu sangat bertolak belakang dengan peraturan Willi.
Setelah selesai menemani Nirina, Willi tidak sabar untuk mengintrogasi kekasih kesayangan nya itu. Dia benar-benar butuh jawaban atas ucpaan Ayu.
Sayang apa maksud ucapan mu pada Nirina, ? ''Kamu tahu kan mas melarang Nirina bertemu Allan untuk sementara waktu. ''
Mas menurut ku ini tidak adil untuk Nirina dan Allan. Mas adik mu itu wanita yang Allan cintai, dia seperti sekarang karena bertaruh nyawa demi adik mu. ''Kamu egois jika melarang mereka bertemu, ini balasan kamu atas pengorbanan Allan.. !''
Ayu pun tak kalah bicara pada Willi, selama ini dia diam melihat Willi mengambil keputusan sesuka hati tanpa memikirkan pihak lain.
''Ayu, Mas takut Nirina kembali drop dan memperburuk keadaan nya. ''
Mas, Allan juga membutuhkan Nirina saat ini. Siapa tau dengan ada nya Nirina semamin mempercepat kesembuhan nya, kamu harus memposisikan Nirina itu kamu. Ingat mas saat Ayu sakit dulu kau seprti apa, kamu selalu ingin menemani ku kan.. ? ''Seperti itu lah perasaan Nirina saat ini. '' Willi mencoba mencerna ucapan Ayu.
''Kamu yakin sayang.. ?'' ucap Willi.
''Cinta akan menjadi kekuatan sendiri untuk mereka mas, semkga cintamereka mampu membangkitkan semangat Allan untuk sadar. ''
Baik lah, jika memang seperti itu menurut kamu. Mas mengijinkan Nirina bertemu Allan besok, tapi ingat harus ada Mas ketika kamu mempertemukan mereka.
Ayu tersenyum bahagia, semoga apa yang dia fiirkan menjadi nyata. Ayu selalu berfikir jika Allan butuh Nirina, dia butuh Nirina di sisi nya saat ini.
Keadaan Allan saat ini sudah mulai stabil, setelah beberapa saat kondisi nya naik turun. Dalam beberapa waktu pernah kondisinya benar-benar kritis, tetapi dokter berhasil menyelamatkan nya. Hanya tetapi Allan masih betah untuk menutup mata nya.
__ADS_1