Cinta Gadis Malang

Cinta Gadis Malang
125.


__ADS_3

''Kak, Allan Kak... '' tubuh Nirina bergetar.


''Ni, Nirina ada apa.. ? ''kata Ayu yang saat itu begitu panik.


''Ja..jari Allan bergerak. '' ucap Nirina dengan suara yang bergetar.


Sorot mata Willi langsung tertuju pada jemari Allan yang masih bergerak dengan lemah. Hal yang sama pun di lakukan oleh Ayu, dengan seksama dia memperhatikan jari-jari Allan.


''Kak Allan... ''teriak Ayu.


''Mas Willi panggil Dokter Mas.. ''Ayu mengejutkan Willi yang sebenar nya masih terpaku dengan apa yang dia lihat.


Willi dengan spontan menekan tombol untuk memanggil dokter. Tak berselang lama Dokter pun datang untuk mengecek kondisi Allan


setelah mendengar jika pasien bereaksi. Cukup lama dokter megecek kondisi Allan, sampai ketiga orang yang sudah menunggu kini merasa cemas.


''Ayu kamu kabari Om Damian sayang.. !'' kata Willi mengingat kan.


Dengan sigap Ayu menghubungi Ayah nya , walau iya belum tahu perkembagan yang di tunjukan oleh Allan itu baik atau tidak, tetapi sekecil apapun perubahan yang ada Ayah nya wajib tau.


Damian memang saat ini sedang tidak berada di rumah sakit. Banyak tanggung jawab kantor yang harus di selsesaikan oleh nya. Ketika Ayu menghubungi nya pun di sedang ada pertemuan dengan kolega bisnis nya.


''Aya pasti sedang sibuk, sulut sekali menghubungi nya. '' Ayu berkata dalam hati nya.


Merasa tidak punya pilihan Ayu pun mengirimkan pesan pada sekertaris Damian, karena sekertaris nya pun sulit di hubungi.


Waktu yang di tunggu akhir nya selesai, dokter pun keluar dari ruang perawatan Allan. jika dilihat dari wajah nya memang tidak ada ketegangan, akan tetapi wajah Nirina dan lain nya seperti baru menonton film horor, begitu tegang dan ketakutan.


''Dokter bagaiman keadaan nya. ?'' Willi bertanya.


Pasien dalam keadaan baik, respon yang di berikan pun baik. ''Saya berharap dalam beberapa jam kedepan dia segera sadar,'' berdoalah demi kesembuban nya.


''Terimakasih Dok. ''

__ADS_1


Tentunya kabar itu memberi kesejukan di hati mereka, wajah yang tadi nya tegang kini sudah mulai berseri kembali. Mereka bertiga akhir nya masuk ke dalam ruangan Allan. Nirina duduk tenang memandang wajah Allan yang begitu damai, walau masih terlihat lebam di wajah nya dan luka yang sudah mulai mengering.


Kak, ''apakah Allan akan bangun .. ?''ucap Nirina.


''Kakak yakin dia akan segera sadar. '' jawab willi yang memang berada di samping adik nya.


Di dalam ruangan keadaan begitu tenang, mereka tidak banyak bicara karena tidak ingin mengganggu ketenangan Allan. Detik menit pun bergulir, kecemasan mulai muncul di wajah Nirina dan Ayu karena Allan tak kunjung sadar. Satu jam awal terlewati tanpa ada nya perubahan, dan beberapa jam berikut nya pun sama Allan tetap tidur dengan tenang.


''Kak mengapa Allan belum sadar.. ?'' Nirina mulai cemas.


''Sabar dek, berdoa lah semoga Allan segera sadar. ''


Allan bangun... Lihat aku di sini, lihat aku Allan..!


''Aku di sini menunggu bukti cintamu, bangun lah. !'' nada bicara Nirina begitu lemah tetapi Allan pasti bisa mendengar nya karena jarak mereka begitu dekat.


Jari jemari Allan kembali bergerak, dia merespon apa yang Nirina ucapkan, dia mendengar curahan hati wanita yang di cintai nya.


''Mas, Allan... Allan. '' Ayu melihat Allan menggerakkan jemari nya.


