
BAB 37
Hingar bingar musik di putar, acara reuni salah satu SMU tersebut berlangsung lancar dan meriah, usai para mantan kepala sekolah berdiri memberikan sepatah dua patah kata, serta penyerahan cindera mata, acara reuni berlangsung bebas, mereka berpelukan dan tertawa, saling bertukar cerita, berbagi kisah selama berpisah dan akhirnya kembali bersua dalam keadaan sehat.
Aura yang terpancar pun jauh berbeda dengan aura kala mereka masih di bangku SMU, kini mereka bersinar cantik, tampan, dengan tampilan mentereng sesuai dengan budget yang kini berhasil mereka kantongi setiap bulan dari profesi mereka saat ini, para pria terlihat gagah, tampan tampak maskulin ketika mereka tak segan membanggakan apa yang saat ini mereka raih, dan para gadis pun semakin cantik, seksi dan elegan, sesuai dengan pekerjaan mereka sendiri, atau pekerjaan pasangan mereka saat ini.
Arjuna sudah kembali ke tempat duduk nya semula, kembali bersenda gurau dengan orang orang yang semeja dengannya, ternyata suasana tetap hangat seperti kala mereka SMU dahulu, terlebih sudah sangat lama mereka tak saling berjumpa, padahal sudah tiga tahun ia kembali ke Indonesia.
“Juna … katanya lo tinggal di London selama ini?”
Arjuna tersenyum simpul seraya menganggukkan kepalanya.
“Gila lo, ngilang gitu aja, kita kita nyariin lo pas habis tawuran itu, tak taunya lo main ilang aja,”
“Sorry gaes, terpaksa … bokap yang nyuruh, pake ngancem segala, mana berani gue ngelawan bokap, lagian udah saatnya jadi orang bener.” jawab Juna.
“Lo kerja dimana sekarang?”
“Dokter bedah men … lo pada gak pengen berobat ama dia …” Atar mewakili Juna menjawab pertanyaan.
“Weeesss keren juga loh …” sebuah pelukan bangga juna terima dari teman temannya.
“Udah punya bini?”
“Boro boro bini, masih nunggu gebetan, gak dapet dapet …” kali ini Egi yang berseloroh.
hahahaha …
Seketika tawa meledak, mendengar kekonyolan pak dokter yang ternyata belum berhasil menggaet gebetannya.
“Udah … lo ama Voni aja, kayanya dia masih ada rasa sama lo, buktinya sejak tadi ikut rusuh bantuin lo ini dan itu,” usul Rafa.
Juna tersenyum masam mendengar nama Voni disebut, terlebih ia teringat niat jahat yang Voni rencanakan pada Mira, ia jadi mual mendengar nama gadis itu di sebut sebut.
Pandangan Atar mengarah ke pintu masuk, tiba tiba perhatiannya tertuju pada dua orang yang baru saja memasuki ballroom, Atar tersenyum, segera menepuk lengan Arjuna, dan mamintanya melihat kearah pintu masuk. Arjuna pun menatap ke arah sana.
Arjuna terdiam, nampaknya gadis itu pun tak menyadari dirinya tengah di perhatikan, karena cahaya di dalam ruangan sengaja di buat sedikit remang remang, agar menyerupai sebuah diskotik.
__ADS_1
Arjuna masih terdiam, ia bahkan tak rela mengedipkan kedua matanya, takut kalau kalau gadis itu kembali lenyap tanpa jejak, seperti biasa penampilan Mira tampak manis, Mira mengenakan gaun sederhana berwarna pastel dengan panjang lima centi di bawah lutut, kacamatanya tidak tebal seperti dulu, Mira mengganti kacamata nya dengan bingkai lebih tipis, Mira mencepol rambutnya, dan membuat beberapa surai membingkai wajah cute berkacamata dan tompel di pipi kanan, dan tak lupa poni di dahi yang sejak dulu menjadi ciri khas Mira, entah kenapa membuat wajah Mira terlihat lebih cantik, dengan tambahan make up tipis.
Dengan tampilan seperti itu, wajah Mira memang berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan Febiola nyaris tak mengenali Emira, ketika tadi di kamar ia membantu Emira merubah penampilannya.
“Sadar Bro …” bisik Egi ketika menyenggol pundak Juna, seketika lamunan Arjuna buyar.
