
Alvan membuka pintu kamar nya perlahan , dilihat nya Alma yang telah berganti pakaian dengan busana muslim.
Hari ini memang akan di adakan pengajian di rumah nya untuk ibu Alma , Sesaat Alvan begitu terpesona dengan kecantikan Alma .
" Em ... Ayo kita keluar para tetangga sudah pada datang . " Ucap Alvan menghampiri istrinya itu . Di dorong nya kursi istrinya perlahan keluar dari kamar itu .
" Alma saya dan istri turut berduka cita ya . " Ucap Chiko menghampiri pegawai nya itu.
" Terimakasih Chiko sudah menyempatkan datang . " Ucap Alma tersenyum tipis .
" Yang tabah ya mbk Alma semoga ibu mbk di tempatkan di surga nya Allah . " Ucap sela yang ikut datang ke pengajian tersebut .
" Iya sel makasih ya. " Ucap Alma tersenyum lagi .
" Ayo ayo semua nya di nikmati hidangan nya . Maaf seadanya saja . " Ucap Medina menyambut para tamu yang datang .
Alma senang walaupun ibu Alvan baru mengenal nya dan ibunya tapi wanita itu bersedia repot repot mengadakan sebuah pengajian untuk ibunya .
Alvan menatap istrinya yang memijit kepalanya pelan ia rasa istrinya itu tengah pusing , bagaimana tak pusing dari pagi hingga malam wanita itu sama sekali tak mau mengisi perutnya .
" Ma ... Nasi nya di mana . " Tanya Alvan yang sudah meninggalkan Alma sendiri ..
" Kamu ini Van , gak bisa di tahan apa perut nya pengajian belum di mulai kamu malah nanya makanan . " Ucap Medina kesal .
" Bukan buat aku tapi buat Alma , kasian dari pagi dia gak mau makan Aku mau paksa dia makan . " Ucap Alvan membuat Medina tersenyum ia senang anak nya mulai perhatian pada menantunya itu .
" Mama ini bukan nya jawab malah senyum senyum sendiri . " Kesal Alvan .
" Eh .. iya sayang jangan marah Napa , itu nasi nya ada di sana lauk nya juga di sana kamu ambilin gih sekalian di suapi nanti Alma nya . " Goda Medina tersenyum menggoda .
" Hemmm..." Hanya itu jawaban Alvan lelaki itu segera mengambil nasi beserta lauk pauk nya . Dan meletakan makanan itu di kamar nya .
Setelah itu tanpa berkata apa pun Alvan menghampiri Alma dan mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kamar miliknya .
" Ada apa mas ?" Tanya Alma yang sedari tadi bingung karena suaminya tiba tiba membawanya masuk ke dalam kamar tanpa memberitahu Alma terlebih dahulu .
__ADS_1
" Makan . " Ucap Alvan menyerahkan sepiring nasi beserta lauk pauknya ke pada wanita itu .
" Aku gak lapar mas . " Ucap Alma ingin meletakkan piring itu kembali ke atas meja namun Alvan sudah lebih dulu mengambil nya .
" Gak lapar apanya muka kamu sudah pucat seperti itu . Dari pada nanti pingsan dan bikin panik mending kamu makan sekarang . " Ucap Alvan marah .
Alma terdiam ia baru pertama kali di marahi oleh seorang laki laki entah kenapa ia jadi terbawa perasaan wanita itu meneteskan air matanya perlahan .
Alvan yang melihat itu pun hanya bisa membuang nafas nya kasar ia tak tau jika kata katanya akan membuat Alma sedih .
" Ayo makan Alma ibu kamu akan sedih jika melihat kamu seperti ini. Dia menitipkan kamu pada ku kalau aku tak mampu menjaga kamu bagaimana aku bisa bertanggungjawab pada ibumu . " Ucap Alvan dengan kata yang lebih lembut .
Alma tak menjawab dan hanya diam membisu ,
Alvan menyendok nasi dan lauk nya ke dalam sendok dan menyodorkan ke depan wanita itu .
Karena Alma tak bisa membohongi perut nya yang sedari tadi sudah perih Alma pun membuka mulutnya perlahan .
Alvan tersenyum ketika sesuap nasi berhasil masuk ke dalam mulut istrinya itu . Alvan pun dengan telaten menyuapi Alma .
