
BAB 103
Kejadian itu berlangsung cepat, aura kekaguman seketika berubah menjadi rasa kasihan, ketika Emira yang hendak mencegah adanya korban, justru dirinya sendiri yang menjadi korban, karena ketika ia mendorong tubuh pria tersebut pisau tajam itu justru menggores lengannya.
Emira menatap nanar wanita yang semula menjadi korban dari kebengisan sang suami, wanita itu segera menjatuhkan pisau dalam genggamannya ke lantai, ia tak lagi bisa merasakan apa apa, bahkan lengannya yang tergores tak lagi terasa nyeri, karena pandangannya tiba tiba buram, kemudian gelap sempurna.
Lantai Lima kembali heboh, beberapa security berlari cepat ke lokasi kejadian, si pria pelaku KDRT menunduk tak berdaya karena kini ia dibawa dua orang security berbadan kekar, seentara si wanita yang tanpa sengaja melukai Emira, kini terduduk di lantai, wajahnya pucat berurai air mata, merasa bersalah karena tanpa sengaja melukai seseorang yang menolongnya.
“Mira…” dokter Nadia menepuk nepuk pipi Emira yang sudah tak sadar dan sudah di pindahkan ke atas brankar, untuk menerima pertolongan pertama, beberapa petugas medis dengan cepat dan cekatan mendorong brankar pasien, menuju ruang tindakan.
Dari kejauhan Kevin yang sudah rapi hendak meninggalkan rumah sakit, berjalan cepat mendekati pusat keributan. “ada apa ini?” tanya Kevin pada beberapa orang yang ikut berkerumun di depan ruang tindakan yang hanya tertutup pintu kaca transparan.
Kevin menatap ke dalam ruangan tersebut, mendadak perasaannya tak enak, “Eh dokter Kevin,” Sapa suster Oya.
“Siapa yang terluka suster?” tanya Kevin.
“Dokter Emira dok, tadi ia menolong ibu pasien yang menjadi korban KDRT, tapi ia justru tak sengaja terluka, oleh goresan pisau di lengannya, dan sekarang …”
Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut, Kevin menerobos kerumunan, dan langsung masuk ke ruang tindakan, ia melemparkan tas nya ke meja kosong yang ada di ruangan tersebut, segera menggulung lengan kemeja nya, tak tahu lagi bagaimana kini bentuk perasaannya, wajah adik bungsunya yang biasa tengil dan ceria, kini pucat tak sadarkan diri, ia segera membalurkan hand sanitizer, kemudian memakai sarung tangan.
“Dok … biar kami saja.” ujar dokter Rebecca yang sudah siap dengan jarum dan benang jahit.
“Menyingkirlah …”
Dokter Rebecca menyingkir diam, kemudian berdiri menjadi asisten kevin, ia melihat sendiri, dokter senior di hadapannya menjahit sendiri luka di lengan Emira, bahkan wajahnya tampak tegang, bahkan Kevin hampir menangis karena khawatir, ia ketakutan karena pendarahan di lengan Emira tak kunjung berhenti.
“Dok … saya curiga kalau Emira sedang hamil.”
Kevin mendongak menatap dokter Milea, yang masih memegang Stetoskop, kini ada sedikit senyum di wajah Kevin, kemudian mengangguk, “Berapa hasil test HB nya?”
“Dibawah 10 dok.”
“Beri transfusi, wajahnya pucat sekali, dan segera panggil istriku kemari.” perintah Kevin, Suster Oya segera bergerak cepat menghubungi Gadisya, sementara Dokter Nadia segera menghubungi bank darah.
Dokter Rebecca tampak tersenyum miring, ‘jadi sudah sejauh itu hubungan mereka,’ monolognya. ‘Tapi tunggu kenapa dokter Kevin terlihat begitu panik?’
“Dokter … Stok darah darah yang sesuai dengan Emira sedang kosong,” lapor dokter Nadia. “Beberapa hari ini lantai lima kebanjiran pasien dok.”
__ADS_1
Kevin menghembuskan nafasnya pelan, “Ambil saja darahku.” ungkap Kevin. “Golongan darah kami sama.” jawab Kevin tanpa mengalihkan fokus dari pekerjaannya.
“Tapi dok … bagaimana anda tahu?” kami bahkan belum memberitahu anda golongan darah Emira.
“Tentu saja aku tahu, lebih dari ini pun aku tahu, karena dia adikku …” jawaban kevin membuat seisi ruangan terdiam.
Klinting …. dokter Rebecca menjatuhkan gunting yang berada di tangannya, karena terkejut mendengar pernyataan kevin.
