
BAB 110
Bu Farida menyeret lengan Voni dengan kasar, hingga berhenti di hadapan Emira, "minta maaf atau mama tak lagi menganggapmu anak!!" Ancamnya pada Voni.
Voni sungguh tak percaya dengan perkataan sang mama, "maaf." Ucap Voni singkat, kemudian Voni mengikuti bu Farida kembali melanjutkan langkahnya, pergi begitu saja, tanpa kata pamit pada para ibu yang lain.
Seketika ruangan senyap seakan tak terjadi apa apa, Emira, Bisma dan mama Yuna menatap kepergian ibu dan anak tersebut dengan pandangan yang entah.
Langkah bu Farida terhenti, ketika di halaman bertemu Arjuna yang baru saja keluar dari mobilnya, pria tampan itu menghampiri bu Farida dan Juga Voni.
“Tante mau kemana? kan acaranya belum selesai?” tanya Juna basa basi, ia hanya menyapa bu Farida, namun enggan menatap Voni.
“Iya .. tante ada perlu.” jawab bu Farida.
Arjuna hanya menatap kepergian bu Farida dan Voni, tak lama mobil bu Farida meninggalkan kediaman keluarga Dewanto.
Arjuna mengangkat kedua pundaknya kemudian berjalan masuk, tak sabar menjumpai kekasih hatinya yang kian hari kian manja karena efek hormon kehamilannya.
Arjuna tiba di ruang tamu tempat berkumpulnya para ibu yang masih sibuk bergosip sesama mereka, terlebih baru saja ada topik hot hot pop yang sungguh sayang untuk di lewatkan, Arjuna hanya ingin lewat, tapi rupanya ia tak bisa, karena mama Yuna menarik dan mengenalkan putra sulungnya pada teman teman arisannya.
“Wah … Juna tambah ganteng aja.”
“Iya calon dokter memang auranya berbeda.”
“Coba belum punya istri, aku jodohin sama anak gadisku,”
“Enak saja, ya sama anak gadisku lah, sudah lulus kuliah, siap jadi ibu, anakmu sih masih bau kencur.”
Tentu saja Juna hanya tersenyum tanpa komentar menanggapi ocehan, dan niatan para ibu ibu tersebut.
Dan entah apa lagi yang para ibu bicarakan, Arjuna tak lagi mendengar apapun, karena tiba tiba bulu kuduknya meremang, rupanya dari kejauhan Emira melotot tajam, baru kali ini Emira terlihat lebih menakutkan dibanding hantu di film film.
Wanita cantik itu berbalik, dan berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar, jelas Arjuna ketakutan, bisa repot urusannya kalau istri merajuk.
Susah payah Arjuna melepaskan diri dari para ibu yang mengerumuninya, kemudian berjalan cepat menyusul sang istri.
“Ciyeee … yang istrinya lagi cemburu.” Ledek Bisma yang sejak tadi menatap aura kecemburuan dan marah dari rona wajah Emira.
“Brisik … awas kamu.”
“Wee …” Bisma membalasnya dengan juluran lidah, senang sekali rasanya, melihat sang kakak gelagapan karena istrinya sedang cemburu, selepas Juna menikah ia terpaksa menahan rasa iri, karena sering melihat sang kakak terlihat mesra bersama istrinya, sementara dirinya merana karena masih menjomblo.
Arjuna membuka pintu kamarnya, syukurlah Emira tak mengunci pintu nya, “Yaaang …” panggil Juna mencari keberadaan Emira.
__ADS_1
Rupanya emira duduk di sofa memeluk lutut nya, Juna memposisikan dirinya di sisi Emira, kemudian mencium pipi sang istri, tapi sejurus kemudian, Emira mendorong wajah Juna agar menjauh.
“Ayangnya mas Juna …” panggil juna dengan suara lemah lembut mendayu sedikit bergelombang.
Emira hanya menoleh sesaat, kemudian kembali membuang muka, "dih gemes deh, kalo lagi cemberut gini makin cantik."
Tak mempan, Emira tiba tiba kesal karena beberapa saat lalu melihat wajah Juna yang terlihat bahagia, ketika para ibu diam diam menyimpan niat ingin menjodohkan anak gadis mereka dengan Arjunanya.
Bukan Arjuna namanya jika ia tak berhasil menggoda istrinya.
Cup
Maka sebuah ciuman ia hadiahkan untuk wanita kesayangannya tersebut, "apa sih cium cium, sebel." Gerutu Emira usai Juna mencium pipinya.
Jemari Arjuna kini bergerak, menyingkirkan helaian rambut Emira yang menutupi telinga, "tau gak kalau kamu ngambek begini, aku jadi pengen 'makan' kamu." Bisik Juna seraya menggeser posisi duduknya mendekati Emira.
"Tuh dibawah banyak makanan, sana kalo mau makan." Usir Emira yang masih enggan menerima rayuan suaminya, padahal ketika tadi melihat Juna masuk melewati pintu depan, ia sudah akan berlari memberikan pelukan erat seperti beberapa hari ini, semenjak ia dinyatakan hamil.
