
BAB 73
Daniel menyeringai menatap wajah sang mommy, "baiklah… air mineral saja." Ujarnya bahagia.
Daniel menyambar dua botol air mineral untuk aunty dan uncle kesayangan.
Cup
"Thanks mom." Sebelum pergi Daniel sempat memberikan kecupan singkat di pipi Bella.
"Sama sama sayang."
Daniel kembali ke ruang tengah, dan menyodorkan air mineral pada Juna dan Emira.
Arjuna menima kedua botol air mineral tersebut, “tanks jagoan …” ucap Juna.
Rasa rasanya bocah gembul itu tersanjung dengan pujian Arjuna, karena wajahnya langsung bersemu kemerahan.
“Uncle … nanti menginap di sini aja yah?” rengek Luna.
“Nggak bisa sayang, besok pagi pagi kami harus ke rumah sakit.” Tolak Juna seraya menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka tutup nya pada Emira.
“Yaaaa …” Kelima bocah itu mend esah kecewa.
“Tapi nanti uncle temani kami bermain kan?” pinta Darren penuh harap.
“Iya …” Jawab Juna tanpa mengalihkan pandangan dari kelima bocah tersebut.
“Berenang juga ya uncle …” Dean.
“Siaaapp …” Juna langsung menyetujui permintaan tersebut, tak tega juga mendengar rengekan para keponakan Emira yang kini juga menjadi keponakannya.
“Papa …” pekik Darren yang melihat Kevin dan Andre baru saja datang dengan wajah bersimbah keringat, sepertinya mereka usai berolahraga.
Dua orang papa muda itu kompak melambai, “Papa … daddy … renang yuk sama uncle juga.” Darren membujuk Kevin dan Andre.
“Ayolah …” jawab Andre yang langsung menyetujui usul Darren tanpa berpikir ulang.
“Yeaaayyy … daddy ku terbaik.” Darren mengarahkan kepalan tangannya pada Andre.
“Heh … papa gimana?” Kevin mulai posesif.
“Sama dong …” jawab Darren.
.
.
.
“Aku nervous yang … ada dokter Kevin.” Bisik Juna usai berganti dengan celana renang.
Emira tersenyum “Santai aja … Kalo di rumah, abang gak galak kok, malah dia cenderung manja dan jail."
"Dokter kevin? Manja?" Tanya Arjuna tak percaya.
Emira mengangguk, ia menggantung baju dan celana suaminya. "Banget… diantara kami bertiga, dia yang paling manja.”
Arjuna melongo mendengar penjelasan Emira, dokter Kevin yang tegas dan perfect di rumah sakit, ternyata manja di rumah.
__ADS_1
“Udah sana, di tunggu anak anak,” Emira mendorong.
“Selama aku berenang kamu ngapain?”
“Paling ngobrol sama kakak ipar,”
“Nggak pengen ketemu daddy?”
“Lihat aja nanti,” Jawab Emira muram.
Arjuna mengangguk, tak ingin terlalu memaksakan, “Cium dong,” Arjuna menyodorkan pipi nya.
“Lagi?”
“Iyalah … lebih sering lebih baik.” Arjuna masih juga belum menyingkirkan wajahnya dari hadapan Emira. “Ayo yaaang … aku ditunggu anak anak nih.”
Wajah Emira merona merah, sejujurnya jika Juna yang menciumnya ia sudah terbiasa, tapi jika ia sendiri yang berinisiatif mencium Juna, lain perkara, bahkan belum terpikirkan … rasanya ia masih berdebar jedag jedug tak karuan, seperti ketika dahulu berpapasan dengan Juna di sekolah.
Hingga …
Cup
Emira benar benar memberanikan dirinya, si tukang berkelahi ini, benar benar polos urusan percintaan, memiliki kekasih saja tak pernah, maka wajar jika ia begitu meleleh dan takluk dengan semua rayuan dan kalimat manis sang Arjuna nya.
Arjuna tersenyum menang melihat ekspresi malu malu di wajah Emira, ia mulai merapat tangan kanan nya menarik pinggang Emira, kemudian tangan kiri nya menahan tengkuk hembusan nafas mereka kembali bertemu, setelah interaksi panas pagi tadi, tak ada salah nya jika sekarang mereka ulang kembali, begitu pemikiran Juna.
Emira bahkan sudah memejamkan kedua mata nya, seakan memberi lampu hijau pada Juna agar ia segera melanjutkan niatnya, debaran jantung mereka kembali salto jungkir balik tak karuan, namun ketika bibir keduanya baru bersentuhan …
“Uncle …”
Brak
Brak
Brak
“Udah cepat sana …” ujar Emira mendadak salting ketika Juna lagi lagi membahas perihal anak.
Cup
Arjuna mencium sekilas bibir istrinya sebelum berlalu keluar kamar.
"Uncle kenapa lama??" Arjuna segera disodori pertanyaan, ketika pintu kamar terbuka.
"Maaf, uncle ada sedikit urusan bersama aunty." Jawab Juna.
"Uncle mau gendong…" Pinta Luna, kini ia merasa memiliki tempat baru untuk bermanja.
"Baiklaaahh…" Arjuna langsung mengangkat Luna ke pundak nya, suara riang canda langsung meledak terasa, Daniel, Darren, Dean dan Danesh mengawal di belakang.
"Lets goooo…" Pekik mereka bersamaan, mereka berlarian menuju kolam renang, daddy dan papa mereka sudah menunggu di tepi kolam.
