CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB109


__ADS_3

BAB 109


“M … Mi … Mira?”


“Iya M I R A …” jawab emira tenang sambil memainkan kuku kuku tangannya yang tertata rapi, mengingat profesinya saat ini, ia tak mungkin memelihara kuku, berbanding terbalik dengan Voni, yang kuku tangannya tampak glowing berwarna warni, sangat fashionable, karena ia bekerja di salah satu butik perhiasan mewah. 


“Jangan bilang kamu lupa padaku.” Emira tersenyum puas melihat wajah Voni yang tampak terkejut mendengar pengakuannya. 


“Gadis culun yang sering kamu perlakukan kasar, bahkan dengan teganya kamu dan teman temanmu mengeroyok nya.”


DUAARRRR 


Lagi lagi Voni menggeleng tak percaya, “Tidak … kamu pasti bukan dia.” Voni masih berusaha keras mengelak. "Kalian bagai bumi dan langit."


“Oh ayolah, gak seru kalo belum apa apa, kamu sudah lupa padaku, kamu belum pikun kan?” tanya Emira dengan senyum ejekan. “kebetulan sekali, kita bertemu di sini, karena aku pun ingin berterimakasih padamu.”


“Berterima kasih untuk apa?”


“Obat penenang mu malam itu,”


Glek 


Voni terkejut, bahkan mulai gugup karena Emira mengetahui perihal obat penenang, yang hari itu ia beli untuk sang mama sebelum mendatangi acara reuni, dan ia mencuri 2 kapsul obat penenang tersebut, untuk memuluskan niat jahatnya. 


“A … a … aku tak mengerti apa maksudmu.”


"Oh iya?"


"Tentu saja," Kilah Voni, dengan wajah pucat, lagi pula ia hanya mencampur obat penenang, bukan narkotika atau racun serangga, jadi itu bukanlah sebuah kejahatan. 


Emira merasa diatas angin, karena lawannya mulai gelagapan.


“Kamu pikir, tak ada yang mendengar rencana jahat kalian malam itu?” desis Emira. 


“Sudah ku bilang aku tak menerti apa maksudmu, jadi jangan mengada ada, berbicara seolah olah kamu memiliki bukti bahwa aku mencampurkan obat penenang ke makanan dan minuman mu.” 


Emira bertepuk tangan senang, “Ya … aku tak bicara apa saja yang kamu lakukan dengan obat penenang itu padaku, tapi kamu malah membuka kedokmu sendiri.” Emira berjalan semakin dekat, agar suaranya tak terdengar oleh orang lain. 


“Jadi sekarang kamu mengakui perbuatanmu?”


Voni terdiam, ia hanya menatap Emira dengan wajah pucat, belum ingin mengakui perbuatannya. 

__ADS_1


“Jadi kamu masih mengelak? haruskah aku panggil kemari orang yang mendengar jelas kalimat kalimatmu, serta rencana jahat kalian padaku?” Emira menyingkirkan rambut yang menutupi telinga Voni. 


“Sejujurnya aku ingin berterima kasih padamu, berkat keisenganmu malam itu aku dan mas Juna menghabiskan malam di hotel.” 


Lagi lagi Emira menanti ekspresi Voni, "aku tak perlu menjelaskan apa yang terjadi kan? Pasti Kamu sudah bisa menyimpulkan sendiri apa yang dilakukan lelaki dan perempuan didalam sebuah kamar hotel." 


Voni mengepalkan tangannya, bertahun tahun ia mencintai Arjuna, alih alih bermalam bersama di hotel, berbicara dengan Arjuna saja, hanya bisa sesaat, karena Arjuna selalu memasang benteng yang tinggi diantara mereka, “M u r a h a n …” Desis Voni.


“Oh iya? kalau aku kamu sebut murahan, lalu bagaimana denganmu yang sengaja mencampurkan obat penenang ke makanan ku? Hingga membuatku berakhir semalam di kamar hotel bersama mas Juna?” Emira sudah gatal ingin menjambak rambut Voni,  tapi sekuat tenaga ia tahan, demi bayi dalam kandungannya, dan lagi lengan kanannya masih dalam masa pemulihan, salah sedikit saja, bisa membuat kariernya sebagai dokter bedah tamat begitu saja. 


“Jangan asal tuduh … aku sama sekali tak tahu apa yang kamu bicarakan.”


“Oh iya? perlukah aku bawakan rekaman CCTV dari Ballroom hotel malam itu?” perbuatanmu terekam jelas sekali.”


Voni tersenyum, “Itu tak mungkin, berpikirlah dengan benar, malam itu suasana ruangan remang remang, jadi mustahil jika wajahku terekam CCTV.”


Emira mengangguk seraya melipat kedua tangannya di dada,  “tapi ada satu hal lagi yang belum kamu ketahui, Hotel kami memiliki kamera CCTV terbaik, mampu merekam dalam suasana terang maupun gelap,”


Semakin terkejut Voni mendengar penjelasan Emira, telinga pasti tak sengaja mendengar kalimat ‘HOTEL KAMI’.


