CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 97


__ADS_3

BAB 97


Sang malam sudah berganti menjadi dini hari, tapi Arjuna yang sedang jomblo karena istrinya sedang jaga malam di rumah sakit, kini merana merindukan pelukan Emira, ia bahkan lembur dan membawa pekerjaannya ke rumah, agar cepat lelah dan mengantuk, tapi rupanya cara itu belum cukup ampuh membunuh jenuhnya. 


"Mas… iiih udah dong jangan iseng, aku ngantuk…" Tiba tiba saja ia seperti mendengar suara manja bercampur marah milik istrinya. 


Kemudian ia menoleh ke sisi kirinya, rupanya hanya imajinasi, karena tempat yang biasanya diisi oleh Emira kini dingin dan kosong ditinggal pemiliknya. 


Arjuna memiringkan tubuhnya, "kok aku kangen yah…" Monolognya, kemudian ia menenggelamkan wajahnya ke bantal Emira, aroma shampo bercampur lotion dan parfume masih tertinggal di sana, dan Arjuna kini menyukai aroma tersebut, tepatnya sejak malam panas nya di hotel saat itu… ia terus terusan merindukan aroma ini, terlebih jika berjauhan seperti saat ini. 


'Lebay'


Maki Juna pada dirinya sendiri. 


'Tapi bodo amat' 


Arjuna terkekeh sendiri, kemudian bangkit dari  tidurnya, ia meraih ponsel dan mengirimkan pesan pada sang mama, agar besok pagi tidak mencari keberadaannya, setelah memastikan kunci mobil, ponsel dan dompet berada di genggamannya, Arjuna pun membawa dirinya melaju di tengah dinginnya udara jakarta menjelang subuh. 


Mumpung masih jam dua dini hari, begitu pikir Juna, pria muda itu melaju kencang karena jalanan sangat lengang. Tak sampai dua puluh menit Juna tiba di William Medical Center. 


Tentu saja lantai lima adalah tujuan utamanya, kedatangan Juna menarik atensi para perawat yang sedang bergantian jaga, sementara rekan lainnya terlelap, "selamat malam dok…"


"Malam suster Juwita," Jawab Juna yang secara reflek membuka buku catatan pasien, seperti hari hari biasa sebelum cuti. 


"Katanya cuti dok, kok malah kesini dok?"


"Iya sus… kebiasaan susah hilang," Jawab Juna cuek, ia ingin menanyakan keberadaan istrinya, tapi serba salah. 


Kemudian datanglah Febiola yang juga tak kalah heran dengan suster Juwita, tapi karena sudah tahu siapa yang sedang Juna cari Febiola hanya mendekat ke arah Juna. "Di depan ruang intensif." Ujar Febiola tanpa menatap kearah Juna. 


Arjuna mengulum senyumnya, "thanks…" Bisik Juna sebelum berlalu. 


"Benar benar lagi kasmaran…" Gerutu Febiola, yang baru awal malam tadi mendengar cerita dari Emira, awal mula penyebab pernikahan Arjuna dan Emira. 


"Dok… ada yang aneh gak sih sama dokter Juna?" Tanya suster Juwita penasaran. 

__ADS_1


"Aneh kenapa?" 


"Ya aneh aja, baru berapa hari yang lalu mengajukan cuti, eh tiba tiba aja dini hari ke rumah sakit," 


"Namanya juga kasmaran sus…" Jawab Febiola sambil berlalu, ia hendak ke ruang istirahat, sambil mengerjakan laporan.


"Kasmaran?? Dokter Juna? Sama siapa? …" Suster Juwita bergumam, tanpa memperhatikan bahwa lawan bicaranya sudah tidak ada di tempat. 


Sementara itu… setelah mengetahui keberadaan istrinya, Juna segera berjalan cepat dengan wajah sumringah menuju ruang intensif, tempat ayah Satrio dirawat, serta tempat istrinya berada saat ini, tapi… 


Pemandangan di depannya kini membuat dadanya berdenyut nyeri, istrinya tampak tertawa akrab bersama seorang pria, bahkan diantara mereka ada bungkus makanan serta kopi, apa pria itu sengaja datang ke sana menemani wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya tersebut? Kalau tidak memang ada perlu apa dia dini hari begini di rumah sakit. 


Arjuna hendak berjalan mendekat tapi tiba tiba… 


"Mohon perhatian, kepada anggota keluarga pasien tuan Satrio Dewanto harap segera ke ruang intensif, anggota keluarga pasien tuan Satrio Dewanto harap segera ke ruang intensif." 


