
BAB 45
Sunyinya Geraldy Kingdom seketika sirna dengan kehadiran para pasukan Geraldy kecil, kehadiran kelima cucu Alexander Geraldy tersebut, memang selalu berhasil mencairkan suasana.
“Oma …”
“Oma …”
“Oma …”
Riuh suara teriakan mereka ketika melihat sang oma sedang santai di ruang tengah.
Si cantik Luna langsung mengambil posisi aman di pangkuan sang oma, dan anehnya Darren tak protes akan hal itu, tapi jika sang Opa yang sedang bermanja di pangkuan oma kesayangannya dia akan langsung murka, hingga berakhir barter yang kerap merugikan dirinya, karena opa Alex akan meminta upeti darinya, kadang berupa coklat, permen, bahkan mainan kesayangannya.
Oma Stella memasang senyum terbaiknya, menyambut kelima cucu dan kedua menantu perempuannya tersebut, mereka semua adalah sumber kebahagiaan Alex dan Stella kini, apalagi yang mereka harapkan, materi sudah berlimpah, anak anak sudah dewasa dan mapan, penerus keluarga sudah ada di depan mata, hanya kebahagiaan yang mereka inginkan sampai maut datang menjemput.
Peluk, cium, serta usapan sayang tak pernah ia lewatkan kala menyambut cucu cucu nya.
“Oma … sedang apa?” tanya Luna tanpa basa basi.
“Oma sedang santai,”
“Oma pasti lelah setelah merawat aunty yang sedang sakit?” tanya Darren dengan tatapan sendu.
“Oma aku pijat yah?” Dean berinisiatif, cucu alex yang satu ini paling pandai merayu sang oma.
#Awas … bibit daddy Andre menular.
Serbuan pertanyaan itu membuat oma Stella tersenyum haru, cucu cucu nya yang manja, ternyata anak anak yang penyayang dan penuh perhatian.
“Oma … bolehkah kami mengunjungi aunty?”
“Iya oma … kalau aunty sakit, siapa yang akan menemani kami bermain kembang api?”
“Tidak ada yang menemani kami berlatih bela diri.”
__ADS_1
Kelima bocah itu menatap sang oma dengan puppy eyes mereka, jika sudah demikian hati oma mana yang tega menolak.
“Baiklah Dokter Oma izinkan kalian menemui pasien, tapi … kalau aunty meminta kalian keluar, kalian tidak boleh marah.”
“Baik oma.” Jawab mereka serempak.
Kemudian kelima bocah itu berlari mendatangi kamar Emira.
.
.
.
Emira sedang duduk di balkon kamar nya usai membersihkan diri, segar rasanya setelah dua hari tak berani banyak berinteraksi dengan air, karena ia akan langsung menggigil usai keluar dari kamar mandi.
Akhirnya hari ini ia berani membuka ponselnya, setelah beberapa hari ia abaikan di dalam tas nya
Ratusan panggilan tak terjawab serta ribuan pesan via aplikasi chat, menunggu untuk disapa oleh si pemilik ponsel, diantara sekian banyak pesan dan panggilan, tentu hanya pesan dan panggilan dari Arjuna yang membuat nya ingin marah dan kembali menangis, Emira menarik nafas nya dalam dalam, menepuk nepuk pelan rasa nyeri yang menghinggapi dada nya, bahkan setelah beberapa hari berlalu, bayangan malam kelam itu tetap tak bisa ia ingat, ia hanya merasakan dampak sesudah kejadian itu, sungguh miris rasanya, merasa tidak melakukan apa apa, tapi ia ikut merasakan akibatnya.
Sementara itu, jauh di luar gerbang utama Geraldy Kingdom, Arjuna baru saja menghentikan mobil nya, setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya ia memutuskan mengunjungi Emira, walaupun hati nuraninya memaki tanpa henti, Arjuna hanya menganggapnya angin lalu, ia akui ia bren gsek, karena setelah menodai seorang gadis, ia kini justru merindukan gadis lain.
“Masuk gak yah? masuk gak yah?” ujarnya seorang diri.
‘Emang kalo udah masuk lo mau ngapain Juna?’ tanya hati nurani nya.
Juna pun kebingungan menjawab, rasanya otak nya sudah bergeser, dan kewarasannya mungkin juga sudah semakin berkurang akibat memikirkan dua orang gadis di waktu yang bersamaan.
“Apa gue pulang aja yah? apa kata dokter Kevin dan dokter Gadisya kalau gue beneran mendatangi adik mereka, pake bawa bunga sama coklat lagi.” Arjuna melirik setangkai tulip berwarna Biru serupa dengan warna mata Emira, serta sekotak coklat dari salah satu outlet penjual coklat favorit nya.
“Mira … maaf kalau aku mengkhianati perasaanku padamu …” Lirih Juna setelah sekian menit bertarung dengan perasaannya sendiri.
Juna keluar dari mobil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, serta memeriksa kembali jeans dan kemeja casual nya.
Arjuna segera ke pos security, kemudian salah seorang petugas mengantarnya membelah luasnya halaman Geraldy Kingdom, semakin dekat menuju rumah utama, semakin berdebar pula perasan Juna, bahkan rasa bahagianya keluar tanpa tahu malu sedikitpun, rasa yang seharusnya terlarang mengingat ia sudah menetapkan pilihan hatinya.
Arjuna langsung menuju rumah, karena security yang bertugas mempersilahkan dirinya untuk langsung ke pintu penghubung yang akan membawanya ke ruang tengah.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Arjuna di suguhi foto foto bahagia Keluarga Geraldy, mulai dari dua foto pernikahan berbeda, yang cukup mengusik rasa penasaran Juna, serta jarak kelahiran yang terpaut sangat jauh antara Emira dengan kedua kakak kembarnya, tapi ya sudahlah itu bukan urusannya, Di dinding itu ada banyak sekali momen kebersamaan Alexander dan Emira, terlihat jelas sekali bahwa Emira memang putri kesayangan tuan besar Alexander Geraldy.
Riuh suara anak anak menyambut kedatangan Juna, kelima bocah itu sedang berkejaran keliling ruang tengah, dengan seseorang berpiyama yang seakan akan tak ingin kehilangan tangkapan empuk.
Tapi tunggu …
Apa aku sedang salah lihat …
Itu …
Dia kan …
Tidak salah lagi…
Brak !!! paper bag berisi coklat dan bunga tulip itu lepas begitu saja dari genggamannya.
“Mira …”
Suara Juna lirih, sekujur tubuh nya bergetar, ia bahkan tak mampu menelan ludah nya sendiri …
Gadis yang beberapa hari ini menghantui pikiran dan hati nya, ternyata ada di depan mata nya, bahkan dia adalah …
.
.
.
nah loh …
.
.
Ramaikan kolom komentar gaeess... biar othor gak kesepian...
🧡🧡
__ADS_1