
Perjalanan dari kantor menuju rumah serasa sangat lama sekali, pikiran Faris sudah kalut kemana-mana.
Sampai di rumah, Bi Sumi terus menanggis sambil mengendong Zain.
Faris langsung masuk ke kamar, dia mencari sosok sang istri tapi tak ada. Terlihat balkon kamarnya terbuka.
Faris langsung berlari menuju ruang kerjanya, ia harus membuka cctv rumah.
Faris menyalakan laptopnya, ntah kenapa sangat lola sekali, Bayu masih sibuk menelepon beberapa bawahannya untuk mencari Reva.
" Bay, keruang kerja" ucap Faris melalui panggilan telfon.
Tak menunggu berapa lama Bayu sudah berada di dalam ruangan kerja Faris. Faris dengan lihay mengetik tombol laptop dengan cepat, di lihatlah dari layar laptop jam berapa Reva menghilang, sekitar 1 jam yang lalu.
Faris melihat dari CCTV depan rumah menghadap ke jalanan terlihat mobil Yang sedang parkir di sebrang rumahnya.
Pandangan Faris terus menerus ke layar laptop, agak di percepat terlihat seseorang mengendong Reva dengan gaya bridal.
" Sittt " guman Faris yang frustasi melihat Reva di culik.
Layar laptop di hentikan dan mulai di perbesar gambar no seri mobil.
" G.5567 LN" ucap Faris, Bayu langsung mencatat seri mobil tersebut.
__ADS_1
Faris langsung menyimpan hasil dari CCTV untuk bukti bahwa Reva telah di culik.
" Bay saya harus ke kantor polisi" ujar Faris, ia bersiap langsung keluar ruang kerja.
Mereka berjalan secara bersamaan, Faris menyuruh bayu agar stanbay di rumah untuk menjaga Zain.
Faris langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju kantor polisi.
*******
" Ya Allah, mudahkanlah urusan hamba dan suami hamba ya Allah" batin Reva terus berdoa dan berusaha mencari celah agar bisa melepaskan ikatan yang ada di tangannya.
Suara langkah kaki terdengar akan masuk ke dalam ruangan Reva di sekap.
Cindy masuk kedalam, melihat Reva yang sedang meronta-ronta membuat dirinya bahagia.
" Hay Reva " sapa Cindy sambil melambaikan tangan, senyumnya terlihat sangat menakutkan bagi Reva.
Cindy melepaskan sapu tangan yang membekap di mulut Reva agar dia bisa berbicara.
" Lepasin " bentak Reva, yang membuat Cindy tertawa.
" What lepasin, jangan mimpi kamu juga harus merasakan kehilangan seorang anak" ucap Cindy pelan dan langsung menusuk ke hati Reva.
__ADS_1
" Ya Allah lindungilah suami dan anakku" batin Reva terus berdoa.
" Apa kamu saja yang mau meninggalkan anakmu" ucap Cindy.
" Tolong lepaskan saya" ucap Reva, air matanya keluar dengan deras.
" Kamu dan Faris sudah memisahkan aku dan anakku" bentak Cindy, suaranya agak tergesa-gesa nafas nya tidak beraturan.
" Bagaimana kalau anakmu pergi, kamu juga seorang ibu pasti kamu tau rasanya seperti apa! bentak Cindy.
" Maafkan kami Cindy, kami akan berusaha agar kamu bisa bertemu dengan anakmu, tolong lepaskan saya" ucap Reva raut mukanya memelas.
" Plak" Cindy menampar pipi Reva agak keras, Reva merasa kesakitan.
" Saya nggak tau anak saya dimana sekarang" bentar Cindy ia tak kuasa mengingat anaknya dan ikut menanggis, kebenciannya terhadap keluarga Faris sudah menggunung.
" Parjo panggil Cindy.
" Siap Bu Cindy" ucap Parjo.
" Awasi terus jangan sampai lepas, kamu mau bonus apa liburan atau uang yang banyak tinggal sebut saja" ucap Cindy.
" Aku tidak mau bonus yang lain, saya hanya ingin anda menemani saya semalam" bisik Parjo di telinga Cindy yang membuat Cindy merinding.
__ADS_1
Cindy tak merespon permintaan Parjo, ia meninggalkan Parjo dan anak buahnya di dalam ruang penyekapan.