Maka sore itu para lelaki dan seorang princess riuh bersorak, dan saling melempar candaan sembari menikmati segarnya air kolam, pada awalnya Arjuna sedikit canggung di hadapan Kevin, pasalnya selama ini Kevin adalah atasannya di rumah sakit, kini dalam waktu singkat menjadi kakak iparnya, namun kehadiran Andre mampu membuat kecanggungan Arjuna sedikit berkurang.
.
dooohhh penganten baru, nyosor terooss … 🤧
.
__ADS_1
Sementara para pria dan seorang princes berenang, para wanita menyiapkan barbeque party, di halaman berumput dekat kolam renang, Gadisya sedang memarinasi daging, sementara Bella memotong paprika dan bombay, emira membantu sekedarnya, bahkan lebih banyak comot makanan, daripada membantu, sementara mommy Stella nampak duduk santai di kursi malas, menatap kebahagiaan anak, menantu, dan cucu nya, tak lupa ia berbalas pesan dengan sang suami yang masih enggan keluar dari persembunyiannya, entah kenapa.
“Jadi … bagaimana rasanya menikah dengan Arjunamu?” tanya Bella yang melihat wajah sang adik ipar sedikit merona, sepanjang siang ini, berbeda sekali dengan rona wajahnya ketika hari pernikahan.
Emira yang sedang mengunyah paprika merah, nampak mendongak menatap wajah kedua kakak iparnya yang sedang menggodanya, Gadisya bahkan sengaja menaik turunkan alisnya menanti jawaban Emira.
“Apaan sih kak …” Jawab Emira tanpa bisa menutupi rona merah di wajah nya.
“Sepertinya kita tak perlu bertanya, jawabannya sudah tercetak dengan jelas di sana.” Bella buka suara.
“Oh iya … aku tak lihat ada yang aneh?” Gadisya bertanya, karena belum melllihat.
Bella menatap kakak ipar sekaligus sahabatnya tersebut, dengan senyuman yang sulit diartikan.
Gadisya menyenggol lengan Bella, “Hei … jawab jangan tersenyum seperti itu, kamu terlihat menakutkan.”
Kemudian Bella mendekati Emira, ia menyingkap rambut panjang Emira, "niiiihhh…" Bella menunjuk leher Emira yang berhiaskan tanda merah.
Netra Gadisya membola, "suamimu agresif juga ternyata…" Selorohnya tanpa malu.
Emira buru buru membenahi rambutnya yang tersingkap, ia malu bukan kepalang, setelah tadi pagi kepergok Bisma dan mama mertua nya, kini kedua kakak iparnya justru membuatnya semakin malu.
"Kak… apaan sih… aku malu…" Emira menyeru, entar sudah seperti apa rona wajah nya.
"Kan penasaran dek… Juna tuh cool banget kalau di rumah sakit, ia hanya humble dengan orang yang ia kenal, tapi selain itu, dinginnya bukan main." Gadisya menjawab.
"Yaaaa tapi aku gak harus buka semua kan, gimana suami aku kalau di kamar." Gerutu Emira kesal, sekaligus ingin mengungkapkan bahwa Juna selalu merapat jika sudah di kamar, ia tak pernah membiarkan Sang istri berjarak terlalu jauh darinya, semakin hot karena Juna menolak berpakaian jika sedang tidur.
"Hahahaha…" Gadisya dan Bella tertawa keras.
"Jadi setelah malam di hotel itu, kalian sudah buka bukaan berapa kali?" Kali ini Bella yang bertanya.
"Kak… !!!" Rengek Emira.
"Dua? Tiga? Empat? Atau setiap hari?" Bella tak peduli, ia bertanya kembali.
"Heiii mana bisa setiap hari, mereka kan bertugas di rumah sakit juga."
"Siapa tahu mereka curi curi waktu ketika istirahat di rumah sakit, seperti kamu juga."
"Kalau aku bukan curi waktu, tapi menyempatkan waktu, rasanya lebih mendebarkan daripada ketika melakukannya di rumah… hihihi…" Aku Gadisya terang terangan.
"Aaaahhh… pantas saja kalian betah di rumah sakit, sampai malam, sementara aku jadi pawang anak anak kalian di rumah." Gerutu Bella.
"Haiiss…jangan pura pura iri, kamu juga sering kan? ketika anak anak di sekolah, kamu menyusulnya ke hotel, berharap impianmu memiliki anak perempuan segera terwujud."
"Ooo… jangan di tanya, kalau itu sudah sering," Kali ini Bella yang mengaku. "Bahkan pernah aku mengiriminya pesan singkat ketika dia memimpin rapat, bahwa aku sudah menunggu di ruangannya dengan lingerie model terbaru."
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Tanya Gadisya penasaran.
Bella tersenyum penuh kemenangan, "dia buru buru kembali keruangan mendatangiku, dan mengatakan bahwa, rapat dilanjutkan esok hari."
Tawa kedua menantu Alexander Geraldy itu berderai, mereka terus berbicara hal hal yang berbau 21+ tak peduli ada Emira di depan mereka.
Emira sampai di buat menelan saliva beberapa kali, karena ia bahkan belum pernah merasakan pengalaman seperti kedua kakak iparnya, rupanya mereka sangat berbahagia menjalani peran sebagai sepasang suami istri bersama pasangan mereka masing masing, tak peduli bajwa sebelum pernikahan ada begitu banyak air mata yang ditumpahkan.
.
.
__ADS_1
.
💙