CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 70


__ADS_3

BAB 70


Emira keluar kamar tepat jam enam pagi, wajahnya masih bersemu merah setelah apa yang terjadi di kamarnya beberapa menit yang lalu, Arjuna bahkan terpaksa mengakhiri cum*** an nya mengingat Emira tengah datang bulan, jika tidak mereka mungkin sudah beranjak ke tahap berikutnya. 


Bahkan ketika dirinya di kamar mandi ia bisa melihat dengan jelas lukisan karya sang Arjuna buat di sekitar leher nya, kini lehernya di penuhi kerlap kerlip bintang berwarna merah, Emira terpaksa mengurai rambut panjangnya yang masih setengah basah, karena tak ada hair dryer, demi menyamarkan lukisan indah yang tercetak di lehernya.


Setelah tiba di ujung tangga, Emira celingukan mencari cari seseorang yang bisa ia sapa, akhirnya ia menuju ke dapur, rupanya mama Yuna sedang berada di sana bersama dua orang ART yang mendampingi dan membantu kesibukan beliau. “Selamat pagi mama …” sapa Emira.


Mama Yuna tersenyum menyambut kedatangan menantunya pagi ini, “Selamat pagi sayang …” sapa mama.


“Aku bantu apa mah?” Emira menawarkan jasa, siapa tahu mama Yuna berkenan membiarkan dirinya membantu.


“Bisa memasak?” tanya mama Yuna.


“Masak air mah.” Jawab Emira polos.


“Hahahaha …” Mama Yuna tergelak, “Ternyata kamu lucu yah.” jawaban mama Yuna sungguh di luar dugaan Emira, ia pikir ibu mertuanya akan menyorot tajam, bahkan seketika akan berubah galak seperti ibu tiri, rupanya ibu mertuanya seketika tersenyum ramah seperti ibu peri.


“Maaf mah,” cap Emira dengan rasa bersalah.


Mama yuna mendekati Emira yang kini tertunduk malu. “kamu tidak bersalah, kenapa harus minta maaf, lagi pula mama tuh inginnya punya menantu, bukan cari tukang masak.”


Emira menatap mama Yuna, “Tak berdosa jika seorang istri tak bisa memasak, kamu pasti memiliki keahlian yang lain,” tanya mama Yuna yang kini membawa Emira duduk di meja bar dekat dapur, sementara beliau memotong tahu dan tempe yang akan dijadikan lauk pelengkap pagi ini. “kan mama belum mengenalmu, selain dari cerita Juna,” 

__ADS_1


“Mas Juna sering cerita tentangku?”


“Iya … kamu yang manis dan baik hati,”


“Yang lain apa mah?” mendadak Emira penasaran dengan penilaian Juna tentang diri nya.


“Hanya itu yang dia gaungkan.” jawab mama Yuna, Emira merasa mama Yuna tak menceritakan secara keseluruhan.


“Tanya padaku saja mbak…” Suara seseorang ikut menimpali obrolan. “Eh kita belum kenalan secara resmi yah?” pemuda itu mengusapkan telapak tangannya ke kaos yang ia kenakan, sesudahnya baru mengulurkannya ke hadapan Emira. “Kenalkan … aku Bisma, adik mas Juna yang paling tampan.”


Emira tersenyum, di keluarga besarnya, ia adalah si bungsu, rupanya di keluarga suaminya ia kini menjadi istri dari si sulung, itu artinya ia kini adalah yang tertua di antara adik, dan para sepupu Arjuna.


“Emira …” Emira balas mengulurkan tangannya. 


Kini Bisma ikut bergabung di meja bar dapur.


“Nggak aaaaahhh … aku masih pusing kalo berurusan dengan masalah perusahaan.” Jawab Bisma santai, tangannya merogoh kerupuk yang baru selesai di goreng oleh sang ART.


“Jangan antipati begitu, suatu saat kamu yang akan meneruskan perusahaan, mas mu hanya sementara saja mengisi kekosongan, sambil menunggu mu menyelesaikan kuliah.” Nasehat mama Yuna.


“Masih lama kali mah, Bisma juga masih SMU.”


“Kan udah kelas tiga, jangan main main, belajar yang serius, kamu gak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan nak.” mama Yuna kembali melanjutkan kalimatnya, Emira menangkap sebuah maksud dalam perkataan mama mertuanya, tapi enggan bertanya, karena yang mama Yuna katakan benar adanya, hidup memang tak pernah menjanjikan sebuah kepastian, sama seperti Pernikahannya dengan Arjuna yang sungguh sangat jauh dari rencana. 

__ADS_1


Mama Yuna mengeluarkan apel dan mangga sisa sajian semalam, ia hendak mengupas kedua jenis buah buahan tersebut.


Emira mengambil alih pekerjaan mama Yuna, “Aku aja mah …” Mama Yuna mengangguk tersenyum, membiarkan sang menantu mengambil peran di dapur.


"Oh… apa tuh, kenapa banyak bercak merah di leher mbak Mira?" Tanya Bisma polos. 


Mendapat pertanyaan tak terduga tersebut membuat Emira gelagapan, karena semalam pergi tanpa direncanakan, ia jadi tak sempat membawa perlengkapan make up nya, hingga jejak yang ditinggalkan suaminya pun tak bisa ia tutupi. 


Mama Yuna pun mengikuti arah pandangan Bisma, memang benar ada beberapa tanda merah yang tercetak jelas di sana, dan tanpa diberitahu pun mama Yuna sudah paham, siapa gerangan yang berulah. 


"Oh… ini  … tadi… emmmp." Emira kebingungan mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Bisma. 


Pluk!! 


Mama Yuna melempar serbet bersih ke wajah Bisma. "Usil aja sama urusan orang, tuh mending lap piring piring itu," Mama Yuna menunjuk beberapa piring yang baru selesai dibilas. 


Dan tanpa bertanya lagi Bisma pun menuruti perintah sang mama. 


.


.


.

__ADS_1


bisma masih terlalu lugu 😁


💛


__ADS_2