
" Sayang, jangan diam seperti itu, kamu marah mas larang dekat sama laki-laki" Faris mencoba mencairkan suasana.
" Yank, udah ya ngambeknya" bujuk Faris, Reva masih saja diam sambil memberikan Asi ke Zain.
Setelah Zain tidur, Reva meletakan Zain ke dalam bok bayi, kemudian ia duduk di tepi ranjang dan bersiap untuk tidur.
" Yank, jangan di diemin gini donk, maafin mas yah? Faris mengucapkan kata maaf berkali-kali.
" Yank" rengek Faris.
" Kalau mas punya salah mas minta maaf yah yank" ujar Faris.
" huuufffzz" Reva membuang kasar napasnya untuk menenangkan diri.
" Kalau mas melarang Reva berbicara dengan laki-laki yang padahal itu cuman senior Reva, ok bakalan Reva jauhi mas" tegas Reva menampakan sedikit senyuman.
" Maksih sayang" Faris memeluk Reva.
" Tapi....."
" Tapi apa sayang" Faris mengendurkan pelukannya dan saling berhadapan dengan Reva.
" Jangan pernah dekat sama Ratih" ketus Reva.
" Mas nggak dekat-dekat Ratih yank, dia itu udah mas anggap kaya adek sendiri terus lagian orang tua Ratih juga sudah baik sama mas dan Bayu" jelas Faris.
__ADS_1
" Nggak ada istilah adek mas, kalau Ratih suka sama mas bagiamana? tanya Reva penuh selidik.
" Nggak mungkin Ratih suka sama mas, Ratih itu sukanya sama Bayu, Bayu juga sebaliknya"
" Kalau Ratih suka sama Bayu, harusnya makanan tadi siang buat Bayu donk bukan buat mas" ketus Reva yang masih cemberut.
" Sudah lah, mas tuh nggak mau ribut yank, masalah sepele saja kamu besar-besarkan" Faris mulai marah.
" Terserah mas, mas tuh egois" Reva langsung menidurkan badannya di ranjang dan membelakangi Faris.
" Huuufffzz" membuang nafas kasarnya, Faris merebahkan tubuhnya yang merasa lelah sambil memandang punggung Reva.
Suasana malam yang begitu dingin, seperti dinginnya malam. Faris mulai memejamkan matanya perlahan.
Keesokan paginya, Reva sudah bangun dan membantu Zain makan serta minum Asi. Reva juga sudah menyiapkan baju kerja untuk Faris walaupun sedang bertengkar Reva masih melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
Faris akhirnya bangun dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan memakai pakaian, Faris menghampiri Reva serta Zain. Mereka keluar kamar, kakek sudah rapi seperti hendak ke kantor.
" Kakek mau kemana? tanya Reva.
" Kakek mau ke perusahaan kakek sebentar" jawab Andrea, Reva mengangguk pelan.
Mereka sudah berkumpul bersama, Zain dititipkan ke Siti dulu untuk jalan-jalan teras belakang.
__ADS_1
Reva mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk Faris dan kakek. Hanya suara dentuman sendok, garpu dan piring di dalam ruangan makan.
Setelah makan, Reva mengambil Zain dahulu soalnya Faris dan kakek mau ke kantor.
" Zain, kakek pergi dulu yah" pamit Andrea, beliau mencium Zain dan Reva mencium punggung tangan kakeknya dan kakek langsung ke depan karena sudah di tunggu supir pribadinya.
" Nak Faris, kakek jalan dulu yah" pamit kakek, Faris juga tak lupa mencium punggung tangan sang kakek, setelah itu kakek meninggalkan mereka bertiga.
" Anak Sholeh, papah ke kantor dulu yah" pamit Faris ke Zain dan menciumi Zain dengan gemas.
Reva masih saja cemberut.
" Hati-hati di jalan mas" ucap Reva pelan dan tanpa memperlihatkan senyumannya, Reva juga mencium punggung tangan suaminya.
" Sayang" panggil Faris pelan.
" Sudah lah mas, aku nggak mau berantem pagi-pagi gini, nanti aku jadi bad mood seharian" ketus Reva.
Setelah berpamitan Faris berangkat ke kantor, sebenarnya ia malas ke kantor. Baru sebentar di diemin Reva ajah sudah bad mood apa lagi kalau berhari-hari Faris tidak bisa membayangkan.
" Huuufffzz" Reva membuang nafas kasarnya setelah kepergian Faris ke kantor dan ia kembali ke kamar bersama Zain.
********
" Reva sepertinya sedang bertengkar dengan Faris Bu" isi pesan seseorang Art ke atasannya.
__ADS_1
" Awasi terus" balasan seseorang untuk Art Faris.