“Jika kami mau, dengan mudah kami melaporkan perbuatanmu pada polisi, tapi aku menahan diriku, karena aku hanya mengambil hikmah dari kejadian ini, aku bahkan bisa bersama lelaki yang kucintai dan mencintaiku, tapi … aku ingatkan sekali lagi, jangan coba coba mengusik putri kesayangan Alexander Geraldy …”


Emira dan Voni serentak menoleh ke sumber suara, Bu Farida berdiri tak jauh dari tempat Emira dan Voni berdebat, wajahnya pucat pasi, dan tangannya gemetaran. 


Voni segera mendekati sang mama yang mendadak lemas terduduk di lantai usai mencuri dengar pertengkaran Emira dan Voni.


“Ada apa ini?” ujar mama Yuna yang tiba tiba datang menghampiri pusat keributan.


“Jeng Farida gak papa?” mama Yuna ikut berlutut, kemudian membantu bu Farida duduk di sofa.


“Bisma … ambilkan air hangat.”


“Iya mah …” Bisma bergegas ke dapur, kemudian kembali dengan membawa pesanan sang mama.


“Maaa … jangan nakut nakutin aku dong ma.” pekik Voni mulai gelisah, khawatir asma sang mama kambuh.


Bu Farida mencoba bernafas secara normal, tak ia sangka … ia kembali berhadapan dengan salah satu anggota keluarga Geraldy, rasanya hingga saat ini ia masih ketakutan kala mengingat ancaman Andre saat itu, ketika mereka sama sama berada di kantor polisi.


Andre berbaik hati tak melanjutkan kasus Voni dan teman temannya, pria itu bahkan membayar uang tebusan agar Pelaku pengeroyokan Emira bisa bebas tanpa masalah, atau catatan hitam di kepolisian. 


Malam itu wajah Andre terlihat dingin, terlebih ketika mengatakan ancamannya, bahwa hidup mereka tak akan tenang jika sekali lagi berani mencari masalah dengan anggota keluarga geraldy, tanpa mencari masalah pun, bu Farida sering merasa tak tenang, dan kini tak ia sangka, di saat usaha yang dirintis sang suami mulai berkembang pesat, Voni kembali mencari masalah dengan putri Alexander Geraldy.

__ADS_1


Bisma mengulurkan air hangat, dan bu farida menyesapnya sedikit, namun tentu saja itu tak membuatnya tenang, karena ia masih kepikiran dengan ulah Voni.


Plak 


Plak 


"Sakit… Voni salah apa?" 


Protes Voni ketika bu Farida memukul lengannya berkali kali, "minta maaf pada istrinya Juna!!!" Perintah bu Farida. 


Yah harusnya sejak dulu bu Farida menyuruh Voni mengakui kesalahannya, dan meminta maaf, bukannya malah menyembunyikan seperti tak terjadi apa apa, keangkuhan serta kesombongannya beberapa saat yang lalu kini seakan berbalik menamparnya. 


Bu Farida melawan rasa sesak yang semakin menghimpit dada nya, ia menghampiri Emira yang masih berdiri diam dengan wajah datar, bu Farida menggenggam kedua tangan Emira, ia bahkan tak peduli kini menjadi tontonan para ibu arisan sosialita yang berada di sana, "nak… maaf yah, tolong maafkan kesalahan anak tante, tante janji setelah ini, anak nakal ini tak akan lagi berani mengusik hidupmu dan Juna."


"Oh… eh… i… iya tant…" Jawab Emira tak enak, ia berharap Voni lah yang meminta maaf, tapi justru sang mama yang mewakilinya. 


Wajah voni merah padam mendengar sang mama meminta maaf atas namanya, "maaa… kita tidak bersalah, buat apa minta maaf." 


Sriiing 


Tatapan setajam pedang, kini diterima Voni, belum pernah ia melihat mama nya semarah itu terhadap dirinya. "Kamu memang tidak berguna sama sekali, menyesal sekali selama ini mama memanjakanmu, bahkan menutupi semua kenakalan mu semasa remaja."


Bu Farida berbalik, tak bisa lagi ia berada di ruangan ini, karena semakin lama ia akan semakin dikungkung rasa malu, terlebih diantara teman teman arisannya. "Jeng Yuna, aku pamit pulang yah,"


"Loh loh loh kok pulang sih? Acaranya belum selesai."


Tapi bu Farida hanya menggeleng lemah, "maaf… semoga arisan berikutnya aku bisa ikut sampai selesai."


Mama Yuna hanya mengangguk, kemudian berlanjut cipika cipiki. 


Bu Farida menyeret lengan Voni dengan kasar, hingga berhenti di hadapan Emira, "minta maaf atau mama tak lagi menganggapmu anak!!" Ancamnya pada Voni. 


Voni sungguh tak percaya dengan perkataan sang mama, "maaf." Ucap Voni singkat, kemudian Voni mengikuti bu Farida kembali melanjutkan langkahnya, pergi begitu saja, tanpa kata pamit pada para ibu yang lain. 


Seketika ruangan senyap seakan tak terjadi apa apa, Emira, Bisma dan mama Yuna menatap kepergian ibu dan anak tersebut dengan pandangan yang entah. 


.


.


💙

__ADS_1


__ADS_2