
BAB 59
Setelah sedikit keributan, kini mobil hitam tersebut sudah berada di keramaian jalan ibu kota, Arjuna memacu cepat mobilnya, karena mereka sudah harus tiba lima belas menit lagi, keduanya bahkan belum, sempat makan malam, “Mau beli makan apa? sekalian kita beli sebelum tiba di rumah sakit.”
“Santai aja, ntar makan di cafe rumah sakit aja,” Jawab Emira santai, ia sibuk bertukar pesan dengan Febiola, yang mulai kepo menanyakan keadaanya.
“Kalau tak sempat?”
“Kita bergantian jaga,” kembali Emira menjawab tanpa menoleh ke arahnya, dan Arjuna tak suka itu.
“Kalo diajak ngomong, bisa gak sih lihat ke orang yang lagi ngomong?”
“Sorry … gak bisa, lagian aku kan tetep jawab pertanyaan kamu.”
Jawaban itu membuat Juna semakin kesal, mendadak ia cemburu, jangan jangan istrinya sedang chat mesra dengan seorang pria.
“Emang lagi chat sama siapa?”
“Febiola.”
“Ya elah yang … kan nanti juga ketemu di rumah sakit, mending sekarang kamu fokus memperhatikan suami kamu.”
Dan berhasil, karena kini Emira menatap cengiran bahagia dari wajah Juna, karena akhirnya sang istri menatap ke arahnya.
Juna menghentikan mobilnya, karena lampu merah menyala, “terima kasih sayang, karena sudah menatapku.”
Arjuna menggenggam tangan Emira, kemudian menciumnya, “Kuharap pandangan mu hanya tertuju padaku, seperti kamu yang mulai kini akan menjadi pusat hidupku.”
deg
deg
deg
__ADS_1
Emira menarik tangannya, “Udah ijo tuh,” Emira membuyarkan suasana yang mendadak romantis tersebut, terus terang ia sedikit gugup beberapa saat yang lalu.
Beberapa menit kemudian mobil Juna memasuki pelataran rumah sakit, dan parkiran penuh sesak, karena jam besuk belum berakhir, sementara mereka harus segera masuk untuk menggantikan rekan mereka yang telah menyelesaikan shift siang.
“Masuklah duluan aku akan cari tempat parkir.”
Emira berpikir sejenak, “masuk basement aja, parkir di tempat parkir khusus.” usul Emira.
“Emang aku bisa masuk, itu kan khusus keluarga …” sejenak Juna melupakan statusnya kini.
“Aku turun duluan yah,” pamit Emira. “Kalau perkiraanku tak salah, namamu pasti sudah terdaftar di sana.” ucap Emira sesaat sebelum menutup pintu.
Arjuna tersenyum, ia menatap Emira yang kini berjalan memasuki lobi utama, Arjuna baru menyadari bahwa Emira masih mengenakan heels nya pagi tadi, kenapa tak terpikir oleh nya untuk membelikan sepatu baru untuk sang istri.
Arjuna terkejut manakala menempelkan kartu identitas dokternya di mesin parkir, pintu tersebut segera terbuka, bahagia sekali rasanya, ternyata ia sudah diakui sebagai keluarga, Arjuna bergegas memarkirkan mobilnya dengan bahagia.
Arjuna tersenyum sepanjang perjalanannya menuju lobi Utama, namun senyumnya menghilang manakala melihat sang istri tengah berbincang dengan seorang Pria, bahkan pria itu menggenggam tangan Emira.
.
.
.
Emira masih bertukar pesan dengan febiola, sembari menunggu pintu Lift terbuka.
Pintu lift terbuka, dan dari dalam lift muncul Reza bersama seorang gadis, Emira merasa Reza menatap tajam ke arahnya, tak ada senyuman seperti yang selalu lelaki itu berikan ketika mereka bertemu.
“Mas … ayo jalan, kasihan mbak itu mau naik,” Tegur Lea yang melihat Reza hanya diam mematung.
Emira merasa kembali patah hati, setelah menerima perlakuan dingin dari daddy Alex, kini Reza pun bersikap dingin padanya, tak bisa begini, Reza tak mungkin sejahat ini padanya.
“Za …” panggil Emira lirih ketika Reza hanya melewatinya, bahkan tanpa sebuah sapaan.
__ADS_1
Emira berbalik ia berjalan cepat, kemudian menangkap lengan Reza, “Za … plis jangan marah lagi, aku gak bisa marahan ama kamu terlalu lama.” pinta Emira dengan mata berkaca, terbiasa berada di dekat Reza, bahkan berbagi banyak hal, dan kini tiba tiba Reza menjaga jarak dari nya, ternyata sungguh menyakitkan.
Reza menatap lengannya yang di genggam oleh Emira, tanpa sengaja netra nya menatap cincin berlian yang kini melingkar di jari kanan Emira.
Deg
Tiba tiba dada Reza bergemuruh hebat.
Reza menatap Emira dengan pandangan yang entah, “Apa ini? cincin apa ini?” tanya Reza yang kini ganti menggenggam tangan kanan Emira.
Emira seketika kikuk, ia berusaha menarik tangan kanannya, namun Reza cukup erat menggenggam tangannya, “Jawab aku Emira, ini cincin apa?” tanya Reza dengan dengan nada penuh penekanan, seolah olah mereka adalah sepasang kekasih yang tiba tiba mengakhiri hubungan tanpa sebab yang jelas.
“Biar aku yang jawab,” Arjuna datang dari arah berlawanan, kemudian melingkarkan lengannya di pinggang Emira.
“Ini cincin pernikahan kami,” jawab Arjuna posesif, seraya menarik tangan sang istri dari genggaman Reza.
Bibir Reza bergetar, penuturan Arjuna meruntuhkan semua harapannya, harga dirinya benar benar terluka, diantara sekian banyak penolakan Emira, penolakan kali inilah yang paling menyakitkan, “ternyata aku memang tak pernah berarti apa apa di hidupmu, perasaanku pun tak pernah kamu pedulikan …”
“Za … aku bisa jelaskan …”
Reza mengangkat kedua tangannya, tak ingin lagi ia mendengar penjelasan Emira, “Ayo Le… kita pulang.”
Reza berlalu pergi bersama Lea, ‘Bahkan menikah pun kamu tak mengabariku, aku tak menyangka kamu bisa setega ini padaku’, monolog Reza.
Sementara Emira masih diam mematung, dengan kasar ia melepaskan pelukan suaminya, seakan ingin menyalah kan kedatangan Arjuna beberapa saat yang lalu.
.
.
.
jeng jeng jeng babak baru dimulai😁🤓
__ADS_1
💙💙💙