Cinta Seorang Janda Lumpuh

Cinta Seorang Janda Lumpuh
episode 17


__ADS_3

Alma sungguh ketakutan ketika melihat para dokter keluar masuk kamar rawat ibunya , tadi pagi ia membangunkan ibunya untuk sarapan namun ibunya tak kunjung membuka matanya , kata dokter kondisi ibunya saat ini tengah kritis dan itu semakin membuat Wanita itu takut .


Sedari tadi ia tak berhenti menangis , Alvan yang melihat kondisi Alma pun jadi tak tega . Lelaki itu mengusap usap bahu Alma perlahan.


" Ada apa Van , tadi kamu bilang kondisi ibu Alma kritis . " Ucap Medina yang baru saja datang bersama suaminya .


" Ma ... Ibu gak mau buka matanya ma .." lirih Alma berlinang air mata .


" Tenang nak , ibu kamu pasti tak apa apa . ," Ucap medina menenangkan menantu nya itu .


Baru saja Medina berkata seperti itu seorang dokter setengah baya keluar dari kamar ibu Alma , dokter itu menghampiri Alma dengan wajah menyesal .


" Bagaimana keadaan ibu saya dok ?" Tanya Alma dengan penuh kekhawatiran .


" Saya sudah berusaha sebaik mungkin namun Tuhan berkata lain , maaf kan saya ibu anda tak bisa tertolong . " Ucapan itu bagai petir menyambar di telinga Alma , wanita itu menjerit histeris . Ia begitu rapuh dan hancur .


Dalam 2 tahun ia kehilangan orang orang tersayang nya .hati itu perih dan sakit bahkan kini ia menangis tanpa suara . Orang orang yang melihat nya pun nampak iba .


" Ikhlaskan nak , Ibu mu sudah tak merasakan sakit lagi , ibu mu sudah pergi dengan tenang sayang . " Ucap Medina mengusap rambut menantu nya itu perlahan .


" Ibu ku ... Hiks .. sudah pergi ma .... Aku sudah tak bisa menemani dia lagi ...hiks hiks .. " ucap Alma terisak dalam tangis nya .


" Iya nak mama tau kamu sangat menyayangi ibu mu , tapi sayang Tuhan lebih menyayangi nya dari pada kita jadi kita harus ikhlas nak . " Ucap Medina ikut menitihkan air mata .


wanita itu begitu kasian dengan nasib yang menimpa menantunya itu . Ia bisa merasakan apa yang Alma rasakan karena ia juga pernah kehilangan sosok orang tua .


" Alvan kamu urus jenazah ibu mertua mu . " Perintah ayah Alvan pada anaknya itu .


" Baik pa.." ucap Alvan menatap Alma sejenak , entah kenapa ia tak tega melihat Alma menangis hati nya ikut perih . Alvan mengusap rambut Alma pelan kemudian lelaki itu pergi meninggalkan Alma sendiri bersama keluarga nya .


....


...


...


Mendung dan gerimis mengiringi pemakaman ibu Alma , Alma hanya diam wajah nya lesu tangis wanita itu pecah kembali saat melihat ibunya masuk ke dalam liang lahat .

__ADS_1


Semua orang nampak serius tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka hanya suara tangisan Alma yang sesekali terdengar .


Hingga pemakaman itu pun berakhir . Semua orang berpamitan pada Alma dan pergi dari sana kini tinggal Alvan dan Alma yang masih setia di tempat itu .


" Kita pulang ." Ucap Alvan menatap Alma lembut .


" Aku masih mau di sini mas . " Ucap Alma tak ingin meninggalkan tempat itu , ia masih setia menatap gundukan tanah itu dengan pandangan sendu nya .


" Oke .. tapi cuma lima menit saja , setelah itu kita pulang . " Ucap Alvan yang tak mendapatkan jawaban dari Alma .


Alvan menghela nafas ia berusaha bersabar dalam menghadapi Alma karena saat ini Wanita itu masih berkabung .


" Kita pulang ya , hujan nya semakin deras nanti kamu sakit . " Ucap Alvan pada Alma .


Alma menatap nisan ibunya sejenak dan air matanya pun kembali mengalir , wanita itu menatap Alvan sendu .


" Ayo.... Mas . " Ucap Alma pada akhirnya , Alvan menghela nafas nya lega . Kemudian lelaki itu mendorong kursi roda Alma menjauhi pemakaman tersebut .


....


