
Alvan mengerutkan dahinya ketika melihat setelan kerja sudah tersedia di kasur empuk milik nya , di lihatnya kesekeliling dan ia tak menemukan keberadaan istrinya , mungkin istrinya itu telah pergi membantu mamanya di dapur .
" Apa dia yang siapkan ini semua . " Ucap Alvan menatap setelan itu .
Tiba tiba saja Lelaki itu tersenyum .Dahulu ia melakukan semuanya sendiri dan kini sudah ada orang lain yang melakukan nya untuk Alvan dari menyiapkan makan hingga menyiapkan pakaian kerja nya .
Tak ingin terlambat ke kantor karena ia harus mengantar Alma lebih dulu , Alvan pun langsung bergegas mandi .
Sementara itu Alma tengah menyiapkan makanan untuk suaminya di dapur bersama Medina . Wanita cantik itu begitu terampil memotong beberapa sayur di hadapannya . Medina yang melihat itu pun tersenyum ia merasa telah menemukan partner yang tepat saat ia berada di dapur .
" Mama gak nyangka kamu ini sudah bisa masak Ma . " Ucap Medina pada menantu nya itu .
" Waktu kecil Alma sering bantuin ibu di dapur ma , jadi Alma sudah mulai belajar masak sedari kecil . " Ucap Alma tersenyum namun mata wanita itu justru memancarkan kesedihan . Wanita itu tengah mengingat saat saat bersama ibunya .
" Jangan bersedih nak , ibu mu pasti bangga punya anak sekuat dirimu . " Ucap Medina mengusap bahu Alma pelan , wanita itu begitu mengerti perasaan menantu nya .
" Iya ma ... Semoga saja begitu , em kalau boleh Alm tau makanan kesukaan Mas Alvan apa ma ?" Tanya Alma penasaran .
" Alvan itu bukan tipe pemilih makanan nak , apapun yang ada di meja makan pasti dia makan jadi kamu gak usah bingung semua makanan dia suka . " Ucap Medina tersenyum .
" Kalau begitu nanti biar Alma siapkan bekal buat mas Alvan makan siang . " Ucap Alma berinisiatif.
" Jangan nak , Alvan paling tak suka jika di buatkan bekal , dia bilang itu seperti anak kecil dulu mama pernah buatkan tapi selalu di tinggal di rumah . Dia gak mau bawa ke kantor.
" Ucap Medina memberitahu menantunya itu .
" Oh begitu ya ma ..." Ucap Alma paham .
" Sarapan nya sudah matang belum . " Ucap dewa yang baru saja turun bersama anak nya Alvan .
" Sudah , tinggal naruh di meja . " Jawab Medina pada suaminya itu.
__ADS_1
" Bik , tolong taruh di atas meja . " Ucap Medina memerintahkan pembantunya itu .
" Ayo Alma kita sarapan dulu . ," Ucap Medina mendorong kursi roda Alma menuju meja makan.
" Sini mas biar Alma ambilkan . " Ucap Alma meraih piring suaminya itu , Alvan hanya diam dan menurut saja . Dilihatnya Alma yang begitu telaten mengambilkan lauk pauk untuk dirinya .
" Ini mas . " Ucap Alma meletakan piring yang telah berisi nasi dan lauk pauknya di hadapan Alvan .
" Makasih . " Ucap Alvan pada istrinya itu . Mereka pun makan dengan lahab nya tak ada yang berbicara sama sekali sampai semua orang pun telah selesai .
" Kamu udah siap , kalau udah siap mas anterin sekarang ya. " Ucap Alvan seraya meletakan sendok nya di atas piring .
"' Alma ambil tas dulu mas. " Ucap Alma ingin mendorong kursi roda nya.
" Biar mas bantu. " Ucap Alvan mengambil Alih kursi roda itu dan mendorong nya menuju kamar nya dan Alma .
...
..
" Kamu sudah berapa lama terapi ?" Tanya Alvan memecahkan keheningan di antara mereka .
