CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 98


__ADS_3

BAB 98


Siang harinya Emira terbangun dan mendapati dirinya sudah di kamar, kosong tak ada siapapun, "kenapa mas Juna gak bangunin aku yah?" Monolognya. 


"Ini lagi… bisa bisanya aku tidur belum mandi dan ganti baju." Emira bergidik sendiri, ia selalu disiplin akan hal itu, wajib hukumnya, ia tak akan membiarkan kuman dan mungkin saja virus menemaninya ketika ia terlelap. 


Emira segera beranjak menuju kamar mandi ia mandi dan mencuci rambutnya. 


Turun ke ruang makan sudah dalam keadaan bersih dan segar. 


"Eh sudah bangun non…" Sapa salah bi Minah salah seorang ART. 


"Hmmm iya bik…" Jawab Emira yang kini meminum air hangat. 


"Mau makan sekarang non, tadi mas Juna berpesan jangan ganggu, jadi bibik gak berani bangunin…" 


"Iya bik gak papa." 


Bi Minah menyodorkan seporsi mangga yang sudah disimpannya di lemari pendingin, "tadi pagi sudah bibik siapin, eh non Mira nya tidur, jadi dimakan sekarang yah, biar seger, sebentar bibi ambilin makan siangnya."


Emira mengangguk, "makasih bik… bibik masak apa?" Tanya Emira ketika potongan mangga tersebut sudah berpindah ke mulutnya. 


"Sayur asem, sambel sama ikan asin non, tapi kalau mau ayam atau dendeng sapi juga ada." Jawab bik Minah dari arah dapur.


"Gak papa bik, sayur asem, sama sambal dan asin juga gak papa, kayaknya seger bik siang siang begini, tolong bikinin es teh manis juga ya bik." Pinta Emira sopan, ia berpindah ke ruang tengah dan menyalakan Netflix, action drama adalah favorit nya. 


"Siap non…" Jawab bik Minah semangat, sejak selesai masak ia menganggur, maka kini ketika menantu dari majikannya minta disiapkan makanan, wanita paruh baya itu dengan sigap menyediakannya 


Bi Minah datang lima menit kemudian dengan nampan berisi makanan request Emira, "bibik kira anaknya orang kaya gak doyan ikan asin non, taunya non Mira sama aja kaya mas Juna yang doyannya ikan asin sama sayur asem." Cicit bik Minah ketika menata makanan untuk Emira. 


"Bibi ngomong apa sih, aku tuh orang indonesia asli bik, biarpun ada campuran bule nya, tapi aku mirip banget sama daddy yang asli orang indonesia, jangan meremehkan makanan nusantara kita, sayur asem, dan ikan asin, sambal."


Bi Minah terkekeh mendengar ocehan menantu sang majikan, "selamat makan non, makan yang banyak biar sehat, biar cepet hamil juga, nyonya dan tuan sudah gak sabar nungguin anak non Mira dan mas Juna." Celetuk bi Minah, yang membuat Emira tiba tiba terdiam. 


Tiba tiba ia merasa bersalah, karena sudah mulai mengkonsumsi pil kontrasepsi, tapi ia juga ingin egois memikirkan dirinya yang belum tentu sanggup memiliki bahkan mengasuh seorang anak, mengingat kondisinya yang masih sibuk dengan program spesialis nya, terlebih suaminya kini sedang menjadi big boss DENt PHARMATION yang tengah di tinggal oleh big boss yang sebenarnya. 





Sementara itu di DENt PHARMATION. 


Arjuna masih berkutat dengan tumpukan pekerjaannya, bersyukur sekali karena pak Willy asisten sang ayah dengan sigap membantu pekerjaannya, jadi sejauh ini Juna bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. 


Pintu terbuka, menampakkan Ayu yang tengah membawakan makan siang untuk Juna. 


"Bisa ketuk pintu dulu?" Tanya Juna dingin. 

__ADS_1


"Maaf mas…"


"PAK!! Ingat kita sedang di kantor."


"Tapi kan sekarang jam istirahat," 


"Terserah … kalo suka boleh ikut aturanku, kalau gak suka silahkan pergi," Jawaban Juna seakan tak memberi Ayu pilihan.


Jujur saja Ayu nekat mendekati Juna dengan modus membantu Juna mengurus perusahaan milik keluarga mereka, dan agar bisa berdekatan dengan pria pujaannya lebih lama, tapi Juna seperti balok es yang dingin dan susah mencair. 


"Baik pak." Jawab Ayu dengan hati semakin pilu, semakin lama Sikap Juna semakin dingin terhadapnya, seakan akan dirinya kini bukan lagi adik yang Juna sayangi, seperti dulu, walau Ayu mengartikannya dengan cara berbeda. 


Juna kembali sibuk menatap layar komputer nya. 


Jam makan siang telah berlalu, tapi  ia belum juga menyentuh makan siangnya, hingga bunyi ponsel membuayarkan konsentrasinya. 


"Iya…" Jawab Juna tanpa menatap siapa yang menghubunginya. 


"Selamat siang tuan, ini Hans…" 


Mendengar suara orang kepercayaan daddy mertuanya Arjuna pun menghentikan aktivitasnya, kemudian menatap layar ponselnya. 


"Iya paman… bagaimana?" 


"Sudah selesai tuan semua bukti bukti yang kita perlukan sudah terkumpul, termasuk rekaman cctv di lokasi kejadian, serta dokumen yang sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak, untunglah tidak ada pengacara atau saksi yang dilibatkan, jadi dokumen tersebut bisa dikatakan ilegal." 


