
Alvan menatap penghulu di depan nya dengan tajam , hari ini ia akan menikahi Alma seorang janda lumpuh yang belum lama ini di kenal nya , pernikahan ini begitu mendadak hanya dihadiri keluarga terdekat saja . Awalnya Alvan mengira mamanya tak akan setuju dengan pernikahan ini namun ternyata dugaan nya salah .
Mamanya begitu senang karena sebentar lagi ia akan memiliki menantu , sementara perasaan nya sendiri entahlah Alvan tak tau harus senang atau sedih dengan pernikahan ini namun ia melakukan nya dengan ikhlas dan ia juga sudah berjanji pada dirinya akan menerima Alma secara perlahan .
Sementara Alma , Alvan tak tau apakah wanita itu bahagia atau tidak dengan pernikahan ini namun yang ia tahu Alma terpaksa melakukan nya mungkin karena wanita itu belum mencintai dirinya .
" Bagaimana sudah bisa di mulai . " Tanya pak penghulu pada orang orang di rumah sakit itu .
Semua nampak setuju dan mengangguk .
Acara ijab kabul pun dimulai ,Jujur saja Alvan nampak gugup , ini baru pertama kalinya bagi ia akan mengucapkan sebuah kata yang akan mengikat nya bersama Alam . Tangan lelaki itu mulai berkeringat .
" Mas Alvan Ayo jabat tangan saya . " Ucap penghulu itu membuat Alvan tersadar lelaki itu segera mengulurkan tangan nya untuk di jabat pria di hadapannya itu .
" Saya nikah kan dan kawinkan engkau saudara Alvan Sadewa dengan saudari Almahera Safira binti Yusuf dengan mas kawin seperangkat alat solat di bayar tunai . "
" Saya terima nikah dan kawinnya Almahera Safira binti Yusuf dengan mas kawin tersebut di bayar tunai . " Ucap Alvan dengan begitu lancar nya . Semua orang mengucapkan hamdalah . Kini Alma dan Alvan telah sah menjadi pasangan suami istri di mata agama .
" Selamat ya nak , semoga Alvan tak akan mengecewakan kepercayaan kamu . Kalau sampai dia lakuin itu ngadu saja sama mama biar mama kuliti dia sampai habis . " Ucap mama Alvan tersenyum pada Alma .
" Makasih Tante ." Ucap Alma berusaha tersenyum .
" Eh ..kok Tante , panggil saja mama karena mulai saat ini kamu telah resmi menjadi anak kami . " Ucap Medina tersenyum .
" Em... Iya ma ." Ucap Alma kikuk .
" Alvan mulai saat ini kamu telah menjadi seorang suami , kamu harus bertanggungjawab dengan statusmu itu dan rubah cara bicara mu yang dingin itu biar Alma gak kabur ke yang lain ." Ucap dewa tersenyum.
" Hem..." Hanya itu jawaban yang keluar dari Alvan hal itu membuat dewa kesal anak nya itu tetap saja tak bisa merubah sikap nya .
" Alma ..." Lirih seseorang yang terlihat lemah , mendengar itu Alma langsung mendorong kursi roda nya menghampiri ranjang yang di tempati ibunya .
" Terimakasih nak kamu sudah mau mengabulkan permintaan ibu yang terakhir . " Ucap ibunya tersenyum getir .
" Ibu ini ngomong apa , apapun yang ibu inginkan pasti bakal Alma kabulkan , sudah Alma tak mau mendengarkan omong kosong ibu lebih baik ibu istirahat saja . " Ucap Alma yang tak ingin mendengar omongan ibunya yang mulai ngelantur .
__ADS_1
Sebenarnya Alma takut mendengar setiap kata yang keluar dari mulut ibunya , kata kata itu sakan akan mengisyaratkan ibunya akan pergi meninggalkan ia sendiri . Mendengar itu hatinya sakit dan teriris ia jadi sedih .
" Benar yang di omongin Alma mbk , lebih baik mbk istirahat saja . " Ucap Medina membenarkan apa yang di omongkan Alma .
" Baiklah , tapi tolong jaga anak ku seperti kamu menjaga anak mu sendiri . " Ucap Ibu Alma tersenyum .
Alma yang mendengar itu hanya mematung omongan ibunya sudah seperti itu dan itu menyadarkan Alma akan sesuatu ibunya itu telah memberi isyarat pada dirinya dan yang lain .
Tanpa terasa Air mata Alma mengalir begitu saja . Sementara itu ibunya mulai memejamkan matanya perlahan dan terlelap dalam tidur nya .
" Tak usah menangis nak , ibumu pasti baik baik saja . " Ucap Medina mengerti kekhawatiran Alma.
" Iya ma.." ucap Alma mengusap air matanya kasar .
" Alvan , cepat pergi beli makanan buat Alma pasti dari tadi dia belum makan !" Perintah Medina pada anak nya itu . Alvan yang sedari tadi menatap Alma iba pun tersadar dari pandangan nya .