" Cukup lama mas semenjak aku mengalami kecelakaan , tapi kaki ku sama sekali tak menunjukan perubahan terkadang Aku lelah menjalani terapi ini toh kaki ku tak merespon sama sekali tapi aku tak mau menyerah begitu saja , yang penting aku sudah berusaha sebisa ku. " Ucap Alma mengutarakan keluh kesah nya .
" Kamu mau gak mas Carikan dokter yang lebih handal dari dokter kamu ?" Tanya Alvan pada wanita di samping nya itu.
" Untuk apa mas buang buang uang saja . " Ucap Alma pesimis ia tak mau menyusahkan Alvan .
" Jangan bicara seperti itu , Besok mas Carikan dokter nya mas gak menerima penolakan kamu. " Ucap Alvan dingin .
Lelaki itu kembali menatap jalanan di hadapannya . Jika sudah seperti itu maka Alma tak bisa membantah lagi , lagi pula itu untuk kebaikan nya jadi ia tak ada alasan untuk menolak kebaikan dari suaminya itu .
__ADS_1
Tak butuh waktu lama kini mereka telah sampai di sebuah rumah sakit tempat di mana Alma akan menjalani terapi kakinya .
Alvan pun langsung menghentikan mobil nya di depan rumah sakit itu ia pun langsung membantu Alma turun dan meletakkan nya perlahan di kursi roda milik wanita itu.
" Mas langsung ya ma . " Ucap Alvan yang ingin mengejar waktu , lelaki itu takut terlambat dalam meeting nya dan membuat klien nya kecewa .
" Iya mas , makasih sudah mau mengantar Alma . " Ucap Alma tersenyum .
" Itu sudah kewajiban ku ." Bisik Alvan tepat di telinga istrinya itu.
Alma terdiam bisikan di telinga wanita itu membuat ia merinding , melihat Alma hanya diam pun Alvan hanya tersenyum.
" Sudah sana masuk . " Ucap Alvan mengingatkan istrinya itu bahwa saat ini sudah waktunya bagi wanita itu untuk masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
Alma tersenyum dan pergi meninggalkan Alvan sendiri yang saat ini tengah memperhatikan dirinya , dari kejauhan Alvan bisa melihat Alma melewati lorong lorong rumah sakit sendiri hingga matanya melotot ketika melihat seorang dokter muda dan tampan tengah menghadang istrinya dan ia pun mengobrol riang bersama istrinya itu .
" Siapa lelaki itu ?" Tanya Alvan penasaran , ia ingin pergi kesana dan menyusul istrinya namun waktunya tak sempat lagi .
Sebenarnya Alvan tak suka melihat Alma sedekat itu dengan lelaki asing ia hanya bisa mengepalkan tangan nya marah.
Kemudian lelaki itu pergi memasuki mobilnya kembali dan pergi dari tempat itu karena jujur ia sudah tak tahan melihat Alam berbicara dengan lelaki yang sama sekali tidak ia ketahui identitas nya itu .
Handphone lelaki itu berbunyi dan itu dari Chiko Alvan pun langsung mengangkat nya dengan cepat .
" Ada apa . " Bentak Alvan yang masih belum bisa menguasai emosinya .
" Cepat kesini , klien kita sudah nunggu loe . " Ucap Chiko memberi tahu .
" Cerewet ..gue masih di jalan . " Ucap Alvan langsung mematikan telvon nya . Chiko yang mendengar itu pun menghela nafas nya lelah ia yakin seharian ini Alvan akan marah marah di kantor karena suasana hati lelaki itu sedang buruk . Dia juga yakin dirinya lah yang akan di persulit nantinya oleh sifat Alvan , pasti apapun yang Chiko katakan tak akan benar di mata sahabatnya itu .
" Ck ... hari ini pasti. adalah hari terdiam gue " ucap lelaki itu mengerucutkan bibirnya tak suka .
__ADS_1