
BAB 48
“Aku mau masuk, pergilah.” Emira berbalik badan, hendak kembali kedalam Rumah, tapi Arjuna menangkap lengan gadis itu, bahkan tarikannya terlalu kuat hingga membuat mereka bertabrakan, Arjuna reflek memeluk pinggang Emira agar gadis itu tak terjatuh, dan phal itu justru membuat Emira mendongak dengan wajah cukup dekat dengan Arjuna
Sejenak Arjuna terpukau, menatap wajah Emira yang kini begitu dekat dengan wajah nya, hingga membuat Arjuna gagal fokus, menatap bibir dan leher yang pernah ia beri tanda cinta, walau tanda itu sudah pudar tapi Arjuna bisa mengingat dengan jelas, bahwa pagi itu ia melihat beberapa jejak merah di leher dan sekitaran pundak Emira.
Arjuna menggeleng resah, disaat seperti ini bisa bisa nya ia mengingat kejadian malam itu.
Sepersekian detik kemudian mereka tersadar dari adegan romantis yang tercipta secara tak sengaja tersebut, Emira mendorong dada Arjuna dengan Kasar, kedua pipi nya kemerahan menahan malu.
"Jangan cari cari kesempatan yah." Tuduh Emira ketus.
"Ya ampun mana ada aku cari kesempatan, kan aku mau menahan kamu, tapi tapi rupanya tarikan tanganku terlalu kuat, Ya maaf kalau kamu jadi jatuh ke pelukanku." Ucap Juna terus terang.
Emira bergidik ngeri, "ada yah manusia over pede kaya kamu?"
"Mana ada aku over pede, kenyataannya memang demikian, dan seluruh kaum hawa di muka bumi memang mengakui ketampananku," Juna kembali ke mode asli nya. "Lagi pula, kita sudah pernah lebih dari sekedar berpelukan, aku pernah melihatmu tanpa…" Kalimat Juna terjeda karena Emira buru buru membungkam mulut nya.
"Jaga bicaramu, bagaimana kalau ada yang dengar." Seru Emira kesal, ia bisa hipertensi mendadak, jika terus meladeni omongan Arjuna.
Arjuna mengangguk pelan, kemudian Emira menyingkirkan tangannya dari mulut Juna, tapi tubuh keduanya masih berada cukup dekat nyaris bersentuhan, “sepertinya beberapa hari tak bertemu, membuatmu semakin rindu,”
Emira melotot, bahkan wajahnya terlihat jelas bahwa ia tak setuju dengan peryataan Juna, “rindu?” tanya Emira masih dengan nada jutek, “otakmu udah geser kayanya, jangan mimpi …”
__ADS_1
Emira melipat kedua tangannya di da da.
Arjuna tersenyum kecil, inilah yang ia rindukan jika berada di dekat Emira, perdebatan mereka yang seakan tak pernah menemukan jalan keluar, “buktinya kamu gak mau jauh dariku,” jawab juna.
Emira terkesiap, rupanya tubuhnya masih berada, bahkan nyaris menempel dengan tubuh Juna, Emira segera mundur beberapa langkah, tanpa Emira sadari, sejak tadi Arjuna bahkan nyaris tak bisa bernafas, saking groginya, tubuhnya benar benar beraksi ketika mengendus aroma parfume dari tubuh gadis itu.
“Aku mau ngomong serius masalah kemarin.” Ujar Arjuna lagi.
“Nggak disini juga,”
“Apa boleh buat, kemarin kamu menghilang, Feb …” kalimat Juna terjeda, “Tunggu jangan jangan Febiola juga membantumu membohongiku.”
“Febiola tak tahu apa apa tentang kita malam itu,”
“Tapi dia tahu identitas aslimu?”
“Jadi masalah kita?” tanya Juna, seperti seorang gadis yang memohon pertanggungjawaban.
“Kita bicarakan di tempat lain,” Akhirnya Emira mengalah.
“Semcam kencan lanjutan kah?” tanya Juna kembali ke model slengekan nya.
“Nggak usah menghayal.”
__ADS_1
“Ya … kan kita gak mungkin membicarakan ini di rumah sakit kan? pasti di tempat lain kan? mall misalnya, cafe, atau resto, minimal warung sate lesehan di pinggir jalan.”
Kalimat Arjuna membuat Emira semakin gemas, disaat seperti ini Arjuna sempat sempatnya merekomendasikan beberapa tempat nongkrong, yang kadang dijadikan tempat kencan kaum muda mudi.
“Issshhhh … bisa serius gak sih?” tanya Emira kesal.
“Sejak pagi itu, aku serius dengan semua perkataan ku, sudah kukatakan bahwa aku mencintaimu, bahkan ucapanku yang akan bertanggung jawab atas dirimu, aku akan menemui orang tuamu …”
“Baguslah kalau begitu, ayo kita selesaikan saat ini juga!!!”
Kalimat pendek itu, laksana suara petir di telinga keduanya, pelan tapi sarat akan amarah yang luar biasa, bahkan mungkin sanggup membuat Emira mati berdiri.
Yah, dihadapan Arjuna dan Emira kini berdiri tuan besar Geraldy senior dan Geraldy junior, Emra gemetar menatap dua orang pria yang kini menatap tajam pada nya dan tentu saja pada Arjuna, ‘mam pus lah aku, daddy pasti mendengar semuanya’, monolog Emira.
“Ddd … Da … ddy.”
Wajah Arjuna mendadak pucat pasi, walau ia mengatakan akan menemui orang tua Emira, tapi ternyata baru berhadapan begini saja, membuat ruh nya tiba tiba melayang meninggalkan raga nya.
.
.
.
__ADS_1
nah looohhh … ayo mas Jun … buktikan kata kata mu.
💙💙