
Alma tengah membantu Medina menyiapkan makan siang di dapur , sementara Luna gadis cantik intu memegang gelas yang berisi air putih di tangan kanan nya sedangkan tangan kirinya memegang handphone .
Gadis cantik itu tampak serius menatap layar handphone nya .ia tengah berseluncur ke google dan mencari tau apa yang membuat nya penasaran selama ini .
Mata gadis itu melotot saat mengetahui jawaban dari pertanyaan yang terus ia cari dari kemarin , saking terkejutnya ia menjatuhkan gelas di tangan nya.
" Aduh..." Ucap Alma ketika punggung kakinya tak sengaja tergores pecahan gelas milik Luna itu.
" Eh. ..maaf , maaf mbak aku gak sengaja . " Ucap Luna melihat kondisi kaki Alma yang lecet akibat perbuatannya itu .
" Ada apa ini ." Ucap Alvan yang buru buru datang karena mendengar teriakan Alma tadi , Medina menatap kaki Alma was was .
Alvan yang melihat arah pandangan ibunya itu pun langsung mengerti , lelaki itu mendorong Luna untuk menyingkir karena ia ingin melihat kondisi kaki sang istri .
" Aku gak papa mas ... " Ucap Alma tak ingin Alvan khawatir pada dirinya .
" Gak apa apa nya kaki kamu luka sayang . " Ucap Alvan menatap Alma tajam .
" Ini hanya tergores mas. Tidak parah satu atau dua hari juga sembuh . " Ucap Alma pada suaminya itu .
" Kenapa kamu begitu ceroboh memecahkan gelas yang ujung ujungnya melukai dirimu sendiri . " Ucap Alvan memarahi Alma tanpa bertanya pada wanita itu terlebih dahulu apa yang terjadi .
" Kakak jangan marahin mbak Alma , Luna yang pecahin gelas nya bukan mbak Alma . " Ucap Luna menjelaskan .
" Ck ..." Alvan berdecak saja , lelaki itu menatap Alma tak suka Luna yang di tatap seperti itu pun hanya bisa menunduk, ia merasa bersalah pada Kakak iparnya Alma .
Alvan berlalu pergi , Alma menatap punggung suaminya yang menjauh ia rasa Alvan marah pada adiknya sendiri .
" Kak Alvan pasti marah . " Ucap Luna yang juga merasa begitu .
" Kakak mu hanya terlalu menghawatirkan mbak Luna jadi kamu jangan khawatir , sebentar lagi juga kakak mu akan mereda amarah nya . " Ucap Alma tak ingin melihat Luna sedih gara gara Alvan .
Tak lama setelah itu Alvan datang membawa plester luka , di raihnya kaki Alma dan memakaikan plester luka itu di kaki istrinya .
" Aku kira kakak marah tadi sama Luna, makanya kakak pergi gitu aja tadi . " Ucap Luna menatap Alvan takut ...
__ADS_1
" Kakak marah Luna , kamu pikir kakak gak marah lihat kaki Alma berdarah gara gara kamu . lain kali jangan kayak gitu lagi . Kamu bisa membahayakan orang lain jika ceroboh seperti itu . " Ucap Alvan dingin .
" Iya kak ...maaf...Luna gak sengaja tadi , Luna hanya terkejut . " Ucap Luna sedih .
" Sudahlah lebih baik kamu bersihkan itu pecahan gelas nya dan kamu Alma ..kamu gak usah masak lagi . " Ucap Alvan tak ingin jika Istrinya itu kembali terluka karena terus terusan berada di dapur .
" Mas ini bagaimana , aku kan perempuan ya harus masak dong buat suami dan keluarga yang lain . " Ucap Alma tak mau jika Alvan melarang hal yang sudah seharusnya menjadi kewajiban nya .
" Iya betul kata Alma Alvan , kamu ini jangan terlalu khawatir nanti malah Alma gak nyaman kalai kamu khawatir yang berlebihan seperti itu . " Ucap Medina menasehati anak nya itu .
Alvan terdiam di tatapnya wajah sang istri yang saat ini tengah di tekuk itu , bibirnya cemberut dan sama sekali tak mau tersenyum . Melihat itu Alvan pun menghela nafas nya berusaha meluapkan perasaan kekhawatiran nya pada istrinya itu .
" Ya sudah ... Aku mengalah .tapi ingat jangan sampai terluka lagi atau mas benar benar tak mengizinkan kamu ke dapur lagi . " Ucap Alvan mengusap rambut Alma sayang .
Wajah yang tadinya mendung pun sudah kembali cerah . Alma menatap balik suaminya itu dan menyuguhkan senyum yang bahagia , melihatnya Alvan merasa lega . Lelaki itu senang jika Alma sudah tak sedih lagi .
"Mama jadi penasaran apa yang membuat kamu terkejut Luna . " Ucap Medina melihat anak nya yang tengah duduk jongkok membersihkan pecahan gelas .
