
BAB 72
Dua jam kemudian Juna dan Ayah Satrio keluar dari ruang kerja, mereka segera bergabung di meja makan, dimana Emira, mama Yuna dan Bisma menanti.
Emira tersenyum menyambut kedatangan Arjuna yang kini duduk di sisi nya.
Dengan sigap mama Yuna mengisi piring ayah dengan nasi dan lauk pauk.
“Yang ambiliiin …” Arjuna mulai berulah.
Sontak tiga pasang mata yang juga berada di ruangan itu langsung memperhatikan Emira dan keanehan sikap Juna.
Mendapat perhatian sedemikian rupa membuat Emira kikuk, dan tersenyum malu bercampur canggung.
Arjuna benar benar tak tahu tempat, ini bahkan di hadapan keluarganya, rupanya ia bahkan lebih manja dari kelima keponakan Emira.
“Mas … apaan sih, norak tau … biasa juga ambil makan sendiri.” Seru Bisma yang agak geli melihat sikap manja kakak sulungnya.
“Bisanya sirik, makanya punya istri, biar tahu gimana rasanya, tuh … kaya mama sama ayah.” balas Juna tak mau Kalah.
Emira mengalah, tak ingin ikut berdebat, karena kelihatannya ayah dan mama mertuanya menganggap perdebatan Bisma dan Juna adalah hal biasa, maka Emira pun mengambil nasi dan lauk pauk untuk sang suami.
“Makasih sayang,” ucap Juna ketika Emira meletakan piring yang sudah berisi penuh terisi menu sarapannya.
Berikutnya ganti Juna yang menyodorkan sepiring buah buahan potong di hadapan Emira, “Kamu juga harus sarapan.” Arjuna mengusap rambut istrinya.
“Makasih mas …” Bisik emira lirih.
interaksi manis itu tak lepas dari tatapan mama Yuna dan Ayah Satrio, mereka ikut senang melihat anak dan menantunya terlihat rukun dan saling mengasihi satu sama lain.
“Terima kasih sudah mau menginap di rumah kami nak,” ujar Ayah Satrio di sela sela sarapan pagi itu.
“Oh ga gitu yah, kan sekarang keluarga ini keluargaku juga, disini atau di sana, rasanya sama saja, hanya beda suasana dan beda orang aja.” Jawab Emira, masih canggung walau Ayah dan mama mertua nya ternyata dua pribadi yang ramah dan menyenangkan.
“Kapan kapan shopping sama mama mau yah?” tawar mama Yuna.
Emira tersenyum senang, sejak remaja ia menemani sang mommy dan kakak iparnya shopping, kini ia sendirilah yang akan shopping bersama mama mertua.
“Ya mau lah mah, perempuan mana yang gak suka diajak Shopping,” jawab Emira dengan bahagia. “mama siap siap, bayar tagihan kartu kreditnya.”
“Gampang, nanti mama kirim tagihannya ke suamimu.”
“Maaaaa …” Ayah Satrio menegur.
__ADS_1
“Nggak mas, aku hanya bercanda.”
“Serius juga gak papa mah, Juna yang akan bayar, gak papa kok,” Juna menatap Emira yang kini juga tengah menatapnya.
“Aku juga boleh mas?” Bisma bertanya antusias.
“Belajar dulu yang bener.” sembur ayah Satrio, mama Yuna, dan Juna bersamaan, seketika Bisma cemberut.
“Iya deh iyaaaa … nasib jadi bungsu.” gerutunya.
Membuat Emira tersenyum, rupanya tidak hanya dirinya yang sering menerima bully an dari kedua kakak nya, hanya karena dirinya anak bungsu.
Tiba tiba Emira merindukan kehangatan keluarga nya, rindu pingky cantik nya, bahkan rindu kelima keponakannya yang super duper jail, lucu, sekaligus kepo, bahkan ia sangat merindukan daddy Alex, dan kedua kakak kembarnya yang menyebalkan, apakah mereka baik baik saja kini, adakah yang merindukan kehadirannya, karena hari ini adalah hari dimana biasanya anak cucu daddy Alex berkumpul.
“Kenapa? kok tiba tiba diam?” tanya Arjuna yang menyadari perubahan wajah sang istri. Emira menggeleng dengan senyum canggung. “Mau kerumah daddy?” Juna menawarkan, karena kebetulan beberapa saat lalu ia juga menerima pesan singkat dari Andre.
.
.
.
Arjuna memarkirkan mobilnya di depan gerbang utama Geraldy Kingdom.
“Yang … bangun.” Bisik Juna, mengusak lembut telinga Emira.
