
Alvan pulang ke rumah bersama Alma , saat ini Alma tengah memangku beberapa belanjaan yang di belikan Alvan tadi saat di mall , wanita itu terdiam ketika mendengar suara tangisan .
" Mas siapa yang menangis ?" Tanya Alma menatap suaminya itu .
" Itu suara mama , Ayo kita ke sana . " Ucap Alvan mendorong kursi roda istrinya itu menuju suara tangisan yang di dengar nya dan benar saja ibunya tengah menangis tersedu sedu di pelukan Dewa .
" Mama kenapa ?" Tanya Alma khawatir .
" Alvan ... Tadi Luna mengamuk lagi dan memarahi mama mu , mamamu jadi sedih karena itu . " Ucap dewa mengusap usap punggung istrinya .
" Ngamuk lagi bukanya tadi waktu Alvan tinggal dia sudah tidak apa apa . "Ucap Alvan bingung .
" Iya mama juga gak tau tadi mama cuma mau ngater makanan buat dia tapi dia marah marah sama mama , dia juga bilang semua nya pembohong . Mama gak ngerti yang dia maksud Van , Mama bingung harus bagaimana lagi Mama ingin adik mu kembali seperti dulu . " Ucap Medina menangis .
Alma yang melihatnya begitu tak tega , hatinya ikut sakit melihat orang yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri menangis seperti itu .
" Alvan akan temui dia . " Ucap Alvan menghela nafas nya , kemudian lelaki itu menaiki tangga demi tangga yang menghubungkan kamar Luna dengan lantai bawah .
" Apa dia masih mengamuk ?" Tanya Alvan pada nora , penjaga Luna selama ini .
" Masih den , bahkan tadi dia mecahin gelas minum nya . " Ucap Nora menjelaskan , tanpa berkata apapun Alvan segera memasuki kamar adiknya .
Kamar itu begitu berantakan , barang barang berserakan di mana mana Alvan menatap ke sekeliling kamar adiknya dan betapa terkejutnya dia saat melihat adik nya itu sedang meringkuk di sudut kamar itu .
" Astaghfirullah Luna . " Ucap Alvan langsung menghampiri adiknya , di pelukannya adik nya itu erat . Tubuh gadis itu bergetar , gadis itu sedang menangis ketakutan rambutnya di Jambak oleh tangan nya sendiri .
" Luna hentikan ..kamu gak boleh seperti ini . " Ucap Alvan pada adiknya itu .
" Diam ... Kakak pembohong ...Luna benci kakak . " Teriak Luna mendorong Alvan hingga lelaki itu terjatuh ,Telapak tangan lelaki itu tertancap pecahan beling.
" Darah... Darah... Tidak ... Aku bukan pembunuh ... Tidak..." Teriak Luna begitu ketakutan melihat darah segar keluar dari tangan Alvan .
" Ck ... Aku harus keluar dulu dari sini . " Ucap Alvan menatap Luna yang ketakutan dengan tangan nya yang berdarah .
Alvan merasa kondisi nya saat ini sangat tak memungkinkan ia untuk menenangkan Luna Karena Luna akan semakin histeris jika melihat darah .
Alvan bangkit dan berjalan pergi meninggalkan Luna sendiri , Nora pembantu rumah itu pun bergeridik ngeri saat melihat tangan Alvan wanita itu takut Luna akan bersikap seperti itu juga padanya .
__ADS_1
Alvan menuruni tangga dengan tergesa saat merasakan perih di tangan nya , Alma , Medina dan dewa yang melihat Alvan datang dengan tangan berdarah pun terkejut .
" Mas kamu gak papa ?" Tanya Alma khawatir dengan kondisi suaminya itu .
" Tak apa kamu disitu saja , mas mau ambil kotak p3 k dulu . " Ucap Alvan melarang Alma untuk beranjak dari tempatnya .
" Biar papa saja yang ambilkan Van ..." Ucap dewa segera berlalu pergi . Alvan berjalan menuju wastafel dapur nya ,Alma yang melihat itu pun mengikuti dari belakang .
Lelaki itu mencabut pecahan gelas yang tertancap di telapak tangan nya , Ia meringis saat pecahan itu berhasil ia cabut . Alma segera datang dan meraih tangan suaminya itu di bersihkan nya tangan Alvan dengan air yang mengalir di kran wastafel dapur nya .
" Kenapa bisa seperti ini mas . " Ucap Alma menatap suaminya khawatir . Alvan hanya meringis kesakitan .
Dewa datang dengan membawa kotak p3 k di tangan nya dan menyerahkan nya pada Alma .
Alma meraih kotak itu , mengeluarkan perban dan obat merah dari dalam kotak . Wanita itu dengan telaten mengobati luka Alvan dan membalut nya dengan perban .
" Makasih ya sayang . " Ucap Alvan ketika Alma selesai membalut lukanya .
" Mama tak tahan lagi pa , seperti kita memang harus membawa Luna ke rumah sakit . Mama gak nyangka dia tega melukai Alvan . " Lirih Medina yang datang dengan wajah muram .
