
BAB 99
Sesaat setelah tiba di rumah sakit, Emira menuju cafe untuk memesan makan malam, ia berpapasan dengan Reza yang sudah membawa banyak bungkusan makan malam.
"Etdah… lahi borong pak?" Sapa Emira.
Wajah Reza sumringah melihat Emira berdiri di hadapannya.
"Iya lagi banyak tamu, di ruangan Lea," Jawab Reza senang, "thanks yah… kamu sudah bantu dokter yang mengoperasi Lea,"
"Aku hanya asisten, tapi aku terima ucapan terima kasihmu," Jawab Emira, ia bahahia karena Reza sudah kembali tertawa, dan yang lebih penting, hubungannga dengan Reza pun membaik.
"Oh iya… untuk ketemu kamu di sini, ini buat kamu." Reza mengangsurkan bungkusan makan malam yang jumlahnya tidak sedikit.
"Ini banyak banget Za."
"Ga papa, sengaja kok, buat para perawat juga, tadi aku udah tanya jumlah perawat dan dokter yang bertugas malam ini."
"Baiklaahhh… gue terima yah, ikhlas kan? Gue gak mau sakit perut nih…"
"Hahaha… ya iyalah ikhlas, kamu lupa sekaya apa keluargaku." Bisik Reza dengan mode narsis nya.
"Dih… gaya, basi tau gak, lupa rumah sakit ini milik siapa?" Balas Emira tak mau kalah.
Dan jika sudah demikian, tak ada yang menang ataupun kalah, karena pada kenyataannya, keduanya memang turunan orang orang tajir melintir.
"Oh iya… ada papi sama mami juga, pengen ketemu kamu," Ujar Reza ketika keluar dari lift yang membawa mereka ke lantai lima.
"Oke nanti kalo jadwalku longgar, aku mampir."
Keduanya terus bercakap hangat, tanpa menyadari ada penonton yang menyaksikan, tapi kali ini ia tak mau terjebak lagi dalam kesalahpahaman, Arjuna lebih memilih membuang rasa cemburunya, dibanding ia terus dihantui rasa rindu yang tak tersalurkan.
Emira menghentikan tawanya, ia melihat suaminya mendekat ke arahnya dan juga Reza, ingin berlari memeluk pria tampan tersebut, tapi masih dongkol dengan sikap Juna hari ini.
Jadi ketika Emira berpisah jalan dengan Reza, ia memilih langsung menghampiri meja perawat, kemudian menitipkan bungkusan makanan titipan Reza ke meja perawat, kemudian pergi ke ruang ganti, masih dengan Arjuna yang mengawasinya dari kejauhan.
Ketika kondisi aman, tanpa aba aba dan tak menerima penolakan, Arjuna menyeret lengan istrinya ke ruangan yang dahulu di gunakan Emira untuk berlatih menjahit luka.
Klik
__ADS_1
Tak lupa pria itu menguncinya.
"Mas mau ngapain? Aku belum absen nih, ntar terlambat,"
"Siapa yang peduli, toh di rumah sakit ini, tak ada yang berani mengusikmu kan?" Jawab Juna dengan pandangan aneh, yang tentu sudah sangat dihafal Emira. "Aku benar kan?"
Juna menyibak rambut yang menutupi dahi Emira, kemudian mendudukkan Emira di meja hingga wajah mereka kini nyaris sejajar, dibelainya pipi mulus tersebut, sebelum ia melahap habis bibir Emira, benar benar tak ada ampun, Juna bahkan hanya menjeda sesaat ketika Emira kehabisan nafas, kemudian kembali meraupnya dengan punuh rindu.
Pada awalnya Emira ingin diam dan tak membalas, bukti bahwa ia masih kesal dengan tingkah suaminya hari ini, tapi Arjuna terlalu lihai untuk diabaikan, bahkan kedua tangannya sudah menurunkan denim yang berfungsi sebagai outer gaun Emira, selesai dengan denim, ia mulai menurunkan resleting gaun berwarna pink tersebut, hingga gaun cantik tersebut melorot, menampakkan tubuh bagian atas Emira yang hanya mengenakan kain penutup d a d a.
"Boleh yang?" Tanya Juna lirih, rasa rindunya sungguh menggebu, ditambah kini dengan Emira yang tampak pasrah dan rela memberikan apa yang ia inginkan, kini boleh dong kalo Juna semakin ngelunjak, dengan menginginkan lebih?.
"Aku lagi kangen banget yang…" Ujar Juna ketika Istrinya tak kunjung memberikan jawaban.
