
Wati berjalan menuju ruang tamu, ia mendudukkan diri di sofa. Tak menunggu lama Reva berjalan ke arahnya sambil mengendong Zain.
" Maaf wat lama" ucap Reva yang tak enak hati meninggalkan Wati sendirian di ruang tamu.
" Nggak masalah ko va" balas Wati.
Reva duduk di sebelah Wati dan memperkenalkan Zain pada Wati.
" Halo aunty Wati, kenalin saya Zain" Ucap Reva sambil menirukan suara anak kecil.
" Halo juga Zain, aunty temennya mamah Zain kamu ganteng sekali, aunty gemes liat pipi Zain " balas Wati dengan gelak tawanya.
Dari kejauhan seseorang sedang memantau Reva dan Wati, sebenernya Wati ingin memberi tahukan Reva tapi ia tidak bisa mengatakan sekarang dan Wati harus pura-pura tidak melihat dia.
" Duh, tuh orang yang tadi menelfon deh kayanya ngapain dia di situ kaya" batin Wati.
Mereka berbicara sangat lama sambil memakan cemilan..
" Siti" panggil Reva.
" Siap Nyonya" jawab Siti sambil berlari kecil.
Siti yang mendengarkan panggilan Reva langsung mendekat dan mengambil alih Zain dari Reva.
" Kita makan dulu Wat" ajak Reva.
" Nggak usah Va, gw mau pulang soalnya udah di tungguin mamah di rumah" tolak Wati sopan.
__ADS_1
Reva mengantar Wati sampai pintu depan, Wati pun berpamitan dan meninggalkan kediaman rumah Reva.
Reva setelah mengantar Wati, ia makan siang sendirian tak ada telfon atau SMS masuk dari Faris.
**********
Kantor Fernandez
" Akhirnya pekerjaan selesai juga" guman Faris sambil merebahkan tubuhnya di kursinya.
Faris melirik jam yang teryata sudah jam dua siang, bahkan Faris melewatkan jam makan siang.
Faris mengambil ponselnya ia mencoba mengubungi Reva tapi tak ada jawaban sama sekali dari Reva.
" Apa Reva masih marah" batin Faris yang mulai frustrasi.
" Assalamualaikum, selamat siang kediaman Fernandez ada yang bisa saya bantu? ucapan dari balik telfon.
" Walaikumsalam, apa Reva di rumah bi?" ucap Faris.
" Iyah Tuan, Nyonya Reva sedang di kamar tadi temannya yang bernama Wati main kesini" ucap Bi Sumi.
" Oh ya sudah, terimakasih bi" Jawab Faris kemudian mematikan telfonnya.
Faris keluar kantor, sebenarnya ia lapar sebelum pulang ia harus membelikan makanan kesukaan sang istri.
Faris berjalan menuju parkiran, mobil sudah melaju ke sebuah restoran.
__ADS_1
Faris memesan beberapa makanan untuk dirinya dan untuk Reva di rumah.
Sekitar 15 menit makanan pesanan Faris sudah ada di meja, Faris memesan steak dan air putih mineral.
Faris dengan cepat melahap semua makannya, ia tak mau berlama-lama di restoran.
" Mas Faris " panggil Ratih sopan, Faris pun menengok kearah suara tersebut.
" Dek Ratih" balas Faris sambil tersenyum.
" Aku harus selesaikan semuanya, Reva marah gara-gara cemburu dengan Ratih" batin Faris.
" Kebetulan kamu disini, mas mau ngomong sesuatu dek sama kamu" ucap Faris sopan, ia tak lupa mengaktifkan rekaman agar percakapan Faris dan Ratih bisa diterima Reva.
" Akhirnya mas Faris" batin Ratih kegirangan.
" Iyah mas, ada apa? ucap Ratih dengan kelembutannya, ia duduk berhadapan dengan Faris.
" Ratih, to the poin saja, aku nggak suka basa basi tolong kamu jangan mendekati aku terus. saya sudah punya istri" ucapan Faris begitu jelas, hati Ratih mencelos lemas.
" Ta-tapi aku cinta sama mas Faris"
" Ratih, mas tau kamu orang baik dan orang tuamu juga orang baik. mas nggak bisa menerima kamu, tolong mengerti masih banyak lelaki yang masih lajang contohnya Bayu. mas sudah menganggap kamu itu adek mas sendiri, maafin mas kalau mas ngmng kaya gini mas nggak mau rumah tangga mas hancur gara-gara masalah sepele seperti ini" ucap Faris, Ratih hanya tertunduk lemas bagaimana pun ia nggak bisa merusak rumah tangga orang.
" Maafin Ratih mas, Ratih janji nggak bakalan ganggu mas lagi" jawab Ratih pelan.
" Mas juga minta maaf, kamu itu cantik, pintar dan dokter hebat, mas percaya kamu bakalan dapat suami yang lebih baik dari mas" ucap Faris kemudian Faris meninggalkan Ratih di restoran.
__ADS_1