" Alvan gak setuju , yang dia butuhkan bukan rumah sakit tapi yang dia butuhkan saat ini adalah dengan bertemu dengan Alma . " Ucap Alvan setelah memikirkan nya matang matang ia memutuskan untuk membawa Alma bertemu dengan Luna . Karena ia tak punya pilihan lain .
" Maaf ... " Ucap Alvan menunduk , lelaki itu sama sekali tak berani menatap wajah Alma .
Ia belum siap menceritakan semuanya namun ia harus melakukan itu jika ingin Luna sembuh ,
Medina dan dewa yang merasa Alvan akan mengatakan sesuatu yang membuat Alma sedih pun segera memberikan ruang untuk anak dan menantunya itu ,Mereka pergi meninggalkan Alma dan Alvan sendiri .
" Maaf kenapa mas . Tolong jangan buat Alma bingung . " Ucap Alma menatap suaminya itu yang sedang tak mau menatap nya .
" Aku... Sebenarnya ... Luna ..." Ucap Alvan tak yakin untuk mengatakan nya . Lidah nya seakan mati rasa , jantung nya berdebar dan ia begitu gelisah dengan apa yang akan ia katakan .
" Aku apa Luna apa ...Jawab mas ." Bentak Alma yang sudah tak tahan lagi karena suaminya itu tak kunjung menjelaskan semuanya .
" Luna orang yang menabrak mobil mu. " Ucap Alvan memejamkan matanya .
Alma terdiam ia mengerti kenapa kemarin Alvan tanya tentang kecelakaan yang menimpa nya ,Wanita itu menghela nafas nya perlahan berusaha mengontrol emosi nya sendiri .
__ADS_1
" Ceritakan dari awal . " Ucap Alma dingin tanpa senyum di wajah wanita itu .
" Alma sebenarnya Luna yang menabrak mobil mu saat itu dia sedang belajar mobil dan orang yang mengajarinya adalah Aku , ia belajar dengan baik namun entah mengapa saat itu rem nya blong . Kami tak dapat mengendalikan mobil itu , aku berusaha mengambil alih namun nihil . Mobil yang Luna kendarai menabrak mobil mu . " Ucap Alvan pelan .
" Lalu ..." Ucap Alma memejamkan matanya .
" Lalu ...aku hendak menolong mu namun Luna yang lebih dulu melihat kondisi mu histeris ketakutan . Ia pikir kamu dan suamimu sudah meninggal di tempat , karena Luna sangat histeris aku terpaksa meninggalkan kalian . Tapi aku sudah menelfon ambulan terlebih dahulu . "
" Lalu ...?" Tanya Alma lagi .
" Aku ingin bertanggung jawab Tapi aku tak tau kamu di rawat di mana, setelah kejadian itu aku selalu mencari informasi tentang kamu namun hasilnya selalu nihil . Orang yang aku suruh tak dapat menemukan mu hingga aku menyuruh Chiko untuk mencari mu .Chiko berhasil menemukan mu dia bilang kamu kerja di tempat teman nya,Dan aku datang kesana aku mengawasi mu setiap hari hingga kamu di pecat dan dihina ibu Roni pun aku tau semuanya. " Ucap Alvan tak ingin menutupi apapun dari istrinya itu .
" Lalu ..." Ucap Alma masih tak ingin mengatakan hal lain ia merasa cerita Alvan masih kurang .
" Aku menyuruh Chiko untuk menerima mu berkerja di tempat nya aku lakukan semua nya untuk membalas Budi padamu aku lakukan itu untuk menebus kesalahan Luna .. " ucap Alvan pada akhirnya .
" Apa mas menerima tawaran ibu untuk menikahi ku juga karena Alasan balas Budi dan apalah itu ." Ucap Alma menatap Alvan tajam .
" Iya ...tapi .." belum sempat Alvan menjawab Alam sudah lebih dulu memotong omongan lelaki itu .
" Aku gak nyangka mas menikah dengan ku hanya karena Alasan seperti itu , Alma kira mas berbeda dengan yang lain namun ternyata sama saja . Jika Alma tau alasan mas yang sebenarnya menikahi Alma waktu itu mungkin Alma tak akan mau menikah meski itu permintaan almh ibu Alma . Alma kecewa dengan mas , Alma pusing, Alam mau istirahat dulu tolong jangan ganggu Alma dulu . " Ucap Alma mendorong kursi rodanya hendak pergi dari tempat itu .
Alvan ingin membantunya namun Alma malah menepis tangan lelaki itu .
" Alma bisa sendiri . " Ucap Alma dengan nada yang dingin .
Alvan menghela nafas nya ia tau Alma sedang marah dan ia ingin memberikan waktu untuk istrinya itu sendiri . Alvan hanya bisa menatap Alma yang sudah semakin menjauh dari hadapannya dan menghilang di balik pintu kamarnya .
....
..
..
Aduh... mereka bertengkar ... bagaimana kelanjutan nya ... yang penasaran tunggu up besok ya ...
jangan lupa like , komen vaf...
__ADS_1
terimakasih sudah berkenan dan bertahan membaca cerita ini .
DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI BAGI KAMI PARA AUTHOR .