" Mas boleh Alma bertanya . " Kata wanita itu seraya mengunyah makanan nya.
" Kenapa mas mau menikahi Alma padahal mas belum mengenal Alma ?" Tanya Alma begitu penasaran dengan Alasan suaminya itu .
" Tentu saja karena permintaan ibu kamu memang apa lagi . " Ucap Alvan kembali menyodorkan sesuap nasi di hadapan Alma , Alma langsung melahap nya tanpa ragu .
" Mas bisa saja kan menolak nya. " Ucap Alma pada suaminya itu .
" Kamu benar mas bisa menolak nya tapi mas tak ingin mengecewakan harapan ibumu pada mas jadi mas hanya bisa menerima nya . Kamu sendiri kenapa tak menolak nya ?" Tanya Alvan ikut penasaran dengan alasan istrinya itu .
" Karena Alma tak ingin mengecewakan ibu , selama ini ibu tak pernah meminta apapun dari Alma dan baru kemarin ia minta pernikahan pada Alma , Alma tak bisa menolak permintaan pertama dan terakhir dari ibu Alma . " Ucap wanita itu jujur , wajah nya berubah mendung kembali melihat itu Alvan jadi malas membahas hal itu lebih lanjut .
" Sudah lah , cepat habiskan makanan nya setelah itu kita keluar . Kita temuin tamu yang lain . " Ucap Alvan kembali menyuapi istrinya itu .
...
__ADS_1
...
..
Medina tersenyum ketika melihat teman lama nya datang bersama anak dan menantu nya .
" Eh ..jeng Iren terimakasih ya sudah menyempatkan datang . " Ucap wanita itu menyapa teman nya .
" Ah ... Tak masalah jeng . Oh iya ini kenalkan anak ku Vivi dan suaminya . " Ucap Iren memperkenalkan anak dan menantu nya pada Medina .
" Halo Tante . " Sapa Vivi tersenyum .
" Wah Vivi sudah sebesar ini saya tak menyangka terakhir kali saya melihat dia masih seumuran Luna . " Ucap Medina tersenyum .
" Iya Heng ngomong ngomong di mana menantu yang jeng Medina ceritakan .?" Tanya Iren begitu penasaran dengan menantu sahabatnya itu .
" Oh dia masih di kamar sama Alvan sebentar lagi juga datang . Maklum lah jeng ibunya baru saja meninggal pasti dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya . " Ucap Medina tersenyum .
" Iya jeng , saya mengerti . " Ucap Iren tersenyum .
" Ma ... " Panggil Alvan ketika ia baru saja keluar dari kamar dan menghampiri mamanya .
" Nah itu dia menantu ku dan Alvan . " Ucap Medina tersenyum seraya melihat anak nya yang saat ini tengah datang menghampiri nya .
Iraen begitu terkejut setelah mengetahui siapa yang datang bersama anak dari sahabatnya itu . Ia tak menyangka mantan menantunya lah yang di maksud Medina .
" Alvan ini ada Tante Iren sama anak nya. " Ucap Medina memperkenalkan mereka pada Alvan dan Alma .
Alma terdiam ia sama terkejutnya dengan Iren ia tak menyangka akan bertemu dengan orang yang pernah menyakiti nya di acara tahlilan untuk ibunya .
" Jeng ... Jeng saya tak menyangka menantu yang jeng Medina ceritakan adalah mantan menantu saya ." Ucap Iren tersenyum meremehkan .
Alma memejamkan matanya sejenak ia yakin mantan ibu mertua nya itu akan menjelek-jelek kan ia di hadapan semua orang .
" Oh ... Begitu kah saya tak tau soal itu . " Ucap mama Alvan masih berusaha tersenyum meski perasaan nya mulai tak enak .
__ADS_1
" Iya jeng ini menantu saya . Dia ini pembawa sial dia telah membuat suami dan anak nya meninggal dan sekarang dia membuat ibunya meninggal juga , saya rasa jeng Medina harus segera mengusir dia dari rumah jeng Medina sebelum anak jeng Medina bernasib sama dengan anak saya . " Ucap Iren yang tentu saja menyakiti hati Alma .
Wanita itu sama sekali tak membalas omongan Iren ia hanya bisa menangis dan mengusap dadanya pelan berusaha menghilangkan rasa sakit yang semakin lama semakin membuat ia sesak nafas saja .