CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 56


__ADS_3

BAB 56


"Aku serius dengan kata kataku tadi,"


"Bagaimana  kalau aku tidak mau?"


"Tidak ada alasan kuat bagi kita untuk terus bersama." Emira mengemukakan apa yang ia rasakan, dulu ia memang begitu mengidolakan Arjuna, tapi kini ia tak tahu seperti apa perasaannya. 


"Termasuk malam itu?"


"Yah, termasuk malam itu, jaman sekarang banyak yang menganggap hubungan intim sebagai hal biasa, bahkan mereka melakukannya dengan bebas tanpa ikatan?"


"Apa kamu salah satu penganut free*** "


Emira melotot tajam, "sembarangan!!! Jangan asal bicara," Sembur Emira tak terima, "kamu…"


"Apa?? Aku kenapa??" Tanya Juna penasaran dengan lanjutan kalimat Emira. 


"Yang pertama bagiku …" Lanjut Emira lirih, yang kemudian di iringi dengan senyum dari bibir Juna. 


"Aku tahu kok, aku melihat noda merah itu," 


Emira kembali menunduk memainkan jari jemarinya. 


"Jika ku katakan kalau kamu juga yang pertama bagiku, apa kamu percaya?" 


"Bisakah aku minta kesempatan, membuatmu jatuh cinta padaku?" Lanjut Juna. 

__ADS_1


Emira menatap wajah Suaminya, kini mereka berhadapan, "aku sungguh sungguh mencintaimu, aku bahkan bisa membuktikan padamu dan pada orang tua kita, bahwa malam itu aku pun tak bersalah, bukan aku yang merencanakan malam itu, tidak kah itu menjadi alasan kuat untuk menerima kehadiranku di hidupmu?"


Lama mereka terdiam, Emira mencoba mencari cari celah kebohongan di balik tatapan Juna, tapi tak ia temukan di sana. "Ya… tapi tetap saja kamu salah, karena kamu yang membawaku ke kamarmu, jadi…walau kamu menyodorkan bukti hasil laboratorium, di mataku kamu tetap bersalah."


"Oke… aku akui itu, aku sungguh merasa bersalah untuk itu, karena itulah aku disini, untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku, aku menikahimu, walau kamu menolak."


Emira melipat kedua tangannya, pandangannya mengarah ke luar jendela. 


"Jadi bagaimana?" Tanya Juna lagi. 


Tapi Emira masih terdiam tak ingin menjawab. 


"Aku anggap diammu adalah jawaban," Pungkas Juna, yang mulai bersiap menjalankan mobilnya. “jadi selama masa menunggu, aku ingin kita menjalankan hak dan kewajiban kita masing masing, sebagai suami aku akan memberikan semua hak mu, dan aku harap kamu pun menjalankan semua kewajibanmu sebagai istriku," 


"Apa apaan ini, kenapa kamu jadi sok mengaturku, terserah aku, mau menjalani hidupku seperti apa." Emira kembali protes,  menerima pernikahan ini saja ia belum ikhlas, dan sekarang lelaki ini bahkan sudah membicarakan hak dan kewajiban. "Setelah kejadian itu, hidupku yang indah tiba tiba gelap, hari hari bahagiaku mendadak sirna, dan kini aku harus terjebak pernikahan serba dadakan bersamamu, ini tak mudah bagiku." Akhirnya Emira mengeluarkan isi hati nya, benar adanya jika hidupnya selama ini terasa indah, putri kesayangan salah satu konglomerat negeri ini, cantik, pintar, semua angan angannya terwujud hanya dengan melambaikan jari tangannya, berlimpah kasih sayang, namun dibalik semua kemudahan yang ia miliki, sifat menyukai tantangan itulah, yang membuatnya ada di posisinya saat ini. 


"Aku tahu, aku pun tak jauh beda denganmu, tapi kita harus kembali pada sebuah kenyataan, tak mungkin juga kita menghindari pernikahan yang sudah terlanjur ini, dan sejak saat ini, semua yang terjadi bukan hanya hidupmu sayang, tapi ini tentang hidup kita,"


"Oke jika itu maumu, kita lakukan perlahan, dimulai dengan memberikan nafkah lahir, aku juga tak keberatan memberimu nafkah batin, jika kamu menginginkannya." Arjuna sengaja menambahkan kalimat terakhir demi melihat reaksi istrinya. 


Emira kehabisan kata kata menghadapi kenarsisan Arjuna, dengan pedenya ia membicarakan nafkah batin, membayangkan tinggal serumah saja sudah membuat rasa jantung Emira nano nano, pria ini justru blak blakan membahas urusan ranjang. 


"Bisa gak kalau nafkah batin di hilangkan?"


"Ya gak bisa lah, itu kebutuhan dasar pasangan yang sudah menikah, dan aku tak mau munafik dengan sok mengatakan tak butuh akan hal itu, aku bersedia menunggu jika kamu masih belum siap." Wajah Juna serius kala membicarakan hal itu, ia benar benar mulai menjalankan perannya sebagai pemimpin rumah tangga. 


"Deal??" Juna mengulurkan tangannya, 

__ADS_1


"Aku belum bilang apa apa? Sudah minta deal aja." Protes Emira. 


"Maaf, lalu apa yang kamu inginkan?" Tanya Juna serius. 


"Rahasiakan pernikahan ini."


Arjuna mengacak rambut nya yang kini mulai berantakan, kemudian ia menempelkan telapak tangannya di kening Emira, "apaan sih, aku udah sembuh."


"Aku hanya ingin memastikan saja, barangkali ada yang salah dengan isi kepalamu,"


"Gak penting."


"Justru ini yang paling penting,  kenapa kamu suka sekali memainkan peran rahasia, apa kamu sebenarnya agen rahasia FBI? sampai sampai suka sekali menyimpan rahasia, padahal karena rahasiamu, kamu sendiri yang sering kena dampak buruk nya."


Emira merenungi kalimat Juna, dulu karena culun ia sering di bully Voni dan teman temannya, karena itu pula, ia jadi merasakan dinginnya kantor polisi, walau hanya beberapa jam saja, ia pernah hampir di lecehkan, dan tragedi ini juga bermula ketika ia sedang berada dalam penyamaran. 


"Bukan itu maksudku, tapi kita tak perlu membuat pemberitahuan tentang status kita, biarkan saja orang orang tahu dengan sendirinya,"


"Baiklah, semoga keinginanmu tak menimbulkan masalah di kemudian hari."





😁😁

__ADS_1


jangan pantang menyerah mas Junaaa... sesungguhnya othor hanya ingin menggoda hatimu...


💜💜


__ADS_2