''Jari Allan bergerak lagi Mas. ''


Tentunya Willi dan Nirina begitu antusias melihat nya. Mereka memanggil Allan, terus memanggil agar Allan segera sadar.


''Dek coba kamu ajak Allan bicara lagi, pasti dia akan bangun .!'' Willi meminta Nirina untuk kembali bicara dengan Allan seperti sebelum nya.


''Allan, terimakasih kamu sudah mendengarkan ku. Sayang aku di sini, di sisimu menemani mu dan menjagamu. Bangun lah, makan senyum ku akan menghiasi pandangan mu ketika kamu membuka mata. Kamu akan memihat cinta di mata ku, cinta yang begitu besar untuk mu. '' Nirina menyentuh pipi Allan, agar Allan tau bahwa semua itu bukan sekedar ucapan tetapi nyata.


Perlahan buku mata Allan bergerak, begitu lembut nyaris tak terlihat. Semakin lama kelopak mata nya mulai bergerak, perlahan-lahan mata itu mulai terbuka, Nirina yang melihat seakan tak percaya. Pada akhir nya mata itu terbuka sempurna dan Nirina lah yang pertama di liha nya .


''Allan... ''


''Allan, Allan.. ''

__ADS_1


Sedari tadi nama Allan selalu di serukan oleh mereka bertiga, apalagi melibat Allan benar-benar membuka mata membuat mereka takjub.


''Allan, sayang kamu bangu. '' Nirina berdiri tak memerlukan kursi roda lagi, energi nya sekaan bertambah 100 persen melihat Allan sadar kembali.


Willi dan Ayu pun sama, mereka begitu antusias dan bahagia melihat nya. Tapi mereka harus memberikan ruang untuk kedua pasangan yang sedang di mabuk cinta. Nirina dan Allan pasti butuh waktu untuk berdua. Pada akhir nya Ayu dan Willi menjadi penonton bagi mereka, berdiri di belakang Nirina sembali melihat gadis itu mencium seluruh wajah Allan.


''Nirina... '' Suara itu keluar dari mulut Allan.


''Iya Allan, ini aku. ''air mata bahagia Nirina tak henti mengalir membasahi pipi nya.


Allan mengulas senyum, wajah pucat nya menghambarkan kebahagiaan. Dia bisa melihat senyum Nirina, bisa kembali menyentuh dan beradu pandang. Setalah beberapa waktu lalu badai menghantam hubungan mereka, kini mereka bahkan melupakam semua masalah yang ada.


Allan.....!


Damian datang, sepertinya dia berlari untuk segera sampai ke ruangan Allan. Selesai bertemu kolega bisnis nya dia langsung meluncur ke rumah sakit setelah sekertaris nya memberi tahu apa yang Ayu sampai kan.


Ketika melihat Allan membuka mata Damian mematung tak percaya, itu sungguh sangat megejutkan nya.


''Allan kamu sudah sadar.. ?'' Damiam berbinar melihat Allan.


Allan mengangguk lemah, karena tenaga nya belum sepenuh nya pulih.


''Apa Dokter sudah tahu. ?'' kata Damaian


''Belum Om. ''Wili pun menjawab.


Damian segera memberitahu team dokter, bukan menggunakan tombol ruangan nya melainkan menghubingi Team dokter khusus yang menangani Allan secara langsung.


Team dokter dengan cepat berdatangan memenuhi kamar perawatan. Mau tidak mau Willi ,Ayu dan Nirina harus keluar dari ruangan kecuali Damian.


Nirina di antar Willi ke ruangan nya, tentunya hati Nirina kini sudah lebih membaim setelah melihat Allan. Mama nya pun heran melihat nya, Nirina tidak seperti orang sakit, baru beberapa jam berpisa tetapi keadaan sangat jauh berbeda.


''Will, Nirina kelihatan sudah sehat padahal tadi masih terlihat pucat dan lemas. ''Mama Willi berkata samapi sorot mata nya tak bisa lepas dari sosok Nirina.

__ADS_1


Sudah dapar suntikan cinta Ma, ''Allan sudah sadar makanya dia langsung sembuh bahkan bisa pulang sekarang.''


Allan sudah sembuh..? ''Syukurlah kalau dia baik-baik saja Mama ikut senang. ''


__ADS_2