
BAB 60
Reza mengangkat kedua tangannya, tak ingin lagi ia mendengar penjelasan Emira, “Ayo Le… kita pulang.”
Reza berlalu pergi bersama Lea, ‘Bahkan menikah pun kamu tak mengabariku, aku tak menyangka kamu bisa setega ini padaku’, monolog Reza.
Sementara Emira masih diam mematung, dengan kasar ia melepaskan pelukan suaminya, seakan ingin menyalah kan kedatangan Arjuna beberapa saat yang lalu.
Sepasang pengantin baru itu berdiri dengan jarak aman di dalam Lift, Reza memang sudah pergi beberapa saat lalu, tapi ketegangan diantara Arjuna dan Emira masih kental terasa.
"Dia lelaki yang tempo hari ke rumahmu kan?"
"Iya."
"Sedekat apa hubungan kalian?"
"Lebih dari sekedar teman biasa."
"Apakah dia kekasihmu?"
"Bukan."
"Apakah dia lelaki yang membuatmu enggan menerima perasaan ku?" Tembak Juna secara beruntun, langsung pada pokok permasalahan, ia tak suka berbelit belit.
"Bukan, dan berhentilah berpikiran buruk tentang Reza, dia tidak sepicik itu."
"Apa aku salah jika kini aku tak menyukai keberadaannya di hidupmu?"
Emira hanya diam, terlalu lelah, seharian ini meladeni omongan Juna, dan kini semakin lelah menghadapi dua lelaki yang sama sama sedang cemburu, "terserah lah, kamu boleh berpikir apapun, tentangku dan Reza, bahkan mungkin penjelasanku akan kamu bantah lagi, dan begitulah… perdebatan ini tak akan pernah selesai,"
Pintu Lift terbuka, Emira melangkah lebih dulu, disusul kemudian Arjuna yang berjalan cepat mencoba menyusul langkah sang istri. "Tunggu aku belum selesai bicara yang."
"Jika kamu masih ingin menanyakan perihal Reza… lebih baik kita akhiri di sini, karena aku yakin pembicaraan ini tak akan pernah menemukan ujungnya." Emira menatap Arjuna tajam, ia benar benar lelah, dan sekarang setidaknya ia ingin melepaskan beban berat nya sesaat, kembali fokus pada para pasien, semoga malam ini tak ada masalah serius.
__ADS_1
"Tunggu dulu sayang, aku bukan mau membicarakan masalah itu…"
Pembicaraan mereka tak lagi terdengar ketika keduanya memasuki lorong menuju ruang ganti.
Sementara itu, sepasang suami istri yang sejak tadi memperhatikan perdebatan Emira dan Arjuna, kini terdiam. "Aku akan menyusul mereka."
Mereka berdiri di samping tombol lift, jadi Arjuna dan Emira bahkan tak menyadari ada yang menelinga pembicaraan mereka.
"Mau apa?" Tanya Kevin, seraya menggenggam tangan Gadisya.
"Menjelaskan pada Arjuna, bahwa Emira dan Reza tak pernah punya hubungan serius."
"Kenapa?"
"Karena yang sejak dulu di cintai Emira adalah Arjuna, dan Reza tahu akan hal itu."
"Apa?" Ekspresi Kevin seketika berubah. "Sejak kapan?" Tanya Kevin masih dengan wajah shock.
Kevin hanya menarik nafas perlahan, mendengar pengakuan jujur Gadisya, "semua sudah terjadi, aku yakin Arjuna memang lelaki terbaik untuk Emira, karena itulah Tuhan berbaik hati membuat mereka berjodoh."
"Karena itulah aku harus mendamaikan mereka, ini bahkan belum genap dua puluh empat jam bang, bagaimana jika mereka mengambil keputusan fatal dalam keadaan marah? …" Gadisya terus mencurahkan kegelisahannya.
"Tenang sayang, Arjuna tidak seperti itu, dia cukup bijak menyikapi keadaan, dan lagi kita tak boleh terlalu mencampuri urusan mereka,"
"Tapi tetap saja… aku kepikiran bang."
"Masalah… akan mendewasakan pemikiran setiap pasangan, mereka akan terus berusaha mendamaikan diri, mencari jalan tengah, hingga akhirnya sama sama nyaman dan mengerti dengan keadaan pasangannya masing masing, itulah kenapa tuhan memberikan masalah untuk para pasangan baru."
Gadisya pun mengangguk pasrah, 'yah semoga saja benar demikian', harap Gadisya dalam hati.
Sementata itu, di ruang ganti, Arjuna bahkan mengikuti Emira ke bilik ganti para dokter perempuan, "mau ngapain ikut ke sini? Ini tempat ganti perempuan." Tegur Emira.
"Kalau kamu gak mau menjelaskan padaku, aku gak akan bergeser sedikit pun dari sisi mu." Jawab Arjuna cukup menyebalkan.
__ADS_1
"Apa lagi yang harus ku jelaskan?" Tanya Emira lelah.
"Perasaanmu … pada Reza."
"Lagi?"
"Ya karena aku belum puas dengan jawabanmu."
Emira menghela nafas, "aku lelah, sungguh, bisakah kita kembali ke perjanjian awal, kamu bilang akan menunggu ku kan?"
"Iya aku akan menepati janjiku."
"Reza… adalah salah satu bagian yang harus kamu tunggu."
"Kamu bilang dia bukan kekasihmu."
"Memang bukan, tapi kan aku tak bisa menghalangi perasaan Reza padaku, aku dan Reza sudah seperti saudara, karena itulah aku menyebut dia lebih dari sekedar teman, aku pernah melewati banyak hal indah dengannya, ia mengerti semua tentang hidupku, tadi pagi kamu dengar sendiri kalimat menyakitkan yang diucapkan daddy, dia lelaki terhebat dalam hidupku, cinta pertamaku, tempat aku bergantung sejak kecil, tapi tadi pagi tiba tiba daddy mengatakan padaku bahwa tempatku bukan lagi di sisinya, melainkan di sisimu, daddy bahkan mengirimkan barang barangku, tanpa aku tahu," Mata indah itu mulai basah, " Aku merasa seolah olah sudah dibuang oleh keluargaku sendiri, lalu melihat sikap dingin Reza, membuatku merasa jatuh sekaligus tertimpa tangga."
Arjuna merengkuh Emira, menyesal sekali rasanya ia mendebat perihal Reza.
"Maaf …" Arjuna mengusap lembut kepala Emira, menciumi rambut dan puncak kepala wanitanya tersebut, "aku sudah berjanji akan menunggu, dan ternyata aku mengingkari janjiku.”
.
.
.
Jika bingung dengan sikap Emira, jawabannya hanya satu, Emira belum pernah melihat Juna bersama seorang gadis, alias belum pernah cemburu. apa jadinya kalau Nyonya muda Arjuna ini sedang cemburu.
😁😁
💖💖
__ADS_1