
BAB 39
Arjuna terbangun keesokan hari nya dengan tubuh lebih segar, ia ingat pagi ini harus mengisi shift pagi di rumah sakit, syukurlah semalam ia sudah memesan kamar sebelum acara reuni berlangsung, jadi pagi ini ia bisa langsung check out sebelum pergi ke rumah sakit.
Arjuna menggeliat, meregangkan otot otot tubuhnya yang sedikit kaku, ia terkejut karena ternyata ia dalam kondisi tak mengenakan kaus ketika tidur, dan itu bukan kebiasaannya.
Arjuna ingin segera bangkit dan bersiap, tapi ketika ia menoleh ke sisi kiri nya, sepasang netra yang juga baru terbuka, menatap tajam ke arahnya, cukup lama netra mereka bertatapan, pencahayaan yang remang remang, membuat keduanya sulit mengenali lawan pandangnya, Arjuna mencoba mengingat kembali kejadian malam sebelumnya, pelan pelan ia mengumpulkan potongan ingatan kejadian semalam.
Ia menemukan Mira tertidur di dalam lift, karena tak tahu kamar tujuan Mira, ia pun membawa gadis itu ke kamar nya, agar Mira bisa beristirahat di sana, Arjuna ingat betul ia sudah berada di sofa dengan bantal cadangan, saat itu ia tengah membalas beberapa pesan singkat, termasuk pesan dari mama Yuna, mengabarkan pada sang mama, bahwa malam ini ia menginap di hotel tempat acara berlangsung, dan esok pagi ia akan langsung ke rumah sakit, karena pagi ini ia mengisi shift pagi di rumah sakit.
Tapi kemudian ia merasakan tubuhnya gerah, bahkan merasakan panas yang tak biasa, maka Arjuna memutuskan mandi agar panas tubuhnya menghilang, tapi usahanya sia sia saja, karena usai mandi ia justru merasakan ada dorongan yang lain, terlebih melihat ada seorang gadis yang tengah tidur di ruangan tersebut.
Hal terakhir yang Ajuna ingat adalah, ia mengatakan pada gadis yang sedang lelap tertidur itu sebuah janji, yang sungguh yakin akan di tepatinya.
'Maafkanlah aku Mira, aku janji akan bertanggung jawab'.
Sesudah itu semua nya terjadi, Arjuna merasakan panas di tubuhnya berkurang, kepalanya yang berdenyut nyeri, tiba tiba rileks karena hasratnya telah tersalurkan pada tubuh tak berdaya yang berada di bawah kungkungannya, entah apa yang terjadi pada mereka keesokan harinya, sungguh tak terpikirkan olehnya, yang sedang berada dalam keadaan tak wajar.
Dan betapa konyolnya Arjuna, karena ia masih merasa bahwa yang semalam ia alami hanyalah mimpi, rupanya pagi ini ketika bangun ia baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi, pantas saja tubuhnya terasa ada yang berbeda, lemas tapi pikirannya terasa segar seperti sudah melepaskan beban berat yang membelenggu kepalanya.
"Aaaaaaa…"
"Aaaaaaa…"
Pekik keduanya bersamaan, baik Emira maupun Arjuna sama sama mengeratkan selimut ke tubuh masing masing.
Tubuh Emira bergetar hebat, ketika merasakan tubuhnya tak tertutup pakaian, selain selimut yang kini di genggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Tanya Emira dengan tubuh dan bibir bergetar.
Arjuna pun bingung bagaimana menjelaskannya, ia hanya bisa menggeleng, dengan wajah yang pucat dan sama takutnya dengan Emira.
“Kamu apakan aku?” Bentak Emira setengah frustasi, hanya itulah pertanyaan yang terpikir olehnya, disaat ingatannya belum seratus persen terkumpul.
“Aku tak tahu,”
“Bohong !!!” tuduh Emira.
“Tidak … sungguh, aku pun sama bingung nya denganmu,”
“Tak usah bersandiwara, cepat katakan kenapa kita bisa jadi begini.” sekali lagi Emira menekankan pertanyaannya.
Tapi hanya gelengan kepala yang mampu Juna Berikan.
"Bren***sek kamu, kamu memp****a ku?" Tanya Emira murka.
"Tidak, jangan menuduh ku, aku pun tak sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi semalam." Jawab Arjuna, ia tak bohong karena semalam ia sama sekali tak menyentuh alkohol, tapi kenapa tubuhnya mendadak bereaksi mengerikan, "aaah… si al … apa yang aku minum semalam? dan siapa yang sudah berani mencampur air minum ku?"
