CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 105


__ADS_3

BAB 105


"Ga papa, sedep baunya, aku juga belum mandi." Jawab Emira polos, dengan cengiran di sudut bibirnya, padahal biasanya ia akan mengusir Juna dari kasur jika pria itu belum mandi. 


Arjuna mengerutkan alisnya, "biasanya kamu gak mau tidur kalo belum mandi." 


"Malas … mungkin bawaan bayi mas, lagian masih di infus plus transfusi gini, mana bisa mandi?" 


Sebuah ide jahil tiba tiba melintas di benak Juna, "aku bisa bantu mandiin kamu yang…" Arjuna mengangkat kepala dan sebagian tubuhnya dengan semangat, 


Emira mendongak menatap wajah tampan yang tengah memeluknya, dan jangan lupakan cengiran jahil itu, walau menyebalkan, tapi s i a l nya di terlalu tampan di mata Emira. 


"Aku bisa mandiin kamu yang, pake waslap, gimana? Mau?" Ulang Juna dengan pikiran mesumnya. 


Emira melotot tajam, merinding membayangkan Arjuna menjelajahi sekujur tubuhnya, tanpa sensor, wajahnya seketika memerah. "iiihh… itu maunya kamu mas,"


"Kenapa? Malu? Sudah sering buka bukaan pake malu segala." Goda Juna senang, ketika melihat rona di wajah sang istri. 


Emira mencubit perut Juna, "aaaaawww… sakit yang," Keluhnya, wajahnya meringis menahan nyeri di perut nya. 


"Rasain… siapa suruh genit, mesum lagi."


"Kan cuma sama kamu yang, lagian kangen udah tiga hari gak godain kamu." 


"Atau jangan jangan, mas mau yang lain?" Kini ganti Emira yang menggoda suaminya. 


"Ya mau lah, kucing mana bisa nolak ikan asin." Jawab Juna riang bukan kepalang, "tapi… kamu masih sakit yang." Lanjutnya kemudian dengan ekspresi sendu di wajahnya, Juna kemudian menelusupkan tangannya ke balik piyama Emira, kemudian mengusap permukaan kulit punggung tersebut, "begini saja sudah cukup." 


"Yakin??" 


"Jangan mancing mancing yang, kita sedang di rumah sakit." Gerutu Juna yang mulai resah dengan kalimat istrinya. 


"Ketahuan, mas pasti belum tahu rahasia ruang VVIP rumah sakit ini."


"Rahasia?"


Emira mengangguk, "ambilkan remote di laci meja."


Arjuna menurut, ia berbalik serta mengambil apa yang diinginkan istrinya. 


Kemudian 


Klik Klik 


"Selesai…"


"Apa nya?" Tanya Juna yang masih membeo. 


"Pintunya sudah terkunci." 


"Heh??" 


"Iya pintunya sudah terkunci, bahkan perawat sekalipun tak bisa masuk tanpa izin." Jawab Emira bangga, karena menunjukkan rahasia kecil yang jarang diketahui keluarga pasien. 


"Kalo dokter yang menanganimu datang?"


"Bukankah aku sedang bermalam bersama dokter pribadiku?" Kerlingan mata Emira semakin menggoda, tentu saja Juna semakin kebat kebit salah tingkah dengan sikap Emira. 


"Nggak yang… nanti di rumah aja." Wajah Juna mulai memerah, dan Emira semakin bahagia. 


"Yakin?? Kesempatan gak datang dua kali loh?" 


"NO…"

__ADS_1


Tak di sangka Emira justru tertawa keras mendengar jawaban Juna. 


"Hahahaha… aku hanya menggodamu sayang…" Emira mengusap pipi Arjuna yang sudah memerah. "Ternyata kamu malu malu meong juga kalo di godain."


"Apa yang? Aku gak salah dengar kan?" 


"Yang mana?" 


"Tadi panggilan kamu yang." Jawab Juna. 


"Oh sayaang? 


"Oleng aku yang… panggil lagi dong …" Pinta Juna, dengan wajah yang entah sudah seperti apa warnanya. 


Emira menatap ekspresi Arjuna yang kini terlihat menggemaskan, "Mas Juna sayang," Sebuah kecupan ringan di bibir ia hadiahkan untuk pria itu, "I love you."


Arjuna terlalu bahagia dengan kata kata cinta dari sang istri, hingga sesaat kemudian tak ada lagi percakapan, yang ada hanyalah pertemuan dua indera pengecap, serta papila yang saling membelit nikmat, his apan lembut yang tak menuntut, namun cukup membuat candu jika aktivitas tersebut segera berakhir, keduanya hanya menjeda sesaat untuk saling menghirup udara segar, dan kembali saling menautkan bibir, begitu seterusnya. 





Pagi itu Arjuna bangun lebih dulu, ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah jam 7 rupanya, sebentar lagi para perawat akan berkeliling, sebelum pergantian shift. 


Arjuna menatap Sang istri yang masih setia meringkuk di pelukannya, wajah nya sudah kembali normal, tak lagi pucat seperti semalam, dan bibir mungil itu pun sudah kembali ke ukuran semula, semalam setelah pertukaran saliva, bibir mereka membengkak, namun namun merasa bahagia, karena cinta yang semakin menggelora. 


