
BAB 104
“Paman … tak usah mengantarku, paman pasti lelah.” tolak Ayunda, tak lama setelah Arjuna turun meninggalkannya bersama Hans.
“Tapi nona, saya diperintahkan tuan Juna untuk mengantar anda.”
“Aku akan mengantar barang barang mas Juna, setelah itu baru pulang, paman tenang saja, aku bisa pulang sendiri naik taxi,” Jawab Ayu yang segera turun dari mobil, ia mengambil koper miliknya serta milik Juna, Ayu berjalan melewati Lobi utama, menuju lantai lima.
Tapi pemandangan Arjuna memeluk dan menciumi wajah Emira menyambut kedatangan Ayu, tak bisa terbantahkan bahwa hal itu sungguh menyakiti matanya, ia tak kuasa membendung air matanya, lagi ia membiarkan hatinya semakin hancur, bahkan kini bukan lagi berkeping keping akibat penolakan Arjuna, hatinya mungkin sudah menjadi serpihan debu yang tak mungkin lagi bisa dibentuk dan direkatkan.
Bahkan dua orang lain yang kebetulan berada di ruangan tersebut, tak menyadari kehadirannya, maka akhirnya Ayu memilih meninggalkan ruang rawat Emira, padahal sebelumnya ia berniat ingin mengunjungi istri dari saudara sepupunya tersebut, sekaligus mengantarkan koper milik Juna.
.
.
.
Arjuna masih setia duduk di kursi yang berada di sisi brankar Emira, tangannya tak lepas menggenggam jari jari lentik sang istri, bahkan tak bosan menciuminya, bahkan ia sempatkan mengambil gambar kedua tangan mereka yang saling bertaut, kemudian mengunggah gambar tersebut ke akun instagramnya, dengan caption yang cukup banyak menarik perhatian.
#Yang ter segalanya dalam hidupku, cintaku, separuh nafasku, dan tulang rusukku … sungguh tak terkira rasa terima kasih ku, karena kamu memberiku hadiah terindah.
Tak lama deretan komentar ramai berdatangan, pasalnya selama ini seorang Arjuna nyaris tak pernah membagikan sisi kehidupan pribadinya ke publik, tiba tiba memposting gambar yang cukup banyak menarik perhatian.
-Gadis mana yang kena gombalan lo?
-Siapa woy … kenapa cuma tangan aja?
-Jangan bilang ini tangan si culun.
-Udah married lo? kenapa gak ngundang?
-Baru berapa bulan sejak reuni? gercep amat bro.
-Undangan mana nih?
Juna hanya cengengesan membaca semua komentar tersebut, tanpa berniat membalasnya, biarkan saja mereka penasaran, toh pernikahannya memang belum go public, mungkin sekarang ia harus menyiapkan pesta mewah, toh seisi rumah sakit, kini sudah mengetahui rahasia pernikahannya.
Sebentar kemudian yang ditunggu tunggu pun terbangun, Emira menoleh ke kiri dan kekanan, ia merasa asing dengan ruangan tempat ia berbaring saat ini, tapi seketika bahagia ketika netra bertatapan dengan netra suaminya.
Emira mengangkat kedua tangannya, “Peluk …” pinta nya manja.
Arjuna berdiri, bukannya memberi pelukan, pria itu justru menyentil kening Emira.
__ADS_1
Tak …
“Aw … sakit mas,” rengek Emira lagi, lengan kanannya yang berbalut plester luka terangkat, ketika ia mengusap keningnya.
“Itu hukuman, lain kali berpikir dulu sebelum bertindak!!” Arjuna tak bisa lagi menahan kalimatnya, tadi ketika pihak keamanan memperlihatkan rekaman CCTV di lokasi kejadian, Arjuna nyaris tak bisa bernafas, terlebih di detik detik terakhir sebelum lengan indah istrinya tersayat pisau tajam kemudian pingsan. “lain kali … perhatikan keselamatanmu dulu sebelum menyelamatkan orang lain.”
Emira hanya memamerkan senyuman lebarnya, melihat wajah khawatir Arjuna, “Maaf mas … reflek.”
“Reflek kamu bilang?"
"Ya iya lah, memang mas pikir karena apa?" Jawab Emira dengan menambahkan kalimat tanya di akhir perkataan nya, "Bayangin aja, beberapa jam sebelumnya anak dari pria itu masuk ruang operasi karena cedera serius di kepala dan lengan nya, jadi ketika sore hari, di tanpa tahu malu datang ke rumah sakit, bahkan masih sempat melanjutkan aksi KDRT nya, aku harus diam saja?" Emira menambahkan dengan nada bicara santai dan nyerocos seperti biasa.
"Aku tahu, kamu bermaksud menyelamatkan wanita itu," Balas Juna dengan nada setingkat lebih tinggi, "tapi karena itu, kamu hampir …” Juna tak menyadari bahwa nada bicaranya semakin tinggi, dan kini sudah disalah artikan oleh sang istri.
“Mas … kalo cuma mau marah marah, pulang aja, aku mau sendiri.” tiba tiba Emira memotong omelan Arjuna, moodnya memburuk seketika, wajah yang semula tersenyum lebar setelah membuka mata, kini cemberut dengan kedua mata berkaca kaca, kala mendengar omelan suaminya.
Arjuna nyaris melupakan kehamilan Emira, wajar jika kini Emira tiba tiba beralih mode, begitulah suasana hati ibu hamil, seperti cuaca yang mendadak buruk.