Arjuna tersenyum canggung, tapi sudut matanya terus mengawasi Mira yang kini tampak memberi salam dan beramah tama dengan beberapa guru yang masih ada di ruangan tersebut.
Usai bersalaman dengan para guru, Febiola menyenggol lengan Mira yang sedang sibuk mengambil beberapa kudapan, “Mir … disamperin tuh.” Bisik Febiola yang sudah lebih dulu tersenyum ke arah Juna.
“Hai …” Sapa Juna canggung.
“Hai juga …” jawab Mira canggung, sedikit berdebar.
Emira merasa dirinya sangat konyol, mereka setiap hari bertemu di rumah sakit, hanya tampilannya saja yang berbeda, tapi dirinya dengan wajah Mira Elea, rupanya masih tetap dibuat berdebar kala berhadapan dengan sosok Arjuna.
“Mir … aku kesana yah,” Febiola menunjuk sebuah meja yang berisi para mantan anak anak club MIPA, dulu Mira dan Febiola juga salah satu anggota klub tersebut.
Emira mengangguk, kemudian kembali sibuk menekuri piringnya, dalam hati Emira memaki dirinya sendiri, biasa nya di rumah sakit, tanpa segan ia membalas setiap perkataan pedas Arjuna, tapi kenapa dengan kostum dan tampilan Mira, bibirnya seakan terkunci rapat.
“Pepet terus Junaaaa … jangan sampai lepas, hahaha…” teriak teman teman Juna dari meja mereka. teriakan itu terdengar sampai ke eja Voni, Ranti dan teman teman satu geng pembully.
‘Kamu semakin cantik Mira’ gumam Juna, ‘aku tak pernah suka gadis cantik, tapi aku suka melihatmu semakin cantik.’
“Apa kabar Mir ?”
“Baik Kak,”
Arjuna tertegun … entah kenapa suara Mira terdengar akrab di telinga nya, ia seperti sering mendengar suara tersebut.
“Kamu kemana saja, aku cari cari tapi tak pernah ada yang tahu mengenai keberadaanmu, bahkan Febiola pun tak tahu.”
Emira tersenyum, ia mulai Rileks mungkin karena sudah terbiasa bicara berdua dengan Juna.
“Boleh nggak, kalau aku tak menjawab pertanyaan itu.”
“Kenapa?”
__ADS_1
Emira mengangkat kedua pundaknya, membuat Juna semakin penasaran.
“Entah hanya ingin saja, mungkin karena aku tak terbiasa berbagi rahasia.”
“Baiklah … aku juga tak berhak memaksa kan? tapi bolehkah aku minta nomor ponselmu? …”
“Mira … sini … foto dulu …" teriak Febiola, ia buru buru melakukan pengambilan gambar, takut nanti tak sempat, karena beberapa saat lagi ia harus kembali ke rumah sakit mengisi jadwal jaga malamnya.
“Kak … aku kesana dulu yah,” Emira bernafas lega, pasalnya ia tak perlu berbagi nomor ponsel nya dengan Juna.
“Baiklah … nanti jangan buru buru pulang yah, kita masih harus bicara.”
Emira mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan Juna.
Arjuna pun melakukan hal yang sama.
Karena selama masa SMU, teman teman kongkow mereka berbeda, maka kini pun mereka tak bisa ngobrol satu meja.
“Lihat tuh si Culun udah balik ke habitat aslinya.” ujar Ranti yang kemudian cekikikan di meja mereka.
“Iya … panas gue lihat si culun deket deket Arjuna gue.”
“Eh jadi gak rencana tadi?”
“Jadi lah, nih obatnya, sengaja udah gue buka kapsulnya, gak tanggung tanggung 2 kapsul sekaligus, biar si Culun pules sampe pagi, hahahaha …”
Tawa jahat itu diikuti dengan tatapan Smirk para gadis yang berniat jahat pada Emira.
Emira meletakkan kudapan dan minuman yang ia ambil dari meja konsumsi, kemudian mengikuti para anggota klub MIPA, ke area spot foto yang khusus di sediakan oleh panitia reuni.
Saat itu lah membuat Voni, Ranti dan kawanan mereka leluasa mewujudkan niat jahat yang sudah mereka susun sebelumnya, tentunya tak ada yang memperhatikan apa yang mereka lakukan, karena suasana pencahayaan yang remang remang.
.
.
.
__ADS_1
❤❤