
Nirina sedang makan siang di suapi oleh Mama nya, sebenar nya keadaan Nirina sudah baik dan bisa makan sendiri, tetapi Mama nya bersikeras untuk menyuapi anak manja nya.
Kedatangan Ayu dan Willi yang tiba-tiba begitu mengejutkan mereka, apalagi Nirina yang selalu berharap jika Ayu dan Willi akan mempertemukan dirinya dengan Allan. Maka dengan datang nya mereka, Nirina merasa ada angin segar yang terhirup merasuk paru-paru nya.
''Selamat siang Tante..'' Ayu menyapa calon Ibu mertua nya dengan begitu sopan, Mama willi menyambut dnegan pelukan hangat tentunya.
''Siang sayang, kamu kok sudah sampai apa kuliah mu sudah selesai.. ?'' kata Mama Willi.
''Sudah tante, kebetulan hanya ada satu kelas hari ini.. '' jawab Ayu.
Ayu memang harus kuliah, jika tidam urgen Willi melarang nya untuk inin ataupun bolos. Mama Willi tahuitu, sikap anak nya yang memang begitu disiplin.
Willi melirik Nirina , dia melihat adik nya yang tidak bersemangat dan dia tau itu karena apa.
Habis kan makanan mu.. ! ''jika ingin bertemu Allan. '' ucap Willi tiba-tiba dan mengejutkan Nirina serta Mama nya.
''Sungguh Kak, ? baiklah akan ku habiskan sekarang juga. '' ucap Nirina dengan mata berbinar. Jangan kan, satu piring, satu bakul saja mungkin dia habiskan demi untuk bertewu Allan.
Dengan lahap Nirina menghabiskan makanan nya, walau makana. Rumah sakit terasa hambar tetapi rasa semangat nya membuat Nirina dengan mudah menelan nya.
Nirina duduk tenang di atas kursi roda, di temani Ayu Willi mendorong dengan pasti sampai masuk ke dalam ruang perawatan Allan. Wajah Nirina yang awal nya cerah, seketika mendung melihat Allan yang terbaring dengan berbagai alat yang menempel di tubuh nya. Ruangan itu terasa sepi dan dingin nya AC begitu terasa sedingin hati Nirina yang begitu beku dengan keadaan Allan.
''Allan.... ''
__ADS_1
Suara Nirina terdengan lirih da pedih, air mata nya mengalir deras tangis nya pecah seketika sembari memandangi tubuh Allan yang tak berdaya. Tangan nya seakan tak mampu untuk meraih tubuh Allan yang berada tepat didepan mata nya. Nirina seakan membatu tak mampu menggerakkan tubuh nya, hanya airmata yang mampu terjun bebas tanpa hambatan.
Willi dan Ayu meninggal kan Nirina disamping Allan, mereka memberikan kesempan Nirina untuk bicara pada Allan. Wilki dan Ayu menunggu di balik pintu mendengarkan apa yang Nirina kata kan, mereka juga berjaga-jaga jika terjadi sesuatu di antara kedua nya.
''Allan maafkan aku, semua ini karena salah ku. Mengapa kamu begitu bodoh mengorban kan hidup mu demi wanita seperti ku yang tidak pernah bisa percaya dengan mu. Allan maafkan aku, tolong bangun Allan bangun lah. '' Nirina semakin menangis sedih.
''Sayang... '' isak tangis masih menemani Nirina.
Nirina menyentuh jemari Allan, seraya berfikir apa lagi yang akan dia ucapkan. Nirina harus meyakinkan diri nya bahwa ucapan nya tidak akan menyakiti perasaan Allan jika mendengar nya.
