
Acara penikahan semakin dekat. Hari demi hari Reva dan Debora mempersiapkan semuanya. Acara akan di laksanakan di Hotel Plazza.
Pernikahan.
Semua Keluarga sudah hadir, keluarga dekat dan kerabat. Andrea menjadi wali nikah dari pihak Reva. Kebaya putih melekat di tubuh Reva, dandanan adat Jawa. Fahri duduk di hadapan Pak Penghulu dan Andrea.
Sebelum acara prosesi Ijab Kobul, Pak Penghulu membacakan beberapa doa bersama.
" Bismilahhirohmannirohim, Saudara Faris Fernandez bin Fernandez Pratama Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Revalina Putri Bianco dengan maskawinnya berupa Emas 50 gram dan Seperangkat alat Sholat Tunai. Ucap pak Penghulu sambil berjabat tangan dengan Faris.
" Saya terima nikahnya dan kawinnya Revalina Putri Bianco binti Antonio Bianco Alm dengan maskawinnya yang tersebut, tunai. Ucap Faris dengan lantang.
" Sah...sah..
" Alhdulillah sah.
Reva berjalan mendekati Faris, Dia duduk di samping Faris. Kemudian Reva mencium punggung tangan suaminya.
" Sekarang Reva sudah jadi seorang istri bapak ibu batin reva sedih. Kedua orang tuanya tidak dapat menyaksikan hari bahagia putri tunggalnya.
Semua bergembira, Reva dan Faris kini sudah menjadi suami istri. Keduanya menandatangani buku nikah. Para tamu menikmati hidangan yang ada. Selesai acara Reva dan Faris masuk ke kamar hotel.
Reva tak menyangka kini Faris menjadi imamnya. Reva duduk di depan meja rias, dia mulai mencopot sanggulannya.
" Bocil, besok pagi kita harus pindah rumah ucap Faris.
__ADS_1
" Mau pindah dimana om? tanya Reva.
" Saya udah beli rumah.
Kemudian Faris masuk ke kamar mandi, setelah selesai Faris merebahkan tubuhnya di Sofa.
" Aku mau tidur di sofa, kamu di ranjang saja sana! ucap Faris ketus.
" Iyah Om, ucap Reva tak kalah ketus.
Selesai mandi, Reva juga tiduran di ranjang sambil memandang ke foto kedua orang tuanya.
" Duh, nii perut sakit banget sih! guman Reva.
" Om...Om...Om...tolongin rengek Reva.
" Sakit Om ucap Reva sambil menitihkan air mata.
" Apanya yang sakit ucap Faris panik.
" Perutnya, tolong beliin pembalut ucap Reva meringis kesakitan.
Faris yang melihat darah, Dia mulai panik. Kemudian Faris keluar kamar hotel, keadaan hotel sudah mulai sepi. Faris berjalan melewati lobby, mencari supermarket terdekat.
Faris memasuki Mini market, Dia mencari mengelilingi rak.
__ADS_1
" Maaf mba, Pembalut sebelah mana yah? ucap Faris pelan.
Sebenarnya Faris malu, harus membeli keperluan kewanitaan.
" Sebelah sana pak ucap Pelayan Mini market menunjukan rak No 7.
Faris berjalan menuju rak no 7.
" Aduuhh harus di beliin yang merk apa! Lorier, Kotek, Softex, apa Charm? guman Faris kebinggungan.
Akhirnya Faris mengambil merk Kotek, Dia berjalan pelan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Setelah di kasir sepi, Faris dengan cepat ke meja kasir.
" Sudah pak, ada lagi, mau isi pulsa sekalian Pak? tanya Kasir.
" Nih cowo ganteng bener, sayang istri lagi batin kasir sambil melirik Faris.
" Nggak mba! Cepetan dikit bisa nggak mba! nggak usah senyum- senyum mba! ucap Faris jutek.
" Totalnya 35rb pak ucap Kasir.
Faris memberikan selembar uang Lima Puluh Ribu ke kasir.
" Kembaliannya ambil saja mba ucap Faris, Kemudian Faris langsung meninggalkan Mini Market tersebut.
" Jutek amat guman Kasir sambil melihat kepergian Faris.
__ADS_1
Sampai di kamar hotel, Reva masih tiduran di atas ranjang. Faris kemudian memberikan bungkusan untuk Reva.
Reva berlari menuju kamar mandi, Darah haid sudah menembus ke celana nya. Selesai menganti celana, Reva merebahkan tubuhnya di ranjang. Matanya mulai mengantuk, Reva tidur di tempat tidur sedangkan Faris memilih tidur di sofa.