Pelan pelan Juna melepaskan Emira dari pelukannya, kemudian turun dari bed, tak lupa membuka kembali pintu kamar yang semalam mereka kunci, Juna memeriksa ponselnya, rupanya semalam mama Yuna menghubunginya, tapi karena Juna sengaja mengubah ponsel keode senyap, jadi Juna sama sekali tak mendengar panggilan. 


"Halo mah…"


"Iya halo."


"Kamu sudah di jakarta?"


"Sudah mah, maaf aku lupa mengabari mama."


"Iya, mama paham, kamu lagi kangen istri, kalian menginap di mana?"


"Di rumah sakit mah."


"Loh kamu menemani istrimu jaga malam?"


"Nggak mah, tapi Kemarin Emira pingsan karena kelelahan…"


"Hah pingsan? Kelelahan? Juna kamu jangan nakut nakutin mama, mantu mama itu sehat, dia juga selalu segar dan ceria, mana mungkin bisa pingsan." Protes mama Yuna panik. 


"Mama gak usah khawatir gitu, Pingsannya istri Juna karena mama mau punya cucu."


"Lah gak khawatir gimana mantu kesayangan mama… eh tunggu… Apa kamu bilang tadi?" Mama Yuna terus nyerocos dengan gaya khas emak emak +62 …  hingga ia menyadari telah melewatkan berita maha penting. 


"Menantu mama hamil, mama dan ayah akan segera punya cucu."


"Waaahhh… beneran ini, kamu gak lagi ngeprank mama kan??" 


"Nggak lah… Juna malah kasih kabar yang sudah lama mama tunggu."


"Ya sudah… habis ini mama ke rumah sakit sama ayah."


"Eh jangan mah, kasihan ayah kalau harus bolak balik, pasti lelah, mama sama ayah tunggu di rumah saja, sepertinya paling lambat nanti siang Emira sudah bisa pulang." 


"Ya sudah, mama tunggu di rumah aja yah?"

__ADS_1


Panggilan berakhir. 


Atensi Juna beralih ketika sapaan perawat menyapa indera pendengarannya. 


Suter Oya datang menyapa, "selamat pagi dok…" Sapanya pada Emira yang masih terlelap. 


Emira tak langsung membuka mata, "pagi suster." Juna datang dari arah balkon, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. 


Suster Oya hanya senyum senyum melihat wajah Juna yang masih kusut khas orang bangun tidur. 


"Pules tidur nya dok?"


"Heh?" Jawab juna polos, tak menyadari bahwa suster Oya dan kedua perawat Junior sedang menggoda nya. 


"Pules tidurnya?"


Seketika wajah Juna memerah. 


"Semalam saya mau kemari, melepas selang transfusi darah, tapi ternyata kamarnya terkunci." 


"Eh itu… anu … aku…" Arjuna jelas kikuk menyiapkan jawaban, ia hanya bisa menelan ludah nya. 


Suter Oya tak menanggapi reaksi Juna yang terlihat kikuk, "syukurlah, rupanya anda masih bisa mengerjakan pekerjaan anda dengan baik." 


Suster Oya mengangkat, kantung darah, dan kantung infus yang sudah kosong, semalam setelah Emira terlelap, Arjuna kembali memastikan waktu awal mula transfusi darah, kemudian segera melepas selang penghubungnya, karena tak boleh lebih dari empat jam, dan dua jam kemudian, ia mengganti kantong infus yang juga sudah kosong, "terima kasih dok, sudah meringankan pekerjaan saya…" Ucap suster Oya dengan kerlingan wajah jahil nya. 


"Eh… iya sama sama." 


"Oh iya, ini plester anti air nya, barangkali dokter Emira mau mandi, saya yang pasang atau anda sendiri?"


"Eh…" Arjuna semakin salah tingkah. "Suster aja yang pasang."


"Baiklah," suster Oya menyerahkan dua kantong yang sudah kosong, kemudian beralih ke sisi kanan Emira. 


Mendengar ada suara suara, Emira perlahan bergerak, tangannya meraba raba sisi kosong yang semalam menjadi tempat Arjuna berbaring, "mas… " Panggil Emira dengan suara parau khas orang bangun tidur. 


Sementara ke empat orang sedang berdiri menatap pergerakan si ibi hamil tersebut. 


"Selamat pagi dokter Emira…" Sapa sister Oya. 


Mendengar suara yang tak asing di telinganya, Emira segera membuka lebar kedua matanya, ia secara reflek duduk, hingga membuat kepalanya mendadak berdenyut hebat, "aaaahhh…" Rintihnya. 


Arjuna segera mendekat, "hati hati bangunnya yang, kamu habis transfusi, pasti pusing banget." Ujar Juna khawatir, kemudian kembali membantu Emira merebahkan dirinya kembali. 


Ketiga suster yang ada di ruangan tersebut, hanya tersenyum melihat suasana manis nan romantis tersebut, bagaimana seorang Juna dengan penuh kasih merawat istrinya yang kini sedang mengandung buah cinta mereka.


"Iya mas, tapi denger suara suster Oya, aku jadi lupa kalau sekarang aku yang jadi pasien." jawab Emira. 


"Langsung siaga 45 ya dok…"


"Hehehe… begitulah suster." Jawab Emira kikuk. 


"Sini dok… saya pasang plester anti air, jadi barangkali anda ingin mandi tak perlu khawatir lukanya akan terkena rembesan air."


"Terima kasih suster."





💙

__ADS_1


__ADS_2