Arjuna mendekat, tapi di luar dugaan Emira justru memalingkan wajahnya, “Yang … maaf …” dengan lembut Arjuna menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah cemberut sang istri, “Maaf …” ujar Juna ketika kini wajah mereka berhadapan.
“Jahat banget, baru pulang udah marah marah.”
“Aku marah, karena aku khawatir banget yang … hmm … karena sekarang bukan hanya kamu yang aku khawatirkan, tapi ada bayi kita juga di sini …” Arjuna mengusap lembut perut Emira, tempat bayi mereka tumbuh saat ini hingga delapan bulan kedepan.
Emira terdiam, air mata yang sejak beberapa saat lalu tergenang, kini mengalir perlahan, Emira masih menggeleng tak percaya, "apa mas? Bayi?" Tanya Emira tak percaya.
Emira menggeleng, “tidak, itu tidak mungkin, aku minum pil kontrasepsi.”
“Itu sangat mungkin sayang, sebelum sebelumnya bahkan ketika masa suburmu, kita ber cinta tanpa pengaman apapun." Jelas Juna, tak perlu detail karena keduanya sama sama paham ilmu kedokteran. “Kenapa? kamu tak bahagia dengan kehadirannya?”
“Tidak mas, bukan aku tak bahagia, aku hanya belum siap,” tiba tiba Emira menangis.
"Karena?"
"Aku sudah pernah mengatakan padamu, tidak pada saat ini, saat aku bahkan masih harus berjuang menjalani masa residen, bagaimana nanti jika dia terabaikan karena kesibukanku? Bahkan mung….”
"Ssssttt …" Arjuna meletakkan jari telunjuknya di bibir Emira, agar sang istri berhenti bicara, kemudian ia mengusap air mata Emira sepenuh kasih sayang nya, “Ada aku sayang, ada orang tua kita, tak mungkin mereka akan diam saja, mereka pasti akan mencurahkan kasih sayang nya pada anak kita, bahkan mungkin lebih sayang cucu, ketimbang kita anak anaknya, kita akan membesarkan bayi kita bersama sama, jadi jangan pernah berpikir kamu akan menjalani semuanya sendiri, aku akan selalu di dekatmu, menjaga kalian, kamu dan bayi kita.”
“Janji yah?”
“Iya aku janji, mulai sekarang kamu juga harus bisa menjaga dirimu dan bayi kita, sampai nanti saat nya kita bertemu dengannya.” bisik Juna lembut, “I love you.”
Wajah Emira bersimbah air mata, beberapa minggu ini ia masih ngotot belum ingin hamil, bahkan beberapa saat yang lalu ia masih bimbang dengan berita kehamilannya, tapi sungguh ajaib kekuatan cinta, padahal Arjuna hanya sedikit mengeluarkan kata kata manis, emira langsung terbuai karena nya, bahkan nasihat panjang daddy dan mommy nya belum sepenuhnya merubah keputusan Emira.
__ADS_1
"Love you too… jadi mau peluk atau nggak??"
Arjuna tertawa lebar, ia mengusap air mata bahagianya, kemudian membawa Emira ke pelukannya, "makasih yah, karena kamu sudah hadir di hidupku, menghadirkan sejuta warna indah bertabur bahagia, bahkan membuatku selalu rindu rumah."
Emira membenamkan wajahnya di pelukan Arjunanya, menghirup dalam dalam aroma tubuh suaminya, sungguh menenangkan sekaligus membahagiakan sang ibu hamil.
"Mas…" Panggil Emira di sela sela kegiatan mereka.
"Iya…"
"Bobok sini yah?"
"Tentu saja, mana bisa aku pulang dan tidur di rumah, ketika kamu di rawat di rumah sakit??" Jawab Juna polos.
Emira mendorong pelan dada suaminya, "iiihhh masak gak paham sih…"
"Loh aku bener kan?" Juna semakin heran mendengar gerutuan Emira.
"Nyebelin banget sih, udah mau lulus jadi dokter bedah juga, masih aja lola."
"Loh… salahku dimana?"
"Maksud aku tuh, mas Juna tidur di sini." Emira menepuk sisi kanannya, bermaksud meminta Juna tidur di sebelahnya." Jawab Emira.
Arjuna terkekeh geli, "ooo… kirain apa,"
Arjuna menurunkan pagar pembatas, dan Emira pun bergeser memberikan ruang untuk suaminya, perlahan Arjuna memposisikan tubuhnya, berbaring di sisi Emira, sesuai permintaan si pemilik bed, kemudian dengan manja Emira memeluk Arjuna seakan akan tak ingin terlepas. "Kangen." Bisik Emira.
Hati juna jumpalitan tak karuan, rasanya ingin koprol kanan kiri atas bawah, biasanya dirinya yang bilang bilang kangen, kini ketika mendengar sang istri mengatakannya, rasanya jadi naik beberapa level kadar cintanya.
Dengan senang hati Arjuna makin mengeratkan pelukannya, kemudian menutup tubuh mereka dengan selimut yang sejak tadi Emira gunakan seorang diri, "aku belum mandi yang." Gumam nya.
"Ga papa, sedep baunya, aku juga belum mandi." Jawab Emira polos, padahal biasanya ia akan mengusir Juna dari kasur jika pria itu belum mandi.
Arjuna mengerutkan alisnya, "biasanya kamu gak mau tidur kalo belum mandi."
"Malas … mungkin bawaan bayi mas, lagian masih di infus plus transfusi gini, mana bisa mandi?"
Sebuah ide jahil tiba tiba melintas di benak Juna, "aku bisa bantu mandiin kamu yang…"
.
.
__ADS_1
.
Tik tok tik tok tik tok krik krik krik