
BAB 107
"Uncle… aku gak salah kan?" Tanya Daniel mencari pembelaan.
Arjuna tersenyum, "tidak kamu gak salah," Jawaban Juna membuat pipi gembul Daniel merona dan wajah nya kembali tersenyum.
"Hanya karena kamu laki laki, bukan berarti kamu tak boleh tak boleh takut pada sesuatu," Lanjut Juna.
"Tapi … Naya juga gak salah, jadi pastikan jangan lama lama marahnya, segeralah minta maaf,"
"Kenapa harus aku yang minta maaf lebih dulu?" Protes Daniel tak terima, karena hingga detik ini di masih merasa bahwa dirinya tak bersalah.
Arjuna tersenyum mengangguk, "dengarkan uncle, ini untuk kalian semua," Arjuna menatap, Daniel, Darren, Luna, Dean, dan Danesh, secara bergantian, "meminta maaf, bukan berarti kalian bersalah, meminta maaf, bukan berarti juga kalian kalah, tapi meminta maaf itu menunjukkan kebesaran hati kalian, menunjukkan bahwa kalian tetap menghargai dan menghormati lawan kalian.”
Agaknya perkataan Juna begitu membius kelima bocah di hadapannya, “uncle yakin, tidak hanya menghibur kami…??” tanya Daniel memastikan.
“Of course … uncle tak mungkin berbohong, uncle pria jujur,” jawab Juna seraya menepuk dada penuh kebanggaan.
“Apa karena itu, aunty bersedia menikah dengan uncle?” tanya Dean penasaran.
Arjuna melirik Emira yang sedang bersenda gurau dengan kedua orang tua dan kakak nya.
“hahaha … tentu saja,” kali ini Juna berbohong dikit demi menyelamatkan wajahnya dari rasa malu, karena dirinya berhasil menikahi sang gadis pujaannya tanpa sengaja, akibat dari ulah iseng seseorang yang kini Juna anggap sebagai berkah tak terkira.
“Uncle kasih tahu sebuah rahasia, seorang gadis suka pujian dan hadiah yang diberikan dengan tulus, bukan melulu hadiah mahal."
Empat pria kecil di hadapan Juna, tampak semakin serius memperhatikan perkataan Juna, Karena suatu saat akan tiba waktunya, mereka harus berjuang demi memenangkan perasaan seorang gadis.
“Tapi kenapa Clara masih tetap mengejekku? dan mengatakan aku anak cengeng yang manja, padahal aku selalu memberinya hadiah kecil,"
"Kenapa kecil? Mungkin Clara ingin hadiah yang besar, boneka besar misalnya," Usul Juna.
"Itu karena aku mengumpulkannya dari uang jajanku sendiri, dan aku tulus melakukannya.” Darren bergumam sedikit putus asa.
Juna tersenyum, “Belum … suatu saat gadis itu akan menyadarinya, bahwa ketulusanmu melebihi segalanya,”
“Kapan itu?” cemberutnya dengan bibir maju beberapa centi.
“Bersabarlah … hari itu pasti datang.” jawab Juna penuh keyakinan.
#kapankah itu? tunggu kisah si tampan misterius Darren.
"Aku tak pernah memberi apa apa, tapi para gadis berjejer mengantri di depanku, dan berebut ingin jadi pacarku," Si sulung putra Andre dan Bella berkata dengan bangga, bakat tebar pesona sang daddy menurun dengan baik pada dirinya.
Kini semua mata tertuju pada nya, "lalu apa yang kamu lakukan pada mereka."
"Tidak ada."
Jawaban tersebut semakin membuat para penonton tercengang.
"Mereka sendiri yang mengaku jadi pacarku, Jeny hari senin, Frida hari selasa, Salsa hari rabu, Devanka hari kamis, Tatiana hari jum'at." Jawab Dean dengan menggunakan lima jari tangannya, kemudian dengan santai ia mengurutkan deretan nama kekasihnya sesuai hari.