Kamu harus tau Allan, Aku memang marah dengan mu semua itu karena aku mencintai mu. Hatiku sakit melihat mu mesra dengan wanita lain, ''aku tidak rela berbagi cinta dengan siapapun dan aku cemburu Allan. ''
Ku mohon sadar lah, bangun Allan.. ! Apa kamu tidak malu dengan pekerjaan mu, kamu itu dokter kenapa kamu menjadi pasien manja yang betah sekali tidur sampai tidak mau bangun. Untuk apa mengejar pendidikan ke singapura kalau kamu sendiri saja malas begini. Lihat tuh pasien mu sudah antri, ''jangan mentang-mentang dokter tampan kamu menjadi besar kepala ya. ''
Nirina menundukan kepalanya dan menghapus air mata yang terus mengalis, dia sesenggukan menangis karena Allan tidak merespon nya sedikit pun.
Willi membiarkan adik nya menumpahkan isi hati nya, asal tidak menyakiti Allan dan diri nya sendiri, Willi akan tetap diam dan melihat apa yang akan Nirina lakukan.
Aku takut Allan, aku taku kamu tidak akan bangun lagi. Kamu tega sekali membuat ku resah seperti ini, jangan tinggalkan aku lagi ku mohon Allan. ''Bangun Allan ayo bangun bangunnnn....... !!!!!!!'' Nirina berteriak histeris di atas kursi rodanya.
Susana kembali hening, mungkin Nirina lelah karena Allan hanya diam. Hanya suara monitor dan tangis Nirina lah yang terdengar dalam ruangan itu.
Ayu yang melihat ikut merasakan kesedihan yang di alami Nirina, bagaimana pun dia pernah berada dalam posisi Allan yang teebarong tak berdaya. Ayu pun memeluk erat lengan Willi dan tak mampu menahan tangis. Willi yang keheranan menatap Ayu penuh makna, sebab kekasih nya menangis tiba-tiba tanpa suara dengan air mata yang mengalir deras membasahi baju nya.
__ADS_1
''Sayang kamu kenapa..?'' Willi menghapus air mata Ayu dengan panik.
Melihat Ayu hanya menangis Willi semakin tidak tega dan membawa kedalam dekapan nya. Willi membawa Ayu untuk duduk di kursi tunggu dan menenangkan nya.
''Sayang ada apa.. ?''
Mas, Ayu sedih melihat Nirina bagaimana jika aku di posisi nya yang melihat mu terbaring tak berdaya. Dulu di saat aku sakit, bahkan aku koma sangat lama, pasti kamu lebih hancur melebihi Nirina saat ini. Mas maafkan aku yang sudah banyak menyusahkan mu, ''terimakasih untuk semua pengorbanan dan kebaikan mu. '' Ayu tak dapat menahan tangis nya.
''Sayang itu sudah terlewati, justru mas yang berterimakasih karena kamu suda berjuang dan bisa berdiri di samping Mas saat ini. Kesehatan mu dan kebahagian mu adalah kebahagian Mas juga. '' pelukan Willi semakin erat.
''Ayu banyak berhutang pada mu Mas, hutang nyawa nyawa, materi waktu... ''belum selesai Ayu bicara Willi sudah membungkam Ayu dengan ciuman nya. Ayu yang terkejut hanya diam tak mebalas.
Jangan membicarakan hutang apapun sayang, karena Mas bukan bank keliling ataupun renternir. ''Cukup jaga hati dan cintamu untuk Mas, jaga dirimu dengan baik agar selalu bisa bersama ku. '' Ayu mengukir senyum mendengar ucapan Willi, bagi nya itu hiburan di tengah kesedihan.
Memang siapa yang bilang kamu bank keliling Mas, kalau bank keliking nya setampan kamu. ''Pasti Ibu-ibu komplek akan rela berhutang demi melihat mu. '' Willi yang terperanjah dengan ocehan Ayu, mencubit hidung Ayu dengan gemas.
Tolong, tolong ......!
Saat Willi dan Ayu sedang romantis berdua, suara teriakan Nirina terdengar jelas di telinga mereka, sehingga membuyarkan fokus mereka yang sedang romantis.
''Nirina Mas.... ''
Ayu dan willi segera berlari masuk memghampiri Nirina dengan penuh khawatir.
__ADS_1
''Kenapa Dek.. ?'' Willi bertanya.