
BAB 101
"Morning mom… dad…" Sapa Emira pagi itu, semalam ketika tiba, kedua orang tuanya sudah tidur, jadi ia tak sempat menyapa mereka.
Emira menghampiri daddy Alex yang tengah menatap tablet nya, tanpa permisi ia mengambil tablet tersebut kemudian duduk di pangkuan sang daddy, "kenapa daddy tidak romantis lagi seperti dulu?" Tanya Emira yang kini sudah melingkarkan lengannya di leher sang daddy.
"Masa'... Sayang… benarkah aku tak romantis?" Tanya Daddy Alex pada mommy Stella.
"Nggak… masih sama seperti biasa." Jawab mommy Stella.
Jelas saja membuat Emira mencebikkan bibirnya, "bukan pada mommy dad, tapi padaku?" Protes Emira kesal.
Daddy Alex mencubit hidung putri kesayangannya, "dasar nakal, kamu sudah bersuami, tempat daddy otomatis digantikan oleh suamimu, jadi jangan manja begini pada daddy, kenapa? Arjuna tak bersikap romantis?"
"Tapi tetap saja, aku tetap pengen jadi kesayangan." Gerutu Emira dengan wajah cemberut.
"Tanpa kamu meminta, kamu tetap putri kesayangan daddy yang paling berharga, daddy berharap, kamu bahagia dengan pernikahanmu, dan kamu bisa mewujudkan semua yang kamu impikan dan kamu cita citakan."
"Amin… thank's dad, love you, terima kasih sudah menikahkan aku dengan pria yang kucintai sejak dulu."
"Daddy senang nak, asal kamu bahagia, menurut abangmu, Arjuna adalah pria yang baik, dia dari keluarga baik baik, daddy sangat yakin, dia akan menjadi pendamping yang baik untukmu."
Emira menjatuhkan kepalanya di pelukan daddy Alex, matanya basah hanya gara gara doa dan harapan yang daddy Alex panjatkan mirip seperti kalimat perpisahan. "Semoga daddy sehat sehat yah, aku masih ingin lebih lama bersama daddy." Gumam Emira, ketika daddy Alex mengusap rambut dan punggungnya.
"Hanya daddy? Apa kamu tak mendoakan mommy?" Mommy Stella bergabung dengan suami dan putrinya.
"Tentu saja doa yang sama untuk mommy, love you mom, kalian orang tua terbaik." Emira berganti memeluk mommy Stella.
"Oh iya… apakah sekarang kami sudah bisa mendengar kabar baik dari kalian?" Tanya mommy Stella ketika memeluk Emira.
"Maksud mommy?" Tanya Emira yang berpura pura tak tahu maksud pertanyaan mommy Stella.
Tak…
Daddy Alex menyentil kening Emira,
"Gadis nakal, kamu pikir daddy dan mommy tak tahu, kalau kamu sedang berpura pura tak paham?" Tegur daddy Alex.
"Sakit daddy…" Gerutu Emira ketika mengusap keningnya.
"Makanya, jangan berpura pura kalau kedua orang tuamu sedang bertanya."
Emira mencebikkan bibirnya, ia tahu tak ada yang bisa disembunyikan dari kedua orang tua nya, tapi tetap saja ia nekat melakukannya.
__ADS_1
"Sebenarnya…" Emira sedikit ragu ketika hendak melanjutkan kalimatnya, ia berharap dukungan penuh dari kedua orang tua nya, tapi juga takut jika keputusannya justru akan melukai mereka berdua, bahkan mungkin melukai kedua orang tua Arjuna.
Mommy Stella memeluk pundak Emira, "kenapa sayang, katakan…"
"Sebenarnya, aku masih…" Emira semakin gugup, bahkan ia sibuk memainkan jari jari tangannya, "aku masih menggunakan kontrasepsi mom, dad…" Akhirnya terucap juga apa yang selama ini ia sembunyikan dari kedua orangtuanya maupun orang tua Arjuna.
Daddy Alex dan mommy Stella saling pandang, tak, keduanya sedikit terkejut dengan pengakuan putri bungsu mereka.
"Apa suamimu mengetahui ini?" Tanya mommy Stella lembut.
"Tahu kok mom, mas Juna bilang gak papa asal aku nyaman."
"Apa alasanmu nak?" Lanjut mommy Stella.
"Aku masih ingin fokus menyelesaikan masa residenku mom, aku takut jika saat ini kami memiliki anak, malah akan membuat fokus kami terpecah, karena kami harus mengurus bayi."
Daddy Alex menarik nafas perlahan, "sayang… ketika mommy dan daddy menikah, kami sama sama masih mahasiswa, daddy sudah mulai bekerja di Twenty Five Hotel setahun sebelum menikah dengan mommy kamu, dan mommy bahkan baru Semester awal di fakultas kedokteran," Daddy Alex memulai kisahnya.
#edisi nostalgia Alex dan Stella, ada di novel si kembar tunggu yes, kisah yang dulu belum sempat othor ceritakan di SM, nanti othor tulis di sana 😘
"Tak sampai dua bulan usia pernikahan kami, mommy sudah hamil kedua kakakmu, mommy tetap kuliah, dan daddy pun demikian, walau daddy tak bisa jadi suami dan daddy yang sempurna, tapi daddy selalu berusaha menyisihkan waktu,"
"Setelah kedua kakakmu lahir, kami bahagia, tak pernah menganggap kedua bayi kami sebagai beban, bagi kami mereka adalah segala nya, sekali lagi daddy katakan, daddy yang bodoh, karena pernah menjadi pria egois, hingga kami berpisah, tapi… yang ingin daddy tekankan, seorang anak bukanlah beban bagi kedua orang tuanya, anak anak adalah anugerah, mereka indah, mereka hebat, mereka kuat, sempurna dengan segala kelebihan yang mereka miliki," Daddy Alex mengusap air matanya sendiri, ketika ingatannya dipaksa mengingat kembali kenangan pahit masa lalu nya bersama sang istri.
