CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 42


__ADS_3

BAB 42


⛳Terima kasih buat yang berpartisipasi menjawab, othor senang sekali, atensi kalian penyemangat buat othor, ini hadiah yang othor janjikan, karena ada beberapa yang berhasil menjawab dengan benar. ⛳


Setelah memarkir mobil kesayangannya, Emira berjalan memasuki rumah besar yang dihuni kedua orang tua nya, wajahnya masih pucat dan lemas walau sudah beristirahat seharian, itu semua karena tak sedikit pun ia bisa memejamkan mata, ia hanya menghabiskan seharian kemarin dengan merenungi nasib hidupnya, mungkin takdir hidupnya kedepan tak akan lagi sama, hari hari indahnya tiba tiba terasa suram. 


Terpikir juga untuk kembali ke Singapura, kembali melanjutkan masa residen nya di sana dan demi menghindari Juna, tapi tentu saja, lari tak akan menyelesaikan masalahnya saat ini. 


"Baru pulang sayang?" Suara lembut mommy Stella membuyarkan lamunan Emira. 


"Iya mom…" Jawab Emira lesu. 


Melihat putrinya tak seperti biasa membuat mommy Stella khawatir, wanita yang mulai beranjak senja itu mendekati Emira kemudian menempelkan telapak tangannya di kening Emira, "sedikit demam, sejak kapan kamu sakit? Kenapa tak istirahat?" Tanya mommy Stella khawatir. 


Jika saja ia tak takut, atau jika saja ini hanya masalah perselisihan biasa, Emira sungguh Ingin menangis keras di pelukan sang mommy, tapi masalah ini cukup membuatnya berpikir keras hingga ia ketakutan sendiri dengan apa yang kelak terjadi di masa depan, dan kini berefek pada kesehatan fisiknya. 


Emira memeluk pinggang sang mommy, sungguh nyaman rasanya membenamkan wajahnya di pelukan hangat wanita yang telah melahirkannya dengan susah payah tersebut, mommy Stella tak pernah meluapkan amarahnya secara kasar dan brutal, tapi sebaliknya mommy Stella hanya akan diam ketika sedang marah, tapi justru itulah yang paling ditakuti daddy Alex, diamnya sang ratu, menandakan adanya suatu masalah, diamnya sang ratu menandakan sebuah amarah besar, yang disusul badai mengerikan, berujung sebuah penantian dan pencarian panjang. Karena ini lah, Mommy Stella adalah satu satunya tempat Emira bermanja, sementara daddy Alex adalah tempatnya berlindung. 


Sekuat tenaga Emira menahan air matanya, agar tak tumpah, mommy Stella pun mendekap erat tubuh Emira, mengusap kepala dan rambut Emira, cukup lama Emira berdiam di sana, menikmati hangat nya aroma tubuh sang mommy, "istirahatlah… nanti mommy bawakan sup hangat ke kamar mu,"


Dengan berat hati Emira melepaskan pelukannya,  kemudian mengangguk. 





Arjuna berjalan cepat memasuki restoran tempat ia janji makan malam bersama keluarga nya, setibanya di salah satu sudut meja, ia heran karena yang ada di sana hanyalah mama Yuna dan Bisma.


Senyum lebar menghiasi wajah mama Yuna, melihat kedatangan putra sulungnya, ia segera berdiri dan memeluk erat Arjuna, kemudian ia menarik telinga Juna, “Bocah nakal, mama nya datang jauh jauh dari London, bukannya disambut, malah ditinggal Reuni, trus bablas ga pulang pulang sampe jam segini.” Sembur mama Yuna gemas.

__ADS_1


“Aaaaa … sakit mah …” Keluh Juna.


“Biarin, biar tahu rasa …” jawab mama Yuna yang kemudian melepas telinga Juna.


Juna meringis menggosok telinganya yang kemerahan, akibat ulah mama Yuna. 


“Maaf mah, Juna sibuk banget, hari ini saja Juna harus bertugas sendiri, karena rekan Juna tiba tiba tak bisa di hubungi.” Jawab Juna apa adanya.


Tak tega juga mama Yuna melihat wajah lelah Juna, ia mengusap pipi dan rambut Juna, “kasihan … anak mama sampai kusut gini wajahnya, bagaimana kalau tak laku dipasaran?” 


“Maaa !!” kini Arjuna yang protes.


Tapi mama Yuna terkikik geli mendengar protes dari sang putra.


“Memangnya Juna barang dagangan.” Gerutu Juna, yang disambut dengan tawa yang coba disembunyikan oleh Bisma.


“Dijual juga gak laku kali mah.” kini Bisma ikut ikutan.


Serbet makan langsung mendarat di wajah Bisma, tapi pemuda itu malah balas menjulurkan lidah.


“Sudah sudah, ayo cepet pesen makan, perut mama sudah pengen keroncongan rasanya,”


“Ayah mana Mah?” tanya Juna sambil membolak balik buku menu.


“Biasa, Ayahmu langsung di hadang dewan direksi, ada rapat tahunan.”


Juna hanya bisa menghembuskan nafas, mendengar penuturan mama Yuna, begitulah ayah Satrio, selalu sibuk jika itu masih terhitung hari kerja.


“Untung saja mama berhasil membujuk Ayahmu untuk kembali ke Indonesia, kalau tidak, mama bisa mati kesepian, karena kalian pun meninggalkan mama sendirian.” keluh mama Yuna, yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh kedua putranya.


Obrolan terus berlanjut hingga makan malam mereka usai, “Ayo pulang, habis makan gini mama jadi ngantuk,”

__ADS_1


“Maaaa … habis makan malam jangan langsung tidur, lama lama mama bisa diabetes loh,” Juna mengingatkan.


“Tenang saja … mama sudah tahu kok, kasih jarak dua atau tiga jam kan?”


“Good … gak sia sia mama punya anak seorang dokter, ternyata pinternya anak mama sudah nular.” Puji Juna pada dirinya sendiri.


“Iyo iyo … pak dokter, ayo … kapan calon mantu mama di bawa ke rumah?” tanya mama Yuna tiba tiba.


“Emp … itu … anu … mah.” jawab Juna gugup, sesaat lalu ia bisa melupakan kegelisahannya karena kepergian Mira tanpa pesan, kini ia jadi teringat gadis manis tersebut, lengkap dengan peristiwa kelam kemarin malam.


“Mah … Bisma ke toilet dulu yah, mules nih.” pamit Bisma.


Tiba tiba Juna pun mendapatkan ide, “Juna ke kasir dulu ya mah, malam ini Juna yang traktir,” seringai Juna, tanpa menunggu jawaban mama Yuna, Arjuna segera berlalu menuju kasir guna melakukan pembayaran.


Mama Yuna pun memilih berdiri, wanita yang masih terlihat mempesona di usia paruh baya nya itu, berjalan menuju pintu keluar restoran menikmati angin malam sambil menunggu kedua putra nya.


“Apa kabar Yuna … lama tak berjumpa.” 


.


.


.


sudah tahu jawabannya?


selamat istirahat gaeess


sarangeeee


❣️❣️

__ADS_1


__ADS_2