" Kamu mau makan apa ?" Tanya Alvan dengan nada yang masih saja dingin .
" Ck ..gitu saja masih tanya sama istrimu , belikan dia makanan kesukaan nya Van kamu ini . " Ucap Medina kesal .
" Kamu ini gimana , masak makanan kesukaan istri sendiri tak tau dasar kamu ini dasar nya dingin tetap saja dingin . " Ucap Medina memarahi anak laki lakinya itu .
" Apa saja mas , pasti aku makan kok . " Ucap Alma tak ingin Alvan di marahi ibunya.
" Untung istri kamu pengertian . " Ucap Medina lagi . Alvan tak menjawab dan lebih memilih pergi meninggalkan kamar itu .
" Mama sudah makan ?" Tanya Alma pada mertuanya itu .
" Mama puasa sayang , oh iya mama kamu sendiri sudah makan belum tadi ?" Tanya Medina pada menantunya itu .
" Belum , mama gak mau makan sejak masuk rumah sakit tadi . " Ucap Alma sedih .
" Tak apa mungkin mulut mama kamu lagi gak enak . " Ucap Medina menenangkan perasaan menantunya itu .
" Boleh Alma tanya sesuatu sama mama ?" Tanya Alma penasaran .
__ADS_1
" Tanya apa sayang,tanya lah tak usah sungkan . " Ucap Medina mendekati menantunya itu dan duduk di kursi samping Alma .
" Kenapa mama mau menerima ku sebagai menantu padahal aku hanya seorang janda yang lumpuh , selama ini orang tua para lelaki yang dekat dengan ku selalu saja tak setuju kalau aku dekat dan menjalin hubungan dengan anak mereka . " Ucap Alma penasaran dengan jawaban mertuanya itu .
" Alvan itu bukan lelaki laki yang mudah untuk dekat dengan perempuan sekali dekat dia tak akan pernah melepaskan nya , mama senang dia bisa dekat dan menikah dengan wanita seperti kamu . Kamu wanita yang baik berbakti sama orang tua dan rendah hati kami sangat beruntung memiliki menantu seperti kamu terlepas dari fisik kamu . Kami tak mem beda beda kan orang nak mau dia miskin kaya ataupun lumpuh sekalipun toh semua manusia dasar nya sama kan . " Ucap Medina mengusap punggung tangan Alma perlahan .
" Makasih ya , mama Mau menerima Alma apa adanya , Alma beruntung punya mertua seperti mama. " Ucap Alma menitihkan air mata nya.
baru kali ini ia merasa di hargai dan di terima meski fisik nya tak sempurna dan ia juga dari Kalangan orang tak punya .
" Jangan menangis Alma mama gak suka lihat nya . " Ucap Medina mengusap air mata Alma perlahan .
Medina paham dengan penderita an wanita di hadapannya itu ,Ia tau hidup Alma sulit akhir akhir ini terlihat dari sikap wanita itu yang berusaha terlihat kuat walaupun sebenarnya tak seperti itu .
" Ini makan lah dulu ." Ucap Alvan menyodorkan sebuah nasi kotak pada Alma .
" Sini biar mama suapi kamu . " Ucap Medina mengambil alih nasi kotak di tangan Alvan .
Alvan terdiam ia senang mama nya begitu peduli dengan Alma , ia juga senang Alma begitu senang menerima perlakuan mamanya itu .
" Dulu waktu kecil Alvan selalu minta di suapi saat makan padahal ia sudah masuk sekolah dasar waktu itu kalau mama gak suapi dia , dia gak mau makan dan gak mau sekolah . " Ucap Medina mulai bercerita tentang masa lalu anak nya .
" Mama ini apa apa an sih . " Kesal Alvan menahan malu karena masa kecil nya di ceritakan pada orang lain .
" Kenapa kamu , toh memang benar kan yang mama ucap kan . " Ucap Medina tersenyum mengejek anak laki laki nya itu .
" Ck ... Terserah mama saja . " Ucap Alvan kesal , lelaki itu pergi meninggalkan Alma dan Medina sendiri dan lebih memilih menyusul Ayah nya di ruang tunggu .
" Ini makan lagi , ak..." Ucap Medina menyuapi menantu nya itu dengan kasih sayang .
" Sudah ma ...Alma sudah kenyang . " Ucap Alma mengusap bibirnya yang sedikit belepotan .
" Porsi makan mu sedikit sekali sayang , lain kali biar mama masakin kamu makanan kesukaan kamu ya ...biar kamu makan nya lahab . " Ucap Medina tersenyum .
" Terimakasih ma ..." Ucap Alma tersenyum .
__ADS_1
" Sama sama sayang . " Ucap Medina tersenyum senang melihat menantunya itu sudah mulai bisa tersenyum kembali .