Cinta Gadis Malang

Cinta Gadis Malang
Chapter 84. Ruang Persidangan


__ADS_3

''kenapa diam..?''Allan bertanya.


''Memang kenapa kalau aku diam..?''Nirina justru bertanya ulang.


''Kalau kamu diam tandanya setuju..''Jawab Allan


''Siapa yang diam,aku hanya berpikir'' Nirina membulat kan mata nya.


Tetapi Allan tidak peduli dia tetap dengan pendapat nya jika Nirina telah setuju.


''Bagiku kamu sudah setuju,jadi tidak ada lagi tawar menawar.''Allan tersenyum penuh kemenangan.


Nirina kesal dan malas berkata,dia terus saja melotot pada Allan.Tnggkah kesal Nirina membuat membuat Allan semakin gemas saja dengan nya.


''Saya kan sudah bilang jangan menggemaskan seperti itu,saya pasti akan suka melihat nya.''Allan kembali menggoda.


Nirina menatap sinis Allan,ketika dia akan membalas Allan Willi dan Cakra datang menemui mereka.


''Sudah atau belum..?'' Cakra bertanya.


''Sudah lah orang sudah hanis makanan nya.''Jawab Nirina.


''yang lain nya?''Cakra bertanya lagi.


''Yang lain nya tinggal bayar kak Cakra.''Nirina sewot dengan Cakra.


''Sudah Ayo pulang..!''Willi mengajak mereka pergi.


Karena mereka berangkat bersama mereka pun kembali bersama,termasuk Allan karena mobil nya berada di kantor Willi dia harus mengambil nya.


Di dalam mobil Cakra terus saja menggoda Allan dan Nirina,membuat Nirina ngoceh sepanjang jalan karena kesal.


''Willi,Cakra terimakasih untuk hari ini saya pergi dulu.'' Allan pamit pulang.


''Sama sama Allan.'' Jawab Willi.


Allan hanya tersenyum tanpa bicara dengan Nirina, karena dia tau gadis itu sedang kesal karena ulah Cakra.Di mobil Allan tersenyum sepanjang jalan,dia selalu kepikiran dengan Nirina gadis incaran nya.

__ADS_1


''Mengapa aku selalu kepikiran Nirina terus ya, tingkah nya membuat ku selalu ingin tersenyum, sangat menggemaskan.''


Damian sedang memikirkan ucapan Willi,karena jika dipikirkan semua itu benar ada nya,selama ini Nesia selalu mendukung kejahatan ibu nya bukan tidak mungkin dia akan melakukan nya lagi.


''Nesia jika kamu benar benar melakukan kejahatan terhadap Ayu di kemudian hari,aku tidak akan mengampuni mu.''


Hari yang di tunggu tunggu pun tiba,sidang putusan atas Erika akan di tentukan esok hari.semua sudah menanti saat saat itu,selama berbulan bulan pihak Ayu sudah menunggu keadilan yang sudah menimpa nya


''Allan,besok kamu hadirkan di persidangan kan..?'' Damian bertanya.


''Iya Pa,apakah Papa akan datang.?'Allan juga bertanya.


''Tidak..''Tegas Damian.


Allan sudah tidak berani bertanya lagi,karena kalau Damian sudah berkata tidak jawaban nya akan tetap sama. Apalagi Allan sudah tau,jika Damian sedang tidak mau melihat Oma nya.


''Apakah Ayu akan datang Allan.?''Damian ingin tau.


''Sepertinya datang Pa,karena takut nya dia di butuh kan,hanya saja dia ahrus di dampingi dokter khusus nanti nya.''Allan memberi jawaban.


Nesia tengah menemui Erika di kantor polisi,dia sedang berdiskusi dengan ibu mertua nya itu.


''Apakah Mama sudah siap dengan putusan besok..?'' Nesia bertanya.


''Tidka Nesia..Mama mau nya besok itu bebas dari sini.'' Kata Erika.


''Aku tidak mungkin kalah dengan anak kampungan itu,aku tidak boleh kalah dengan Maira wanita miskin itu.''


Erika bukan nya sadar justru lebih menyombongkan diri nya,dia juga tidak merasa menyesal dengan perbuatan nya,bahkan ia juga tidak menyesal waktu Damian kritis karena terkena peluru tembak nya.


