
" Reva" panggil seseorang yang tak lain mantan Reva dulu.
" Mas Dimas" jawab Reva sopan.
" Kapan kamu pulang? tanya Dimas.
" Semalam mas, sama suamiku" ucap Reva pelan.
Dimas hanya terdiam cinta yang dulu bersama Reva telah kandas dan tidak bisa di perbaiki kembali.
" Ya sudah mas kami pergi dulu" ucap Reva sopan.
Mereka meninggalkan Dimas yang sedang di kebun.
" Di sini enak banget yah va, bikin nyaman" ungkap Wati memecahkan keheningan.
Mereka duduk di pinggiran sungai, sambil mendengar gemricik air yang mengalir serta suara anak-anak yang sedang bermain.
*******
Di rumah Reva.
Andrea bersama suami dari mbok Jum, ia berbincang di teras belakang sambil melihat sawah milik putra semata wayang.
Sedangkan Faris mulai sibuk bekerja, dan Dede sedang rebahan sambil bermain ponselnya.
clenting...
clenting...
clenting...
Faris yang mendengar beberapa pesan masuk, langsung menyambar ponselnya.
__ADS_1
Pak saya sudah mendapatkan info, nanti bapak tinggal buka file'nya saja di email isi pesan Bayu.
Faris langsung membuka file yang di kirim Bayu, betapa terkejutnya teryata bukan Ratih yang mengirim foto tersebut melainkan seseorang suruhan Cindy.
" Brengsek" guman Faris tangannya mulai mengepal, sorot matanya masih menatap laptop.
Dreettt...
Dreeett...
Dreeett...
Panggilan masuk dari Bayu, Faris langsung mengangkat panggilan dari Bayu.
" Gimana bay? tanya Faris.
" Kita harus hati-hati pak, kayanya ada mata-mata di sekitar anda"
" Maksud kamu gimana bay?
" Terimakasih bay, kamu awasi terus bay"
" Siap pak"
Panggilan di tutup, Faris berusaha tenang untuk menghadapinya. Faris langsung kepikiran Reva, ia segera menyusul Reva.
Setelah berjalan cukup lumayan, terlihat dari kejauhan Reva sedang duduk di tepi, teryata Siti menyusul Wati dan Reva.
Wati mengendong Zain, Wati juga harus waspada, tiba-tiba Siti mendorong Reva ke sungai yang lumayan arusnya deras.
" Reva" teriak Wati sambil mengendong Zain. Reva terjatuh ke sungai.
Faris yang mendengar teriakan Wati langsung berlari sedangkan Siti berlari menjauhi Wati yang masih berteriak.
__ADS_1
" Tolong" teriak Wati.
" Wati, tol..long" suara Reva masih terdengar.
Faris berusaha mencari pertolongan, arus sungai semakin deras membuat Faris kebingungan. Zain terus menangis bersama Wati.
Faris menemukan kayu, Reva semakin mendekati air terjun.
" Pegang kayunya Reva" teriak Faris, Reva sudah mulai kehilangan tenaga.
Semua warga yang mendengar teriakan langsung berkumpul dan membantu Reva.
Setelah beberapa menit, akhirnya Reva selamat, sampai di pikir sungai Reva langsung pingsan.
Faris memompa jantungnya dengan tangan dan memberikan nafas buatan.
Semua warga yang melihat menyuruh Faris membawa Reva ke puskesmas, akses ke puskesmas tidak bisa di lalui dengan mobil, Faris langsung mengendong Reva kemudian berlari melewati sawah.
" Sabar ya sayang, kamu harus kuat" guman Faris sambil mengendong Reva dan berlari menuju puskesmas.
Wati masih mengendong Zain, untung saja Zain di gendong Wati. tapi Siti nggak tau hilang kemana tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak.
Sampai di puskesmas Reva langsung mendapatkan pertolongan, alat medis di desa sini memang tak lengkap.
Reva di bawa masuk ke ruang IGD, semua menunggu di depan.
" Wati bagaimana ceritanya" ucap Faris lemas.
" Kenapa saya ikut, karena saya mendengar pembicaraan baby sister anda dengan seseorang pak, sepertinya dia akan mencelakai Zain" ucap Wati pelan.
" Kenapa kamu nggak memberitahu saya! ucap Faris ia sambil menanggis tak kuasa bila terjadi sesuatu pada Reva.
" Saya binggung pak, karena tidak punya bukti yang kuat" Wati meneteskan air mata, kini Zain sudah terdiam.
__ADS_1
" Awas saja kamu Cindy" bentak Faris mengepalkan tangannya, dia juga nggak habis pikir teryata Siti bersekongkol dengan Cindy.