CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 120


__ADS_3

BAB 120


"OM HARIS DAN TANTE ELENA SEDANG MENGATUR PERJODOHAN REZA DENGAN ANAK SALAH SATU KENALAN MEREKA"


Begitulah bunyi pesan singkat mama Ayu, pada Alea anak gadisnya, yang mana pesan itu sontak melenyapkan segenap rasa kantuk yang sejak tadi menyelimuti Lea, bahkan Rio, masih terlelap di tempat tidurnya. 


Alea bergegas menyibak selimutnya, dengan yakin ia menekan tombol hijau, untuk melakukan panggilan dengan sang mama, si anak bungsu yang manja ini ingin memastikan kabar yang baru saja masuk ke ponselnya.


-Halo- mama Ayu.


-Halo ma, beneran mah?- Alea.


-Apaan pagi pagi nelepon bukannya tanya kabar mama, malah nanya beneran, apanya yang benaran?- Ayu.


-Iiiiihhh lagian mama juga apa apaan, pagi pagi kirim kabar perjodohan mas Reza, memang apa hubungannya dengan Lea?- Alea.


Terdengar suara cekikikan kedua orang tua Alea, putri bungsu mereka memang lah teramat manja, hingga papa Priyo dan mama Ayu sangat senang menggodanya.


-Terus … kamu juga ngapain panik kaya yang ketakutan gitu?- Ayu.


Jelas saja Alea tak terima.


-Siapa yang panik? siapa yang takut?- Alea.


-Ya udah kalo memang nggak, mama minta maaf, ngomong ngomong kalian berapa hari di ibu kota?- Ayu.


Alea memanyunkan bibirnya, karena rasa penasarannya belum juga terjawab, orang tuanya sudah enggan membicarakan perihal perjodohan Reza.


-Nggak tau nih, mas Rio ada perlu katanya, mau ketemu pacarnya kali- Alea.


-Ya sudah, hati hati yah- Ayu.


-Iya ma- Alea


Panggilan berakhir, dan Lea hanya mampu memandang ponselnya dengan pandangan hampa.


“Mas Reza …” panggilnya lirih, tentunya Reza tak dengar, karena jarak mereka yang berjauhan, walau berada di kota yang sama. “Apakah akhirnya kamu menyerah membujuk dan merayuku mas? bukan aku tak mau memaafkan mu, hanya saja aku sangat menikmati semua perlakuan manismu padaku, jika kini kedua orang tua mas Reza berniat menjodohkan mas Reza dengan seorang gadis, aku harus bagaimana mas?” lanjutnya, dua bulan melihat Reza bersungguh sungguh minta maaf, merayu, bahkan membujuk nya, membuat Lea terbiasa dengan Reza yang manis, dan juga lemah lembut, pria itu sungguh pria yang penyayang, bahkan Alea tak rela melihat Reza memberi sedikit perhatian pada dokter Emira semalam, yah walaupun dokter Emira dan Reza sudah bersahabat sejak lama. 

__ADS_1


.


.


Arjuna meraba raba sisi kanannya, terasa dingin, kemana gerangan perginya sang istri, dan sudah berapa lama wanita kesayangannya tersebut terjaga, karena sisi kanannya terasa sangat dingin. 


“Sayaang …” panggil Juna lirih, ia masih teramat penat, padahal semalam ia dan Emira hanya begadang sebentar, memastikan semua undangan terdistribusikan dengan baik, tapi sepertinya kini tubuhnya mulai manja, biasanya ia bersiaga di rumah sakit, jadi penat, lelah, mengantuk, sudah menjadi teman akrabnya selama bertahun tahun, semanjak cuti, ia kembali ke kebiasaan orang orang normal, siang bekerja, dan malam beristirahat.


Tak lama kemudian Emira keluar dari kamar mandi, sudah segar dan wangi dengan rambut basah yang masih terbungkus handuk, “Sudah bangun?” sapa Emira ketika melihat Arjuna masih menatap malas ke arah nya.


“Kok sudah mandi sih … katanya masih pengen di peluk?”


Emira duduk di tepi tempat tidur, dan Juna segera meringsek memeluk pinggang Emira dengan manja, tak lupa ia menciumi perut sang istri, menyapa anak mereka. Emira mengusap rambut sang suami.


“Pengennya gitu, tapi harus bangun karena hari ini masuk shift pagi.” jawab Emira dengan wajah cemberut.


Arjuna mendongak menatap wajah cemberut, “Kasian banget sayang nya aku, pasti cape banget, mana lagi hamil, cuti dulu aja gimana yang?”


“Tanggung … nanti aja kalau sudah lima bulan,” 


Arjuna tersenyum, “Baiklah … kuat yah, kalian haris tetap sehat, aku pastikan akan kembali lagi ke rumah sakit, dan dengan begitu kita akan terus berdampingan, di rumah maupun di tempat kerja.”


Arjuna mengangguk kemudian bangkit. 