Ayu mondar mandir di dalam apartemen,dia panik dan gelisah menghadiri sidang esok hari.Maira yang melihat anak nya seperti itu menjadi bingung, apalagi Ayu tidak mengucapkan apapun.


''Ayu,kamu kenapa nak..??''Kata Maira.


''Em..Ayu,Ayu bingung Bu,Ayu juga takut.''Jawab Ayu.


''Kamu harus tenang nak jangan cemas dan taku, Telfon Willi saja dia pasti punya solusi.!''Perintah Maira.

__ADS_1


Ayu pun segera menghubungi Willi setelah mendengar perintah Maira.


''Halo sayang..''Sapa Willi di ujung ponsel nya.


''Iya Mas Sayang,Ayu takut nih menghadiri sidang besok.''Ucap Ayu dengan sedikit manja.


''Tenang sayang,ikuti arahan dokter kemarin agar kamu tidak panik,rileks ya jangan menganggap semua ini beban sayang.'' Willi menjelas kan.


Willi bicara panjang lebar untuk menenangkan Ayu,dia juga selalu mengungkap kan kata cinta agar Ayu selalu bahagia.


Hari yang di nanti pun tiba,ruang persidangan sudah di siapkan.Willi sedang menjemput Ayu bersama Zidan,sementara Cakra dia bersama dengan team pengacara ke tempat persidangan.


''Ayu tangan mu dingin sekali..?''Willi menggenggam tangan Ayu.


''Iya mas,Ayu takut.''Jawab Ayu.


Suasana sangat terasa menegangkan ketika Hakim dan jajaran nya sudah memasuki ruangan,Ayu juga memasuki ruangan dengan di dampingi Willi.Itu lah hari pertama Ayu melihat Erika kembali setelah dirinya koma,Erika pun menatap Ayu dengan sinis.


Acara sidang pun di mulai,semua yang ada di dalam mengikuti proses nya dengan tenang,Erika dan Nesia lah yang terlihat gelisah.Sebab Jaksa telah menuntut nya di hukum di atas 10th penjara,denda nya pun tidak sedikit karena Willi memasukkan rincian nominal pengobatan Ayu,yang menghabis kan biaya lebih dari 3milyar.Walaupun Willi tidak mungkin menerima uang itu nanti nya,tetapi paling tidak dapat memberikan efek jera terhadap pelaku.


Semua saksi dan bukti telah memberatkan Erika, bahkan Damian putra nya saja telah memberikan kesaksian yang akurat dan diri nya pun mengakui menjadi korban kebengisan ibu nya sendiri.Dokter psikiater pun telah memeriksa kejiwaan Erika dan hasil nya pun baik baik saja,itu tanda nya dia melakukan kejahatan secara sadar tanpa paksaan dari siapapun.


Kini saat nya mendengar kan putusan Hakim,yang akan menjatuhkan hukuman terhadap tersangka utama dan para anak buah nya.


Hakim akhir nya menjatuhkan hukuman delapan tahun penjara terhadap Erika dan denda 2,5 milyar untuk Ayu dan 500 juta untuk Damian.Sementara para anak buah nya pun menerima hukuman yang berbeda beda, paling kecil dua tahun penjara dan sembilan tahun yang paling tinggi.


Setelah menerima putusan itu Erika menatap sinis Ayu,dengan mata yang tajam.Ayu pun tak mau kalah,dia juga menatap Erika penuh dengan kebencian.Sampai saat ini Ayu belum bisa memaafkan Oma kandung nya,karena luka yang telah di gores kan sudah terlalu dalam.


Allan terlihat tenang mendengar putusan itu, walaupun dia kasian dengan Oma nya tetapi dia pun merasa lega,Ayu sudah mendapatkan keadilan.


Willi tetap berada di samping Ayu di manapun,ketika mereka ingin keluar ruang sidang,tiba tiba Nesia berjalan disampingnya dan berbisik di telinga Ayu.


''Kamu belum menang Ayu..!''Nesia berkata sinis,lalu pergi begitu saja.


Willi mendengar ucapan Nesia yang begitu mengganggu pendengaran nya,dia pun memanggil Nesia yang sedang melangkah pergi.


''Tunggu nyonya Nesia..!''Kata Willi.

__ADS_1


__ADS_2