Arjuna menghembuskan nafas lega mendengar penuturan Hans, "terima kasih paman, lalu langkah kita selanjutnya apa?" 


"Terimakasih paman…"


"Ini sudah tugas saya tuan," Jawab Hans merendah, seperti biasa. 


Juna tersenyum setelah mematikan panggilan, 'ini akan jadi berita bahagia buat ayah'. Gumam Juna, Juna sadar bahwa orang tua istrinya juga ikut andil besar membantu menyelesaikan masalah di perusahaan, tapi rasa cemburu masih menguasainya, hingga ia masih enggan menyampaikan berita bahagia ini pada Emira. 





Sore harinya, Emira sudah siap berdandan rapi dan wangi seperti biasa, menanti suaminya datang menjemput dan mengantarkan nya ke rumah sakit, bukannya Emira tak mau bawa mobil sendiri, tapi Arjuna melarangnya, dan kini ia harus dibuat menanti tanpa kabar. 


Beberapa kali Emira melakukan panggilan, tapi ponsel Juna non aktif, ia jadi sedikit kecewa, tak biasanya Juna mendiamkannya seharian begini, beberapa hari ini Juna selalu menghubunginya ketika sedang berada di kantor, tapi sejak pagi tadi Juna seakan enggan mengajaknya bicara, bahkan sikapnya yang selalu ingin dimanja juga tak nampak. 


Dengan berat hati Emira memutuskan pergi ke rumah sakit menggunakan taxi online saja, tak lupa berpamitan pada bik Minah, jaga jaga barangkali Juna pulang setelah kepergiannya. 



__ADS_1



Di rumah sakit. 


Juna ternyata sudah tiba lebih dulu, lagi lagi dari kejauhan Juna melihat Reza masih berada di sekitaran rumah sakit, yang lebih mengejutkan Reza ternyata menuju lantai lima tempat bedah umum berada, 'buat apa dia kesana?' tanya Juna dalam hati. 'Apa Reza memang sengaja menemui Emira di rumah sakit karena Tahu bahwa kini dirinya sedang cuti? Tapi… haruskah ia terus berprasangka tanpa bertanya? 


"S h i i t …" Arjuna mengumpati dirinya sendiri, bahkan karena prasangka buruknya, ia tak menyapa istrinya seharian ini, kini ia menyesal tak menjemput istrinya di rumah beberapa saat yang lalu, padahal ia sudah berjanji akan mengantar dan menjemput istrinya selagi bisa. 


Yah baiklah… tak seharusnya ia bersikap kekanakan seperti sekarang, sekarang karena sudah di rumah sakit ia akan mengunjungi kedua orang tuanya, sebelum nanti menemui istrinya ketika ia tiba di rumah sakit. 


Sreeek!!! 


Arjuna menggeser pintu kamar rawat inap Ayahnya, suasana agak ramai karena ada Bisma dan mama Yuna yang menemani ayah Satrio. 


"Lho sendirian… menantu mama mana?" Tanya mama Yuna ketika Arjuna datang seorang diri. 


"Maaa… anak mama itu aku loh." Protes Juna. 


"Nah itu sudah tahu, jadi gak perlu diperjelas kan??" 


Arjuna mencebikkan bibir nya, "mana menantu mama?" Tanya mama Yuna lagi. 


Arjuna menundukkan kepalanya. "Masih dalam perjalanan ma…"


Plak plak plak


Mama Yuna memukul lengan Arjuna berkali kali. 


"Aduh… aduh… sakit ma… Juna Salah apa??"


"Masih belum sadar, kamu salah apa??" 


Juna merengut, ia tahu pasti mama nya murka karena ia tega membiarkan menantu kesayangan sang mama pergi ke rumah sakit seorang diri. 


"Maaf maa… tadi Juna buru buru, hp lowbat dan mati total, jadi Juna tak sempat menjemput Emira dirumah, khawatir kalau kami berselisih jalan." Jawab Juna tanpa berani menatap kedua orang tuanya, yang seakan akan ingin menghakiminya hanya karena masalah kecil. 


"Hari gini kamu masih beralasan hp low batt, memang di mobil kamu gak ada Charger?" Ayah Satrio menimpali. 


"Ada yan." Jawab Juna.


"Jangan, membuat hal hal kecil menjadi salah paham yang bisa berbuntut panjang, kalian menikah bukan untuk sehari dua hari, biasanya kamu cukup dewasa menyikapi masalah, kenapa sekarang kamu kelihatan seperti lari dari masalah? Tadi pagi juga, ayah lihat kamu tak menyapa istrimu,"


"Iya yah… maaf…" 


"Perasaan Wanita itu terlalu sensitif, diamnya kamu, bisa membuat istrimu memikirkan, bahkan berprasangka yang tidak tidak, iya kalau istrimu paham dan tak buru buru mengambil keputusan, tapi kalau dia tiba tiba  pulang ke rumah orang tuanya, lantas orang tuanya curiga, jawaban apa yang akan kamu berikan pada orang tua istrimu?" 


Deg


Arjuna merasa seperti di siram air sejuk yang mendinginkan rasa cemburunya, ia semakin didera rasa bersalah pada Emira. 

__ADS_1


"Baiklah… Juna akan minta maaf sekarang." 


Tanpa menunggu persetujuan orang tuanya, Juna bergegas keluar kamar rawat inap sang ayah, guna menemui sang istri agar hubungan mereka kembali hangat dan mesra. 


__ADS_2