Kevin tak memperdulikan reaksi orang orang di sekitarnya, ia memasang plester untuk menutupi luka di lengan Emira yang sudah ia jahit, kemudian mengusap kepala adik kecil nya tersebut, “Hei gadis tengil … kenapa kamu suka sekali berkelahi? dan membuat kehamilanmu hampir bermasalah.” ujarnya tanpa jawaban emira.
Kemudian Kevin melepas sarung tangannya, dan menggulung lebih tinggi lengan kemeja nya, suster Oya menghampirinya untuk memasang alat alat yang akan dipergunakan sebagai perantara transfusi darah.
Gadisya datang beberapa menit kemudian, dengan wajah tak kalah pucat dan khawatir. bahkan ia menangani pasien terakhirnya dengan tangan gemetaran, setelah mendengar penuturan suster Oya.
Dokter Rebecca menutup tirai, ia meminta beberapa dokter yang sudah berkepentingan untuk segera meninggalkan ruangan.
Dokter Milea segera menyodorkan monitor USG ke dekat Gadisya, dokter ayu tersebut segera mengoleskan gel bening ke perut Emira, dengan lincah tangannya menggerakkan transducer di perut Emira, mencari cari dengan teliti.
“Bagaimana sayang?” tanya Kevin tak sabar, padahal ia masih menjalani proses transfusi.
Seketika tatapan semua orang tertuju ke layar monitor di hadapan Gadisya.
“Usia nya baru lima minggu.”
“Ada berapa?” tanya Kevin”
“Satu.”
“Yaa kenapa satu, si kembar pasti senang kalau adik mereka juga kembar.” celetuk Kevin.
Sepasang suami istri itu berbincang santai seakan akan tak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
‘Kenapa dokter Kevin santai sekali menanggapi kehamilan adiknya, padahal Emira bahkan belum memiliki suami, apa jangan jangan …’ pikiran dokter Rebecca terus berkelana, 'ah… bodo amat, yang penting sekarang aku harus bersikap lebih baik pada Emira, kapanpun mereka bisa menendangku dari rumah sakit ini jika aku berani macam macam pada Emira, apalagi kemarin aku sengaja mengerjainya'.
“Aku akan menghubungi Arjuna.” kevin meraih ponsel yang berada di saku celananya.
"Dok… sebaiknya anda diam, agar pekerjaan saya lekas selesai." Tegur suster Oya tegas.
__ADS_1
Kevin diam menurut, dan urung mengeluarkan ponselnya. “Baiklah.”
.
.
.
Malam Hari nya, Arjuna berjalan cepat nyaris berlari menyusuri lorong rumah sakit, ruh nya seakan melayang tanpa raga ketika mendengar kabar bahwa wanitanya pingsan, tapi kakak iparnya tak mengatakan penyebabnya, Kevin hanya mengatakan padanya agar segera tiba di rumah sakit, maka mobil yang semula di kemudikan oleh Hans, diambil alih oleh Juna, ia mengemudikan mobil seperti sedang kerasukan jin, bahkan melaju kencang jauh diatas rata rata.
Arjuna tiba di lantai lima, berjalan cepat menyusuri lorong lorong kamar pasien, bahkan ia meminta Hans agar mengantarkan Ayu pulang, karena malam ini ia akan menemani sang istri di rumah sakit.
Ucapan selamat menyambut kedatangan Arjuna, tentu saja berasal dari tiap dokter dan perawat yang berpapasan dengannya, walau heran ia hanya bisa tersenyum, mungkin mereka mengucapkan selamat datang padanya, pikir Juna.
Mengabaikan semuanya, ia buru buru menuju ruang VVIP tempat sang istri beristirahat, pelan pelan ia mengatur nafasnya ketika tiba di depan pintu.
“Gak usah grogi Dok, kaya mau ketemu calon mertua aja,” Celetuk suster Oya yang kebetulan melewati Arjuna.
Arjuna hanya nyengir, kemudian menggeser pintu tersebut, orang pertama yang ia lihat adalah Kedua kakak iparnya, Kevin bahkan tengah merebah manja di pangkuan Gadisya.
Kevin dan Gadisya segera tersenyum lebar menyambut kedatangan Juna, Kevin segera bangkit dan memberikan pelukan untuk Juna, “Selamat yah …” Bisik kevin di telinga Arjuna.
“Selamat apa bang?” tanya nya bingung, ia masih terlalu panik dengan berita pingsannya sang istri.
Plak
Kevin memukul punggung Arjuna, “Baru berapa hari cuti, kamu sudah melupakan semua ilmu kedokteran yang kamu pelajari, Emira hamil … apa kamu tak menyadari perubahan istrimu?”
Mulut Arjuna terbuka seketika, ia menoleh kearah Emira yang masih terpejam, dengan jarum yang menancap di permukaan kulitnya.
.
.
.
💙
__ADS_1