“Lalu, kenapa aku bisa berada dikamar ini?” Pertanyaan Emira masih bernada tuduhan, karena ia tak merasa masuk ke kamar siapapun, hal terakhir yang Emira ingat adalah ia berada di dalam lift menuju kamarnya, rasanya sungguh lelah dan mengantuk, selagi menunggu lift tiba di lantai tujuan, Emira memilih duduk selonjoran di lantai, dan setelah itu ia tak ingat lagi apa yang terjadi.
Emira sungguh ingin marah rasanya, jika saja ia dalam kondisi berpakaian lengkap, pasti saat ini Arjuna sudah babak belur.
"Oke … aku minta maaf, karena sudah membawamu kekamar ini, tapi Mir… tolong dengarkan aku," Arjuna mengulurkan kedua lengannya, bermaksud hendak menenangkan amukan Emira, tapi yang terjadi kemudian adalah …
BUGH !!!
__ADS_1
“Breng sek kamu, dasar penjahat ke ***i n
Sebuah tinjuan mendarat mulus pipi kirinya.
Yah, dengan tangan kanannya Emira berhasil melayangkan tinjunya ke pipi Arjuna, sementara tangan kirinya masih erat menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya.
"Iya… pukullah aku, anggap saja aku yang bersalah, ayo lampiaskan amarah dan rasa kesalmu,”
“Aku membencimu …” sekuat kuat nya seorang Emira, seberapapun garangnya ia jika sedang berkelahi, atau menggunakan senapan, ia tetaplah seorang gadis yang masih mengedepankan perasaan, maka meneteslah cairan bening itu dari kedua sudut matanya.
“Terserah, tapi asal kamu tahu, aku pun membenci hari ini, aku juga menyesali apa yang sudah terjadi, jika seandainya kamu hamil, aku akan bertanggung jawab, tapi kalau pun tidak hamil aku tetap akan menikahimu, Aku mencintaimu Mira, sudah lama sekali aku ingin mengatakannya, tapi keadaan seakan akan tak pernah mendukung niatku.”
“Ciiiih…” Emira membuang wajahnya, penerangan yang remang remang cenderung gelap, serta rambutnya yang berantakan sedikit banyak membantunya menyembunyikan wajah dan ekspresinya, “Jangan mimpi … aku gak sudi mengandung anak haram darimu, aku akan mengajukan tuntutan dengan tuduhan tindakan asusila serta pem erk osaan.”
“Mira …” panggil Arjuna lirih, “sungguh aku minta maaf, tapi aku pun tak tahu apa yang sudah aku minum semalam,” Arjuna menunjuk botol air mineral diatas meja, “lihat … aku hanya minum air mineral, aku sama sekali tak menyentuh alkohol, karena pagi ini ada shift jaga di rumah sakit.” Arjuna melakukan pembelaan, tapi tak lantas membuatnya kehilangan rasa bersalah pada Mira, gadis yang sejak lama ia cintai tapi justru ia sendiri lah yang merusak dan mengg agahi gadis manis itu.
“Aku tahu, kamu sedang kacau, aku pun demikian, tapi Tolong pikirkan lagi, aku bersungguh sungguh akan menemui orang tuamu.” ujar Juna dengan suara lirih.
Lagi lagi Emira membuang muka. “Baiklah … aku tahu, kamu sedang marah, kesal, dan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di balik ini semua, tapi pikirkanlah dulu perkataanku, nanti kita bicara lagi, aku akan mandi terlebih dahulu.” Arjuna celingukan mencari cari sesuatu untuk menutupi tubuh polosnya, dan Emira masih memilih membuang muka.
Arjuna melihat sebuah handuk tergolek di bawah tempat tidur kemudian melilitkan handuk tersebut ke pinggangnya, ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, serta menghapus bayang bayang adegan mesra yang semalam ia lakoni bersama Mira, walau gadis itu sama sekali tak menyadari apa yang terjadi, hal itu sengaja ia lakukan agar Mira bisa memikirkan kembali perkataannya, ia merasa sangat siap jika harus bertanggung jawab, bahkan tak akan menunda, untuk menyegerakan pernikahan, karena hal itu yang paling mendesak untuk saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah komen, dan meninggalkan tanda cinta berupa like dan komen.
💚💚