
BAB 87
Pria matang tersebut, berjalan dengan ekspresi wajah datar, pakaian buatan desainer ternama itu terlihat rapi dan memancarkan aura ketampanannya, walau usianya sudah jauh dari kata muda, tapi tuan besar Geraldy memang selalu terlihat berwibawa, disegani dan ditakuti oleh rekan rekan dan lawan bisnisnya, sudah sangat lama ia tak terlibat dalam urusan seluk beluk hotel, tapi karena ini menyangkut nama baik keluarganya, serta meluruskan fitnah yang mungkin akan muncul ke permukaan, jika tidak dibasmi hingga ke akarnya sejak sekarang.
Yah jika hari sebelumnya, Alexander mendatangi Gunawan, kali ini ia sendiri yang akan membasmi tikus yang telah berani beraninya membantu memuluskan rencana busuk Gunawan menjebak Arjuna, dan secara kebetulan Emira yang berakhir masuk dalam jebakan licik tersebut.
Sementara itu di sebuah ruangan, Andre tengah berhadapan dengan seorang pria yang berusia sebaya dengannya, mereka adalah dua orang yaang malam itu bekerja sama memasukkan obat p er an g sa ng kedalam botol minuman Arjuna.
Widodo adalah sang manajer yang malam itu bertugas di lapangan, melayani tamu serta bertanggung jawab pada semua yang terjadi, dan ia bekerja sama dengan seorang pria yang tiba tiba saja mendatanginya, meminta bantuan dengan iming iming uang puluhan juta saja, dan kini WIdodo tengah duduk sendirian di kursi pesakitan, gemetar ketakutan dengan keringat yang tak henti bercucuran, wajahnya pucat pasi, membayangkan masa depan suram karier nya di Twenty Five Hotel.
Pintu ruangan tersebut terbuka, dan wajah dingin Alexander geraldy seketika membuat Widodo ingin tenggelam ke dalam bumi, agar ia bisa berlari dari situasi tak menyenangkan tersebut, terbayang betapa marah sang istri jika ia sampai mendapatkan sanksi memalukan, bahkan sangat mungkin ia akan dipecat tanpa uang pesangon.
Alexander duduk di kursi kebesaran yang semula diduduki oleh Andre, Andre menyodorkan sebuah map pada sang daddy, Alexander membuka dan membaca semua yang tertera di dalam sana, bibirnya tersenyum miring, kemudian berdiri hingga membuat Widodo tanpa berpikir panjang, segera berlutut di kaki Alexander.
“Ampun tuan …” ujar Widodo sambil menyatukan kedua telapak tangannya di dada. “Jatuhkan sangsi atau hukuman apapun, akan saya terima, tapi jangan pecat saya, anak anak saya masih membutuhkan banyak biaya untuk sekolah.”
Alexander ingin tertawa keras rasanya, “Jika kamu masih membutuhkan banyak biaya, kenapa kamu justru mengkhianati tempatmu bekerja mencari nafkah, bukankah itu sama saja dengan kamu mengkhianati anak dan istrimu yang tidak bersalah?”
__ADS_1
“Iya tuan, saya khilaf, saya bersalah,” Belum apa apa Widodo sudah menangis, membayangkan masa depannya yang suram. “Beri saya hukuman, tapi jangan pecat saya.”
“Memecatmu? hahahaha itu akan menjadi hukuman yang terlalu mudah.” Alexander menatap dingin pada WIdodo yang masih berlutut dihadapannya. “turunkan jabatannya menjadi pegawai terendah di hotel ini, tarik semua fasilitasnya, rumah, mobil, serta tunjangan tunjangan yang selama ini membuatnya terlena, dan jika dia berani mengajukan surat pengunduran diri, seret dan laporkan dia ke kantor polisi.” Alex mengakhiri kalimatnya, kemudian berlalu pergi tanpa ingin lagi menoleh.
.
.
.
Emira dan Arjuna menemani mama Yuna sarapan pagi itu, sementara Bisma sudah buru buru ke sekolah karena pagi ini adalah ujian akhir sekolahnya.
“Mama masih belum selera makan nak.” jawab mama Yuna.
Emira memberi tanda pada suaminya agar tak melanjutkan kalimatnya.
Emira menggeser duduknya, kini ia duduk di sebelah mama Yuna, “Mama harus banyak makan, bagaimana nanti jika mama ikut ikutan sakit, kami semua masih butuh kehadiran mama.” bujuk Emira.
__ADS_1
Mama yuna menatap wajah Emira, “Mama harus tetap sehat, jika mama tak memikirkan kami tak masalah, cukup pikirkan diri mama saja, Jika nanti ayah kembali sadar, dan melihat mama sakit, beliau pasti sangat sedih.”
Mama Yuna meneteskan air mata, kemudian kembali memaksa dirinya untuk menelan makanannya, “Hari ini aku temani mama di rumah sakit, jadwal jaga kami masih jam dua siang, mas Juna harus ke perusahaan sebentar,”
Mama Yuna menatap Juna yang kini juga tengah menatapnya, “Kamu benar benar mengabulkan keinginan ayah?” tanya mama Yuna tak percaya, sejujurnya ia sakit hati dengan perlakuan Hari dan Bayu pada suami dan puteranya.
Juna mengangguk pelan, membuat mama Yuna Menatap Emira, “Maaf kan kami nak, kami belum bisa membuat hidupmu nyaman, tapi kami justru lagi lagi membuatmu berkorban.”
Emira menggeleng, “kami sama sama berjuang dan berkorban ma, doakan supaya kami tetap bisa berpegangan tangan dan saling menguatkan apapun yang terjadi.”
Luruh kembali airmata mama Yuna, ia menangis di pelukan Emira, merasa tak bisa melakukan apa apa untuk mengurangi beban anak dan menantunya.
“Mama makan dengan baik dan tetap sehat, itu sudah membuat kami senang mah,” Ujar Juna.
.
.
__ADS_1
.