Netra Arjuna membulat, mendengar pengumuman tersebut, ia bahkan lupa dengan gemuruh hebat di dadanya, begitu pun Emira yang langsung duduk tegak kemudian berlari masuk ke ruang intensif, tanpa menyadari bahwa Arjuna pun tengah berjalan cepat ke ruang intensif, tempat pasien yang belum sadar dari pingsannya.


Keduanya tiba hampir bersamaan, tapi Arjuna menatap kearah sang ayah yang kini tampak tersenyum lembut ke arahnya dan juga Emira. 


Pertanyaan Emira tersebut, tak Juna hiraukan, fokusnya hanya pada sang ayah. 


"Ayah…?" Panggil Juna lirih. 


Ayah Satrio hanya mengedipkan mata nya, tak bisa menjawab karena hidung dan mulutnya tertutup masker oksigen, dan lagi tubuhnya masih sangat lemas. 


"Juna telepon mama yah?" 


Ayah Satrio berkedip mendengar pertanyaan Juna, kemudian berlalu keluar ruangan, menyisakan Emira dengan perasaan yang entah …  Juna bahkan tak menatap wajahnya, pria itu tak bersikap hangat seperti beberapa jam yang lalu, bahkan kedatangannya ke rumah sakit pada jam seperti saat ini pun belum sempat Emira tanyakan padanya. 




__ADS_1


Ayah Satrio sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, karena menurut penuturan dokter, kondisinya sangat stabil, hanya perlu banyak istirahat, dan menstabilkan emosinya saja, Emira bahkan masih berada di rumah sakit, bersama Juna mengurus segala sesuatunya, termasuk menyelesaikan tugas jaga nya di lantai lima. 


Hingga jam tujuh pagi, mama Yuna tiba di rumah sakit bersama Bisma jam tiga, dan kini setelah Ayah Satrio sudah menempati ruangannya. 


"Juna… antarkan istrimu pulang, dia harus istirahat." Pinta mama Yuna ketika Arjuna sibuk dengan segala keperluan ayah Satrio hingga mengabaikan Emira yang wajahnya tampak pucat dan lelah. 


"Baiklah, Juna pamit dulu mah… yah… mau lanjut kerja, nanti pulang kerja Juna kesini lagi."


"Iya… hati hati yah," Pesan ayah Satrio. 


"Pamit dulu yah… mah… nanti malam aku jaga lagi."


"Istirahat ya nak, terima kasih sudah banyak membantu kami, jangan sampai kelelahan." Kali ini mama Yuna yang berpesan. 


Emira dan Arjuna pun meninggalkan ruangan ayah Satrio. 


"Kok mama merasa sikap mereka aneh ya mas?" Gumam mama Yuna pada ayah Satrio. 


"Jangan berprasangka buruk dulu ma… siapa tahu menantu kita memang sedang kelelahan setelah jaga malam dan tahu sendiri Juna sejak tadi mondar mandir mengurusi keperluanku, bahkan ia masih memakai celana piyama dan kaos oblong, mungkin sejak tadi ia sudah ditertawakan orang orang yang berpapasan dengannya." Gurau ayah Satrio, agar mama Yuna tak terlalu gelisah. "Kita doakan saja mereka rukun dan mesra seperti biasanya, biar kita cepat dapat cucu." 


Mama Yuna tersenyum senang, "iya mas, semoga saja… aku juga berharap demikian." 





Sementara itu di perjalanan, suasana dingin masih menyelimuti, Emira jadi enggan buka suara karena sejak di rumah sakit, Juna terlihat mengabaikannya, tak seperti biasa nya yang manis bahkan cenderung jahil pada nya. 


Emira membuang pandangannya ke luar jendela, dan tanpa sadar ia sudah terlelap, hingga tiba di rumah pun ia tak menyadarinya, ketika Juna menggendongnya hingga ke kamar mereka. 


Usai membaringkan Emira, Juna pun gegas bersiap, tentang pemandangan di rumah sakit tadi harus ia singkirkan sejenak, tadi ia belum ingin bertanya hingga berakibat mendiamkan Emira sepanjang di rumah sakit hingga perjalanan menuju rumah, rasanya sungguh sakit ketika Emira bisa tertawa lepas bersama Reza, sebagai suami ia terlalu posesif bahkan hanya jika istrinya berbagi senyuman dengan sahabat nya. 


"Aku pergi dulu yah…" Pamit Juna lirih ketika Emira terlelap, tanpa ingin membangunkannya, bahkan ini diluar kebiasaannya, biasanya ia akan mandi dulu sebelum mulai istirahat. "Nanti kita bicara soal pemandangan yang tadi kulihat di rumah sakit." Lanjut nya.

__ADS_1


__ADS_2