CLBK Cinta Lama Belom Kelar

CLBK Cinta Lama Belom Kelar
BAB 81


__ADS_3

BAB 81


Setelah panggilan berakhir, Emira berlari kecil ke meja perawat, suster Oya yang baru tiba sudah bersiap untuk memulai shift malamnya. 


"Suster O, aku ke emergency room yah."


"Lho dok… Ada panggilan darurat? Kenapa tak menghubungi meja perawat?"


"Bukan, barusan dapat kabar ayah dokter Juna pingsan, dan sedang dalam perjalanan kemari."


"Oooo…" Jawab suster Oya manggut manggut, namun sesaat kemudian ia bertatapan dengan Febiola, "tapiii… kalau yang sakit ayah dokter Juna, kenapa dokter Mira yang di hubungi?" Gumam suster Oya yang kemudian membuat Febiola mengerutkan keningnya. 


'Benar juga, kalau di pikir pikir mereka berdua terlihat aneh, belakangan ini, kak Juna dan Mira seperti berinteraksi dengan cara berbeda, bahkan mereka selalu datang bersama, apa mereka pacaran yah?' monolog Febiola. 


Sementara itu di halaman emergency room, Emira gelisah, mondar mandir menantikan kedatangan keluarga suaminya, mulutnya terus merapalkan doa dan harapan agar kondisi sang ayah mertua tidak buruk. 


Mobil SUV yang di kendarai Bisma, tiba beberapa saat kemudian, wajah pemuda itu tampak pucat, berkeringat, nampak sekali kalau dia tengah ketakutan. 


"Mbak… ayah… mbak…" Ia rapuh mengadu pada sang kakak ipar. 


Emira mengusap punggung dan kepala adik iparnya tersebut. "Iya… aku tahu, kita berdoa yah semoga kondisi ayah tidak parah."


Beberapa petugas dengan sigap memindahkan ayah Satrio ke brankar, kemudian mereka membawa nya ke dalam ruang emergency untuk mendapatkan pertolongan pertama. 


Mama Yuna sudah tak tahu lagi harus menangis atau gimana, yang jelas ia sangat merasa bersalah, kesedihannya tak bisa lagi ia ungkapkan dengan kata kata, hari sebelumnya suaminya mengatakan bahwa pelaku yang menjebak Arjuna adalah Gunawan Adiguna sang mantan suami, dan tadi ia sempat mendengar percakapan Satrio dan Gunawan, sesaat sebelum suaminya pingsan, Gunawan mengancam jika Satrio tak melepaskan Yuna, maka Video syur Juna akan segera di sebar di medsos, dan media cetak tanah air. 


Mama Yuna menangis pilu di pelukan Emira, "maaf nak… maafkan mama…  maaf…" Hanya itu yang mama Yuna ucapkan di sela sela tangisnya. 


Emira sendiri tak mengerti kenapa mama Yuna berkali kali minta maaf padanya, tapi Emira tak ingin banyak bertanya, ia hanya mangusap punggung mamam Yuna agar wanita baya itu, puas menumpahkan tangisannya. 


Disaat bersamaan, Kevin menghubungi Emira, "iya bang??" 


"Ayah Juna sakit?" Kevin segera mengajukan pertanyaan. 


"Iya bang, ayah mertua pingsan setelah menerima telepon." 


"Baik abang kesana sekarang." 


Emira melongok ke ruang emergency, beberapa petugas masih sibuk memasang alat bantu pernafasan dan infus. 





"Apa?" Pekik Andre ketika ia menjawab panggilan dari Kevin. 


"Begitulah yang aku dengar, sepertinya Gunawan mulai beraksi." 


"Baiklah, aku akan menghubungi Hans agar ia bersiaga, ia sudah berhasil menyadap server di kantor Gunawan yang kemungkinan akan pria itu gunakan untuk mengupload Video."

__ADS_1


Andre yang hendak tidur, kembali beranjak menuju ruang kerja yang terhubung dengan pintu dari kamar nya, "sayang mau kerja lagi?" Tanya Bella cemberut. 


"Kamu tidur duluan yah, ada yang harus aku kerjakan bersama Hans." Jawab Andre, ia mulai menyalakan komputernya. 


Bella menghentakkan kaki lalu berbalik pergi. 


"Gawat… dia bisa merajuk berhari hari." Gerutu Andre yang melihat istrinya berlalu pergi tanpa kata kata, sejak mimpi buruknya beberapa tahun yang lalu, Andre tak pernah membiarkan istrinya merajuk lagi, sekuat tenaga ia akan berbicara, membujuk, bahkan merayu, demi meluruskan kesalahpahaman agar tak semakin menjadi jadi. 


Bella menjatuhkan bobot tubuhnya ke kasur, dongkol sekali rasanya, malam ini suaminya sudah berjanji akan memeluknya semalaman, sebagai ganti kesibukannya yang padat di siang hari, eh lagi lagi ia harus mengalah pada pekerjaan sang suami, Bella membungkus sekujur tubuhnya di bawah selimut, ingin marah, tapi yaaa gimana? Toh suaminya bekerja, bukan nya selingkuh, ia hanya kesepian, karena anak anaknya sudah besar dan selalu sibuk bermain dengan saudara sepupunya, ingin memiliki anak lagi, tapi suaminya menolak. 


Tiba tiba Bella Merasa kasurnya bergerak, dan seseorang menyelinap di dalam selimutnya, siapa lagi pelakunya jika bukan suami tampannya yang Serba limited edition, hanya wajahnya saja yang tidak, karena ia memiliki saudara kembar. 


