
Faris sudah di pindahkan ke ruangan VVIP.
" Mamah sama Papah pulang saja, biar Reva yang jaga mas Faris ucap Reva.
" Iyah Mah, besok pagi kita kesini lagi ucap Fernandez.
Fernandez dan Debora membelikan makanan dan minuman di Indopril untuk Reva. Ibu hamil biasanya mudah lapar.
" Sayang, kalau butuh apa-apa kabarin mamah atau papah yah! ucap Debora.
" Iyah mah, mamah dan papah hati-hati dijalan yah ucap Reva.
Reva kemudian memeluk kedua orang tua Faris dan mencium punggung tanganya.
Setelah orang tua Faris pergi, Reva duduk di sebelah Faris.
" Mas, kamu cepet sembuh yah bisik Reva.
" I...yy...aa saa...yaa..ng.. ucap Faris pelan.
Hari mulai malam, suasana rumah sakit menjadi sepi. Reva menutup pintu ruangannya. Ia rebahkan tubuhnya di ranjang samping ranjang suaminya.
" Hoooaaaammm... matanya mulai mengantuk.
Sebelum tidur, Reva mengecek keadaan Faris. Tak lupa juga ia mengontrol infus.
" Infusnya masih penuh guman Reva.
Perlahan Reva mulai memejamkan matanya yang sudah lima watt. Setiap dua jam sekali Reva terbangun dan mengontrol keadaan Faris.
__ADS_1
Adzan Subuh terdengar begitu lantang di telinga Reva, Reva langsung terbangun dari tidurnya.
" Ah mas Faris masih tidur, lebih baik sholat di disini saja guman Reva.
Reva mulai menyalakan kran air panas dan air dingin. Setelah beberapa menit di kamar mandi untuk mandi dan sholat. Reva mengambil mukenah dalam lemari.
Selesai sholat shubuh, Reva merebahkan tubuhnya kembali di ranjang. Masih mengenakan mukenah, Reva melantunkan ayat-ayat suci.
" Tok...tok.. permisi ucap Perawat.
Perawat tersebut membawa alat untuk mengecek tensi darah pasien.
" Semuanya normal ucap Perawat.
" Terimakasih sus ucap Reva.
" Pagi kesayangang aku ucap Reva sambil mencium kening suaminya.
Reva membuka jendela kamar tersebut, agar udara pagi yang sejuk masuk keruangan.
Seseorang mengantarkan sarapan.
" Sayang makan dulu ya? biar cepat sembuh.
Reva menyuapi makanan ke dalam mulut Faris dengan sabar.
" Alhamdulillah habis, semangat sembuh yah mas.
Reva duduk sambil bersandar di samping Faris, Setia menemaninya mau susah maupun senang, mau sehat maupun sakit.
__ADS_1
---------
Enam bulan kemudian, setelah sembuh dari rumah sakit. Faris sudah kembali ke aktifitasnya berkerja, sedangkan Reva di rumah saja, perutnya sudah mulai membesar. Kini usia kandunganya memasuki Tujuh Bulan.
Reva kini tinggal di rumah orang tua Faris, Ia sudah menjual rumahnya yang dahulu. Reva juga cuti kuliah selama kehamilannya. Putri teman Reva juga sudah tau kalau Reva sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak.
Cindy masih mendekam dipenjara atas perbuatanya, Keluarga Cindy sudah mengajukan permintaa maaf kepada pihak Faris tapi Orang tua dari Faris masih belum memaafkannya.
Reva duduk di taman depan sambil menunggu suaminya pulang.
Suara mobil Faris sudah terdengar dari kejahuan. Faris memarkirkan mobilnya, kemudiaan Ia berjalan menuju Reva.
Reva tak lupa mencium punggung tangan suaminya dan Faris membalas dengan mencium kening Reva.
" Mas jadwal kontrol ke dokter kandunganya besok pagi ucap Reva.
" Iyah Sayang, besok pagi mas antar jawab Faris.
" Siap Masku sayang ucap Reva.
Mereka berdua berjalan menuju kamar, Faris masuk ke kamar mandi sedangkan Reva menyiapkan baju yang mau di pakai setelah mandi.
Setelah mandi, Faris dan Reva keluar kamar. Debora menuruh Faris agar berkumpul di ruaang keluarga.
Semua keluaga sudah berkumpul, Debora memberi tahu bahwa minggu depan akan mengadakan acara syukuran 7 bulanan Reva.
" Nanti mamah undang semua teman- teman pengajian mamah ucap Debora.
" Terserah mamah saja, Saya dan Reva setuju mah jawab Faris.
__ADS_1
" Ya sudah, semuanya mamah yang urus ucap Debora.
Setelah berkumpul dilanjutkan makan malam bersama.