Arjuna sang penasehat cinta, sampai dibuat terperangah karena nya, 'omeygod apa di masa depan bocah ini akan jadi penjelajah cinta?' monolog Juna dalam hati.
Lain lagi dengan Danesh, dan Luna mereka terlihat santai, tak ingin berbicara tentang lawan jenis, mungkin sifat keduanya mirip, sama sama ingin menikmati hidup, sambil menunggu datangnya cinta.
.
.
__ADS_1
.
Dua hari berlalu, sesuai perkiraan Arjuna, Emira bisa segera pulang setelah menerima tiga kantung cairan infus, dan wajahnya sudah terlihat kembali merona, di rumah ia disambut bagai ratu, dimanjakan bagai anak emas, mengingat saking bahagianya kedua mertuanya menyambut kehadiran calon cucu mereka, bahkan Emira sampai merasa tak enak hati karenanya.
"Mas… apa sikap mama padaku tak berlebihan?" Tanya Emira sore itu, sepulang Arjuna dari tempat kerja, sementara Emira masih istirahat di rumah, karena mendapatkan jatah cuti sakit selama seminggu.
"Kenapa?" Tanya Juna seraya melonggarkan kedua tangan Emira yang tengah memeluk pinggangnya dari belakang, kemudian ia memutar tubuhnya dan kini mereka saling memeluk erat, dua hari ini si ibu hamil selalu menempel pada nya, benar benar lengket seperti cicak, bahkan ketika Juna terlalu lama di kamar mandi, Emira sudah tak sabar memanggil manggil.
"Yaa… aku gak enak aja mas, kesannya malah mama mengabaikan ayah," Cicit Emira memanyunkan bibir nya.
"Ya nggak lah, aku yakin Ayah juga maklum, mama itu suka banget sama anak anak, dan udah lama beliau mengatakan padaku ingin segera punya cucu." Juna mengusap rambut di kepala Emira.
"Trus?"
"Sampai mengancam, mau menjodohkan aku sama anak teman arisannya."
"Trus trus?"
Juna menunduk mengecup sekilas bibir istrinya yang mulai manyun, akibat perubahan suasana hati, "trus aku tolak lah, males banget, hari gini masih di jodoh jodohin,"
"Yakin nolak? Nggak menyesal tuh?"
"Ya nggak lah, untung saja aku tolak, karena aku mendapatkan yang punya segala yang kuinginkan, baik hati, galak, suka berkelahi, tapi cantiknya bikin kepala oleng, jantung dag dig dug jumpalitan tak karuan."
Blush…
Seketika wajah Emira merona, ia memukul pelan d a d a suaminya, "dasar kang gombal."
"Ih mana ada gombal, asli yang … no KW KW, buktinya udah tersimpan rapi di perut kamu," Juna meraba perut Emira, tempat bayi mereka kini tumbuh, kemudian berlutut menciuminya dengan sayang, "hai sayang, sehat sehat disana yah, delapan bulan lagi kita ketemu, kami menantikan kedatanganmu." Lagi lagi Juna menciumi perut Emira, kemudian kembali berdiri.
Dan Emira kembali menempel, seakan tak ingin dilepaskan, "sudah yah … aku mau mandi dulu," Bisik Juna.
"Tapi aku harus mandi yang, gerah ini…" Keluh Juna pada Emira yang kemudian menggeleng, dan enggan melonggarkan pelukannya.
"Ayolah sayang, aku harus mandi, mau ikut mandi juga?"
Emira mendongak dengan wajah berbinar, "bolehkah?"
Arjuna menatap keheranan pada wajah Emira. "Mandi lagi??"
Emira mengangguk cepat.
"Ayolah, siapa takut…"
Bak gayung bersambut, alih alih melarang, Juna justru membiarkan Emira mengikutinya ke kamar mandi.
.
.
.
