
BAB 35
Dua pasang mata itu masih saling menatap tajam, sama sama tak merasa bersalah, dan nyatanya memang tidak terjadi apa apa, baju mereka pun masih dalam kondisi utuh.
"Siapa kamu?"
"Kamu sendiri siapa?"
"Pake balik nanya, tentu saja aku pemilik rumah ini."
"Dih… mimpi jangan ketinggian, rumah ini milik Eyang Harun Sebastian, kamu siapa ngaku ngaku?"
"Eyang Harun Sebastian itu kakekku… PUAS!!" Sembur Reza ketus.
Gadis itu bersusah payah menelan ludahnya, "k … ka… kamu… mas Reza?"
"Iya aku Reza, siapa kamu berani panggil panggil mas, tak sudi aku dipanggil mas olehmu."
"Ya ampun… mas Reza kok berubah jadi galak gini sih, mas Reza dulu tuh manis loh." Gumam gadis itu.
"Eh… malah bengong, kamu siapa?"
"Lea… Alea."
Gadis itu mengulurkan tangannya, dengan seringai di bibir, rambut dan wajahnya memang masih berantakan, tapi ia memiliki senyum ayu lengkap dengan lesung pipi yang membuat senyumnya terlihat menawan.
"A… Alea?"
Seketika kilasan memori Reza mengingat kenangan tatkala dirinya dan Lea pernah nyemplung ke kolam lele, karena keduanya berebut jaring untuk menangkap ikan.
Ketika usia Reza 9 tahun, mami dan papi nya mengajak nya berlibur ke sebuah desa, sekaligus berziarah ke makam nenek nya, di desa itu papa Elea adalah pemilik sebagian besar persawahan yang menopang penghidupan warga desa, karena nya keluarga Elea adalah keluarga yang sangat disegani dan dihormati.
Saat itu pula, Reza kecil dan Elea kecil pertama kali berkenalan, Reza yang tak memiliki adik perempuan merasa senang, karena mami Elena bilang, Reza boleh menganggap Lea sebagai adik, karena eratnya hubungan persahabatan kedua orang tua mereka.
"Lele?"
"Iya aku Lele." jawab Lea tanpa sadar.
"Enak aja Lele, panggil aku Lea." Ralat Lea, karena ia salah menyebut namanya.
"Eh… aku panggil Lele aja udah bagus tuh, kan kamu paling suka makan ikan lele, jadi klop sama panggilanmu."
Lea cemberut, ia sungguh kesal ketika Reza masih menyebut namanya dengan nama spesies ikan yang ia gemari sebagai lauk teman nasi hangat dan sambal bajak buatan sang mama.
Drrrtt
Drrrtt
Drrrtt
Ponsel Reza bergetar, ia mencari cari keberadaan benda pipih kesayangannya tersebut.
Nama sang mami bertengger di sana.
__ADS_1
Reza segera bangkit dari tempat tidur, dengan kepala yang masih berdenyut nyeri.
"Iya mam."
"Eh baru bangun? Kamu gak kerja?"
"Iya mih nanti agak siang, semalam tidur kemalaman." Reza beralasan.
"Ngegame lagi?"
"Iya…" Jawab Reza pasrah, karena tak mungkin menceritakan, bahwa lagi lagi ia ditolak gadis pujaannya.
"Mami dengar Alea sudah datang?"
"Ah iya, itu juga yang mau Reza tanyain ke mami."
"Mau ngapain si Lele di rumah kita?" Tanya Reza tak sabar.
"Lea sayang, jangan suka mengganti nama orang."
"Aaahhh… terserah lah, ayo jawab dulu pertanyaanku mam?"
"Mulai sekarang Lea akan jadi asisten sekaligus sekretaris pribadi mu." Jawab mami Elena santai.
"Tapi dia bisa tinggal di luar kan? Gak selamanya dirumah kita kan?"
"Kamu itu, ya tentu saja Lea akan tinggal di rumah kita, mau ditaruh mana wajah mami kalo mami membiarkan anaknya om Priyo tinggal di rumah Kost, sementara rumah kita besar."
Reza bangkit dari kursinya, hingga kursi kayu tersebut terjungkal ke belakang. "Mami pengen aku kumpul kebo sama Lea?"