"Tapi dad… belum tentu hatiku selapang hati mommy, aku takut akan mengabaikan anakku karena kesibukanku."
"Benarkah begitu mom?" Tanya Emira dengan keraguan yang masih tersirat.
Mommy Stella mengangguk, "mommy tak pernah menyesal, merelakan masa muda mommy, mengandung sepasang bayi kembar tampan dan menggemaskan.”
Emira mengenyit sesaat, “Benarkah? apakah ketika bayi mereka terlihat lucu dan menggemaskan?”
“Heiii tentu saja, mereka juga tampan, lihat saja bibitnya,” mommy Stella mencolek dagu daddy Alex. “Bukankah dia sangat tampan, bahkan ketika menduda, banyak sekali yang mencoba menggaetnya menjadi menantu pengusaha, bahkan banyak rekan bisnis yang terang terangan menawarkan diri menjadi simpanan, karena daddy mu tak mau menikah …”
“Selain dengan wanita ini,” sambung daddy Alex, yang segera berpindah ke belakang mommy Stella, kemudian memeluk sang istri dari belakang, menghujaninya dengan ciuman penuh kasih.
Emira tercengang melihat kelakuan daddy dan mommy nya, walau sudah biasa melihatnya, tapi tetap saja ia merasa risih.
“Dad … Mom …” Pekik Emira.
“Yah … ada apa sayang?” jawab mommy Stella.
“Plisss ada aku disini, kan aku sendiri yang malu.” protes Emira dengan wajah memerah.
__ADS_1
Namun daddy Alex hanya tersenyum simpul, “jadi nak, kami tak tahu sampai berapa lama usia kami, sebelum akhirnya Tuhan menjemput mommy dan Daddy, beri kami kesempatan nak, kesempatan melihat kehamilanmu, melihat kelahiran anak anak kalian, serta menggendong anak anak yang kamu lahirkan, melihat dan menikmati tingkah lucu mereka … kami terlalu serakah, karena di usia kami sekarang ini, masih ingin melihat semua hal hal indah tersebut.” tutur daddy Alex panjang lebar.
Sedikit banyak, Emira mulai merenungi perkataan sang daddy.
“Pikirkan lagi ya nak, kamu seorang perempuan, tak perlu memikirkan karir, tapi jika ingin belajar daddy yakin suamimu tak akan menghalangi.”
.
.
.
Gadis itu berdiri di tepi perkebunan, menikmati hembusan angin segar pegunungan, hal yang sangat jarang didapatkan ketika berada di jakarta, bahkan mungkin tak akan pernah didapatkan mengingat tingginya tingkat polusi udara di Jakarta, dari kejauhan ini pun Ayu bisa melihat pria yang sejak lama ia cinta, tapi takdir tak berpihak, kini rasanya pijar bahagianya hampir musnah, karena Arjuna tak pernah memberikan celah kepadanya, bahkan harapan pun tidak pernah, agaknya Arjuna memang tak berniat menyelipkan nama lain dibilik hatinya, selain nama sang istri.
Ayunda mengusap setetes air matanya, sejenak ia singkirkan emosi hatinya, kembali ia fokus membaca berkas berkas pekerjaan yang ada di tangannya.
Sementara itu …
Arjuna sedang berkeliling perkebunan milik keluarga nya yang kini sedang ia sengketakan hak kepemilikannya, dua orang penyidik dan pengacaranya pun setia mendampingi, ia bahkan membawa berkas berkas kepemilikan serta tanda balik nama yang diperlukan untuk proses penyelidikan.
Tak terasa beberapa jam berlalu, kini mereka tengah duduk santai di sebuah saung menikmati makan siang sederhana yang disiapkan penjaga perkebunan bersama sang istri, bukan menu mewah tapi sangat berharga karena dibuat dari olahan sayuran herbal serta tanpa bahan pengawet.
“Pak Diman beras nya enak sekali,” Ujar Hans ketika menikmati suapan pertamanya.
“Benarkah? padahal itu beras sampel, minggu lalu ada suplier beras organik memberi sampel, untuk beberapa pemilik villa di sekitar sini, nah mamang cuma bantu memberi alamat, eh kecipratan rezeki juga.” jelas mang Diman.
“Mamang kenal dimana suplier itu?” tanya Ayu antusias.
“Kan dulu almarhum kakung Suryo hanya mau makan beras beras organik, nah ini dari orang yang dulu menyuplai beras buat Almarhum kakung Suryo.”
Semasa hidup kakung Suryo memang sangat membatasi asupan bahan kimia dan makanan makanan yang mengandung pengawet, jadi tak heran jika perusahaannya pun berbasis tanaman herbal.
“Mang boleh aku minta nomor suplier nya?” pinta Juna, tiba tiba Juna terpikirkan sebuah ide.
.
.
.
kasih jodoh buat Ayunda gak nih?? othor udah punya calonnya.
1300 kata gaes jangan lupa vote yah
__ADS_1
sarangeee
💙