...


Alvan membuka pintu kamar itu perlahan . Kamar itu cukup luas dan pemandangan nya pun cukup asri karena langsung menghadap ke kolam .


" Ini sekarang akan menjadi kamar kita . " Ucap Alvan menjelaskan .


Alma hanya diam wanita itu sungguh tak bertenaga karena memang hatinya masih sedih atas kepergian ibunya itu .


" Kamu tunggu sini ya , biar aku panggilan mama . " Ucap Alvan meninggalkan Alma sendiri . Lelaki itu datang dan menghampiri mamanya di dapur .


" Ma ..." Panggil Alvan pada ibunya itu .


" Ada apa nak , bagaimana Alma ?" Tanya Medina menghawatirkan kondisi menantunya itu .


" Dia masih terpukul ma , mama tolong gantikan dia baju ya . Sekalian bantu dia mandi . " Ucap Alvan meminta bantuan ibunya itu .


" Kenapa gak kamu saja yang bantu dia nak ?" Tanya Medina sedikit menggoda anak nya itu .

__ADS_1


" Mama ini yang benar saja , Alma masih berkabung ma masak Alvan mikir yang kayak gitu sih . Sama saja dengan Alvan mencari kesempatan dalam kesempitan . " Ucap Alvan tak suka dengan omongan mamanya itu .


" Ck ...mama hanya bercanda Van , gitu aja marah kamu ini . Ya sudah mama mau bantu in Alma dulu . " Pamit ibunya .


Alvan tak menjawab ia masih kesal dengan mama nya itu . Medina menatap sang mantu yang hanya diam menatap kolam dengan pandangan kosong . Dihampirinya sang menantu dan di usap nya rambut menantu nya perlahan .


" Ayo nak , mama bantu kamu mandi dulu sekalian ganti baju . " Ucap Medina tersenyum lembut .


" Iya ma , maaf merepotkan . " Ucap Alma berusaha tersenyum .


" Enggak merepotkan kok nak , kamu itu istri anak mama yang artinya kamu itu anak mama juga jadi gak ada kata merepotkan di antara kita . " Ucap Medina tersenyum lembut .


Alma bersyukur setidaknya ia memiliki mertua yang begitu baik hati ia juga merasa sedikit terhibur dengan kasih sayang dari mertuanya itu .


" Ayo nak mama bantu . " Ucap Medina mendorong kursi roda Alma memasuki sebuah kamar kecil dimana ia akan mandi .


Disisi lain Alvan menatap pria di hadapannya dengan pandangan tajam . Ia tak suka karena lelaki itu datang dengan marah marah dan mengatakan dirinya tak menganggap dia sebagai sahabat .


" Ck ... Jangan kayak anak kecil , aku terpaksa gak ngabarin kamu karena semuanya begitu mendadak . " Ucap Alvan tak suka dengan sikap sahabatnya itu .


" Tetap saya harus nya kamu ngomong dulu , mana langsung pergi gitu aja dari cafe eh tau tau udah nikah sama Alma . " Ucap Chiko kesal .


" Ingat Van yang nemuin Alma tuh Aku . Jadi kamu harus nya ngabarin aku duluan . " Ucap Chiko masih menyalahkan Alvan .


" Loe cerewet banget sih , kalau loe kesini cuma buat ngomel mending loe gak usah kesini sekalian . Kepala gue udah cukup pusing dengan semua masalah yang ada loe jangan nambah nambahin pikiran gue aja . " Ucap Alvan memarahi teman nya itu .


" Ck ... Ya maaf deh maaf ngomong ngomong gimana bini loe ?" Tanya Chiko penasaran dengan kondisi Alma .


" Masih terpukul . " Singkat Alvan .


" Loe kan udah nikah Van , seharusnya loe rubah sikap loe yang dingin kayak gini biar gak bikin Alma tambah sedih . " Ucap Chiko menasehati sahabatnya itu .


" Gue dari lahir memang seperti ini ko , tapi gue akan berusaha berubah walaupun sulit . " Ucap Alvan tak ingin melihat Alma semakin sedih .


Ia merasa bertanggung jawab atas wanita itu karena ibu wanita itu telah menitipkan Alma padanya sebelum ibunya meninggal .


" Bagus , gue dukung loe . " Ucap Chiko tersenyum senang . Semarah apapun Chiko pada Alvan ia tetap peduli pada sahabatnya itu .

__ADS_1


__ADS_2