"Mas gak pengen menjelaskan sesuatu padaku?" Emira bertanya.
"Iya maaf, hari ini aku sudah keterlaluan, tapi bukan tanpa alasan yang,"
Emira melipat kedua lengannya di perut, hingga membuat pandangan Juna makin membola, karena kedua gundukan indah itu mulai menghipnotis matanya.
"Semalam aku gak bisa tidur, karena gak ada kamu di sisiku seperti biasa, sampe aku nekat dini hari nyusulin kamu ke rumah sakit, tapi apa?? Aku malah lihat kamu cengengesan sama Reza, kan aku jadi cemburu." Jawab Juna dengan wajah memelas.
Emira melepaskan belitan tangannya, kemudian mengusap pipi suaminya, "semalam sekretaris Reza jadi korban perampokan, ketika hendak mengambil kembali tas nya yang di rampok, pencopet itu justru menusuk perutnya dengan senjata tajam, dan Reza merasa bersalah karena sebelum kejadian itu di bertengkar dengan Alea, karena masalah sepeleh." Emira menjelaskan sesingkat mungkin.
"Iya, nama sekretaris nya, Alea itu anak dari sahabat orang tua Reza, jadi memang sengaja dititipkan pada Reza, lagi pula gadis itu sudah Reza anggap sebagai adik."
"Lalu?"
"Aku hanya menghibur Reza, supaya tak terlalu sedih dan merasa bersalah, eh malah kamu yang cemburu gak jelas."
"Ya maaf yang, namanya juga cinta, wajar kalau aku cemburu berat." Gumam Juna sambil memilin rambut istrinya.
"Udah ah, aku mau nugas lagi," Pungkas Emira sembari berusaha membetulkan letak gaunnya yang berantakan.
Tapi Emira terkejut karena Arjuna menahan pergerakan tangannya.
"Maaaasss…"
"Iya sayang?"
__ADS_1
"Tangannya pliiss."
"Kamu gak pengen yang? Aku udah ngebet banget nih, kita udah libur tiga hari loh yang," Bisik Juna.
"Baru tiga hari mas, bukan tiga tahun."
"Bisa mati mengenaskan aku yang, kalo sampe liburnya tiga tahun." Jawab Juna yang mulai memberikan tanda merah di leher Emira.
"Mas jangan sampe ada tanda merah dong." Pinta Emira, "gak enak kalau kelihatan orang."
"Dikit yang…"
"Nggak… nggak… jangan pokoknya."
Arjuna mengabaikan teriakan istrinya, ia tak mungkin lagi menahan kebutuhannya, dengan gencar ia melakukan aksinya hingga Emira tak sanggup lagi menolak.
Ruangan sempit itu, meja dan rak rak itu, serta semua benda yang biasanya menjadi kawan baik Juna ketika belajar, kini menjadi saksi pergumulan panas nan singkat mereka, Emira bahkan tak berani mengeluarkan suara suara merdunya, khawatir ada yang memergoki mereka.
Usai pelepasan terjadi, Arjuna sibuk membersihkan kekacauan yang mereka ciptakan.
Keduanya tertawa geli, menertawakan tingkah konyol mereka sendiri.
Arjuna mengulurkan kunci ruangan tersebut ke tangan Emira, "mulai hari ini, kamu yang pegang kunci ruangan ini,"
"Memang ini ruangan siapa?"
"Ruanganku, dan mulai sekarang jadi ruangan kita," Jawab Juna penuh maksud.
"Pasti modus…"
"Ya iya lah… masa belum paham juga." Jawab Juna sambil menaik turunkan alisnya.
"Dih… kumat lagi kan?? Udah gak cemburu lagi?"
Arjuna menggeleng, "nggak, rugi cemburu… udah jelas jelas milik aku, kenapa aku yang harus cemburu, yang ada aku rugi gak dapet jatah 'nina ninu'..."
"Hahahaha… udah yah, salam dulu buat ayah sama mama, nanti malem aku ke ruangan ayah."
Dengan terpaksa Juna melepaskan genggaman tangannya, karena istrinya harus segera bertugas.
__ADS_1
"Aku berharap kita segera memiliki bayi yang, tapi kalau kamu belum ingin sepertinya aku gak bisa memaksa." Gumam Juna ketika melihat istrinya menjauh.
Masih sangat panjang jalan yang harus mereka tempuh untuk mengarungi bahtera rumah tangga, kedepannya rintangan akan semakin besar, cemburu dan sedikit pertengkaran pasti akan menjadi bumbu wajib yang harus ikut serta di dalamnya.