
BAB 75
Setelah sepuluh menit menunggu, mobil Hari pun terlihat memasuki pelataran parkir Emergency Room, pria itu tergopoh gopoh menghampiri Arjuna yang sudah menunggu di pintu utama Emergency Room, beberapa petugas segera menghampiri mobil Hari dan membawa Ayu keluar dari sana untuk mendapatkan pertolongan pertama.
“Ada apa om? kenapa Ayu bisa pingsan lagi?” tanya Juna khawatir, mereka kini berjalan mengikuti petugas emergency room yang sedang membawa Ayu.
“Selepas malam itu, Ayu enggan keluar kamar, bahkan makan pun harus di suapi, dan porsinya kecil.”
“Aku tak terlalu memperhatikannya, karena aku sibuk dengan posisi baruku di DENt PHARMATION.” Aku Hari dengan wajah lesu. “sementara Ratna sedang sibuk mengantar jemput Winda yang sedang dalam persiapan olimpiade.”
Arjuna mengangguk kemudian menyusul keruangan tempat Ayu menerima pertolongan pertama.
Salah seorang perawat sedang mengukur tekanan darah gadis itu, seorang lagi sedang memasang cairan infus, karena Ayu mengalami dehidrasi parah hingga mengakibatkan dirinya tak sadarkan diri.
“Tekanan darahnya juga rendah, sebelum pingsan ia pasti merasakan sakit kepala hebat.” lapor salah seorang dokter jaga yang bertugas saat ini.
“Yang lain?”
“Kita tunggu hasil lab.”
Arjuna mengangguk, kemudian kembali keluar menemui Hari yang masih mondar mandir di depan pintu.
“Bagaimana adikmu Juna?” Tanya Hari khawatir.
“Sementara ini diagnosanya hanya Dehidrasi, semoga tak ada yang lainnya, kita tunggu hasil lab keluar.” Jawab Juna.
“Om titip Ayu sebentar, Ada urusan yang harus om selesaikan,”
Juna hanya mengangguk pasrah, bagaimanapun Ayu adalah tanggung jawab bersama, karena ibunya adalah satu satunya saudara perempuan Ayah Satrio, Bayu dan Hari.
Beberapa saat setelah kepergian Hari, Emira mendatangi Emergency Room, jam kerja mereka sudah berakhir jadi Emira memutuskan untuk menemui Juna di Emergency Room.
“Gimana kondisi Ayu?” Tanya Emira khawatir.
“Dehidrasi parah, karena menolak makan dan minum, syukurlah sudah sedikit membaik setelah mendapatkan infus.”
Emira mengusap pundak suaminya, ia tahu benar Arjuna sangat mengkhawatirkan adik sepupunya tersebut.
“Aku yakin, setelah ini Ayu pasti baik baik saja,”
“Apa kamu tahu yang, dulu ketika kecil, berkali kali Ayu pingsan dan berakhir kritis, eyang kakung bahkan tidak berani meninggalkannya seorang diri walaupun Ayu sedang berada di rumah dan dalam kondisi baik baik saja.” Juna merebahkan kepalanya di pundak Emira, ia merasa bersalah, walau sudah berkali kali mengatakan tak ingin menikahi Ayu, tapi biar bagaimanapun Juna menyayangi Ayu seperti adik kandungnya sendiri, tanpa menyadari bahwa bentuk kasih sayangnya diartikan lain oleh Ayu.
Emira hanya mampu mengusap kepala Suaminya yang kini nampak sangat bersedih dengan kondisi yang Ayu alami, “Kita doakan semoga Ayu baik baik saja,”
"Maaf yah, jam istirahatmu jadi kacau karena kita pasti terlambat pulang."
__ADS_1
Emira menyelipkan jari tangannya di sela sela jari tangan Juna, "weekend kemarin pun, kamu sudah berbaik hati memangkas waktu istirahatmu, demi menyenangkan keponakanku, anggap saja kali ini kita impas."
Juna menengadah menatap wajah Istrinya, dari raut wajahnya, ia tampak lelah, namun bibirnya tersenyum tulus, sungguh cantik, dan Juna lagi lagi berdebar karena gadis cantik ini adalah istrinya. "Terima kasih sayang, love you." Bisik Juna, tak mengapa jika Emira belum memiliki perasaan yang sama terhadapnya, begitu pikir Juna.
Arjuna kembali merebah manja di pundak Emira, keduanya kompak memejamkan mata, walau sesungguhnya mereka tidak tidur, hanya menikmati suasana hangat dan nyaman di sisi pasangannya masing masing.
.
.
.
Satu jam kemudian, Ayu dipindahkan ke ruang perawatan, kondisinya stabil walau belum tersadar dari pingsannya.
Emira pergi ke cafe karena perutnya sudah memberontak ingin diisi, sementata Arjuna tetap menunggu di ruangan Ayu.
Arjuna sedang memastikan laju cairan infus ketika kedua mata Ayu terbuka perlahan, Ayu melihat ke sekeliling, ia melihat ruangan asing,
Bukan lagi di kamarnya, dan lelaki tampan itu ada di sisi, tengah menunggu nya dengan wajah cemas, Ayu senang sekali, rupanya Pria yang ia cinta tetap begitu memperhatikan dan mencemaskannya.