"Yang… geser dikit dong, aku gak leluasa nih…" Keluh Juna yang lagi lagi harus bersabar membiarkan Emira menempelinya, ketika mereka sedang beraktivitas bersama saat ini.
"Nggak mau, pokoknya mau peluk," Jawab Emira manja.
"Tapi aku jadi susah bergerak, kalo kamu peluknya terlalu erat."
"Bisa… senyamannya mas Juna aja, aku gak minta yang perfect kok."
__ADS_1
Akhirnya Arjuna hanya bisa menghela nafas, kembali bersabar demi menyenangkan sang istri, yang dua hari ini manjanya semakin tak masuk akal, kedua tangan Arjuna bergerak lincah mengaduk dan membalik, sesekali hidungnya mengendus bebas, mencoba menyesuaikan rasa.
"Kapan selesainya ini??" Bisma tiba tiba menyelinap ke dapur bersih ruang makan tersebut, ia hampir mual melihat kebucinan kakak dan kakak iparnya tersebut.
Emira hanya tersenyum, bahkan cuek saja dengan tingkah absurd nya tersebut, ia sedang ingin makan nasi goreng buatan Juna, dan akhirnya meminta mama Yuna menjadi mentor sang suami.
"Jangan ditiru yah, adegan ini hanya untuk pasutri, awas yah mas gantung di gerbang kalau kamu berani macam macam sebelum menikah,"
"Opo? Siapa yang di gantung?" Mama Yuna kembali ke dapur memeriksa hasil masakan Juna.
"Ini ma, mas Juna mau menggantung kepalaku di gerbang,"
"Apa? Berani menggantung anak mama, tak sunat lagi kamu."
Seketika Arjuna merinding membayangkan ancaman sang mama, "sini mama cobain masakanmu,"
"Jangan dong ma… kalo si 'dia' habis, ntar mantu mama kabur cari suami baru." Cicit Juna, yang kini sudah membalas pelukan Emira, kemudian menciumnya gemas.
Mama Yuna hanya tersenyum mengabaikan romantisnya anak dan sang menantu, wajahnya tersenyum puas, usai mencicipi masakan Juna, "sudah… pas sekali rasanya."
"Beneran enak mah?" Tanya Emira berbinar.
Mama Yuna hanya mengangkat ibu jarinya, kemudian berlalu.
"Mau makan sekarang?"
Emira mengangguk, kemudian mengambil piring dan sendok yang akan mereka pergunakan untuk makan sepiring berdua.
Juna membawa seporsi besar nasi goreng buatannya ke ruang TV, dan Emira Mengekor dengan segelas es teh manis yang belakangan ini sangat ia sukai, mungkin karena efek kehamilan juga.
TV yang menyala seakan tidak ada, karena dua sejoli ini tengah asyik bercengkrama saling menyuapi pasangan mereka, momen sederhana yang membuat suasana hati Emira menghangat, hingga tak terasa nasi goreng itu pun ludes tak bersisa.
"Besok aku ke kota X jawa tengah." Ujar Juna ketika keduanya usai makan, dan kini duduk saling menempel di sofa depan TV.
Emira mendongak, "kok mendadak?"
"Nggak juga, rencana ini sudah dibahas sejak kemarin di Bandung, aku mencoba melebarkan sayap perusahaan." Jawab Juna.
"Baiklah… tapi aku ikut."
"Yang… ini jauh loh, harus naik pesawat ke Jawa Tengah."
"Trus kenapa?"
"Kamu lagi hamil muda, aku takut kamu kenapa napa di perjalanan."
"Aku sehat, anak kita juga sehat, aku cuti dari rumah sakit karena lenganku belum sembuh total, hanya itu saja kan?"
"Tapi yaaaang…"
"Nanti aku tanya kakak ipar, apakah aku boleh bepergian saat ini."
Pungkas Emira yang jelas sekali sedang tak ingin mengalah.
.
.
💙
__ADS_1