Emira mulai tergelitik, hingga pelan pelan kesadarannya kembali, “Kita sudah sampai?” tanya nya masih dengan kedua mata tertutup.
“Iya …”
Klik
Juna melepas belt yang melingkari tubuh Emira.
Emira mulai menggeliat, hingga kedua matanya terbuka sempurna, ia menoleh ke sekitarnya, merasa bahwa mereka kini tak berada di parkiran Apartemen, melainkan di depan gerbang utama.
“Kok kita di sini?” Tanya Emira heran.
“Iya … turun yuk.” bujuk Juna, tak mungkin ia membiarkan istri dan papi mertuanya perang dingin berkepanjangan.
Emira memasang wajah enggan, “pulang aja yuuk …”
“Nggak bisa, aku ada janji dengan kakak dan dokter Kevin, ada yang harus kami bicarakan.”
__ADS_1
“Ciiih … sudah sekongkolan sekarang sama dua orang menyebalkan itu.”
“Nggak menyebalkan yang, mereka kedua saudaramu, dan mereka menyayangimu dengan cara mereka.” bujuk Juna, “Kalau tak sayang … bagaimana mungkin ada dua Black Card di dompetmu.”
Emira cemberut, dalam hati ia pun membenarkan ucapan Arjuna, tapi disisi lain ia belum siap bertemu dengan sang daddy, yang wajahnya terlihat menakutkan di hari terakhir mereka bertemu.
Sementara itu di dalam sana sang tuan besar Geraldy Kingdom, tengah berdiri mematung menatap hamparan luas Geraldy Kingdom, menanti kan seseorang yang sangat ia rindukan, tapi belum bisa ia ungkapkan, karena masih belum bisa merelakan sang putri kesayangan dinikahi seorang pria, yang lebih tragis pernikahan itu dimulai dengan sebuah skandal, Alexander sepenuhnya sadar jika kejadian kemarin bukan seratus persen salah Emira dan Arjuna, dan bagaimanapun kesalnya ia, Emira tetap memiliki tempat spesial di hatinya, hadiah terindah dari tuhan setelah ia kembali rujuk dengan sang istri.
“Memikirkan Emira lagi?” tiba tiba mommy Stella sudah berada di belakang daddy Alex.
“Nggak … siapa yang memikirkan Emira, aku hanya … hanya …” Alex bingung memikirkan alasanya.
Stella tersenyum geli, “Tuh kan kakak tuh lucu banget … umur tuh emang gak bisa bohong, sudah tua … jangan banyak mencari alasan, kaya Daniel aja, kalo disuruh belajar matematika selalu cari cari alasan.” Stella sengaja membandingkan suaminya dengan sang cucu yang selalu enggan belajar matematika jika tidak dipancing dengan ancaman Ejekan dari Naya.
“Nggak aku gak bohong,”
“Emira sudah di bawah.” ucap Stella sebelum meninggalkan suaminya, dan kembali ke bawah untuk bergabung dengan anak dan menantunya seperti hari minggu sebelum sebelumnya, kini ia merasa lengkap karena Emira sudah memiliki seorang pendamping. "Mau turun tidak?"
Alex tak menjawab, ia hanya terdiam melihat punggung sang istri menjauh.
Sementara itu di bawah sudah ramai teriakan bahagia para bocah, menyambut kedatangan uncle baru mereka, mereka berjingkrak tanpa henti, ketika mengetahui bahwa sang aunty kesayangan sudah menikah dengan om dokter pilihan mereka.
Kini mereka tengah bergelayut dan menempel manja di pangkuan uncle mereka.
Arjuna sampai di buat kewalahan meladeni ocehan mereka berlima, bahkan Emira yang ingin beranjak ke dapur mengambil minum pun dilarang, "No… aunty duduk saja, aku yang ambilkan!!" Daniel beranjak menuju lemari pendingin.
"Mom… aunty dan uncle suka minum apa yah?" Tanya Daniel ketika sampai di depan lemari pendingin, namun ia tak tahu apa yang diinginkan aunty dan uncle nya.
Bella tersenyum menatap wajah bulat menggemaskan milik si sulung, "ambilkan saja air mineral, yang penting minum kan? Gak harus minuman yang ada rasanya." Usul Bella yang kini ikut jongkok serupa Daniel di depan lemari pendingin.
Daniel menyeringai menatap wajah sang mommy, "baiklah… air mineral saja." Ujarnya bahagia.
Daniel menyambar dua botol air mineral untuk aunty dan uncle kesayangan.
Cup
"Thanks mom." Sebelum pergi Daniel sempat memberikan kecupan singkat di pipi Bella.
.
.
.
__ADS_1
💜