"Mas Juna…" Panggil Ayu lirih.
Menyadari ada yang memanggilnya, Juna pun menoleh, Juna bisa bernafas lega karena Ayu sudah terbangun.
Juna mendekat, ia duduk di kursi yang ada di sisi brankar pasien.
"Baik mas, masih pusing sedikit."
"Siapa suruh pake bikin aksi mogok makan dan mogok keluar kamar, bikin orang khawatir aja."
"Iya mas, aku minta maaf…" Ucap Ayu dengan wajah sendu, asalkan Juna ada disisinya, perhatian padanya seperti saat ini, ia sudah sangat bahagia, yah beginilah seharusnya, Juna selamanya menjadi miliknya seorang, pikir Ayu.
"Sebaiknya sekarang makan dulu."
Ayu mengangguk, kemudian mengulurkan kedua lengannya, "bantu duduk…" Pintanya manja.
Arjuna membantu Ayunda agar ia bisa duduk dan menyantap makan malamnya, "pusing mas…" Keluhnya.
"Sebentar aku naikkan sandaran kursinya," Arjuna menekan tombol di sisi brankar, agar penyangga punggung tersebut berdiri tegak.
Usai menaikkan sandaran Juna menata bantal, agar Ayu bisa nyaman bersandar, Ayu Memejamkan kedua mata nya, ia begitu menyukai aroma parfum kakak sepupunya tersebut, hatinya rindu mendamba, ingin di peluk dan di perlakukan manis olehnya sepanjang sisa hidupnya, sungguh tak rela karena kini Arjuna sudah menjadi milik wanita lain.
Ayu terisak lirih, sungguh tak bisa berbohong mengenai perasaannya pada Arjuna, menyadari Ayu tiba tiba menangis, Arjuna hendak menjauh, namun Ayu menahannya, ia bahkan dengan berani melingkarkan kedua lengannya di pinggang Juna, "tolong jangan menghindar mas, biarkan seperti ini sesaat aja, aku butuh waktu untuk mengikhlaskan mu, perasaan ini sudah tumbuh terlalu besar, bahkan mendarah daging, maaf jika aku tak bisa menghapus bayang dirimu mas."
Emira yang barusan membuka pintu tercengang sesaat, lagi lagi pemandangan di hadapannya sungguh melukai hatinya, menyakiti kedua matanya, terlebih mendengar pengakuan Ayu, membuat Emira merasa jadi orang ketiga dalam hubungan mereka.
__ADS_1
Emira kembali menutup pintu dengan perlahan, sebagai sesama wanita, ia tahu bagaimana rasanya, pasti berat sekali melepaskan pria yang sekian lama bersemayam di hati,
Kemudian melangkah pergi, membawa hati yang kacau balau.
Emira bahkan melupakan bungkusan makan malam yang ia beli, bungkusan itu teronggok di kursi tunggu depan ruang rawat Ayu,
.
.
.
Sudah lebih dari tiga puluh menit berlalu, namun Emira belum juga kembali dari cafe, bahkan Ayu sudah menyelesaikan makan malamnya.
walau masih di lingkungan rumah sakit, tapi Juna tetap merasa ada yang tak beres.
"Halo yang… kamu di mana? Aku lapar," Keluh Juna yang akhirnya menelepon sang istri, Juna sengaja keluar kamar agar tak mengganggu Ayu yang sedang bersiap kembali tidur.
Emira yang sudah berada di taxi, gelagapan menjawab pertanyaan sang suami. "Oh itu… maaf aku gak jadi beli makan, aku ngantuk dan cape banget, jadi aku pulang duluan, bahkan lupa mengabari." Jawab emira beralasan.
"Kenapa gak menungguku, kan kamu bisa tidur di ruangan Ayu, sambil nunggu om Hari datang."
"Iya… Maaf,"
"Sekarang kamu di mana?" Tanya Juna dengan suara lemah, seakan semangat hidupnya telah hilang.
"Sudah dekat apartemen,"
"Hati hati yang…"
"Iya… tenang aja, aku bisa jaga diri kok."
"Aku segera pulang, jika om Hari datang."
"Hmmm."
Angan untuk segera pulang itu pupus, karena sampai jam sebelas malam Hari atau Ratna tak kunjung datang, Arjuna kembali keluar ruangan untuk menghubungi adik bungsu ayahnya tersebut, tiba tiba pandangan matanya tertuju pada kantong kresek yang ada di kursi tunggu tepat di depan kamar, hati Juna serasa diremas kala melihat isi kantong kresek tersebut, itu adalah dua bungkus nasi goreng, pesanannya dan milik sang istri, mendadak Arjuna resah, sekelebat rasa cemas melintas, mungkinkah Emira melihat ketika dirinya di peluk oleh Ayu?.
Juna menarik kasar rambut nya dengan kedua tangannya, "shh iiit." Makinya kesal.
Rupanya Hari telah mempermainkan nya, dengan sengaja membuatnya menunggui Ayu yang kebetulan sakit.
.
.
__ADS_1
.
💕