"Ya beda yang, kalo makan yang ini sambil me nd es ah keringetan."
"Iiihhh apaan sih, gak mau." Tolak Emira ketus.
"Yakin gak mau? semalam dan kemarin lusa, kamu yang ngajakin," Kalimat Juna semakin berani, ia bahkan membicarakan topik yang membuat wajah Emira memerah, mengingat dua malam sebelumnya Emira memang terlihat lebih agresif dibanding suaminya.
"Iiiihh mas Juna nyebelin, aku lagi kesel tau…" Emira mendorong tubuh Arjuna hingga pria itu telentang diatas sofa, namun hal itu tak Juna sia siakan, ia justru berpegang pada pinggang Emira, hingga Emira ikut tengkurap diatas d a d a nya, Arjuna tertawa senang karena kini Emira tak bisa meloloskan diri dari pelukannya.
"Kalo iya kenapa? Kamu pikir menyenangkan mendengar suamiku mau di jodoh jodohin sama perempuan lain, sakit, sebel, kesel, pengen banting lemari rasanya." Akhirnya keluar juga apa yang Emira rasakan.
Juna tertawa geli, mendengar ocehan sang istri.
"Kok malah ketawa sih mas?"
"Iya… karena kamu terlalu menggemaskan di mataku," Juna mengeratkan pelukannya.
"Sebel…" Emira memberi pukulan ringan ke d a d a Juna.
"Makasih yang."
"Kok makasih?"
"Iya lah, terima kasih tuan putri, itu kan arti dari nama mu? Terima kasih sudah sudah mencintaiku, rasanya hatiku masih berdebar debar ketika mengingat betapa aku pun mencintaimu, bahkan sudah ada buah cinta diantara kita," Arjuna mengusap kepala dan rambut Emira, sementara tangan yang satunya mengusap punggung Emira.
Emira mendongak, kini menjadikan d a d a Juna sebagai tumpuan telapak tangan dan kepalanya. "Lanjutkan." Pinta Emira yang hatinya mulai meleleh seperti ice cream di musim panas.
__ADS_1
"Sudah selesai yang…" Jawab Juna yang seketika melenyapkan senyum di wajah Emira.
"Ish…"
"Sini cium saja, setelah ini kita harus siap siap untuk penerbangan." Masih di posisi yang sama, Arjuna menarik tubuh Emira, agar wajah mereka sejajar, hembusan nafas mereka bertemu, saling menyapa lewat tatapan mata, menyelami rasa melalui bahasa cinta tanpa kata kata.
Kita tinggalkan mereka, yang tengah dimabuk cinta.
Di padatnya keramaian ibu kota, mobil yang membawa bu Farida dan Voni, masih terjebak, Voni yang masih kesal pada sang mama, hanya diam tanpa suara, Wajahnya ditekuk kemudian dilipat asal, mirip seperti kertas kusut bungkus gorengan, penyebabnya tentu saja karena ia dipaksa meminta maaf pada sang rival.
"Jauhi istri Juna, jangan cari masalah dengannya." Akhirnya bu Farida buka suara.
"Kalau aku gak mau ma?"
"Kamu itu pura pura bodoh, atau beneran bodoh?"
"Mama apa apaan pake bilang bilang aku bodoh." Jawab Voni tak terima.
Plak
Lagi lagi bu Farida memukul lengan Voni, "kalau gitu pake otak kamu untuk berpikir, jangan dipake buat memikirkan gimana caranya mempercantik diri."
"Emang kalo gak punya modal cantik, apa bisa dapat suami keren, ganteng, kaya…?"
Bu Farida menghela nafas, sungguh ingin menangis meraung rasanya, punya satu anak perempuan saja sudah begini tingkah lakunya.
"Dengar yah, usaha yang papamu rintis, baru menunjukkan kemajuan signifikan, kalau kamu berani mencari masalah dengan keluarga Geraldy, bisa bisa Mereka akan menghanguskan kerja keras papamu selama ini,"
"Dari tadi mama kaya yang ketakutan gitu mendengar nama Geraldy, memang Geraldy itu siapa?" Voni semakin meninggikan suaranya.
Dan bu Farida kembali mengelus d a d a, rupanya sujak tadi ia tak menyimak perkataan Emira, "tuan Geraldy adalah pria yang membereskan masalah yang dulu kamu ciptakan, dia bahkan mengeluarkan banyak uang untuk menebus dan membebaskan kalian dari kantor polisi, bahkan membersihkan nama kalian dari daftar hitam, tapi setelah itu dia mengatakan pada kita, jangan lagi mencari masalah dengan keluarga mereka, kalau tidak keluarga kita bisa dia singkirkan begitu saja!!! Kamu paham tidak?"
"Lalu?"
"Dan ternyata kamu berulah lagi dengan Adiknya tuan Geraldy,"
"Siapa adiknya si Geraldy itu?"
"Tentu saja istrinya Juna !!!" Lagi lagi bu Farida memaki kebodohan anak gadisnya tersebut.
.
.
__ADS_1
.
💙