Emira melabuhkan sebuah kecupan sebelum pergi menuju lantai bawah.


Dan satu jam kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit.


.


.


Di lain tempat ada seorang gadis yang tengah berdebar debar sepanjang perjalanan menuju Twenty Five Hotel, bahkan tak terhitung berapa kali ia memeriksa penampilan wajahnya  dengan menggunakan cermin mungilnya, sudah sempurna, tapi kenapa ia masih merasa deg degan apa karena orang yang akan ia jumpai adalah sang Kades muda lagi tampan? aaahhh Ayu ingin berteriak keras rasanya, ini pertama kalinya ia mengalami perasaan seperti ini.


Taxi berhenti tepat di depan lobi utama Twenty Five Hotel, usai memberikan ongkos taxi, Ayu pun turun, wajah yang sejak beberapa hari in menghantui pikirannya kini tengah tersenyum ke arahnya, rupanya Rio sudah menunggu nya, padahal Ayu sudah berusaha datang beberapa menit lebih awal, agar bisa menetralkan debaran jantungnya, rupanya pak Kades pun sudah tak sabar berjumpa dengannya.


Rio tersenyum dan melambai ketika melihat Ayu menatap ke arah nya, pria muda itu berjalan mendekat, sungguh sebuah kehormatan didatangi oleh seorang gadis.

__ADS_1


Rio mengulurkan tangannya, “Apa kabar bu Kades?” sapa Rio dengan wajah sumringah.


“Hahahaha … jangan begitu pak, nanti ada wanita yang cemburu, padahal kita tidak ada hubungan apa apa selain kerja sama bisnis.” Jawab Ayu, ia tak ingin ke ge er an, takut kecewa seperti kisah lalu nya bersama sang kakak sepupu.


“Nggak ada,”


“Ah mana mungkin pria seperti pak Rio tak punya kekasih,” 


Rio belum menanggapi, ia hanya mempersilahkan Ayu masuk ke lobi hotel, kemudian memanfaatkan ruang tunggu sebagai tepat mereka berbincang, karena jika di kamar ada Alea. 


“Oh iya Alea nya mana pak?” tanya Ayu basa basi.


“Ada di kamar, nggak tau tuh, sejak pagi uring uringan, dan sekarang gak pengen di ganggu,” 


Ayu menganggukkan kepala nya, tak perlu waktu lama untuk berbasa basi, mereka pun kembali membicarakan sedikit urusan pekerjaan, proyek kerja sama mereka yang masih akan terus berjalan, kali ini Ayu menceritakan progres yang akan terus ia bahas bersama tim nya, karena biar bagaimanapun, proyek ini adalah ide nya, jadi sudah menjadi tanggung jawabnya untuk melanjutkan.


“Oh iya, hampir lupa," Ayu mengambil undangan dari dalam tas nya, kemudian meletakkannya diatas meja, "ada titipan dari pak Juna." Ujarnya. 


Rio mengambil undangan tersebut, "terima kasih, padahal semalam aku bertemu dokter Emira di rumah sakit, tapi sepertinya beliau tidak mengundangku, apa ini artinya bu Kades membutuhkan pak Kades untuk menemani?" 


Deg 


Ayu gelagapan, ia tak menyangka pria di hadapannya ini, terang terangan menebak dengan benar perasaan hatinya, 'oh mama aku harus jawab apa sekarang?'. jerit Ayu dalam hati. 


"Tentu saja tidak, mbak Mira memang tidak mengurus undangan, Jadi pak Juna yang mengambil alih urusan ini, dan karena kebetulan hari ini kita bertemu, jadi pak Juna menitipkan undangan ini padaku." Jawab Ayu panjang lebar, namun yang tidak ia sadari adalah, wajahnya kini sudah semerah cabai masak. 


Lagi lagi Rio mengangguk anggukkan kepalanya. "Ooo kirain, bu Ayu ngajak ketemuan karena bener bener kangen sama saya." 


DHUAAAR 


Semakin merah wajah Ayu, jika bisa menggali tanah, akan ia lakukan saat ini juga, kemudian bersbunyi di dalamnua, padahal malam itu ia segera menghapus pesan salah alamat tersebut, tapi rupanya Rio benar benar membaca pesan tersebut, bahkan kini ia menanyakannya. 


"O…  itu…" Ayu mulai bergerak resah di kursinya, "mmm…  malam itu aku juga sedang berkirim pesan pada temanku, yang tinggal di Riau, makanya ku bilang kangen, eh tak tahunya salah alamat, maaf pak, kalau saya tidak sopan." 


Rio yang semula bersemangat menggoda, kini aura wajahnya berubah, "kirain beneran…" Gerutunya pelan, tapi kemudian… 


"Kalai begitu, maukah kau pergi denganku?" 

__ADS_1


Kalimat itu terlontar begitu saja, meluncur bebas seolah mengatakan bahwa Rio tak ingin kehilangan kesempatan berdekatan dengan Ayu. 


Dan Ayu… ?? 


__ADS_2