😅


"Sayang… jangan ngambek dong, iya maaf aku harus membuatmu mengalah lagi dengan pekerjaan," Bisik Andre. 


Bella yang sudah kadung kesal, kini berbalik memunggungi suaminya, Andre tak pantang menyerah, ia justru meraih pinggang Bella kemudian memeluknya erat, "jika bukan masalah penting, pasti akan aku tunda hingga esok di kantor, tapi ini soal Emira."


Mendengar nama sang adik ipar di sebut sebut, membuat Bella menyingkap selimut, kemudian berbalik menatap wajah suaminya, "Emira? Ada apa dengannya?" Tanya Bella khawatir, bahkan dalam sekejap melupakan marahnya.


"Barusan Kevin menelepon, ayah Juna pingsan dan kini sedang ditangani di emergency room."


"Lalu?"


"Menurut cerita yang Emira dengar dari ibu mertua nya, Ayah Juna pingsan setelah menerima telepon, aku jadi curiga jika ini semua ada kaitannya dengan video syur tersebut, karena itulah aku harus segera meminta Hans bersiaga, agar ia bisa bertindak cepat."


"Baiklah… baiklah… tunggu apa lagi." Mendadak Bella berubah mode. 


"Nggak… jika ini soal Emira, yang lain bisa menunggu." Jawab Bella yakin. "Mau kutemani?"


Andre mengangguk senang, mendengar penawaran istrinya. "Ayo…"


Sepasang suami istri itu pun segera menuju ruang kerja,  untuk berkoordinasi dengan tim Agent AG. 


"Hans kamu di sana?"


"Iya tuan, kami masih mode siaga?"


"Bagaimana pengintaianmu?"


"Sejauh ini Gunawan belum berani bergerak, saya menyadap ponselnya, dua jam yang lalu ia menghubungi guan Satrio, itu pun hanya melontarkan ancaman, sama sekali belum ada tindakan."


"Bagus tetap awasi dan laporkan padaku."


"Siap tuan, barusan saya juga melapor pada tuan Alex,"


"Syukurlah jika kamu sudah memberitahu daddy."



__ADS_1



"Suster O… Dimana istriku?" Tanya Juna usai keluar dari ruang operasi, sepertinya ia belum membuka log panggilan di ponselnya. 


Suster Oya dan beberapa perawat yang ada di sana, tampak membeo, bahkan Febiola dan Bianca yang kebetulan di sana pun tampak menajamkan pendengaran mereka, berharap yang Juna katakan adalah gurauan, karena pria itu menanyakan keberadaan istrinya, tentu saja istri nya berada di rumah, begitulah pemikiran orang orang tersebut. 


"Dokter Juna… Sudah menikah?" Tanya Suster Oya. 


Mendadak Arjuna merasa kikuk, ia menatap banyak mata tengah tertuju padanya, "apa?" Tanyanya tanpa suara. 


"Dokter Juna sudah menikah?" Kali ini Bianca yang bertanya. 


"Memang aku tanya apa?" 


"Istri…"


"Oooh… kalian salah denger kali, aku tanya dimana Emira."


Dokter Emira sedang di emergency room, katanya ayah anda pingsan, dan sekarang ada di sana." Jawab suster Oya polos. 


Arjuna seketika kembali ke mode waspada, ia terkejut bukan kepalang, segera berlari menuju lift tak lupa membuka ponselnya, 'oh ya Tuhan, kenapa ayah bisa tiba tiba pingsan?' pikiran buruk seketika berkecamuk, Karena selama ini ayah Satrio terlihat sehat sehat saja. 


Karena pintu lift tak kunjung terbuka, Arjuna memilih turun melalui tangga darurat, sekejap saja keringatnya bercucuran. 


"Maaass…" Setibanya di emergency room, Bisma langsung berlari memeluknya, pemuda itu menumpahkan tangisnya. 


"Mas aku takut terjadi apa apa sama ayah." Bisik Bisma. 


Juna hanya mengangguk, entah apa yang harus ia katakan, "tidak akan, mas yakin ayah pasti bisa melewati ini semua." 


Juna melepaskan pelukan Bisma, kemudian menghampiri sang mama yang kini bersandar di pundak Emira, sesekali air matanya masih menetes. 


Arjuna berlutut di hadapan mama Yuna, sementara tangan Emira masih menggenggam kedua tangan mama Yuna. "maa…" Panggil Juna lirih. 


Mendengar suara putra sulungnya, mama Yuna segera membuka mata, "Juna…" Mama Yuna segera memeluk Arjuna dan menumpahkan tangisnya di sana, "mama takut." 


"Iya mah, Juna juga, kita berdoa yah, semoga ayah baik baik saja." Bisik Juna sambil mengusap punggung mama Yuna. 


"Dokter Farel Bilang apa yang?" Tanya Juna pada sang istri. 


"Serangan jantung, dan hipertensi." Jawab Emira pelan, wajahnya pun tak kalah cemas dari mama Yuna dan Bisma. 


Arjuna memejamkan kedua mata nya, seharusnya ia lebih peka, kesibukannya di rumah sakit, membuatnya lupa pada jadwal pemeriksaan rutin yang seharusnya ia lakukan pada sang ayah. 


Kevin keluar dari ruangan tempat ayah Satrio mendapat pertolongan pertama. "Kondisinya sudah lebih baik, kita tunggu sampai beliau sadar." Ujar Kevin, membuat wajah mama Yuna, Emira, Arjuna dan Bisma sedikit merasa lega. "Sebentar lagi petugas akan memindahkan beliau, kebetulan ruang VVIP keluarga sedang kosong, biar pak Satrio yang menempati." 




__ADS_1


💛


__ADS_2