
Setelah beberapa saat, akhirnya Reva bisa membuka ikatan yang parjo buat, perlahan dia membuka ikatan kaki.
Reva berjalan sangat pelan, ia berjalan menuju pintu keluar.
Reva mencari tombol pintu dan akhirnya ketemu.
" Alhamdulillah" guman Reva bisa menghirup udara luar, ia berjalan sambil melihat kondisi rumah Cindy.
Pyar
Reva tak senggaja menabrak vas bunga dan mengakibatkan vas bunga tersebut pecah. Reva segera berlari dan bersembunyi.
Mbok Uus yang mendengar, langsung keluar dan melihat vas bunga yang sudah pecah berserakan di lantai.
" Kenapa mbok? tanya Cindy yang baru saja keluar dari kamar.
" Nggak tau Nyonya, mbok keluar tapi vas bunga sudah pecah" ucap Cindy.
Deg hati Cindy langsung berdebar dengan kencang, keringat dingin mulai keluar.
" Apa jangan-jangan ini ulah Reva" batin Cindy
Kemudian Cindy langsung menuju ruang perpustakaan dan membuka pintu ruang bawah tanah.
Mata Cindy tercengang karena Reva sudah tidak ada di dalam, Cindy berjalan menuju Parjo yang sedang tertidur lelap.
__ADS_1
" Parjo" teriak Cindy, teriakan Cindy mampu memecahkan gendang telinga terdengar sangat keras.
Parjo kaget dan langsung terbangun, matanya langsung melotot Reva sudah tidak ada di dalam.
" Kita harus cari Reva Jo, kalau nggak kita harus meninggalkan tempat ini" ucap Cindy.
Mereka bergegas keluar dari dalam dan mencari Reva, Reva sudah sampai di depan gerbang dan berlari menuju jalanan.
Reva melihat mobil bak sedang terparkir segera ia naik ke dalam mobil tersebut.
" Kemana Reva, cepat sekali larinya Jo" ujar Cindy sambil clingak-clinguk.
" Kita harus secepatnya pergi dari sini, sebelum Reva sampai rumah dan melaporkan pada Faris" ucap Parjo.
Parjo dan Cindy bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil barang yang akan di bawanya pergi. Reva mengambil kesempatan tersebut untuk melarikan diri.
mereka saling berpelukan, tangisan Reva pecah dalam pelukan Faris.
" Mas, Reva takut" guman Reva yang masih dalam pelukan Faris.
" Kamu tenang saja yah yank, sekarang kamu dah aman. Di sini banyak polisi yang sedang mengintai rumah Cindy" ucap Faris dan di balas dengan anggukan oleh Reva.
Faris membawa Reva masuk ke dalam mobil, ia membaringkan Reva di mobil dan menyelimuti Reva dengan jaketnya.
" Kamu tenang ya yank, tidurlah aku akan berjaga di sini" ucap Faris.
__ADS_1
Polisi sudah mengepung rumah Cindy.
" Saudara Cindy dan Parjo tolong segera keluar, rumah anda sudah kami kepung" ucap polisi dengan pengeras suara.
" Saudara Cindy tolong buka pintunya" teriak polisi kembali.
" Bagaimana ini Jo" ucap Cindy yang mulai merasa ketakutan.
" Kamu tenang dulu, aku akan menelfon beberapa anak buah ku untuk menyerang polisi, saat polisi sedang berperang kita harus menyelinap keluar, anak buah ku akan standby" ucap Parjo dan Cindy membalasnya dengan anggukan bahwa ia mengerti apa yang di bicarakan Parjo.
Parjo segera menelfon anak buahnya, ia akan meluncur sekitar 10 menitan lagi sampai.
" Kita harus mengalikan polisi tersebut agar bisa menunda waktu" ujar Parjo.
Cindy langsung meminta mbok Uus untuk ke depan agar mengalihkan polisi sementara waktu. Cindy memberikan pengarahan dan mbok Uus paham.
" Nanti mbok saya transfer, tenang saja" ucap Cindy.
" Siap Nyonya" ucap Mbok Uus.
Mbok Uus melangkah ke depan pintu gerbang, ia akan mengalihkan polisi dan menunda sementara waktu.
" Saya hitung sampai 10, kalau tidak keluar saya akan masuk secara paksa" teriak polisi lewat pengeras suara.
" 10.9..8..7..6...5...4"
__ADS_1
Ceklek pintu terbuka, saat baru terhitung kurang dari berapa detik. Mbok Uus menelan Slavinanya untuk menghindari rasa gugup.