" Em ...itu ..anu ..Luna lihat apa itu namanya ." Ucap Luna bingung mencari Alasan .
" Itu anu apa , kamu ini bikin Mama curiga saja . " Ucap Medina menatap Luna penuh selidik .
" Kenapa jadi aku ." Ucap Alvan yang bingung karena Luna menyalahkan nya atas apa yang telah ia perbuat .
" Ya gara gara kakak gak jelaskan apa itu olahraga malam jadinya Luna penasaran dan ingin tau jadi Luna ngomong kayak gitu sama dokter Rayhan ..Luna jadi malu sekarang setelah mengetahui kebenaran nya tadi , Luna terkejut saat Luna cari tau di google kalau olahraga malam yang kakak maksud itu hubungan suami istri di malam hari . " ucap Luna menunduk sedih .
" Kamu memang nya ngomong apa sama dokter rayhan lun ?" Tanya Alma yang tak mengetahui tentang masalah itu .
" Luna ngomong badanya dokter Rayhan ideal dan bilang dia pasti sering olahraga malam . Luna kira olahraga malam itu olahraga biasa yang dilakukan di malam hari , Luna gak nyangka artinya berbeda. Sekarang Luna malu kalau misalkan ketemu sama dokter Rayhan lagi . " Ucap Luna cemberut .
" Astaga Luna ..." Ejek Medina menggeleng kepala pelan sambil menutup mulutnya tak percaya .
" Mama ...kenapa malah ngejekin Luna . " Kesal Luna seraya membuang pecahan gelas itu ke dalam tong sampah .
" Hahaha ...mama bercanda sayang . " Ucap Medina seraya tertawa.
__ADS_1
" Lalu dokter Rayhan bilang apa lun ?" Tanya Alma pada adik iparnya itu .
" Dia sedikit gak percaya kalau Luna gak tau apa artinya itu terus ...em...terus ..." Ucap Luna ragu saat mengingat ucapan Rayhan selanjutnya yang mengajak nya untuk berolahraga malam bersama itu .
" Ah ...Luna malu mengatakan nya . " Ucap Luna pergi dari tempat itu . Alma tersenyum melihat kelakuan adiknya itu .
" Kenapa kamu begitu penasaran dengan apa yang mereka bicarakan sayang , apa kamu mau bertanya langsung pada Rayhan biar aku yang menghubungi dia kalau kamu mau . " Ucap Rayhan pada istrinya itu .
" Mas ini apa apaan siapa pula yang penasaran , sudahlah mas jangan cemburu masak begitu saja mas cemburu sih . " Ucap Alma tak mengakui jika dirinya penasaran .
" Mas cemburu karena mas sayang dan cinta sama kamu Alma .." ucap Alvan membuat pipi Alma memerah , wanita itu menunduk malu .
" Alvan ...Kalau mau mesra mesra an nanti saja oke , soalnya mama mau lanjut masak nanti gak Mateng Mateng lagi kalau ada kamu . " Ucap medina kembali memotong sayuran yang dari tadi ia tinggalkan gara gara kejadian itu .
" Iya mas ...mending mas ke kamar dulu atau enggak nonton tv dulu kan bisa . " Ucap Alma pada suaminya itu .
" Tapi kamu bener bener gak papa kan sayang ?" Tanya Alvan lagi memastikan Kondisi istrinya itu .
" Gak papa mas. ..Alma baik baik saja kok . " Ucap Alma tersenyum , ia senang Alvan begitu perhatian dan begitu menghawatirkan nya itu menandakan bahwa sang suami perduli terhadap nya .
" Ya sudah mas ke depan dulu ya . " Pamit Alvan meninggalkan istrinya itu .
" Oh iya Alma gimana terapi kamu . " Tanya Medina penasaran dengan perkembangan kaki menantunya itu .
" Alhamdulilah ma , Alma udah bisa berdiri ya meskipun gak lama . " Ucap Alma tersenyum senang .
" Benarkah , coba tunjukan sama mama nak mama ingin lihat . " Ucap Medina pada mantunya itu .
Alma pun berpegan pada kursi roda nya dengan perlahan wanita itu berdiri .
Medina menutup mulutnya tak percaya , ia tak menyangka kaki Alma sudah mulai menunjukkan perubahan , melihat itu ia pun ikut senang .
" Selamat ya sayang ..mama ikut senang ." Ucap Medina memeluk menantunya itu .
Setelah itu Medina melepaskan pelukannya , dibantu nya Alma yang hendak duduk lagi di kursi roda miliknya .
__ADS_1
" Mama berharap kaki mu segera pulih dan kamu bisa segera berjalan lagi sayang . " Ucap Medina ketika Alma baru saja duduk di kursi roda milik nya itu .
" Amiin ." Ucap Alma mengaminkan harapan ibu mertua nya itu . Mereka pun kembali memasak makanan untuk keluarga mereka .