"Ya tapi tetep aja, mami gak bisa ambil keputusan seenaknya, apa lagi tiba tiba menyodorkan Lea sebagai sekretaris dan asistenku."
"Eh siapa bilang tiba tiba, Om Dimas dan Paman Krishna sendiri yang menyeleksi kredibilitas Lea, jangan sembarangan kamu."
"Kenapa aku tak dilibatkan dalam proses pemilihan?"
"Waktu itu, kamu masih di Singapura, gak mau pulang kan, sebelum Emira pulang Jakarta." Jawab mami Elena tak mau kalah argumen.
Reza terdiam, tiba tiba ia kembali nuram, ketika mami Elena menyebut nama Emira.
"Sudah, mami gak mau tahu, mulai sekarang, Elea akan pergi dan pulang kerja bersamamu, kamu jaga dia selama dia kerja bersamamu, awas kalau kamu berani mengajaknya pindah ke kamarmu."
"Dih amit amit, yang ada aku harus jauh jauh dari dia, biar gak kena sengatan lele."
.
.
.
Hari Reuni
Setelah koordinasi dan segala peliknya persiapan Reuni, akhirnya Reuni Besar terselenggara, walau bela belain kurang tidur selama detik detik persiapan Reuni dan jadwal piket di rumah sakit, Arjuna tak keberatan, demi menuntaskan rasa penasarannya mencari keberadaan cinta pertama nya, entah sudah seperti apa Mira kini, mungkinkah ia masih gadis culun yang manis, atau berubah menjadi gadis dewasa yang yang sudah mapan, dengan profesinya sebagai dokter, seperti yang ia cita cita kan dulu, Arjuna sungguh penasaran, bahkan ia sudah berdebar debar sejak dua hari sebelum hari H.
__ADS_1
Grand Ballroom Twenty Five Hotel, kini sudah di sulap dengan dekorasi mewah, mengingat ini Reuni besar, siapapun boleh datang, tak peduli berasal angkatan berapa.
Arjuna sudah bersiap dengan topi yang ia balik ke belakang kepala, sebagai tanda bahwa ia salah satu panitia. "Jadi total berapa peserta yang konfirmasi kehadiran?" Tanya Juna pada Egi dan Neta yang bertuga di pintu utama, meja penyambutan tamu.
"Lumayan… eh bukan lumayan ding, banyak malah, ada lebih dari 300, belum termasuk anggota keluarga yang dibawa ikut serta."
"Oh syukurlah, tadinya aku khawatir, sia sia sponsor yang menyediakan fasilitas Hotel mewah ini, jika tamunya hanya sedikit."
"Santai… aman Jun."
"Juna merchandise datang, mau di simpan di mana."
"Lo aturlah, biar penerima tamu gak susah kalo mau ambil buta dibagikan."
"Oh iya, meja para guru aman?"
"Aman…" Voni menambahkan.
"Kenang kenangan buat guru?"
"Aman semua."
Atensi mereka tiba tiba beralih, ketika Egi melambaikan tangannya.
Seorang gadis, dengan gaun modis dan kacamata hitam, tampak berjalan di lobi utama, Egi bahkan tak sanggup menutup mulutnya, "bidadari gue datang gaeess…"
Arjuna, Rafi dan Atar mengikuti arah pandang Egi.
Deg
Gadis itu tersenyum mengangguk ke arah mereka, bahkan tanpa sadar Egi melambaikan tangannya, sementara Arjuna tersenyum dan membalas anggukan gadis itu, kemudian mengusap wajah keempat sahabatnya.
"Udah lewat woooiii…"
"Juna… lo kenal gadis itu,"
"Ah ****** lo, kenapa gak ngenalin kita kita,"
"Gak penting juga, kalian ga level ama dia,"
"Siapa dia? Plis kasih tahu…" Rengek Egi yang memang sudah terpesona sejak pertama kali melihat wajah Emira di Mall hari itu.
"Putri pemilik Twenty Five Hotel," Jawab Arjuna santai.
Sontak keempat lelaki jomblo itu terbelalak karena terkejut dengan informasi yang baru saja mereka dengar.
.
.
.
terima kasih dukungannya gaes... plis tetap komen yah, biar othor semangat, sekedar nulis, Semangat Thor, atau lanjuut, atau kritik dan saran... othor sangat senang dan menghargai apresiasi kalian.
__ADS_1
Sarangeee
💖💖